
Pria yang Menguntitku
Bab 2
Suaranya sangat enak didengar, terutama saat dia bergumam sendiri.
“Sayang, aku nggak kelihatan.”
“Sayang, kasih aku, tolong lah.”
......
Lewat dari layar, sudah hampir nggak kelihatan, tetap bisa mengangkat nafusnya?
Jujur, aku merasa dia bodoh tapi lucu lagi.
Mendengar suaranya yang sangat tertekan, aku mulai mengikuti ritmenya.
Di dalam earphone kedengar nafas pria yang sudah terpuaskan, ini benaran adalah katalisator yang paling sempurna.
Keringat membasahi gaun tidurku, barusan mau pergi mandi, nada sms handphoneku berbunyi, dari nomor yang nggak dikenal.
Beberapa hari ini, aku sering mendapat sms dari nomor yang nggak dikenal, tanpa terkecuali, semuanya dari penguntit itu.
Dia menggunakan aplikasi mengganti banyak nomor telepon untuk mengirimkan sms yang menganggu ke aku, biasanya di tengah malam, hari ini dipercepatnya.
Kelihatannya sudah tidak bisa tahan lagi.
Aku dengan minat membuka handphone dan melihat sms gangguan dia.
“Sayang, tanganmu benaran putih kali.”
“Sayang, aku benaran suka kali sama kamu, aku mau melakukan denganmu hal yang paling gembira.”
“Sayang, apakah kamu hari ini melihat pria yang lain? Kalau nggak kamu hari ini kok bisa begitu emosional?”
......
Kata-kata ini, hanya penguntit yang bisa mengatakannya.
Tapi sayang sekali, menurutku, sms gangguan gini terlalu kekanak-kanakan.
Aku mau ketawa, tapi aku tahu kalau dia di layar sana sedang melihat reaksiku.
Jadi aku membuat ekspresi ketakutan, buruan turun dari kasur melihat ke arah jendela yang tidak ditutup gorden.
Lalu dengan tangan gemetar pertama kali membalasnya.
“Kamu siapa?! Apa yang mau kamu lakukan? Jangan ngintip! Kalau ngintip lagi aku lapor polisi!”
“Sayang, boleh aku pegang kamu ya?”
“Dasar psikopat! pergi kau!”
Mungkin merasa puas dimarahin aku, dia malahan nggak marah, malah terus menerus mengirim smsnya, isi smsnya sangat tidak bermoral, tapi kelihatan sangat jelas keinginannya dan nafsunya.
Kata-kata yang nggak tahu malu itu membuatku hampir melepaskan topengku.
Tapi aku menahan.
Aku seperti kelinci memeluk kakiku dan menunduk kepala, gemetaran karena takut.
Lalu terdengar suara senyum di dalam earphone dan bisikan iblis.
“Sayang takut ya, nangis kah?”
“Bagus sekali, pengen kali sekarang langsung tidurin dia......”
“Lain kali, lain kali aku pasti sembunyi di bawah kasur, kasih dia obat dan nemanin dia tidur.”
Sangat menjijikkan.
Tapi lain kali itu kapan? Aku jadi sangat menantikannya.
Lain kali aku harus menggunakan cara apa supaya dia nggak bisa berhenti? nggak bisa nahan diri?
Dia lagi siapin cara masuknya untuk lain kali, aku juga lagi rencanain strategiku untuk lain kali.
Tapi nggak ku sangka, esoknya dia sudah nggak ada.
Di kantor nggak kelihatan orangnya, bus juga nggak ada, bahkan rumah terbengkalai di samping kantor yang biasa dia sembunyi juga kosong.
Tiga hari berturut-turut aku tidak melihatnya, stocking hitam yang sengaja diletakkan di rumah juga tidak ada perubahan.
Aku mulai cemas.
Apakah dia terjadi sesuatu?
Mangsa yang begitu sempurna, mangsa yang sudah aku tunggu begitu lama.
Belum menikmatinya dan hilang begitu saja? Tentu tidak boleh.
Untungnya di hari keempat, dia muncul lagi.
Kali ini, dia langsung muncul di depanku.
Saat melihatnya, dia tidak memakai topi dan masker, yang terlihat hanyalah muka yang kurus tapi familiar——Atasanku Martinus.
Martinus jongkok di pojok taman kompleks perumahan, menggunakan tangannya yang cantik dengan hati-hati memeluk kucing liar yang dipukuli orang sampai setengah mati.
Menunggu aku melewati, langsung menunjukkan ekspresi yang sangat gembira.
“Sabrina, nggak kusangka kamu juga tinggal di perumahan sini, bisa bantu nggak? Kucing ini terluka, tapi kakiku kesulitan, bisa nggak bantu antarin kucing ini ke rumah sakit?”
Anda Mungkin Juga Suka





