APKDock Logo
Sampul Novel RAHASIA DI BALIK KEBAHAGIAAN

RAHASIA DI BALIK KEBAHAGIAAN

9.3 / 10.0
Rumah tangga yang tampak sempurna ini seketika runtuh saat perselingkuhan sang suami dengan rekan kerjanya mulai terendus. Didorong rasa curiga, sang istri memutuskan untuk menyelidiki sendiri kebenaran tersebut. Namun, pencarian bukti itu justru membawanya pada penemuan konspirasi kelam yang jauh lebih mengerikan hingga mengancam keselamatan jiwanya. Kini, ia harus bertahan dan menghadapi kenyataan pahit di balik topeng kebahagiaan semu pernikahan mereka.

RAHASIA DI BALIK KEBAHAGIAAN Bab 1

Kehidupan Hana dan Arya tampak begitu sempurna. Setiap pagi, Hana menyiapkan sarapan di dapur yang dipenuhi aroma kopi dan roti panggang. Arya duduk di meja makan, tersenyum sambil membaca koran atau mengecek berita dari ponselnya. Pagi mereka selalu hangat, penuh canda tawa, dan semua orang di sekitar mereka menganggap keluarga kecil ini sebagai pasangan ideal.

Namun, belakangan ini Hana mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda. Arya, yang biasanya sangat perhatian, kini sering tampak larut dalam pikirannya sendiri. Dia sering pulang terlambat, beralasan pekerjaan yang semakin sibuk, atau proyek besar yang butuh perhatian ekstra.

Suatu pagi, saat Hana menyuguhkan kopi seperti biasa, Arya terlihat kurang antusias.

"Kopi hitam, tanpa gula. Seperti biasa, Pak Arya yang sibuk," Hana mencoba menggoda, berharap bisa mencairkan suasana.

Arya tersenyum singkat, namun tidak seperti biasanya. Senyumnya terlihat samar, dan ia lebih banyak menunduk pada layar ponselnya.

"Terima kasih, Sayang," jawabnya singkat sambil menyeruput kopi.

Hana memandangnya lekat-lekat, merasa ada yang ganjil. Tapi ia menahan diri, berusaha meyakinkan hatinya bahwa ini hanya lelah biasa. Namun, instingnya berkata lain.

"Kamu baik-baik saja, Arya?" Hana akhirnya memberanikan diri bertanya. "Akhir-akhir ini kamu terlihat... berbeda."

Arya menghela napas, menatap Hana sejenak sebelum kembali fokus ke ponselnya. "Hanya kerjaan, Han. Ada proyek baru yang cukup bikin kepala pening."

Hana mencoba tersenyum dan mengangguk. Tapi perasaan aneh itu tak hilang, malah semakin besar. Arya biasanya suka bercerita tentang pekerjaannya, detail kecil yang ia tak sabar untuk bagi pada Hana. Tapi sekarang, jawaban Arya terasa menghindar, seakan ada sesuatu yang dia sembunyikan.

Beberapa hari kemudian, rasa gelisah Hana semakin menjadi. Saat dia merapikan pakaian Arya di lemari, ia melihat dasi yang belum pernah dilihatnya sebelumnya, dengan motif yang lebih mencolok dari pilihan Arya biasanya.

"Mungkin aku yang lupa atau mungkin ini hadiah dari seseorang?" pikirnya dalam hati. Tapi, rasa penasaran itu terus mengusiknya.

Sore itu, Hana memutuskan untuk berbicara dengan sahabatnya, Rina, di sebuah kafe dekat kantor Rina. Rina sudah mengenal Hana sejak lama, dan selalu menjadi tempat Hana curhat.

"Aku tahu mungkin ini hanya perasaanku, Rin," ujar Hana, sambil menyesap teh hangatnya. "Tapi aku merasa Arya berubah. Dia makin sering pulang telat, sering lihat-lihat ponsel, dan... entahlah. Aku merasa seperti ada sesuatu yang disembunyikan."

