APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Plis Jangan Ganggu!

Plis Jangan Ganggu!

Menumpang di rumah Mbak Rusmi membuatku harus kuat mental menghadapi cacian pedas dari kakak kandungku sendiri. Aku dan suamiku, Rian, terpaksa bertahan di sana karena keterbatasan ekonomi yang membuat kami belum mampu membeli hunian pribadi. Seluruh harta orang tuaku habis demi membayar utang. Sementara itu, rumah milik mertua sudah dipastikan jatuh ke tangan Dion, adik bungsu Rian yang akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat.
Bab
Bagikan

Bab 1

“Mah, masa ya Mas Dandi sekarang ngasih uang harian ke aku cuma seratus ribu, mana cukup kan?” Aku tau Mbak Rusmi pasti sedang menyindirku.

Aku terdiam. Mbak Rusmi lanjut berkata “Haduh stress aku mah, mana sekarang nda bisa ke salon” tangannya memegang kepalanya. Terlihat seperti orang sangat tertekan. Aku menggelengkan kepalaku.

“Mbak tu harusnya bersyukur lima puluh ribu tiap hari buat kebutuhan pokok ya cukup to mba, bukan bermaksud membandingkan nih mba, aku di kasih Mas Rian lima puluh ribu sehari. Itupun masih sisa Mbak” jawabku sambil tersenyum. Berharap Mbak Rusmi sedikit lebih bersyukur.

Ya aku dan Mas Rian memang tinggal di rumah mbak Rusmi. Namun kami tetap membeli kebutuhan pokok sehari-hari. Bahkan kadang aku melebihkan uang belanja dari yang seharusnya. Terkadang juga aku membeli lauk tanpa patungan dengan Mbak Rusmi untuk di makan bersama.

“Bilang aja ngga cukup Mah, orang kamunya aja yang mau di kasih segitu”

“Kalau buat keperluan pokok aja ya cukup mbak, paling kan sehari beras, sayur sama bumbu masak to..” jelasku.

“Alah kamu aja yang mau di kasih uang cuma segitu. Jadi istri jangan nurut terus dong Mah, kali kali minta apa ke suami gitu. Coba tampil cantik, pikirin penampilan kamu. Jangan polos polos gini aja, coba di poles dikit. Siapa tau nanti jatah harian kamu akan nambah” celotehnya.

“Ya jadi istri kan emang nda boleh nuntut suami to mba, harus bersyukur pemberian suami”

Aku memang berpenampilan apa adanya. Hanya mengenakan kerudung untuk menutupi auratku. Goresan goresan make up apalah itu, aku tidak ingin memakainya. Menurutku sudah nyaman seperti ini.

Berbeda dengan Mbak Rusmi. Tiap harian riasan riasan make up selalu menghiasi wajahnya. Rambutnya terkadang di urai dan kadang di kuncir seperti ekor kuda.

“Udahlah cape ngomong sama kamu, di kasih tau malah bawel,” suaranya terdengar kesal. Wajahnya juga terlihat sewot.

Suasana dapur berubah menjadi hening. Mbak Rusmi memotong sayur. Sedangkan aku masih sibuk mencuci wajan.

Rumah Mbak Rasmi inilah tinggal dua keluarga. Mbak Rusmi, Vio anaknya yang kini baru menginjak pendidikan sekolah dasar dan Mas Dandi suaminya di tambah Aku dan Mas Rian suamiku. Sudah beberapa hari aku tinggal disini. Tepatnya setelah aku melangsungkan akad nikah. Ia sendiri yang menawarkan diri. Padahal aku sempat menolak. Tapi ia sedikit memaksa. Rumahnya yang luas dan memiliki dua lantai menjadi pertimbanganku. Katanya banyak kamar yang tidak di pakai. Mereka biasa menepati kamar lantai atas, sedangkan aku dan Mas Rian ditawari untuk tinggal di kamar lantai bawah. Tidak enak menolak terus, akhirnya kami terima tawaran mereka. Lagi pula kami belum mencari tempat untuk mengontrak.

“Eh Mah, kayaknya satu bulan lagi aku lahiran” ia tampak mengelus elus perutnya yang sudah terlihat besar.

“Terus kenapa Mbak ? Alhmadulillah dong mbak kalau sudah mau lahir” Mbak Rusmi sudah sering membicarakan itu. Dan aku sudah tau prediksi bayinya akan lahir.

