
Psikopat itu Adik Pacarku
Bab 2
Gio membawa Zoya kembali ke rumah kami.
Sebagai sesama wanita, Zoya langsung menyadari jejak-jejak ketiadaanku.
Zoya pun bertanya dengan hati-hati, "Kak Gio, apa Kak Celia masih marah?"
Zoya bisa menebak alasan kenapa aku meninggalkan rumah.
"Hmm. Dia kembali ke rumah yang dia beli sendiri."
Selain rumahku dan Gio ini, aku juga masih memiliki beberapa rumah lain di luar sana.
Di masa lalu, setelah bertengkar dengan Gio, aku akan secara acak memilih salah satu rumah untuk bersembunyi.
Zoya menggigit bibirnya dan tampak menyesal.
"Kak Gio, semua ini salahku. Akulah yang terlalu keras kepala …. Malam itu aku benar-benar rapuh dan butuh ditemani Kakak …."
"Wajar kalau Kak Celia marah. Aku berharap kalian berhenti perang dingin karena aku."
Gio tersenyum penuh kasih sayang. "Masalah ini bukan salahmu. Celia saja yang sengaja mencari masalah."
"Tenang saja. Kali ini, aku akan berdamai dengannya cuma kalau dia mau minta maaf padamu."
Zoya menahan senyum yang hampir muncul di wajahnya dan berkata dengan suara tercekat, "Semua ini salahku. Aku mau masak dulu untuk Kak Gio."
Zoya berlari ke dapur. Sementara, Gio duduk di sofa dan diam-diam melamun.
Setelah beberapa lama, terdengar suara Gio yang lembut dan hampir tidak terdengar itu. "Celia, berhentilah membuat masalah."
Aku melayang di udara dengan rasa sakit yang luar biasa di hatiku.
Sampai di titik ini, Gio masih menganggap jika aku sengaja mencari masalah.
Seminggu yang lalu adalah ulang tahun ketujuh hubungan kami.
Untuk ulang tahun ini, aku sudah menyiapkan dua kejutan untuk Gio.
Yang pertama adalah slip USG B milikku ….
Lalu yang kedua adalah kartu keluarga milikku.
Setelah tujuh tahun menjalin kasih, aku dan Gio sudah seharusnya menikah.
Namun, makan malam romantis dengan cahaya lilin yang kunantikan tidak terjadi dan malah tergantikan oleh perang dingin.
Di meja makan, masuk panggilan telepon dari Zoya.
Zoya menangis. "Kak Gio, kakiku ini benar-benar nggak guna. Aku jatuh lagi."
"Lenganku juga tersiram air panas. Aku benar-benar kesakitan."
"Kak Gio, tolong datang ke sini dan temani aku, ya? Aku benar-benar kesakitan …."
Zoya selalu terlihat manis dan menggemaskan di depan orang lain. Namun, hanya pada Gio saja, dia berani menangis dan menunjukkan kerentanannya.
Mendengar permohonan Zoya, Gio pun buru-buru mengenakan jaketnya.
Aku menarik Gio agar tetap tinggal dan berkata dengan dingin, "Gio, apa kamu lagi-lagi akan meninggalkanku demi Zoya?"
Gio membujukku, "Jadilah anak baik. Jangan buat masalah. Zoya membutuhkanku."
Mataku memanas dan aku menahan isak tangisku. "Lalu bagaimana denganku? Apa aku nggak membutuhkanmu?"
Sudah tujuh tahun berlalu dan aku masih jadi orang yang berinisiatif untuk mengusulkan pernikahan. Bahkan, di saat aku sudah hamil sebelum menikah.
Bukankah aku juga membutuhkannya?
Aku langsung merasa cemas. "Zoya sudah berkali-kali menggunakan trik ini, apa kamu masih nggak menyadarinya? Dia sengaja membuatku merasa muak!"
"Ulang tahunku, ulang tahunmu, hari valentine, hari jadi kita, setiap kali kita berencana untuk merayakan sesuatu bersama, dia selalu menggunakan alasan kakinya sakit untuk memanggilmu dan menghabiskan waktu bersamamu."
"Apa kamu itu bodoh? Apa kamu nggak bisa membaca perasaannya? Apa kamu harus memanjakannya sampai membuatku muak?"
Gio terkejut mendengar kata-kataku. Namun, rasa terkejutnya itu perlahan-lahan berubah menjadi rasa muak.
"Celia, kenapa hatimu bisa sejahat ini?"
"Di dalam hatiku, aku menganggap Zoya sebagai adikku sendiri. Apa yang membuatmu meragukan hubungan kami?"
"Jangan lupa, kaki Zoya terluka karena dirimu. Kamu masih berutang kaki padanya."
Aku langsung merasa hancur. "Bukan aku. Aku nggak membuatnya cacat."
"Sudah, sudah." Gio mengerutkan kening sambil memegang dahinya. "Jangan bicarakan lagi masalah ini."
Gio mendorong pintu hingga terbuka.
Aku berteriak kasar pada Gio untuk menghentikannya. "Gio, kalau hari ini kamu lagi-lagi meninggalkanku demi Zoya, kita putus saja."
Yang menjawabku adalah bantingan pintu yang begitu keras.
Hatiku benar-benar dingin. Aku mengemasi barang-barangku dan pindah ke rumah lain.
Gio tidak mau kami putus, tetapi dia juga tidak menjemputku untuk pulang ke rumah.
Kami berdua sama-sama keras kepala dan memulai perang dingin yang tidak terucapkan.
Anda Mungkin Juga Suka