Rina mengerutkan dahi, mencoba menenangkan sahabatnya. "Mungkin kamu hanya terlalu khawatir, Han. Arya memang lagi sibuk banget kan? Kalau dia nggak pulang malam, itu malah aneh."

Hana tertawa kecil, tetapi tak sepenuhnya terhibur. "Iya sih, tapi kali ini beda, Rin. Bukan cuma soal pulang telat. Dia jadi tertutup. Aku coba nanya, dia cuma bilang soal proyek baru dan nggak mau cerita lebih."

Rina menatap Hana dengan cermat, lalu menggenggam tangannya. "Han, kamu tahu, komunikasi itu kuncinya. Kalau kamu merasa ada yang nggak beres, kamu bisa coba bicara lagi sama Arya. Tapi... pelan-pelan, ya?"

Hana mengangguk pelan. "Mungkin aku terlalu paranoid, ya?"

Malamnya, Hana menunggu Arya pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan belum ada kabar dari Arya. Perasaannya mulai tidak menentu. Setelah dua jam berlalu, Arya akhirnya tiba di rumah, terlihat lelah dan sedikit terkejut melihat Hana yang masih terjaga.

"Kenapa belum tidur?" tanya Arya, menaruh tas kerjanya di sofa.

Hana mencoba tersenyum, meski terasa getir. "Aku nunggu kamu. Kamu baik-baik aja, kan?"

Arya tersenyum kecil, dan menepuk pundaknya. "Iya, tentu saja. Jangan khawatir, Han. Semua baik-baik saja."

Namun, Hana tahu sesuatu tidak seperti biasanya. Meskipun ia ingin memercayai kata-kata Arya, bayang-bayang ketidakpastian terus menghantuinya. Di balik senyum manis dan kata-kata hangat, ada kabut yang semakin tebal menyelimuti kebahagiaan mereka.

Hana berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua baik-baik saja. Ia mencoba mengabaikan pikiran-pikiran negatif yang berseliweran di kepalanya. Namun, malam itu, ia tak bisa memejamkan mata. Ada perasaan gelisah yang tak dapat ia abaikan, seakan nalurinya mencoba memperingatkan sesuatu.

Pagi harinya, saat sarapan, suasana kembali terasa canggung. Arya tampak lebih banyak terdiam dan hanya sesekali melempar senyum seadanya. Hana mencoba bersikap biasa, tapi kegelisahannya terus meningkat. Di tengah suasana yang aneh itu, Hana tiba-tiba teringat sebuah acara pernikahan akhir pekan nanti.

"Arya, minggu ini kita kan diundang ke pernikahan Rina. Kamu masih ingat, kan?" Hana mencoba memulai percakapan dengan santai.

Arya terlihat terkejut sejenak, lalu tersenyum tipis. "Oh, iya... iya, aku ingat kok. Kamu mau pakai baju apa nanti?"

"Entahlah, mungkin gaun biru yang waktu itu kamu bilang bagus," jawab Hana sambil tersenyum. "Kita jarang pergi ke acara bareng, jadi aku mau tampil cantik untuk kamu."

Arya tersenyum kecil, tapi sorot matanya tak sepenuhnya menunjukkan antusiasme. Hana mengamati ekspresi suaminya yang tampak canggung, tapi ia memilih untuk tidak mempermasalahkannya lebih jauh.

"Bagus, pasti kamu bakal terlihat cantik, Han," jawab Arya singkat sebelum kembali fokus pada sarapannya.

Hana mencoba mengabaikan perasaan aneh itu dan berusaha menikmati sarapan mereka. Setelah beberapa saat, Arya pamit untuk berangkat kerja. Seperti biasa, Hana mengantarnya ke depan pintu.

"Hati-hati di jalan ya," ujar Hana sambil tersenyum dan mencium pipinya.

Arya hanya mengangguk dan tersenyum singkat. "Kamu juga, jaga diri baik-baik."

