APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Gubuk Belakang Rumah Mertua

Rahasia Gubuk Belakang Rumah Mertua

Fira dan Ubay mengabaikan larangan lama dan nekat mendatangi rumah Bu Diyah. Alih-alih mendapatkan kehangatan keluarga, kunjungan mereka justru disambut rentetan teror mengerikan. Sang ibu mertua pun memberi peringatan keras agar mereka tidak sekali-kali mendekati gubuk misterius di halaman belakang. Misteri kelam apa yang sebenarnya disembunyikan Bu Diyah di dalam gubuk tersebut hingga ia begitu protektif dan mencurigakan?
Bab
Bagikan

Bab 1

“Nda, minggu besok apa jadi ke rumah ibu?” tanya mas Ubay.

Dia suamiku. Sedangkan namaku Fira. Kita berdua berada di dapur. Dia duduk di belakangku, tepatnya di meja makan. Aku sedang memasak mumpung jagoan kecilku terlelap tidur.

Jam di dinding menunjukkan pukul setengah enam sore, sudah hampir maghrib tapi Arsya—putraku belum juga bangun. Dia tidur dari jam setengah empat tadi. Mungkin dia kelelahan habis main dengan teman-temannya.

“Jadi dong, Yah. Kita sudah lama lho, nggak ke sana. Sejak aku hamil Arsya, kita belum pernah bertemu sama ibu lagi. Apa kamu nggak kangen, Yah?”

Aku memasukkan bumbu-bumbu ke dalam wajan.

“Kangen sih pasti, Nda. Tapi ibu ‘kan yang menyuruh kita nggak main ke rumahnya. Apa lebih baik kita menuruti apa kata ibu saja?”

“Yah … kok ngomong gitu sih? Kita sudah lima tahun lho nggak main ke sana. Apa kamu nggak kasihan sama ibu? Mungkin di sana beliau sangat kesepian. Bapak juga udah lama meninggal. Ibu pasti ingin ketemu sama kita dan cucunya, Yah. Apa kamu tega, Arsya dari bayi nggak pernah lihat neneknya lho, Yah.”

Aku terpaksa menghentikan pekerjaan untuk sesaat dan melihat mas Ubay.

“Bukan begitu, Nda. Ibu ‘kan sudah nggak tinggal di rumah yang dulu. Semenjak bapak meninggal beliau pindah ke rumah yang ada di desa terpencil. Ibu juga sering titip pesan sama paman, kalau kita dilarang pergi ke sana. Mangkanya, aku nggak pernah ajak Bunda ke sana lagi.”

Perkataan mas Ubay memang benar. Namun, rasanya tak tega jika harus seperti itu terus. Aku rasa ibu mertua pun ingin melihat anak-anak dan cucunya, tapi entah apa alasannya kami dilarang untuk mengunjungi beliau. Aku pun sebenarnya ingin membawa beliau untuk tinggal di rumah ini bersama kami. Namun, beliau menolak.

“Tapi Yah … aku kasihan sama ibu. Sekali-kali kita kasih kejutan nggak apa-apa ‘kan? Pasti beliau akan sangat bahagia.”

Aku kembali sibuk dengan wajan penggorengan.

“Bunda yakin, mau tetap ke sana? Kalau ibu justru nggak suka kita ke sana gimana, Nda?”

Mas Ubay berkata seolah enggan datang ke rumah ibu. Padahal beliau adalah ibu kandungnya sendiri dan kami khususnya mas Ubay tidak pernah ada konflik besar yang terjadi. Jadi, kenapa mas Ubay sepertinya mempersulit kedatangan kami ke rumah beliau?

“Ayah, kamu kenapa sih? Beliau ‘kan ibu kandungmu, Yah? Kenapa kamu seolah malas menemui beliau. Jangan gitu dong, Yah. Nggak baik.”

Terpaksa, aku kembali memalingkan badan dan menatap mas Ubay dengan tatapan tak suka. Keningku mengerut agar dia tahu perasaanku.

Mas Ubay yang kutatap sedemikian rupa hanya bergeming. Mungkin dia merasa bersalah. Karena ekspresinya seperti itu, aku kembali menyibukkan diri dengan masakanku yang tak kunjung usai.