“Itu.. nanti bakalan rumah ini jadi seperti panti asuhan. Rumah kecil banyak banget penghuninya, belum lagi nanti kalau kamu hamil dan anakmu lahir” pasti Mbak Rusmi punya maksud lain membicarakan ini. Rumahnya aku akui memang besar dan sangat longgar. Di tambah memiliki dua lantai yang disertai dengan balkon.

“Maksud mbak, mbak keberatan aku tinggal di sini ya?” aku mencoba mengklarifikasi apa yang ada di pikiranku. Semoga saja ini salah, batinku.

“Ya kamu harusnya tahulah, eh masa sudah menikah suamimu belum bisa beli rumah..” mbak Rusmi berusaha mengalihkan obrolan. Namun ucapannya juga masih saja pedas menusuk hati. Mana ada istri yang tega suaminya direndahkan.

“Mbak, aku tinggal di sini juga baru dua hari to, dan itu juga mbak yang minta. Mbak tau sendiri gaji Mas Rian yang hanya karyawan kantor tak seberapa. Ini juga masih terus nabung kok mbak, In Syaa Allah Secepatnya mbak”

“Ya kan bisa ngontrak dulu Mah, sampe kapan coba mau numpang terus.. bikin repot.” ucapannya semakin pedas. Aku tahu secara tidak langsung ia mengusirku dari rumahnya. Kalau tau ujungnya begini, aku tidak akan pernah menerima tawarannya untuk tinggal di rumahnya. Namun aku lemah dengan ucapannya, aku percaya kala itu selepas pernikahanku ia terlihat serius menawariku, bahkan memaksa.

“Mbak kenapa ngomong ngga keberatan waktu awal aku minta izin tinggal di rumah mba sementara sebelum aku punya rumah. Kalau mbak ngomong kan aku juga ngga bisa cari tempat tinggal di tempat lain mbak. Kemarin juga ini Mbak yang maksa kan supaya aku dan Mas Rian tinggal di sini. Padahal kami sudah mau mencari kontakan.”

“Ya kali Mah, kalau aku ngga nawarin dan maksa kamu pas itu mbak akan malu. Lagian kamu ngomongnya pas kumpul keluarga. Mau di taruh di mana muka Mba. Ditambah ada keluarga Mas Dandi dan keluarga suami kamu. Nanti malah mba dikiranya ngga mampu nampung kalian.Ngga ada perhatiannya sama adik” ucapan mba Rasmi semakin pedas.

Aku kadang bingung dengan jalan pikirnya. Bodohnya aku percaya begitu saja. Aku benar benar ia ikhlas menawari kami. Wajahnya sangat terlihat tulus. Aku tidak pernah berpikiran buruk pada kakakku sendiri.

“Mbak, sebelumnya kan mbak sendiri yang nawarin aku tinggal di tempat mba sementara dulu sebelum aku beli rumah. Mba yang ngomong sendiri to, rumah mbak lantai dua dan banyar kamar kosong. Makanya aku berani ngomong ke mba waktu kumpul keluarga waktu itu, untuk memastikan lagi mbak”

“Eh Mah, Kamu gimana si pilih suami. Udah jelas jelas si Ferdi anak konglomerat suka sama kamu. Kamu tolak lagi pinangannya. Dia kan juragan beras.Terkenal di mana mana, siapa coba yang tidak ingin memiliki suami sepertinya. Kalau kamu nikah sama dia kamu juga bakal dihormati kaya ratu sama warga sekitar. Andai kamu waktu itu nikah sama dia pasti nasib kamu ngga kaya gini Mah, sekarang pasti kamu jadi Bu bos. Eh malah kamu milih nikah sama Mas Rian yang kerjanya karyawan nda jelas. Suami masa gini.. ngga ada maju-majunya” bukannya menanggapi ucapanku malah Mbak Rusmi berbicara yang lain. Ucapannya tanpa rasa bersalah.

“Mbak ngga boleh ngomong gitu. Kalau mbak emang keberatan aku tingal di sini tinggal ngomong mbak, aku keluar dari sini secepatnya. Ngga usah bawa bawa si Ferdi dan menghina Mas Rian,” aku sungguh tidak terima dengan ucapan Mbak Rusmi barusan. Ini sudah melewati batas. Aku masih berusaha agar suaraku tidak meninggi. Sebisa mungkin aku mengatur emosi.

