APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Dibuang sejak kecil ke panti asuhan, Syaqilla harus menghadapi kenyataan pahit saat ibu kandungnya kembali. Alih-alih kasih sayang, kepulangan sang ibu justru membawa penderitaan baru. Dua tahun kemudian, ia bahkan tega menjual Syaqilla kepada rentenir demi melunasi tumpukan utangnya. Mengapa sang ibu begitu membencinya hingga merusak masa depannya? Kini, Syaqilla terjebak dalam dilema batin antara bakti anak dan kepedihan yang mendalam.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Lima ratus juta! Aku mau lima ratus juta. Aku jamin kalau dia benar-benar masih perawan dan belum pernah disentuh oleh siapapun. Jadi, kau tidak akan rugi, bukan?" Dengan entengnya Tamara menyebutkan nominal harga yang ia inginkan. Ia seperti sedang menawarkan barang dagangan saja. Padahal yang ia jual adalah keperawanan anak gadisnya sendiri.

"Apaa?! Lima Ratus juta? Apa kau sudah gila?" Tentu saja Bram sangat terkejut mendengarnya. Dan ia terlihat sangat kesal dengan nominal yang disebutkan Tamara. Nominal itu terlalu besar buat membayar anak seorang pelacur. Walau putrinya masih perawan, tetapi bagi Bram itu angka fantastis yang tidak masuk akal. "Kau meminta uang bayaran, atau malah mau memerasku, hah?"

Dengan cueknya Tamara mengangkat kedua bahu. Tanda ia tidak perduli dengan rèspon Bram yang sedang meneriakinya.

"Itu sih, terserah kau saja, Bang. Kalau setuju, silahkan. Kalau gak, ya udah sana-sana kau pergi saja deh sekarang!" Tamara mengibas-ibaskan tangannya tanda mengusir Bram dari rumahnya itu.

"Lagi pula jika kau tak mau, masih banyak kok, orang yang mengantri demi mendapatkan putriku yang masih ting-ting itu," lanjut Tamara seraya tersenyum sinis padanya.

Bram terdiam sesaat, ia tampak sedang berfikir. Sungguh ia sangat menginginkan dan tergiur dengan gadis itu. Apabila ia tak bertindak cepat, benar kata Tamara, pasti ada banya laki-laki lain yang juga menginginkan gadis tersebut.

Hingga pada akhirnya ia pun berkata, "Ok, aku setuju. Tapi, uang yang lima ratus juta itu akan kuberikan setelah aku menikah dengannya nanti."

"Ok, deal." Dengan senang hati Tamara langsung menyetujui tawaran itu. "Tapi, tidak terpotong sama hutangku itu loh, Bang. Jadi besok aku mau terima utuh uang lima ratus juta itu."

Bram tersenyum bahagia karena merasa senang sebentar lagi ia akan segera memiliki gadis itu.Tetapi ia juga sedikit kesal dengan cara licik Tamara yang memanfaatkan keadaan ini untuk bisa terbebas dari hutang-hutangnya itu. "Ok, tapi, aku ingin membawa gadis itu malam ini juga. Dan besok pagi aku akan langsung menikahinya."

"Eh tunggu, sabar dululah, Bang! Gak sabar banget, sih," sungut Tamara.

"Yah, karena kalau nunggu besok, takut ia tidak mau dan malah kabur dari sini bagaimana?"

"Oh, jadi Abang takut, kalau aku akan menipumu gitu, Bang?"

"Ya, siapa tau bisa begitu, 'kan?"

"Ok, tapi beneran ya, Bang. Setelah kalian menikah besok, Abang akan langsung memberikan uang itu?"

Bram mengngguk menyakinkannya. "Ya ya ya ... pasti akan langsung aku tranfer besok."

"Baiklah, kalian tunggulah sebentar! Aku akan memanggilnya." Kemudian wanita paruh baya itu langsung pergi menuju kamar sang anak. Sementara ke tiga pria itu dengan sabar menunggu di ruang tamu.

Syaqilla yang semula akan merebahkan tubuhnya di atas kasur, merasa kaget ketika mendengar ada suara ketukan pintu. Sehingga ia terpaksa menunda keinginannya untuk segera beristirahat. Dengan malasnya ia beranjak dari tempat tidur dan segera membuka pintu kamarnya.

Cekllek.

"Eh, Ibu. Ada apa? Aku sudah ngantuk loh, Bu. Jadi, tolong jangan ganggu aku, ya! Aku mau tidur nih," ujarnya sembari menguap menahan rasa kantuknya.