Saat Arya keluar rumah, Hana masih berdiri di ambang pintu, menatap kepergian suaminya dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia ingin sekali percaya bahwa semua baik-baik saja, namun di sisi lain, hatinya dipenuhi rasa curiga yang tak kunjung hilang.

Selama beberapa hari berikutnya, Arya semakin sering pulang larut malam. Alasan yang diberikan selalu sama: pekerjaan yang menumpuk, klien yang butuh perhatian ekstra, atau rapat yang harus dihadiri. Hana berusaha menerima dan mencoba berpikir positif, tetapi pikirannya terus dihantui tanda-tanda yang terasa janggal.

Suatu malam, setelah Arya tertidur, Hana duduk di ruang tamu sendirian. Hatinya resah, pikirannya berlarian ke segala arah. Ia akhirnya memutuskan untuk memeriksa ponsel Arya. Ini bukan kebiasaannya, tapi kali ini, rasa penasarannya tak tertahankan. Dengan tangan gemetar, ia membuka pesan-pesan yang ada di ponsel itu.

Di antara pesan-pesan dari rekan kerja dan teman-teman, ada satu nama yang terus muncul-Mira. Hana tidak begitu mengenal Mira, tapi dia tahu bahwa Mira adalah rekan kerja baru Arya di kantornya.

Pesan-pesan yang tertulis tampak cukup formal, tetapi Hana merasa ada sesuatu yang aneh dengan frekuensi pesan-pesan itu. Setiap kali ada pembahasan tentang lembur atau rapat larut malam, Mira selalu ada di sana.

Tiba-tiba, Hana mendengar langkah kaki Arya dari kamar. Cepat-cepat, ia mengunci ponsel Arya dan meletakkannya kembali di meja samping sofa. Arya mengintip dari pintu kamar, mengusap wajahnya yang tampak lelah.

"Han, kok belum tidur?" tanyanya, suaranya sedikit serak.

Hana tersenyum tipis dan berusaha tampak tenang. "Nggak apa-apa, tadi aku sulit tidur. Lagi kepikiran aja, mungkin kebanyakan minum kopi sore tadi."

Arya mengangguk, seakan menerima jawaban itu tanpa curiga. "Jangan kebanyakan kopi, nanti susah tidur terus," ujarnya sambil kembali masuk ke kamar.

Hana hanya menatap punggungnya, mencoba menekan perasaan gelisah yang terus menghantui. Malam itu, ia tertidur dengan hati yang kacau dan penuh tanda tanya.

Keesokan harinya, Hana pergi menemui Rina. Dia sudah tak sanggup menahan semua ini sendiri dan butuh seseorang untuk berbicara.

"Aku sudah nggak tahu harus gimana lagi, Rin," kata Hana dengan suara serak. "Aku nggak pernah curiga sama Arya sebelumnya, tapi... akhir-akhir ini, ada hal-hal yang bikin aku nggak tenang."

Rina menghela napas dalam dan menggenggam tangan Hana. "Kamu tahu, Han, nggak ada yang salah dengan merasa seperti itu. Kadang, intuisi kita memang lebih peka. Tapi, kamu harus hati-hati juga. Jangan sampai rasa curiga ini menghancurkan kamu sendiri."

Hana menunduk, mencoba menahan air matanya. "Aku hanya ingin tahu yang sebenarnya, Rin. Aku lelah dengan perasaan ini. Rasanya seperti ada sesuatu yang sangat salah di antara kami."

Rina mengusap bahu Hana lembut. "Kalau memang kamu merasa harus tahu, mungkin kamu bisa bicara langsung sama Arya. Tapi pilih waktu yang tepat. Jangan sampai dia merasa terpojok atau curiga balik."

Hana mengangguk perlahan, merasa sedikit lega setelah berbicara dengan Rina. Namun, rasa gelisahnya tetap ada, mengakar kuat di dalam hati. Di balik kebahagiaan yang selama ini ia pertahankan, kini muncul kabut ketidakpastian yang menyesakkan. Dan di lubuk hatinya, Hana tahu bahwa ada sesuatu yang harus ia temukan, tak peduli seberapa menyakitkan kebenaran itu.