Mas Rian memang orang yang sabar. Tetapi jika Mas Rian mendengar ucapan Mbak Rusmi kali ini aku yakin ia bakal tersinggung. Aku yang adiknya saja sudah sangat sakit hati. Apalagi Mas Rian yang terang-terangan di rendahkan Mbak Rusmi di depanku sendiri sebagai istrinya, pasti jauh lebih sakit.

Aku mematikan kompor. Aku berniat masuk kamar untuk menenangkan diri. Mataku sudah banjir dengan air mata yang akhirnya berhasil keluar, nyatanya aku tidak kuat menahan pedasnya hinaan mbak Rusmi. Aku berbalik badan. Aku terkejut. Mas Rian sudah berdiri mematung di dekat pintu dapur.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU DIHAMILI SUAMIKU
8.0
Hidup Alexa Banderas hancur di hari kelulusan akibat pembunuhan orang tuanya oleh sang paman yang mengincar dokumen Taurus Corps. Di tengah duka, ia dipaksa menikah dengan Martin Snowden, pria kasar yang membencinya. Kini, Alexa harus memimpin perusahaan besar sekaligus melindungi sang suami dari kekasihnya yang licik demi mengamankan aset keluarga. Mampukah ia membalas dendam, mengelola bisnis, dan meluluhkan hati Martin yang begitu keras?
Sampul Novel Because That Night
8.0
Menyesali hidupnya, Ariel Anata nekat menyerahkan kesucian kepada Sean Rinadi di kelab malam. Meski berjanji berpisah selamanya, takdir justru mempertemukan mereka kembali saat Sean hadir sebagai calon tunangan Vania, kakak Ariel. Sean memanfaatkan situasi ini demi mengejar cinta Ariel. Sebaliknya, Ariel yang selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya memilih memanfaatkan Sean sebagai alat balas dendam kepada keluarganya sendiri.
Sampul Novel Bekas Pacar ( Indonesia )
7.9
Zetaya Diajeng Jayanti memilih mengunci rapat perasaannya akibat trauma masa lalu dari pengkhianatan cinta dan perceraian. Namun, takdir mempertemukannya lagi dengan Andaru Ansel Bratadikara, mantan pacarnya saat SMA yang kini juga seorang duda. Walau Zeta menolak keras kehadirannya, Daru tiada henti mendekat lewat kenangan indah dan rayuan yang gencar. Di antara rasa benci dan luka lama, sanggupkah Zeta bertahan atau justru kembali luluh oleh pesona sang mantan?
Sampul Novel Budak di atas Ranjang
8.3
Izabelle terpaksa menyerahkan kesuciannya kepada Jordan Heron demi melunasi utang judi sang ayah yang hampir membuat mereka kehilangan tempat tinggal. Bos mafia yang kejam itu telah menanti untuk merenggut kehormatan Belle lewat transaksi terlarang yang menyakitkan. Walau ada kenikmatan di tengah penderitaan, Belle justru menerima hinaan keji dari Jordan setelah malam intim mereka usai. Kini, dalam sekapan sang pria bajingan, sanggupkah Izabelle bertahan melewati masa depannya yang suram?
Sampul Novel Bukan yang Pertama
8.4
Zaina Rahayu kehilangan orang tuanya akibat kelalaian seorang sosialita, yang kemudian menjanjikannya menjadi menantu sebagai bentuk penebusan dosa. Namun, sikap dingin sang calon suami dan bayang-bayang masa lalunya yang belum selesai membuat Zaina memilih mundur dari perjodohan ini. Zaina mencoba menjauh, tetapi takdir terus mendekatkannya kembali dengan pria galak itu. Mampukah gadis polos ini bertahan saat benih cinta mulai tumbuh di tengah rumitnya masa lalu sang pria?
Sampul Novel Harga Diriku 10 Juta Per Malam
9.4
Demi melunasi utang miliaran dan membiayai kuliahnya, Arabella Alexandro, seorang mahasiswi yatim piatu, terpaksa bekerja ganda sebagai wanita penghibur di diskotek. Tanpa dukungan keluarga, ia harus berjuang bertahan hidup sendirian. Kehidupannya yang keras menemui babak baru saat ia bertemu dengan Arkan Stevanno Orlando, seorang CEO kaya raya yang menyewa jasanya. Akankah takdir ini menjadi jalan penyelamatnya atau justru menyeret Arabella ke dalam pusaran masalah yang jauh lebih rumit?