APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel RAHASIA DI BALIK KEBAHAGIAAN

RAHASIA DI BALIK KEBAHAGIAAN

Rumah tangga yang tampak sempurna ini seketika runtuh saat perselingkuhan sang suami dengan rekan kerjanya mulai terendus. Didorong rasa curiga, sang istri memutuskan untuk menyelidiki sendiri kebenaran tersebut. Namun, pencarian bukti itu justru membawanya pada penemuan konspirasi kelam yang jauh lebih mengerikan hingga mengancam keselamatan jiwanya. Kini, ia harus bertahan dan menghadapi kenyataan pahit di balik topeng kebahagiaan semu pernikahan mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sejak malam itu, Hana mulai lebih jeli memperhatikan gerak-gerik Arya. Sekalipun ia berusaha untuk berpikir positif, tanda-tanda aneh semakin sulit diabaikan. Arya semakin sering terlihat mengangkat telepon dengan wajah cemas, kadang langsung keluar rumah untuk menjawabnya, atau menyingkir ke kamar kerja dengan suara yang diturunkan nyaris berbisik.

Suatu malam, saat mereka sedang duduk bersama di ruang tamu, ponsel Arya tiba-tiba bergetar. Arya yang semula bersandar santai langsung bangkit, meraih ponselnya dan melihat ke arah layar. Ekspresinya berubah, seolah sedang memikirkan sesuatu. Tanpa berkata-kata, Arya berdiri dan berjalan ke dapur sambil membawa ponsel itu.

Hana memperhatikan tingkahnya dari jauh, dada berdegup semakin kencang. Ia tak bisa menahan diri untuk mendekat, berusaha mendengar potongan-potongan pembicaraan Arya.

"Iya, aku masih di rumah," ujar Arya dengan suara pelan.

Hana tak bisa mendengar lebih lanjut. Namun, saat Arya kembali ke ruang tamu, ia tampak terkejut melihat Hana yang tengah menunggunya dengan wajah penuh tanda tanya.

"Siapa tadi, Mas?" tanya Hana hati-hati, berusaha menahan kecurigaan yang semakin besar.

"Oh, cuma rekan kerja. Aku harus bantu review laporan untuk besok," jawab Arya sambil tersenyum, namun senyum itu terasa dipaksakan.

Hana menahan diri, hanya mengangguk pelan meski hatinya terasa sesak. Apakah aku hanya berlebihan? pikirnya dalam hati. Namun, instingnya terus memperingatkan ada sesuatu yang tidak benar.

Keesokan harinya, Hana mulai lebih memperhatikan ponsel Arya yang kerap kali langsung dikantongi, bahkan saat ia berada di kamar mandi. Hal-hal kecil seperti ini semakin menambah kegelisahan Hana.

Suatu siang, saat ia sedang merapikan meja makan, ponsel Arya yang tertinggal di atas meja bergetar, menampilkan notifikasi pesan singkat. Hana melihat nama yang tertera di layar-Mira-dan hatinya langsung berdegup kencang.

Hana hanya terdiam, berusaha menenangkan dirinya. Ia merasa tidak berhak melihat isi ponsel suaminya, tapi rasa penasaran menguasai dirinya. Namun, sebelum ia sempat melakukan apa pun, Arya tiba-tiba muncul dari arah kamar, tampak terburu-buru.

"Eh, ponselku ketinggalan ya?" Arya tersenyum canggung sambil mengambil ponselnya dari meja, matanya menatap Hana dengan sorot yang sulit dijelaskan.

Hana tersenyum kecil, berpura-pura tak melihat pesan yang baru masuk. "Iya, tadi aku mau panggil kamu, tapi kebetulan kamu udah keluar."

Arya mengangguk dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Oh, oke. Aku balik dulu ke kantor, ya. Mungkin malam ini lembur lagi," ujarnya singkat sambil mencium pipi Hana sekilas.

Begitu Arya keluar, Hana terdiam. Kata-kata "lembur lagi" mulai terdengar seperti alasan yang basi. Ia mencoba menyangkalnya, namun hati kecilnya tahu bahwa ada yang tidak beres.

