
Primadona Disangka Murahan
Bab 2
"Oh, jadi maksudmu ini semua benar? Aku nggak ingat pernah dilecehkan atau semacamnya, jadi aku pasti dibuat pingsan. Kamu bilang kamu melihatnya sendiri, 'kan? Ayo ikut aku ke kantor polisi buat memberikan kesaksian, aku akan menuntut pelakunya."
Suaraku membuat orang-orang jadi menaruh perhatian mereka kepada kami. Mereka semua langsung menundukkan kepala dan sibuk membahas topik sehangat ini.
Tidak sampai dua menit kemudian, kami sudah dikerubungi banyak orang.
Jayden sontak menjadi agak panik, dia segera meminta maaf lagi kepadaku, "Aku salah bicara, Vania. Aku cuma asal bicara bilang kamu sudah ditiduri semua siswa di kampus."
Jayden pun mengeluarkan ponselnya dan langsung menghapus kedua komentar itu.
"Tuh, Vania, komentarku sudah kuhapus. Kamu nggak usah mikirin masalah ini lagi."
"Iya, Nia, Jayden juga bukannya berniat jahat," timpal Natalia berusaha meredakan situasi. "Mungkin saja dia salah lihat foto dan salah mengenalimu. Tolong maafkan dia."
Salah lihat foto?
Mungkin saja fotonya salah, tetapi namanya tidak mungkin salah.
Aku yakin Jayden melihat sendiri bagaimana namaku memenuhi kolom komentar.
Wah, sepasang sejoli ini seia-sekata sekali. Mereka berniat menyelesaikan masalah ini semudah mungkin.
Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat, lalu menunjukkan komentar lain melalui layar ponselku.
"Tadi kamu bilang kalau aku yang meniduri semua siswa di kampus itu informasi palsu, jadi kata-katamu tentang bagaimana aku melakukannya di siang hari bolong pasti benar dong? Kamu lihat aku melakukannya di mana? Di kampus?"
Jayden tersenyum dengan kesan meminta maaf lagi, lalu berujar pelan, "Itu juga informasi palsu kok. Aku nggak seharusnya bilang begitu. Siswi berprestasi sepertimu nggak seharusnya adu argumen dengan siswa badung seperti kami."
"Nia, Jayden memang salah, tapi dia 'kan sudah minta maaf," timpal Natalia sambil tersenyum. "Gimana kalau hari ini dia traktir kamu makan? Anggap saja masalah hari ini selesai."
Aku menatap mereka berdua dengan serius. Mereka ini benar-benar konyol. "Cuma traktir makan?"
Jayden sontak tertegun. "Terus, kamu mau gimana lagi?"
"Informasimu itu palsu, tapi kamu menyebarkan gosip buruk seperti itu tentang aku. Ada banyak orang yang melihat laman web itu dan itu berdampak buruk buatku," jawabku dengan tegas. "Kamu harus mengunggah permintaan maafmu di semua media sosialmu sekaligus laman web, lalu ganti rugi atas luka batin yang kualami."
Ekspresi Jayden langsung berubah serius. "Apa harus sampai segitunya, Vania? Aku bilang aku salah bicara itu karena kamu teman sekamar pacarku. Kamu pikir aku nggak tahu perbuatan bejat apa yang kamu lakukan, hah?"
"Vania, permintaanmu itu terlalu berlebihan," timpal Natalia dengan kesal. "Komentarnya 'kan sudah kami hapus, tapi kenapa kamu masih mau memperpanjang masalah? Buat apa sih kamu begini? Nanti yang ujung-ujungnya malu juga kamu."
Sikap mereka berdua benar-benar berubah seolah-olah mereka memang berhak mengendalikanku.
Aku pun menarik pakaian Jayden dan bertanya, "Jadi, maksudmu kamu memang benar-benar memergokiku? Siapa orang yang bersamaku? Di mana kami melakukannya? Kapan? Kamu harus memberikan jawabanmu hari ini atau kutuntut kamu atas tuduhan pencemaran nama baik!"
Amarah Jayden pun tersulut. "Kamu lagi bersama dosenmu di hutan kampus siang-siang sekitar sebulan yang lalu! Ada yang merekamnya tahu! Vania, kamu pikir orang-orang nggak tahu dari mana semua prestasi dan beasiswamu itu? Menurutmu adil nggak buat orang lain kalau kamu main curang begini?"
Ekspresi Jayden terlihat sangat serius dan mendadak berubah menjadi bangga karena aku diam saja.
"Vania, aku sudah memberimu kesempatan, tapi kamu yang memaksaku melakukan ini."
Jayden tidak menyadari perubahan ekspresi Natalia setelah mendengarkan keterangan waktu dan tempat yang akurat itu.
Anda Mungkin Juga Suka