“Kita silaturahmi sama ibu, Yah. Aku yang mantunya saja kangen, masa Ayah yang anak kandungnya sendiri biasa saja. Jangan begitu dong, Yah … Arsya juga pasti ingin bertemu sama neneknya. Kasihan kalau sampai ibu sudah nggak ada di dunia kita baru menyesal. Nggak mau begitu ‘kan, Yah?”

Ocehan di mulutku tak mau berhenti. Padahal tadi aku sudah melihat ekspresi bersalah dari wajah mas Ubay. Namun, aku masih saja belum puas jika hanya berdiam diri mengetahui suami sendiri yang enggan datang ke rumah ibunya. Bagiku itu salah.

Bagaimana pun orang tua yang kadang menyebalkan, mereka tetap orang yang sangat berjasa di hidup kita. Apalagi seorang ibu yang merawat kita dari dalam kandungan sampai bisa berdiri tegak menyongsong dunia. Sepertinya durhaka jika sampai melupakan jasanya begitu saja.

“Nda, masaknya nggak selesai-selesai? Dari tadi aku sudah menunggu di depan lho. Biasanya Bunda nyamperin kalau sudah selesai masak, ini kok lama banget. Sudah hampir maghrib, jadi aku masuk saja nemuin Bunda di dapur.”

Bibirku yang belum lama terdiam, dikagetkan dengan suara seseorang yang sangat kukenal. Kumatikan kompor dan memalingkan badan melihat seseorang yang baru saja berbicara padaku.

Aku kaget saat melihat mas Ubay berdiri di ambang pintu pembatas dan berjalan perlahan menuju ke tempatku berdiri. Sepertinya mas Ubay baru datang dari arah depan. Padahal dari tadi dia sedang duduk di meja makan yang jauh dari sana. Kami pun berbicara panjang lebar, tapi kenapa mas Ubay terlihat seperti baru saja datang?

Beberapa kali mataku melihat ke arah meja makan yang belum lama ini diduduki olehnya. Namun sekarang dia sudah berada di dekatku berjalan dari arah depan. Padahal meja makan ada di sisi sebelah kanan ruangan ini, sedangkan pintu pembatas ada di sisi sebaliknya.

“Yah, dari tadi kamu duduk di sana ‘kan?”

Aku menunjuk ke meja makan.

Kini giliran mas Ubay yang mengerutkan keningnya.

“Maksud kamu apa, Nda?”

“Iya, tadi ‘kan kita bicara membahas soal pergi ke rumah ibu. Kamu duduk di sana ‘kan?”

Aku kembali memastikan.

“Apaan sih, Nda? Aku baru datang ke sini lho?” ucapnya seraya menatapku aneh.

“Ayah nggak usah iseng ya sama Bunda. Dari tadi kita berbicara lho, Yah. Kamu kayak nggak mau pergi gitu ke rumah ibu. Aku protes dong sama kamu. Terus sekarang kamu mau isengin aku, Yah? Kamu nggak terima sama ucapanku?”

“Bunda, jangan aneh-aneh deh. Aku dari tadi di depan nungguin kamu selesai masak tapi lama banget nggak kelar-kelar. Aku susul saja ke sini. Dan lagi, aku nggak pernah ngomong kalau aku nggak mau pulang ke rumah ibu. Padahal aku sudah kengen banget sama beliau. Mana mungkin aku ngomong begitu sama kamu, Nda. Kamu kecapekkan kali, butuh istirahat biar nggak ngehalu gitu, Nda.”

“Yah! Jangan iseng ya! Kamu dari tadi duduk di sana kok!”

Aku kembali menunjuk ke tempat duduknya tadi.

“Aku nggak mungkin salah, Yah. Jelas-jelas kamu duduk di sana ngobrol sama aku. Ayah jangan iseng, sok-sokan akting datang dari arah depan!”

“Bunda ini aneh. Aku baru saja datang ke sini sudah dituduh macam-macam,” ucapnya seraya mencomot masakanku dan pergi mengambil piring.

“Tadi kamu duduk di sana, Yah. Nggak mungkin aku salah lihat. Kita ngobrol juga kok.”

Aku tak mau kalah.

“Nda ….”

Arsya memanggilku dari kamar.

“Itu Nda, Arsya udah bangun. Kamu itu ada-ada saja. Sebelum pergi ke rumah ibu, kamu harusnya istirahat dulu, Nda. Perjalanan kita panjang lho, Nda. Aku lapar, mau makan dulu.”