Hari-hari berikutnya, Arya semakin sering pulang larut malam. Setiap kali Hana menanyakan, jawaban Arya selalu sama-ada proyek besar, atau deadline yang harus dikejar. Namun, sikapnya semakin sulit ditebak, seolah ada yang selalu mengganjal dalam percakapan mereka.

Suatu malam, Hana memberanikan diri berbicara secara langsung, berharap Arya bisa menjelaskan semuanya.

"Mas Arya, kamu masih sibuk sama proyek yang itu ya?" tanyanya lembut, berusaha agar nada suaranya tak terdengar menghakimi.

Arya mengangguk singkat, tatapannya beralih dari ponsel ke wajah Hana. "Iya, lumayan menyita waktu."

Hana menarik napas dalam, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Aku cuma... aku cuma ingin tahu, Mas. Karena belakangan ini, kamu sering pulang malam. Kadang aku khawatir, atau mungkin aku yang berlebihan."

Arya tersenyum kecil, menggenggam tangan Hana. "Kamu nggak perlu khawatir, Sayang. Aku cuma ingin menyelesaikan pekerjaan ini secepat mungkin, biar kita bisa punya lebih banyak waktu bersama."

Mendengar kata-kata itu, Hana tersenyum tipis, tapi hatinya masih diliputi keraguan. Ia berharap, mungkin saja perasaannya hanya salah paham.

Namun, beberapa hari kemudian, ketika Hana sedang menyiapkan makan malam, ia melihat Arya di ruang tamu sedang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. Tiba-tiba Arya menyadari Hana memperhatikannya, lalu dengan cepat mengunci ponselnya dan memasukkannya ke saku.

Arya berdiri dan menghampiri Hana di dapur, seolah ingin mengalihkan perhatian. "Mau aku bantu apa, Han?" tanyanya dengan senyum.

"Eh, nggak usah, Mas. Aku sudah hampir selesai," jawab Hana sambil berusaha tetap terlihat tenang.

Tapi di dalam hatinya, Hana tahu ada sesuatu yang salah. Semua tanda-tanda ini seperti potongan puzzle yang mulai membentuk gambaran yang tidak ia inginkan.

Malam itu, Hana tak bisa tidur. Ia merenung di tempat tidur, berusaha memahami perasaan gelisah yang terus mendera. Di benaknya, ada banyak pertanyaan yang berputar-putar tanpa jawaban. Apakah Arya benar-benar hanya sibuk bekerja, ataukah ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini?

Ia mencoba menepis rasa curiga, namun kenangan tentang telepon yang dirahasiakan, pesan yang dihapus, dan alasan lembur yang tak masuk akal terus menghantuinya.

Hana mulai berpikir untuk menghadapi Arya secara langsung, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, ia takut jika pertanyaannya malah memperburuk keadaan. Meski begitu, ia tak bisa menahan perasaannya lagi-ia harus mengetahui kebenarannya, meskipun menyakitkan.

Di tengah kesunyian malam, Hana menyadari bahwa kebahagiaan yang selama ini ia anggap sempurna mulai berubah menjadi kabut yang penuh misteri. Dan di balik kabut itu, ada rahasia yang mengancam kebahagiaannya.

Hana terbangun dengan perasaan berat. Sudah beberapa malam ia sulit tidur, dihantui oleh kecurigaan yang makin tak terbendung. Aku harus tahu yang sebenarnya, pikirnya.

Pagi itu, saat Arya bersiap berangkat ke kantor, Hana mengumpulkan keberanian untuk berbicara lagi. Ia mencoba menyusun kata-kata, tetapi begitu melihat Arya berdiri di depannya, segala rencananya menguap.

"Mas Arya..." Hana akhirnya berkata, meski dengan suara sedikit bergetar.

Arya menoleh, mengangkat alis. "Iya? Kenapa, Han?"

Hana memaksa dirinya untuk tetap tenang. "Aku... aku merasa belakangan ini kita jarang punya waktu bersama. Kamu sering pulang malam, sering di kantor, atau sibuk dengan ponsel."

Arya tersenyum tipis, seperti mencoba meredakan ketegangan. "Aku tahu, Sayang. Maaf ya. Mungkin belakangan ini memang terasa berat buat kamu. Tapi semua ini untuk masa depan kita kok," jawabnya sambil mengelus pipi Hana.