"Oh, jadi kamu gak terima, kalau Ibu menggangumu, hah?" ujar Tamara ketus.

"Ya ya bukan begitu, Bu," jawabnya lirih.

"Sudah, sekarang kamu siap-siap ikut Pak Bram!" perintah Tamara.

"Hah, siap-siap?" Syaqilla mengerutkan dahinya karena bingung tidak mengerti maksud dari perkataan ibunya ini. "Siap-siap untuk apa, Bu? Da-dan Pak Bram itu siapa?"

"Ya siap-siap untuk ikut Pak Bram ke rumahnya, Qilla!"

"Untuk apa, Ibu, aku ikut ke rumahnya?"

"Kamu akan ibu nikahkan dengannya, Besok! Dan ibu tidak ingin ada bantahan sedikitpun darimu!"

JEDDER!

"A-apa? Me-menikah?!" Ucapan ibunya bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Yang seakan-akan memberi tekanan padanya, sehingga ia tidak bisa untuk membantahnya.

Seketika itu juga, rasa kantuk yang sedari tadi ia rasakan hilang begitu saja mendengar ucapan ibunya itu. Kata 'Menikah' membuat Syaqilla sangat syok dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.

"Ja-jadi ma-mak-sud I-Ibu aku harus menikah dengan Pak Bram?" pekiknya.

"Ya, bukannya kamu ingin Ibu berhenti dari pekerjaan ini, kan?"

Syaqilla menggangguk.

"Makanya kamu harus menikah dengan dia," lanjut Tamara.

Syaqilla terdiam mematung masih mencoba mencerna perkataan dari ibunya. Namun tiba-tiba Tamara malah menarik tangannya, dengan paksa membawanya menuju ke ruang tamu.

"Aww ... sakit, Bu!" pekik Syaqilla menahan sakit di pergelangan tangannya. Karena sang Ibu mencengkramnya terlalu kuat. Namun ia terpaksa mengikuti langkah sang ibu yang menyeretnya ke ruang depan.

Lalu Tamara menghempaskan tangannya dengan kasar. "Ini, dia. Kalian boleh membawanya sekarang juga!"

Gadis bergigi gingsul itu sampai terbengong dibuatnya. Ia tidak mengira kalau Ibunya ini tega menyerahkan dirinya kepada pria yang bernama Bram.

"Sebenarnya apa yang terjadi, Ibu? Kenapa aku harus ikut mereka? Aku tidak mau!" Syaqilla bersuara lantang mencoba melawan perintah Ibunya.

"Apa, kamu bilang? Tidak mau? Kamu mau jadi anak durhaka, yang membangkang kepada orang tua, hah!" Dengan sangat geram Tamara berteriak sambil melotot ke arahnya.

"Tetapi, aku belum mau menikah. Dan kenapa pula Ibu tiba-tiba saja menjodohkanku sama Pak Bram itu?" protesnya.

"Pak Bram itu orang kaya, orang terpandang, Qilla! Kamu bisa hidup enak tanpa harus capek-capek kerja keras seperti yang sekarang ini. Dan pasti dia akan cukupi semua kebutuhanmu nanti. Jadi, kurang enak apa lagi, coba?" ujar Tamara, memberikan sebuah alasan untuk membela dirinya sendiri. Padahal dalam hatinya, ia hanya ingin mendapatkan uang yang banyak tanpa memperdulikan bagaimana nasib gadis itu kedepannya nanti.

"Tapi, bukan seperti ini yang aku inginkan, Bu. Aku hanya ingin hidup damai bersama Ibu. Hanya ingin Ibu menyangiku. Dan ... kalau soal uang, aku masih sanggup bekerja untuk Ibu." Syaqilla mulai mengungkapkan isi hatinya yang ia pendam selama ini. Dengan sedih menatap sang ibu yang sedang berdiri di hadapanya itu.

"Alah, omong kosong." Tamara mengibaskan tanganya sambil tertawa mengejek dan meremehkan omongan putrinya tadi. "Emang berapa yang bisa kamu berikan ke Ibu, dengan kamu yang hanya bekerja sebagai pelayan toko, Qilla? Buat makan aja kurang, sok-sok'an mau ngebahagiain Ibu."

Syaqilla masih terdiam membatu menatap tidak percaya, kalau sang ibu akan berkata seperti itu padanya. Jadi selama ini yang ibunya pikirkan hanya uang dan uang. Dia tidak pernah memikirkan perasaanya walau sedikitpun.

Perlahan bulir-bulir bening seperti kristal mulai mengalir di kedua pipinya. Hatinya terasa sangat sakit, karena ternyata memang benar ibunya tidak pernah menyayanginya sepenuh hati.

"Ibu, apakah Ibu pernah menyayangiku walau hanya sedikit saja?" tanya Qilla sambil terbata-bata menahan tangisnya.

Tamara pun terdiam tidak menjawab. Dia bingung mau menjawab apa. Apakah harus berkata jujur atau membiarkannya saja berfikiran entah seperti apa tentang dirinya.

"Sudah cukup dramanya! Mending sekarang kau ikut denganku gadis cantik!" Tiba-tiba Bram menyela pertengkaran mereka berdua. Sehingga Syaqilla yang semula menunduk sambil menangis langsung mendungak dan menoleh ke arahnya.

"Anda siapa?" Sambil mengusap air matanya, gadis berpiama pink itu mengeryitkan dahinya melihat pria paruh baya tersebut.

Bram tertawa lantang lalu berkata, "Aku adalah calon suamimu, Sayang!"

"A-apa!" Sontak gadis cantik itu membelalakan mata. Lagi-Lagi dia dikejutkan oleh kenyataan kalau sang ibunya ini tega menjodohkannya dengan pria tua itu.

"Ibu, sungguh aku tidak mengerti, masa aku harus menikah dengan dia?" Protes Syaqilla menuding ke arah pria itu. Ia semakin menolak perjodohan ini. Apalagi setelah tau kalau umur pria yang akan menjadi calon suaminya itu terpaut jauh dengannya. Bahkan pria itu terlihat lebih pantas sebagai ayah mertuanya saja.

"Ya, benar. Memang dia calon suami kamu, Qilla!" jawab Tamara dengan acuhnya membenarkan ucapan Bram. "Jika kamu mau menikah dengannya maka hutang-hutangku kepadanya ajan dianggap lunas."

"A-apaa?!" Entah yang ke berapa kalinya gadis itu dibikin syok oleh perkataan Ibunya sendiri. "Ja-jadi Ibu menjadikanku sebagai pelunas hutang?"

"Sudah, cukup! Cepat bawa dia sekarang!" ucap Bram memberi perintah pada kedua anak buahnya.

"Tidak, aku tidak mau!" Seraya menggelengkan kepalanya, sebelum kedua anak buah itu mendekati dirinya, dengan sangat panik gadis itu langsung berlari menuju pintu depan, berusaha untuk kabur.

"Brengsek, dia malah kabur, lagi. Buruan cepat kejar dia, Bodoh!" Bram terlihat sangat marah memberikan perintah kepada anak buahnya yang hanya diam saja melihat Syaqilla melarikan diri dari sana.

Dengan segera kedua anak buah itu pun gegas berlari ke luar rumah mengejar gadis tersebut. Sementara Bram kini menatap Tamara dengan tajam dan penuh kemarahan.

"Jika putrimu itu tidak bisa ditemukan, maka hutangmu akan bertambah menjadi dua kali lipat!" ancam Bram.

"A-apa?! Ti-tidak bisa seperti ini dong, Bang!" pekik Tamara syok.

"Jika kau ingin hutangmu lunas, maka temukan putrimu itu dan serahkan dia padaku!" tandasnya. Kemudian Bram pergi meninggalkan rumah itu.

"Ah, sialan si Qilla! Dasar anak gak tau diuntung!" umpatnya sambil menggertakan giginya karena kesal.

Kemudian ia pun berlari keluar rumah, berusaha ingin mencari putrinya juga.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ALFARO | Berandal gilaku
8.5
Keenan Alfaro seorang anak yatim piatu yang hidup sendiri sejak usia 9 tahun. Bukan hal yang mudah untuknya bisa bertahan sampai usianya menginjak 18 tahun dan duduk dibangku SMA. "BERANI, LAWAN!! GAK BERANI, PULANG!! COWO JANGAN NANGIS!!" Kalimat satu-satunya yang terlontar dari mulut papanya yang membuatnya bertahan menghadapi kerasnya hidup. Tumbuh dengan tanpa pengawasan orang tua menjadikannya pribadi yang urakan dan playboy. Tak takut kepada siapapun dan tak takut menghadapi apapun. Tak pernah menangis hanya karena tubuhnya terluka dan berdarah. Pengecualian yang membuatnya menitikan air mata. Cewe! Mutiara namanya. Murid terpintar seangkatannya yang duduk dibangku kelas 11. Satu-satunya cewe yang meluluhkan hati Keenan diantara ribuan cewe yang ada di jagat raya ini. Keenan, murid beasiswa ini kembali harus duduk di kelas 12 karena satu hal dan menjadi saingan Mutia. --‐‐----------------------------------------------------------------- "Berat?" Tanya Keenan tepat di depan wajah Mutia saat tubuhnya menindih tubuh mungil cewenya ini. Nafasnya menguar mengeluarkan wangi mint yang khas. Mutia menggeleng "Yang berat itu jadi pacar kamu" Bagaimana tidak, seumur hidupnya tak pernah menyangka jika dirinya akan berakhir mendapatkan pembulian di kelas 12 setelah dirinya meminta Keenan untuk mempublikasikan statusnya. --------------------------------------------------------------------- Keenan Alfaro si kere ini memanfaatkan wajah tampannya juga kepintarannya untuk memeras para cewe-cewe kaya di sekolahnya. Rayuan gombalnya membuat mereka tak pernah merasa dimanfaatkan. Tak terima dengan pengakuan yang Keenan buat, para cewe itu mengamuk dan berakhir membuli Mutia. Bukan hanya dari kalangan para cewe, para cowo pun ikut membuli Mutia karena dari mereka banyak yang menjadi sasaran empuk kepalan tangan Keenan. Cowo itu tak terkalahkan dalam hal apapun termasuk adu jotos. Si BERANDAL GILA, itulah sebutannya. Mutia kini menjadi sasaran balas dendam mereka. Akankah Mutia bertahan? Atau malah menyerah??
Sampul Novel Istri Yang Tak Diinginkan
8.5
Bagi Aleeya, pernikahan bukanlah akhir yang bahagia. Kepergian sang ibu justru menyeretnya ke dalam ikatan paksa dengan Richo, pria yang sejak awal menolak keras dirinya. Kini, kehidupan Aleeya berubah drastis menjadi penuh penderitaan. Di bawah atap yang sama, suaminya sendiri sama sekali enggan mengakui keberadaannya. Aleeya pun harus bertahan menjalani hari-hari yang dingin, berjuang sendirian menghadapi kepedihan dan pengabaian di dalam rumah tangga yang hampa tanpa cinta.
Sampul Novel Luka Batin Istriku
9.0
Seorang suami terkejut saat mendapati Tari menyuguhkan minuman mencurigakan kepada bayi mereka, Adel. Ketakutan menyergap Tari hingga ia hanya bisa menangis membisu tanpa sanggup membela diri. Kemarahan sang suami kian memuncak begitu tahu stok susu anak mereka telah habis. Ia pun nekat membanting botol susu yang tersisa setengah demi memaksa sang istri bicara jujur. Di balik tangisan histeris yang pecah, sebuah rahasia yang menyayat hati akhirnya mulai terkuak.
Sampul Novel Miss Liar
8.1
Sandra, gadis yatim piatu yang kabur dari kejaran rentenir desa, nekat memakai ijazah palsu demi bertahan hidup di kota besar. Sambil mencari ibu kandungnya, ia memendam hasrat balas dendam atas masa lalunya. Perjalanannya mempertemukan Sandra dengan Hardy, seorang CEO stasiun TV yang peduli padanya, serta Bayu, miliarder pemilik hotel yang menyamar. Di tengah persaingan cinta dan ambisi ini, Sandra juga harus menghadapi pengkhianatan dari sahabat kecilnya, Nina.
Sampul Novel Perjanjian Rahim
9.6
Demi uang, Calista sepakat menyewakan rahimnya pada Darian. Ide nekat ini dirancang Mireya, sahabat Calista yang juga pacar Darian, karena enggan hamil. Awalnya Calista mengira transaksi ini murni profesional. Namun, benih cinta justru tumbuh antara Calista dan Darian seiring kehamilannya. Keadaan memburuk ketika sifat buruk Mireya mulai terbongkar, mengubah kesepakatan bisnis ini menjadi pusaran konflik batin yang berbahaya bagi mereka.
Sampul Novel PLAYBOY PENSIUN!
7.9
Michael Giorgino Orlando, pria sukses yang jenuh dengan pernikahannya, mengejar cinta Sydney, arsitek mal miliknya. Namun, Sydney terus menolak. Sikap dingin Michael membuat sang istri, Greeta, terabaikan hingga ajal menjemput. Dihantui penyesalan mendalam, Michael kini harus memenuhi wasiat terakhir mendiang istrinya untuk menikahi Sydney. Sayangnya, Sydney yang masih trauma dengan komitmen enggan membuka hatinya kembali untuk Michael.