APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Putri yang Tak Diharapkan

Putri yang Tak Diharapkan

Kehidupan sempurna pewaris Keluarga Mahendra hancur di hari ulang tahunnya yang kedelapan belas ketika ayahnya membawa Karina, seorang anak yatim piatu. Perlahan, kasih sayang keluarganya terkikis. Sang kakak, Martin Mahendra, mendingin, sementara tunangannya, Vincent Santoso, mulai berpaling. Puncaknya, sebuah tamparan keras dan pengusiran diterimanya demi melindungi Karina. Alih-alih memohon, ia memilih mencoret namanya dari kartu keluarga dan mengembalikan cincin pertunangan. Di sisa hari hidupnya yang singkat, ia merelakan segalanya, membiarkan penyesalan terdalam menanti mereka di masa depan.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Aku sudah bilang, aku tidak mencurinya!"

"Ayah, tolong, percayalah padaku!" Aku berlari mengejarnya dan meraih lengannya, air mata akhirnya menetes. "Aku bersumpah, aku tak pernah menyentuh berlian itu!"

Ayahku melepasku dengan kasar. "Cukup! Buktinya ada di depan mata. Sampai kapan kamu akan terus berbohong?"

"Ngaku saja, Adriana," ejek Martin padaku. "Kamu kira kami akan memaafkanmu hanya karena kamu menangis?"

Vincent menyeringai. "Adriana, mungkin kita harus mempertimbangkan kembali pertunangan ini sepenuhnya."

"Tidak! Aku tidak melakukannya!" Aku menoleh panik ke arah Karina. "Kamu tahu aku tidak melakukannya, kan? Kamu tahu aku tidak mencurinya!"

Sebuah senyum tipis melintas di bibir Karina sebelum ia menutupnya dengan ekspresi prihatin.

"Kak, mungkin kamu kelelahan dan bingung. Mungkin kamu melakukan sesuatu yang bahkan tak kamu ingat..."

Kesadaran itu menyergapku. Betapa bodohnya aku bertanya padanya?

Dialah yang paling ingin aku menjadi pencuri.

"Kurung dia!" perintah ayah.

Dua penjaga meraih lenganku. Aku melawan. "Lepaskan aku! Aku anak keluarga ini! Kalian tak punya hak!"

"Anak?" Martin tertawa sinis. "Anak yang mencuri pusaka keluarga? Layakkah kamu mendapat gelar itu?"

Vincent menambah dengan ejekan, "Seharusnya dikurung dari dulu. Jadi bisa membuat keluarga tetap terhormat."

Ketika mereka menyeretku ke sel penjara di ujung belakang rumah, aku melihat jelas kemenangan di mata Karina.

Dia mendekat, lalu berbisik, "Sepertinya aku yang akan mewakili keluarga di depan umum mulai sekarang."

Tiba-tiba aku tertawa. Ya, aku kalah.

Bukan cuma kehormatan itu. Semua di sini akan jadi miliknya sekarang.

Pintu sel menutup dengan dentuman keras, suara kunci berderak bak lonceng kematian.

Dibandingkan kesuraman makam, tempat ini jelas penjara modern.

Empat dinding metal halus, tanpa jendela, hanya satu bola lampu pijar redup di langit-langit yang menyorot tajam.

Lantainya dingin membekukan, satu-satunya penghiburanku adalah selimut tipis. Sel ini biasa menampung penghianat dan musuh keluarga. Sekarang menampung aku.

Aku meringkuk di sudut, rasa sakit di dadaku meluap seperti gelombang.

Setiap napas mencabik paru-paruku. Aku bahkan tak mampu berdiri.

Di jam-jam terakhirku, aku masih tak bisa memahaminya.

Bagaimana berlian itu bisa masuk ke sakuku?

Aku tak menyentuh apa pun selain batu nisan... kecuali...

Batuk hebat mengguncang tubuhku. Sesuatu yang basah menyentuh bibirku.

Saat aku mengulurkan tangan, darah menodai jariku.

Mungkin waktuku tak banyak lagi.

Pikiran mulai melayang mundur, memutar banyak kejadian lampau.

Aku tenggelam dalam ingatan, memutar ulang banyak peristiwa. Setiap jebakan Karina yang telah dirancang dengan hati-hati terpampang jelas di mataku.

Waktu di gala keluarga ketika dia tak sengaja menumpahkan anggur merah di gaun pesanan khususku, membuatku jadi bahan ejekan kalangan elite kota.

Waktu dia mengubah pesan di buku catatanku.

Dan yang paling buruk, ketika dia memakai pembuka surat di mejaku untuk melukai lengannya sendiri, lalu menyalahkanku.

Kenangan-kenangan itu menekan napasku. Jantungku berdegup lemah dan tidak teratur.

Namun bahkan saat itu, kenangan indah masih menyelinap.

Martin saat tujuh tahun, pulang dengan luka dan memar setelah berkelahi dengan anak-anak yang menggangguku. "Tak seorang pun boleh mengganggu adikku!" katanya.

Ayah duduk di samping tempat tidur semalaman ketika aku sakit, tangan kasarnya mengelus dahiku. "Putri kecilku, Ayah akan melindungimu."

Gambar itu begitu hidup, seakan baru terjadi kemarin.

Kenapa... kenapa mereka berubah begitu banyak?

Penglihatanku mulai kabur, anggota tubuhku terasa kebas.

Sakit di dadaku mereda, digantikan rasa ringan yang aneh.

Mungkin inilah rasanya saat sekarat.

Beberapa tahun yang lalu, ketika ayah mengkhianati janji pernikahannya, dia bilang itu hanya hukum dunia bawah, tak ada kepala mafia yang hanya setia pada satu wanita.

Ibuku yang setia pada pernikahan itu, tak bisa menerima dan memilih pergi.

Dia ingin membawaku bersamanya, jauh dari Novarelle, tapi ayah dan kakakku memohon agar aku tetap tinggal.

Mereka bilang mereka membutuhkan aku. Aku masih muda dan tak kuat melihat mereka memohon, jadi aku meyakinkan ibuku untuk membiarkan aku tinggal.

Kalau aku ikut ibuku saat itu, apa semuanya akan berbeda? Apakah aku masih akan menjadi Adriana mereka, yang dibungkus kasih sayang?

Di ambang kesadaran, kupikir aku mendengar ibuku memanggil.

"Adriana, sayang, maukah kamu ikut Ibu?"

'Maaf, Bu. Aku harus pergi dulu.'

Detak jantungku melambat. Hitungan mundur terakhir hidupku.

Sepuluh... sembilan... delapan... tujuh...

Aku menutup mata dan membiarkan gelap menelan seluruhnya.

Dunia senyap.

Pukul enam pagi keesokan harinya, Antoni datang memeriksa sel penjara seperti biasa.

Setelah bekerja untuk Keluarga Mahendra selama tiga puluh tahun, ia telah melihat banyak kehidupan dan kematian, tapi saat ia mengintip lewat jendela kecil di pintu besi, pemandangan di dalam membuatnya tersentak.

"Nona Adriana! Nona Adriana!" serunya, suaranya gemetar sambil meninju pintu.

Tak ada jawaban.

Sosok yang meringkuk di sudut tidak bergerak, wajahnya pucat dengan jejak darah kering di sudut bibir.

Tangan Antoni gemetar sampai nyaris tak bisa memasukkan kunci ke lubang. Akhirnya pintu terbuka dan ia berlari masuk.

"Nona Adriana! Bangun!" Ia berlutut di sampingku dan meraih untuk memeriksa napas.

Dingin. Hampa.

Antoni ambruk ke lantai.

Di ruang makan utama, Indra sedang sarapan dengan santainya seperti biasa.

Karina duduk rapi di sampingnya, menyerahkan koran pagi.

Martin juga di sana, meninjau laporan pendapatan semalam.

"Tuan! Tuan Muda Martin! Cepat kemari!" Antoni sampai lupa sopan santun, menerobos masuk, suaranya penuh teror yang tak pernah didengar Indra sebelumnya.

"Aku sudah bilang kemarin soal perilaku ini. Kenapa harus berteriak begitu pagi-pagi?" Indra mengernyit, jelas tak senang dengan gangguan itu.

Antoni tersandung masuk ke ruang makan. "Tuan! Ini gawat! Nona Adriana, dia..."

"Apa lagi sekarang?" Martin bertanya tanpa menengok dari kertasnya. "Apa dia pura-pura sakit lagi?"

"Tidak! Tuan... Nona Adriana... dia mati! Dia mati di sel!" Suara Antoni pecah, dipenuhi ketakutan yang luar biasa.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Arrogant vs Crazy
9.6
Bertahan hidup di dunia nyata sangatlah berat bagi Nesta. Berbekal ijazah SMA, gadis mungil ini akhirnya mendapat angin segar saat diterima bekerja sebagai office girl di PT Taruna. Sialnya, di hari pertama kerja, ia langsung dipecat oleh atasannya yang sangat sombong. Demi mendapatkan uang halal untuk menyambung hidup, Nesta menolak tunduk. Ia pun menyiapkan rencana gila untuk menghadapi sang bos angkuh agar tetap bisa bekerja di sana.
Sampul Novel Bercinta Dengan Sang Presdir
9.0
Pengkhianatan kejam adik tirinya menghancurkan mimpi Alice Harper untuk menikah dengan Dean Walcott. Setelah dipermalukan di hari pernikahan, Alice memilih pergi ke Birmingham demi menata ulang hidupnya. Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sang mantan kekasih, Dastan Lancaster, yang dulu pergi tanpa kabar. Pesona sang presdir kembali menyalakan api asmara masa lalu. Saat Dastan tiba-tiba melamarnya di hadapan publik, akankah Alice meraih kebahagiaan yang sempat sirna?
Sampul Novel Cute Pumpkin & The Badboy ( Indonesia )
8.9
Aryan Mada Kusumo, pewaris Kusumo Grup yang tampan dan berjiwa bebas, terdesak oleh tuntutan pernikahan melalui perjodohan dari orang tuanya. Sementara itu, Nur Callia Maharani, seorang chef profesional, hanya ingin fokus pada kariernya. Siapa sangka, calon suami pilihan keluarganya adalah musuh bebuyutan masa kecil yang sangat ia benci. Akankah pernikahan antara wanita serius dan pria playboy ini berhasil di tengah bayang-bayang konflik masa lalu mereka?
Sampul Novel Dia Mengambil Rumah, Mobil, Dan Hatiku
8.4
Saat cinta lama Kevin kembali, ia memilih menceraikan Flora. Bukannya menangis, Flora justru menuntut vila, mobil mewah, serta setengah dari total harta mereka. Kevin terkejut dan baru menyadari bahwa sang istri adalah sosok genius yang selama ini mengatur kesuksesan finansialnya. Sadar telah kehilangan pilar penting dalam hidup dan bisnisnya, kini Kevin harus berjuang keras demi mendapatkan kembali hati Flora yang telah ia lepaskan.
Sampul Novel Dosen Suamiku
9.8
Wasiat mendiang kakek memaksa Adara Adila Calista, mahasiswi berumur 22 tahun, menikah dengan cucu sahabat kakeknya. Ia sangat terkejut saat mengetahui calon suaminya adalah Rafka Shaquile Zhafran, dosen yang kerap membuatnya jengkel di kampus. Rafka, CEO berusia 24 tahun, terpaksa menyetujui perjodohan ini demi keluarganya dan demi menghindari ancaman kehilangan warisan. Bagaimanakah kelanjutan pernikahan Adara dengan sang dosen yang ia benci dalam ikatan takdir ini?
Sampul Novel Kehidupan Malam Mendatangkan Cinta
8.2
Demi melunasi utang dan biaya medis ibunya, Maudy terpaksa mengambil pekerjaan misterius berbayar tinggi. Keputusan ini menyeretnya ke dunia malam kota Alka, tempat ia harus bertahan hidup di sebuah lokalisasi. Tak disangka, Maudy justru jatuh cinta pada seorang pria kaya yang ternyata pemilik tempat tersebut. Hubungan asmara mereka pun harus menghadapi berbagai rintangan berat yang tak terduga.