
Rahasia di Balik Istana
Bab 2
Aroma menarik khas laki-laki menghantam hidungku, bercampur dengan bau alkohol. Dia adalah Prahasta Barawijaya, Adipati Halinka. Dia tampak baru kembali dari jamuan makan di istana kerajaan.
Aku terhuyung-huyung ketakutan. Saat aku melihat ke atas, aku merasa hampir tenggelam dalam matanya.
Hidungnya mancung. Garis matanya indah. Bibirnya tipis seperti ukiran. Bahkan pakaiannya yang mewah pun tampak seperti menodai kesempurnaannya. Dia adalah pria paling tampan yang pernah aku temui di dunia.
Para dayang segera mengundurkan diri keluar ruangan melihat situasi ini.
Tanpa diduga, sebelum aku sempat memakai bajuku, Prahasta tiba-tiba memelukku erat dan berbisik di telingaku dengan penuh kasih sayang.
"Akhirnya kamu kembali. Aku sangat merindukanmu ...."
Tubuhnya tidak terlihat ingin melepaskanku sama sekali. Dia membenamkan wajahnya di bola wewangian pemberian kakakku dan menghirupnya dalam-dalam.
Aku terkesiap. Beberapa tetes cairan masih menggantung di sudut bibir sang adipati saat dia tertawa kecil.
"Bagus, Ayunda, kamu lebih baik sebelumnya."
Aku hanyalah seorang gadis perawan. Wajahku langsung merona merah karena kalimat ini, merasa malu sekaligus jengkel.
Aku tidak menyangka kakakku punya hubungan yang begitu dekat dengan adipati. Sampai sedekat ini!
Selain itu, dia tampak sangat suka dengan wewangian ini ....
Bola wewangian ini tidak tampak istimewa sama sekali. Isinya hanya racikan tanaman aromatik biasa seperti semboja, kenanga, dan yang lainnya. Namun, sang adipati bisa begitu terpikat dan terpesona.
Aku tidak dapat menerka rahasia di baliknya, tapi mulai memikirkan sebuah kecurigaan samar-samar. Mungkinkah kakakku dijadikan selir oleh adipati?
Permaisuri adipati sakit-sakitan sejak melahirkan. Kakakku bertanggung jawab untuk menyusui sang pangeran. Apakah itu berarti dia harus melayani tuannya juga?
Kakakku punya kamar sendiri di istana. Makan tiga kali sehari disiapkan khusus dengan menu pilihan. Tidak boleh ditambah garam maupun minyak, hanya memastikan bahwa air susunya bersih dan bernutrisi.
Perlakuan khusus ini memperkuat kecurigaanku.
Menjelang malam, aku selesai menyusui pangeran dua kali.
Untungnya, si kecil tidak menolak. Dia juga sangat penurut dan tidak pernah menangis. Aku mulai merasa lega.
Aku masih menyimpan beberapa bungkus jamu rahasia itu. Aku harus diam-diam menyiapkannya di malam hari.
Setelah meminumnya, aliran susuku mulai mengalir stabil. Aku pun merasa lega.
Karena kehidupan orang tua dan kerabatku semuanya saat ini bergantung padaku.
Menjelang tengah malam, aku tertidur lelap dengan pakaian lengkap. Dayang yang bertugas mengurus kamar tidur adipati tiba-tiba mengetuk pintu kamarku.
Aku terkejut. Aku bukan permaisuri ataupun selir. Mustahil aku dipanggil ke kamar tidur adipati.
Namun, dayang itu memberiku sebuah benda panjang dingin dan sebuah buku berjudul "Seni Ranjang". Dia hanya berkata dua kalimat lagi sebelum pergi.
"Pesan dari Yang Mulia, kamu cari tahu cara pakai benda ini. Dia akan datang memeriksanya beberapa hari lagi."
Benda ini berbentuk tabung dengan ujung membundar dan terbuat dari batu giok. Aku memegangnya dengan tatapan kosong, tidak tahu harus berbuat apa.
Aku tidak mengerti kenapa adipati ingin memberiku benda seperti ini. Dan bahkan mengatakan agar aku ... menggunakannya?
Baru setelah aku membaca berbagai teknik rahasia hubungan ranjang dalam buku itu, wajahku merona sekaligus memucat. Aku akhirnya menyadari tujuan benda berbentuk tabung ini.
Aku juga jadi benar-benar yakin. Kakakku pasti benar-benar selir adipati!
Namun, aku juga sangat cemas. Aku masih perawan. Jika pangeran tahu aku bukan kakakku, dia pasti akan marah besar ....
Tanganku menyentuh batu giok yang dingin dan mulus itu. Insting bertahan hidup membantuku berpikir cepat.
Sebaiknya kuselesaikan masalah ini sendiri dan jangan meninggalkan celah yang bisa membawa masalah di masa depan.
Aku masuk kembali ke balik selimut dengan pikiran sedikit kosong. Di tengah keheningan malam, aku mengikuti petunjuk di buku dan bersusah payah menjelajahi diri.
Setelah itu, aku menenangkan detak jantungku yang bergejolak kencang dan merasa sangat terkejut.
Benda mati yang dingin saja rasanya seperti ini. Seperti apa jadinya jika adipati sendiri yang melakukannya?
Anda Mungkin Juga Suka