Bersambung...

Lanjut Membaca

Daftar Isi RAHASIA DI BALIK KEBAHAGIAAN

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Aku Tak Punya Siapapun Lagi
8.3
Vonis gagal hati akut menyisakan waktu tiga hari bagi protagonis. Namun, David, suaminya, malah memberikan kuota uji klinis terakhir kepada Emma, adik angkatnya. Dianggap "lebih pantas hidup", ia pun menghentikan pengobatan dan meminum pereda nyeri dosis tinggi yang fatal. Sebelum ajal menjemput, ia menyerahkan perusahaan perhiasan, menyetujui perceraian agar David menikahi Emma, hingga membiarkan putrinya diasuh Emma. Saat keluarganya menganggap semua pengorbanan itu wajar, ia menanti kehancuran mereka setelah kematiannya tiba.
Sampul Novel ISTRI KECILKU YANG MENGGEMASKAN
9.3
Mahardika tidak punya pilihan selain menuruti kemauan kakeknya untuk menikahi Eka Maheswari. Pernikahan ini dirancang demi menjaga ikatan erat antara keluarga Wijaya dan Saputra. Namun, perbedaan usia sembilan tahun menjadi ujian berat setelah mereka resmi bersama. Mahardika harus ekstra sabar menghadapi sikap Eka yang masih sangat kekanak-kanakan. Mampukah pernikahan mereka bertahan melewati jurang kedewasaan yang begitu lebar?
Sampul Novel Jasper dan Misteri Sang Raja Kerajaan Almekia
8.7
Di Almekia, kerajaan futuristik yang dikuasai seorang ratu, Pangeran Jasper menyimpan rasa penasaran mendalam tentang mendiang ayahnya. Identitas sang raja sengaja dirahasiakan rapat oleh pihak istana. Demi mengungkap kebenaran, Jasper bersama Diamond, Zircon, dan Opal nekat melanggar hukum kerajaan. Meski kini berstatus buronan dan menghadapi berbagai bahaya, mereka terus berjuang menembus misteri besar yang menyelimuti Almekia.
Sampul Novel Pemilik Hati Tuan Mafia
8.7
Hidup dalam penderitaan sejak kecil membuat Belle harus tegar menghadapi kejamnya dunia. Di tengah keterpurukan, ia menemukan jalan untuk membalas dendam kepada orang-orang yang telah menyakitinya. Bersama Albara, satu-satunya sosok pelindung yang ia percayai, Belle berusaha bangkit kembali. Meski trauma masa lalu membuatnya menutup diri dari cinta, keluarga, dan persahabatan, akankah kehadiran Albara mampu menyembuhkan hatinya dari bayang-bayang luka baru?
Sampul Novel Suami Pengganti
8.1
Kepergian Rian akibat kecelakaan tragis demi melindunginya membuat dunia Tania runtuh. Di tengah duka mendalam, ia dihadapkan pada tuntutan orang tuanya untuk menikahi Andre, sahabat lamanya sendiri. Pernikahan ini harus terjadi demi memulihkan kondisi kesehatan sang ayah yang memburuk. Tania merasa dikhianati oleh kesediaan Andre menerima perjodohan sepihak ini. Tanpa landasan cinta, akankah rumah tangga paksaan ini berujung bahagia, atau justru membawa luka baru bagi mereka?
Sampul Novel Suami Selingkuh CEO
9.2
Pernikahan perjodohanku dengan seorang dokter tidak seindah impian. Sejak malam pertama yang dingin, aku harus menelan pil pahit saat menemukan foto wanita lain di ponselnya. Meski terus diabaikan dan dikhianati demi selingkuhannya, perasaan bodoh ini sulit hilang. Kini, aku berada di persimpangan jalan yang menyiksa: terus bertahan memaafkan kekejamannya, atau memilih pergi demi menyelamatkan harga diriku yang tersisa melalui perceraian.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan