APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Putri Kandung yang Diperlakukan Asing

Putri Kandung yang Diperlakukan Asing

Setelah resepsi pernikahannya dibatalkan untuk ke-88 kalinya karena sang adik angkat, Yasmin, mengancam bunuh diri, Willa mengambil keputusan besar. Ia memilih pergi mengembangkan pasar di Negara Heksa selama sepuluh tahun, meninggalkan tunangannya, Aditya, serta orang tuanya yang selalu menyalahkannya atas depresi Yasmin. Diusir secara verbal oleh ayahnya sendiri yang menganggapnya egois, Willa akhirnya menyerah untuk mendapatkan kasih sayang mereka dan memilih pergi selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Setelah resepsi pernikahan ke-88 kali dibatalkan, aku menelepon partnerku, "Aku mau daftar untuk mengembangkan pasar di Negara Heksa."

Suara partnerku yang terkejut terdengar. "Apa kamu sudah pikirkan baik-baik? Kamu nggak boleh pulang selama 10 tahun setelah pergi ke Negara Heksa. Kamu baru nikah hari ini, tapi langsung pisah rumah. Apa suamimu setuju?"

Partnerku menambahkan, "Bagaimana dengan orang tuamu? Bukannya keinginan terbesarmu itu menemani mereka?"

Aku memandangi gereja yang kosong, lalu tersenyum getir dan menimpali, "Resepsi pernikahan dibatalkan, mana mungkin aku punya suami? Mengenai orang tuaku, mereka sudah cukup bahagia ditemani Yasmin."

Partnerku terdiam sedetik sebelum menyahut, "Oke. Kalau begitu, kamu siap-siap. Besok kamu berangkat."

Sesudah mengakhiri panggilan telepon, aku menyentuh gaun pengantinku. Air mataku yang terakhir menetes.

Hari ini, depresi yang diidap adik angkatku kambuh lagi dan dia ingin bunuh diri. Lagi-lagi, Aditya membatalkan resepsi pernikahan kami.

Aku yang tidak berdaya dan putus asa berucap sambil memandangi Aditya, "Ini sudah yang ke-88 kali."

Aditya merasa bersalah. Dia menunduk sembari membujukku, "Beri aku waktu lagi ya? Willa, kamu tahu sejak kejadian itu, kondisi mental Yasmin nggak stabil. Aku benar-benar takut dia melakukan hal bodoh."

Aditya berjanji, "Kamu tenang saja. Kali ini, aku pasti akan jelaskan padanya. Setelah itu, kita segera menikah."

Orang tuaku mendesak Aditya untuk segera menyelamatkan Yasmin. Ayahku menegur, "Willa, cepat lepaskan Aditya. Kalau bukan karena dulu Yasmin menyelamatkanmu, mana mungkin dia diculik? Dia nggak akan mengidap depresi dan mentalnya nggak akan hancur."

Ayahku meneruskan, "Sekarang kamu menghalangi Aditya untuk menyelamatkan Yasmin, apa kamu mau mencelakai adikmu? Kenapa kamu begitu egois? Apa resepsi pernikahanmu lebih penting daripada nyawa Yasmin?"

Aku sudah sering mendengar teguran seperti ini. Dulu aku pasti membantah, tetapi kali ini aku terdiam. Tunanganku dan orang tuaku tidak menyukaiku, bahkan mereka tidak memercayaiku. Kalau begitu, aku pergi saja.

Aditya Haris ditelepon Yasmin Rusli yang ingin "berpamitan dengan cara bunuh diri" lagi. Jadi, dia kembali menghentikan resepsi pernikahan kami tanpa ragu sedikit pun.

Aku menggenggam gaun pengantin mahal yang melambangkan kebahagiaan murni dengan erat. Aku mengadang Aditya dengan wajah pucat pasi sambil bertanya, "Apa kamu nggak bisa pergi setelah resepsi pernikahan berakhir? Ini sudah yang ke-88 kali."

Mataku memerah. Aditya mendesah, lalu memelukku dengan perasaan bersalah dan menyahut, "Beri aku waktu lagi ya? Willa, kamu tahu sejak kejadian itu, kondisi mental Yasmin nggak stabil. Aku benar-benar takut dia melakukan hal bodoh."

Aditya berjanji, "Kamu tenang saja. Kali ini, aku pasti akan jelaskan padanya. Setelah itu, kita segera menikah."

Ini adalah ke-88 kalinya aku mendengar ucapan ini. Delapan puluh tujuh kali sebelumnya, aku bagaikan seorang penganut yang taat. Aku memercayai kebohongan Aditya dengan sepenuh hati.

Aku terus memberi tahu diri sendiri asalkan Aditya mencintaiku, tidak masalah resepsi pernikahan kami ditunda. Namun, setiap kali pernikahan kami akan dibatalkan dan ditunda.

Kami mengadakan resepsi pernikahan 80 kali, tetapi tidak pernah berjalan sampai di depan pendeta. Yasmin selalu membuat masalah mendadak tepat waktu. Kalau bukan kecelakaan, Yasmin akan mengancam ingin bunuh diri karena depresinya kambuh.

Aditya akan langsung mencari Yasmin, lalu berhasil menenangkan Yasmin yang ingin "bunuh diri" secara ajaib. Konyol sekali, 'kan?

Seseorang yang menggila sampai-sampai menyayat pergelangan tangan, mengonsumsi obat tidur, dan menangis histeris bisa langsung tenang asalkan tunanganku muncul. Yasmin akan kembali bersemangat untuk melanjutkan hidupnya.

Aku hanya terdiam dan tidak ingin bicara. Aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk balik memeluk Aditya supaya bisa mempertahankannya.

Aditya masih menghiburku, tetapi ibuku sudah tidak sabar. Dia mendesak Aditya untuk segera menyelamatkan Yasmin, "Willa, jangan keras kepala lagi. Cepat lepaskan Aditya. Adikmu sudah panjat balkon."

Ayahku menegurku dengan ekspresi muram, "Kenapa kamu merajuk lagi? Kalau bukan karena dulu Yasmin menyelamatkanmu, mana mungkin dia diculik? Dia nggak akan mengidap depresi dan mentalnya nggak akan hancur."

Ayahku melanjutkan, "Nggak masalah kalau biasanya kamu bersikap egois. Sekarang adikmu menunggu untuk diselamatkan, apa kamu nggak bisa lebih pengertian?"

Terdengar suara ponsel berdering lagi. Aditya tidak rela melepaskan tanganku. Dia bertanya, "Willa, aku harus pergi. Kamu pasti setuju, 'kan?"

Aku belum sempat menjawab. Tubuhku terhuyung, aku yang memakai sepatu hak tinggi terkilir. Alhasil, aku terjatuh ke lantai. Lenganku menabrak hiasan logam pada karangan bunga di samping sehingga muncul luka goresan yang besar.

Rasa sakit yang menusuk seketika menyebar ke sekujur tubuhku. Aku berteriak kesakitan. Akan tetapi, Aditya seperti tidak mendengar teriakanku. Dia bergegas keluar tanpa ragu sedikit pun.

Hatiku hancur. Aku yang putus asa menjerit pada sosok Aditya yang hampir menghilang, "Aditya, aku akan menunggu di sini sampai hari ini berakhir. Kalau kamu nggak kembali, kita nggak usah menikah lagi."

Langkah Aditya terhenti setelah mendengar perkataanku. Hanya saja, dia tetap tidak berbalik. Orang tuaku juga buru-buru berjalan ke keluar.

Ayahku mencibir dan berucap saat berjalan melewatiku, "Kamu berpura-pura begini untuk menarik simpati siapa? Willa, aku tegaskan padamu. Jangankan membatalkan resepsi pernikahan, kamu juga harus menyetujuinya kalau kami menyuruhmu membiarkan Aditya dan adikmu bersama. Bagaimanapun, nyawa adikmu lebih penting!"

Ibuku menimpali dengan ekspresi bimbang, "Willa, kamu harus lebih pengertian. Ini cuma resepsi pernikahan. Kalau kali ini gagal, lain kali kita bisa mengadakannya lagi."

Ibuku meneruskan, "Tapi, adikmu menunggu untuk diselamatkan Aditya. Nggak masalah kalau biasanya kamu suka rebutan dengan adikmu. Hanya saja, sekarang kami nggak punya waktu ladeni kamu merajuk."

Aku sudah mendengar ucapan ini berkali-kali sejak aku pulang. Saat aku dibawa pulang, Yasmin yang merupakan adik angkatku sudah tinggal di rumahku selama 15 tahun.

Aku tidak meminta orang tuaku untuk mengusir Yasmin. Sebaliknya, aku tulus menganggap Yasmin sebagai keluarga.

Namun, Yasmin suka merebut barangku. Biarpun membenci boneka beruang dan tidak pernah memakai gaun merah, dia tetap merebut semua barang yang aku suka.

Aku juga pernah bertanya kepada Yasmin alasan dia berbuat seperti ini. Jawabannya membuatku bergidik. Yasmin berujar, "Nggak kenapa-kenapa. Aku suka lihat ekspresimu yang putus asa setelah semua barangmu kurebut."

Kala itu, aku sangat polos. Aku mengira orang tuaku akan tahu sifat asli Yasmin setelah aku memberi tahu mereka ucapannya. Mereka tidak akan menyalahkan aku tidak pengertian lagi.

Hanya saja, aku terlalu meremehkan trik Yasmin dan posisinya di hati orang tuaku. Ayahku malah menegurku, "Willa, kenapa kami punya putri yang suka berbohong dan egois sepertimu? Kamu benar-benar membuat kami kecewa."

Aku tidak peduli lagi biarpun mereka kecewa. Aku sangat kelelahan sampai-sampai tidak bisa meneteskan air mata lagi. Sekarang aku hanya merasakan dingin yang menusuk. Sekujur tubuhku kebas.

Aku bangkit dari lantai, lalu mengambil tisu untuk menahan lukaku yang berdarah seadanya. Aku berkata, "Ayah, Ibu, cepat lihat kondisi Yasmin. Dia masih di lantai paling atas."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata Seorang Pengasuh
8.1
Kepergian Mbah Tini mendorong Amara meninggalkan Solo menuju Jakarta. Selain ingin menghapus cap anak haram, ia bertekad menemukan ayah kandungnya. Amara lalu bekerja merawat Arya, cucu pengusaha kaya Hadi Pratama yang kurang mendapat perhatian. Di rumah itu, ia harus menghadapi Fathir, ayah Arya yang masih terpukul akibat dikhianati istrinya. Sembari mengasuh sang bayi dan memulihkan trauma Fathir, Amara terus mencari asal-usul dirinya di tengah keluarga yang retak.
Sampul Novel Akibat Bebas Bergaul
7.9
Mengusung genre romansa modern khusus dewasa, kisah ini menyoroti rumitnya hubungan asmara serta dampak nyata dari pergaulan bebas di masa kini. Melalui alur yang intens, pembaca diajak menyelami konflik personal dan konsekuensi dari pilihan gaya hidup tersebut. Sebuah narasi mendalam yang membutuhkan kedewasaan berpikir untuk memahami setiap lika-liku dan pertentangan batin yang dihadapi para tokohnya.
Sampul Novel Dosa Yang Indah - Zina
8.8
Zina terlahir dari masa lalu kelam sang ibu yang penuh noda. Sebagai anak hasil hubungan terlarang, hidupnya dilingkupi penderitaan tanpa akhir. Sang ibu yang menyimpan trauma mendalam akibat kekejaman seorang pria, bertekad membalas dendam dengan cara apa pun. Dalam romansa modern ini, Zina menjadi lambang dosa yang indah sekaligus alat utama ibunya untuk menuntaskan amarah terhadap sosok yang telah menghancurkan hidup mereka.
Sampul Novel IMPERFECT BOSS
8.1
Elgar dikenal sebagai bos yang sempurna, namun semua itu hanyalah kedok belaka. Hidupnya yang tenang seketika terusik saat Lea, salah satu pegawainya, berhasil mengungkap rahasia gelap yang selama ini ia simpan rapat. Demi melindungi reputasinya, Elgar mencoba menekan Lea agar bungkam. Namun, tindakan itu malah memicu rasa bersalah dalam dirinya. Perlahan, kebencian Elgar terkikis dan berubah menjadi benih cinta yang mulai tumbuh di hatinya yang dingin.
Sampul Novel Marriage Life 2
8.9
Vante Adinan diberi kesempatan kedua oleh Andara Jeo untuk menyelamatkan pernikahan mereka yang retak. Namun, kini ia harus menghadapi perubahan drastis pada sikap Andara, termasuk keinginan mengidamnya yang tidak biasa. Masalah makin pelik saat Jaren Adiyaksa menuduh Vante membawa perempuan hamil lain. Meski membantah tuduhan selingkuh tersebut, Vante harus berjuang melewati segala cobaan kesetiaan dan keanehan sikap pasangannya demi mempertahankan rumah tangga.
Sampul Novel Terjerat Cinta Duda Bucin
9.7
Nisya Kailandra, gadis berusia 26 tahun, harus menerima takdir dinikahkan dengan duda pilihan ayahnya. Seketika ia memikul tanggung jawab baru sebagai istri sekaligus ibu tiri. Walau siap berbakti, Nisya enggan memberikan cintanya. Namun, Ryan Ahmad Salim meyakinkan bahwa pernikahan bukan sekadar asmara, melainkan komitmen untuk selalu melindunginya. Mampukah ketulusan Ryan meluluhkan dinding pertahanan di hati Nisya yang dingin?