Hana tersenyum kecil, namun jauh di dalam hatinya, keraguan itu masih ada.

Hari itu, setelah Arya berangkat kerja, Hana memutuskan untuk berbicara dengan sahabatnya, Rina. Rina adalah teman yang selalu ada untuknya, dan Hana tahu Rina bisa memberikan pandangan yang jernih di tengah kegalauan hatinya.

Di sebuah kafe kecil dekat rumah, Hana bertemu dengan Rina dan segera menceritakan semua yang ia rasakan.

"Rin, aku nggak tahu, ya... tapi perasaan aku benar-benar nggak enak. Belakangan ini Arya sering banget sibuk, pulang malam, terus ponselnya selalu dia pegang. Bahkan kadang, dia menjauh kalau ada telepon atau pesan masuk."

Rina mendengarkan dengan wajah serius. "Hmm, mungkin dia memang benar-benar sibuk, Han. Tapi kalau kamu merasa ada yang aneh, nggak ada salahnya kamu coba cari tahu lebih dalam."

"Tapi aku takut, Rin. Aku takut kalau kecurigaan ini cuma di kepala aku sendiri. Nggak mau rasanya jadi istri yang curigaan dan nggak percaya sama suami."

Rina mengangguk pelan. "Kamu nggak salah kok kalau punya insting seperti itu. Perasaan seorang istri itu biasanya nggak pernah meleset, Hana. Tapi cobalah cari cara yang baik, mungkin lebih hati-hati dan bijaksana."

Hana menarik napas panjang. "Iya, mungkin kamu benar. Aku cuma harus sabar dan coba memahami, mungkin memang cuma kesalahpahaman."

Sepulangnya dari pertemuan dengan Rina, Hana memutuskan untuk mencoba cara yang lebih lembut, mengamati dengan sabar sambil tetap percaya pada Arya. Tapi semakin ia berusaha tenang, semakin banyak kejanggalan yang ia temukan.

Malam itu, Arya pulang sedikit lebih awal dari biasanya, yang membuat Hana sedikit lega. Ia pun berusaha menyambut suaminya dengan suasana hangat.

"Kamu udah makan malam, Mas?" tanya Hana sambil menghidangkan sup hangat di meja makan.

"Udah, tadi makan sedikit di kantor. Tapi aku bisa makan lagi kok, apalagi kalau buatan kamu," jawab Arya dengan senyum kecil.

Hana duduk di seberang Arya sambil mengamati wajah suaminya. Ada lelah di matanya, tapi juga sesuatu yang lain. Sebuah kebingungan atau mungkin... rasa bersalah? Hana sendiri tak yakin.

"Mas... apa kamu benar-benar baik-baik aja?" tanya Hana sambil mencoba memulai percakapan ringan.

Arya tertegun sejenak, lalu tersenyum samar. "Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"

"Entahlah, aku hanya merasa kita semakin jarang punya waktu untuk bicara dari hati ke hati," ucap Hana lirih.

Arya menghela napas. "Maafkan aku, Hana. Memang banyak hal di kantor yang cukup bikin stres, makanya mungkin aku sering terlihat aneh di rumah."

Namun, malam itu, setelah Arya tertidur lebih dulu, Hana terbangun dengan perasaan tak tenang. Sekilas ia melihat ponsel Arya tergeletak di meja samping tempat tidur, layar masih menyala. Nama "Mira" muncul di layar dengan notifikasi pesan yang baru masuk.

Hana menatap ponsel itu, hatinya berdebar kencang. Sisi lain dari dirinya yang selama ini berusaha mengabaikan kecurigaan tiba-tiba kembali menguat. Mira? Siapa Mira?

Dengan tangan gemetar, Hana meraih ponsel Arya. Perasaan bersalah bercampur dengan dorongan kuat untuk mengetahui kebenaran mulai membanjiri hatinya. Ia membuka pesan itu, dan mata Hana langsung terpaku pada deretan kalimat singkat yang ada di layar.

"Aku kangen, kapan kita bisa bertemu lagi?"