“Ah Ayah, aku tuh nggak mungkin salah lihat,” dengusku sambil pergi ke kamar jagoan kecilku.

“Padahal jelas-jelas kami mengobrol, tapi kenapa mas Ubay kayak nggak tau apa-apa. Aneh banget sih,” gumamku seraya berjalan menemui Arsya di kamarnya.

“Nda ….”

Kembali Arsya memanggilku.

“Iya Sayang. Bunda datang.”

“Nda … hiks!”

Aku segera mendatangi Arsya yang tiba-tiba saja menangis. Tak biasanya dia bangun tidur seperti ini.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayah Pembawa Masalah
9.3
Uang gaji karyawan sebesar empat ratus juta rupiah yang dititipkan atasan raib karena dipinjamkan oleh ayah kepada tetangga. Alih-alih dibela, seluruh keluarga justru menyalahkan kelalaianku. Setelah dipecat dan dituntut mengembalikan uang tersebut, ayah menjerumuskanku ke pekerjaan baru sebagai pengasuh lansia. Di sana, aku dilecehkan dan akhirnya tewas dipukuli akibat kesalahpahaman. Namun, maut bukanlah akhir. Aku terbangun kembali di hari fatal saat ayah menyerahkan uang itu.
Sampul Novel Ghost At School
9.0
Yui bersama sahabatnya berupaya menyelamatkan arwah-arwah yang terperangkap di area sekolah. Namun, sebuah petunjuk dari mimpi mengungkap kebenaran kelam bahwa korban perdana teror ini adalah teman dekat Yui. Investigasi mereka justru menyingkap rahasia keluarga, di mana salah satu anggota keluarga terbukti menjadi dalang demi membalas dendam masa lalu. Di bawah bayang-bayang ketakutan, sanggupkah mereka menghentikan kutukan tersebut?
Sampul Novel Paper Mind
9.6
Demi bahagia, tiap orang punya cara sendiri melupakan luka masa lalu. Namun, bagaimana jika ingatan akan jati diri sendiri mendadak hilang tanpa bekas? Di sudut lain, ada yang harus terjebak selamanya bersama trauma terburuk tanpa bisa melupakannya. Lewat persimpangan batin ini, kita diajak memahami bahwa memori bukan sekadar lembaran masa lalu, melainkan fondasi paling krusial yang menentukan arti hidup sekaligus eksistensi sejati manusia.
Sampul Novel Pedang Ikatan Darah
8.3
Pedang Ikatan Darah menyajikan kisah misteri modern berselimut fiksi ilmiah yang menegangkan. Demi menyelamatkan adik angkat mereka, orang tua kandung sang protagonis tega membawanya ke meja hijau untuk merebut paksa jantungnya. Di bawah pengawasan panel berisi seratus orang, sebuah teknologi komputer mutakhir digunakan untuk membongkar isi memori mereka demi menentukan kepemilikan organ tersebut. Meski dituduh berhati keji dan diduga akan melarikan diri, ia justru hadir di persidangan. Namun, saat proyeksi ingatannya mulai diputar di hadapan publik, rahasia masa lalu yang terungkap justru menguras air mata semua orang.
Sampul Novel Sekar
8.0
Sekar menjalani hidup yang sepenuhnya disetir oleh ramalan. Bagi pengusaha di ibu kota ini, prediksi masa depan adalah segalanya, hingga ia mengabaikan takdir Tuhan dan menganggap ibadah hanya kedok tanpa makna. Namun, obsesi tersebut justru membawanya pada pusaran keputusasaan. Di tengah ambisi bisnis dan pencarian tanpa ujung, Sekar kini kehilangan arah. Mampukah ia mengubah garis hidup yang telah digariskan oleh Sang Pencipta, atau justru selamanya terjebak dalam kesia-siaan?
Sampul Novel THE SECRET BEHIND DEATH
8.3
Albian yang dulunya dikenal sebagai mahasiswa berprestasi, ramah, dan sopan, kini mengalami perubahan drastis dalam hidupnya. Setelah terbangun dari koma akibat sebuah insiden misterius, ia dianggap aneh oleh lingkungan sekitar. Perubahan ini membuatnya terasing dan didera kesepian mendalam. Bahkan, orang-orang terdekat serta sosok yang ia cintai memilih pergi menjauh. Kini, ia harus berjuang menghadapi kenyataan pahit tersebut sendirian.