
Psikopat itu Adik Pacarku
Bab 3
Zoya menginap di rumahku dan mengajak Gio untuk menyaksikan film romantis.
Di layar lebar, tokoh utama pria dan wanita tengah berciuman dengan penuh gairah. Dalam suasana ambigu seperti itu, Zoya menatap Gio dengan penuh harap.
Namun, Gio malah menunduk dan menatap ponselnya.
Tampilan layar ponsel Gio jelas menunjukkan jendela obrolan antara diriku dan dirinya.
Gio dengan hati-hati mengusap avatarku dengan ujung jari telunjuknya, karena takut jika tanpa sengaja tiba-tiba menghubungiku.
Wajah Zoya langsung menjadi muram. Dia tersenyum tipis dan ingin berbicara. Namun, Gio memotongnya.
Gio mengusap keningnya yang lelah, lalu berkata dengan kesal, "Zoya, aku mau tidur dulu. Kamu tonton sendiri saja filmnya. Kalau butuh sesuatu, cari saja aku."
Zoya memaksakan diri untuk tersenyum dan berkata, "Istirahatlah dengan baik, Kak Gio."
Gio kembali ke kamar tidur dan menutup pintu.
Zoya langsung meraih boneka di sofa dan mencekik leher boneka itu kuat-kuat dengan sepuluh jarinya.
"Matilah kamu, matilah kamu! Celia, kamu pantas mati!"
Zoya meninju boneka itu keras-keras sebanyak beberapa kali, sebelum amarahnya berangsur-angsur mereda.
Tiba-tiba saja, Zoya menutupi wajahnya dan terkikik. "Nggak masalah. Kak Gio akan sepenuhnya jadi milikku."
Aku benar-benar ingin Gio melihat adegan ini.
Lihatlah, orang yang kamu anggap sebagai adik kandungmu sendiri, selalu menyimpan perasaan yang tidak pantas terhadapmu.
Kebetulan aku juga sudah mati. Jadi, kamu bisa dengan mudah menerima cintanya.
Bukankah itu yang selalu kamu inginkan?
Hari keempat perang dingin, juga menjadi hari kedua mayatku diperbaiki.
Kecuali kepalaku, bagian tubuh lainnya sudah mulai menyerupai bentuk manusia.
Langkah selanjutnya adalah memperbaiki luka yang cukup dalam, hingga terlihat tulangnya.
Asisten muda itu terkesiap. "Seratus delapan puluh dua luka tebasan. Wanita ini benar-benar mati kesakitan."
Gio berkata dengan acuh tak acuh, "Apa anggota keluarga mayat ini belum ditemukan? Sudah empat hari sejak dia meninggal dan anggota keluarganya belum melaporkan orang hilang ini ke polisi?"
"Nggak ada. Mungkin dia wanita gelandangan."
Aku tersenyum getir. Gio mengira aku tengah perang dingin dan sama sekali tidak mau repot-repot untuk menghubungiku. Jadi, bagaimana mungkin dia bisa tahu jika aku hilang?
Gio menunjukkan kakiku kepada asistennya.
"Apa kamu pernah melihat bentuk kaki seperti ini? Ini adalah cacat pada kaki yang cuma dimiliki oleh orang yang berlatih balet. Selain itu, mayat ini kulitnya putih mulus dan tubuhnya juga langsing. Hidupnya pasti kaya dan mewah. Kurasa dia bekerja sebagai penari sebelum meninggal."
Gio menyentuh pergelangan kakiku dan tiba-tiba saja tangannya berhenti bergerak.
Setelah beberapa saat mengamati, Gio tiba-tiba menyadari jika ada dua buah jarum baja yang tertanam di pergelangan kaki itu.
"Celia?"
Gio tanpa sadar berseru pelan.
Pergelangan kakiku patah setahun yang lalu dan harus dipasangi dua jarum baja melalui operasi.
Itulah yang membedakanku dari orang lain.
Gio akhirnya mengenaliku.
Anda Mungkin Juga Suka