Pesan itu mengoyak semua keraguannya. Hana duduk terpaku, berusaha mencerna apa yang baru saja ia lihat. Semua yang ia coba pertahankan selama ini, semua kepercayaannya pada Arya, terasa runtuh dalam sekejap.

Tangannya bergetar, air mata mulai menetes tanpa bisa ia cegah. Apakah ini arti sebenarnya dari perubahan Arya selama ini? Apakah ini rahasia di balik kebahagiaan yang selalu ia percayai?

Hana tak tahu harus berbuat apa. Malam yang seharusnya damai itu kini berubah menjadi malam yang penuh kepedihan.

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BALASAN SETIMPAL UNTUK PENGKHIANATAN SUAMIKU
8.0
Kehancuran rumah tangga kerap kali dipicu oleh sosok yang tak pernah dicurigai. Dalam kisah ini, orang yang dipercaya mengurus urusan domestik justru menjadi duri dalam pernikahan. Pengkhianatan menyakitkan pun terjadi di dalam rumah sendiri, melibatkan sang suami dan orang terdekat tersebut. Menghadapi kenyataan pahit ini, sebuah rencana disusun untuk memberikan pembalasan yang setara atas luka yang telah digoreskan.
Sampul Novel Hamil Dengan Pengkhianat
8.6
Malam tak terduga di Paris mempertemukan Vera dengan Dante, sosok masa lalu yang paling ia benci. Setelah kembali ke Jakarta, Vera terkejut mendapati dirinya tengah mengandung anak dari pria tersebut. Bertekad melupakan masa lalu, ia memilih untuk merawat bayinya seorang diri. Namun, takdir berkata lain saat Dante tiba-tiba muncul kembali di hadapannya. Kehadiran pria itu mengacaukan rencana Vera, membawanya masuk ke dalam dilema yang rumit.
Sampul Novel MAWAR EMAS SANG PEWARIS
9.2
Sebagai pewaris tunggal bisnis keluarganya, Lily terjebak perjodohan bisnis demi menguasai pasar global. Pernikahan tanpa cinta itu murni demi kekuasaan. Namun, segalanya rumit ketika Lily jatuh hati pada asisten pribadinya sendiri. Pemuda cerdas itu hidup dalam kemiskinan, memicu dilema besar dalam diri Lily. Kini, ia harus memilih antara menunaikan tanggung jawab warisan keluarga atau mengejar cinta tulusnya.
Sampul Novel Pamer Menantu
9.2
Demi meraih kemewahan dan kebahagiaan, seorang ibu sangat berambisi mendapatkan menantu dari kota besar. Baginya, status sosial sang menantu adalah jaminan mutlak bagi kekayaan keluarganya di masa depan. Namun, apakah impian indah itu akan terwujud nyata, atau justru menjadi awal dari petaka yang tak terduga? Temukan realita pahit di balik gengsi dalam drama romansa modern yang penuh dengan konflik ekspektasi ini.
Sampul Novel Psikopat & Gadis Desa
8.9
Christian Kim, pewaris kaya yang kejam, mengancam Moon agar tunduk padanya. Kematian sang nenek memicu amarah Moon, gadis desa yang akhirnya nekat menusuk Christian demi membalas dendam. Meski begitu, perjuangan keras sang tuan muda demi mendapatkan cintanya perlahan meluluhkan hati Moon. Di tengah keraguan, sebuah rahasia terkuak bahwa Moon terhubung dengan keluarga Kim. Apakah kenyataan ini akan merusak hubungan mereka atau justru mempersatukannya?
Sampul Novel Sebatas Pernikahan Bisnis
9.2
Trauma masa lalu membuat Arjuna menutup rapat hatinya dari cinta. Demi merebut warisan keluarga dan mendepak ibu tirinya, ia menawarkan pernikahan kontrak kepada Anjani. Di sisi lain, Anjani yang terlilit utang mendiang orang tua terpaksa setuju, terlebih ia memang telah lama mencintai Arjuna secara rahasia. Di balik kesepakatan bisnis ini, mampukah mereka menyembuhkan luka batin masing-masing dan mengubah hubungan tanpa rasa menjadi cinta yang nyata?