
Primadona Disangka Murahan
Bab 3
Di kehidupan yang sebelumnya, aku menonton video pendek itu sesaat setelah menjadi viral.
Wajah laki-laki dan perempuan yang terekam memang kabur, yang terlihat hanyalah gerakan mereka berdua.
Yang laki-laki tidak ketahuan siapa, tetapi semua orang mengira yang perempuan adalah aku gara-gara komentar Jayden.
Berulang kali aku membela diri dengan mengatakan bahwa perempuan itu bukanlah aku. Aku bahkan belum pernah menyentuh tangan laki-laki manapun semenjak kecil.
Namun, tidak ada yang percaya padaku.
Waktu itu aku lapor polisi, tetapi dosenku malah menindasku.
Dia menyuruhku menemuinya di ruangannya. Dia bilang yang terpenting bukanlah kebenaran, tetapi jangan sampai perbuatanku mencoreng nama baik kampus. Dia juga mengatakan bahwa pihak kampus sudah siap untuk mengeluarkanku.
Aku sedih sekali, aku mati-matian mengatakan bahwa orang di dalam video itu bukanlah aku.
Dosenku pun berkata, "Sebagai dosenmu, aku percaya betul padamu, tapi nggak dengan teman-temanmu. Kejadian ini juga berpengaruh sekali terhadapmu. Aku sudah bicara dengan pihak kampus, mereka berjanji nggak akan mengeluarkanmu, tapi sebaiknya kamu cuti saja beberapa semester. Kamu bisa kembali ke kampus setelah insiden ini berlalu."
Kasarnya, dosenku memintaku keluar dari kampus. Aku bilang akan melanjutkan laporanku ke pihak kepolisian agar masalah ini diusut hingga tuntas, tetapi dosenku tidak setuju.
Sikap dosenku yang semula lembut akhirnya berubah menjadi keras. Dia bilang aku tidak punya bukti, jadi percuma saja lapor polisi. Aku hanya akan merugikan banyak pihak apabila bersikeras meminta polisi melanjutkan penyelidikan.
Karena tekanan dari berbagai pihak, pada akhirnya aku keluar dari kampus.
Saat tiba di rumah, ternyata video itu sudah dikirim ke keluargaku.
Orangtuaku merasa begitu malu dan marah, mereka langsung memutuskan hubungan denganku dan mengusirku keluar.
Pada akhirnya, aku menderita depresi karena tekanan dari semua orang setiap harinya.
Aku tidak punya uang untuk berobat dan akhirnya aku bunuh diri.
Pada malam aku bunuh diri, aku menonton video yang menghancurkan hidupku itu ratusan kali.
Akhirnya, aku menyadari ada semacam tanda lahir berwarna merah di betis si perempuan. Tanda lahir itu berbentuk hati, unik sekali.
Aku sontak teringat pernah melihat tanda yang sama persis di kaki Natalia saat mandi bersamanya.
Begitu melihat ekspresi Natalia saat ini, aku akhirnya menjadi yakin.
Natalia-lah si sosok perempuan dalam video itu.
Aku pun hendak menyahut.
Namun, Natalia langsung menggandeng tangan Jayden dan mencoba mengalihkan perhatian. "Jayden, kamu keterlaluan. Bisa-bisanya kamu menjebak Nia begitu? Kita tahu betul Nia mendapatkan beasiswa itu berkat usahanya sendiri. Kamu nggak berperasaan banget bilang begitu."
"Natalia, kamu itu terlalu baik sampai-sampai gampang ditindas," sahut Jayden dengan marah. "Kamu mati-matian belajar, tapi nggak bisa mendapatkan beasiswa itu. Sedangkan Vania bisa mendapatkannya hanya dengan meniduri dosen kalian! Benar-benar nggak adil! Akan kuperbesar masalah ini supaya kamu bisa mendapatkan keadilan! Biar saja semua orang tahu!"
Ucapan Jayden sontak disambut dengan pujian lantang dari seseorang di tengah kerumunan.
"Hebat!"
Setelah itu, mulai ada yang bertepuk tangan dengan salut.
Mereka pun menatapku. Aku kenal betul tatapan ini, tatapan yang sama ketika aku keluar dari kampus di kehidupan yang sebelumnya.
Aku jadi merasa mual.
Jayden seolah mendapatkan dukungan dari semua orang.
"Kamu mau beralasan apa lagi, Vania?"
Jayden yakin sekali aku akan lari.
Aku pun menenangkan diri dan balas menatap Jayden. "Kamu bilang ada videonya? Mana? Jangan bilang kamu cuma asal bicara? Kalau kamu nggak bisa menunjukkan videonya, itu berarti kamu cuma menyebarkan gosip!"
"Kamu ini benar-benar keras kepala, Vania! Oke, biar kutunjukkan buktinya sekarang juga!" kata Jayden dengan marah.
Dia tidak mengacuhkan larangan Natalia dan mengetuk-ngetuk layar ponselnya.
Video yang kulihat di kehidupan sebelumnya pun sekarang terpampang di hadapanku.
"Ini kamu, jangan berani-beraninya bilang bukan. Semua orang bisa mengenalimu. Vania, kamu pikir kamu pasti nggak berdosa mentang-mentang disebut primadona kampus? Kamu tahu nggak kalau video ini sudah beredar di grup asrama kita? Kalau bukan karena kucegah, video ini sudah pasti tersebar ke grup kampus!"
Jayden tampak tegas, serius dan menantang.
Semua orang sibuk memperhatikan reaksiku.
Entah ingin melihatku malu, terhina atau berniat menyangkal.
Aku pun mengeluarkan ponselku dan menelepon polisi di hadapan mereka semua.
"Halo, polisi? Saya dilecehkan, saya punya saksi dan buktinya. Tolong cepat datang, ya, jangan sampai pelakunya kabur!"
Anda Mungkin Juga Suka





