
Pewaris yang Kubawa Pergi
Bab 3
Untung Merry tidak jatuh parah. Setelah dokter menyelesaikan pemeriksaan rutin, Tommy membawa dia kembali ke kamar rawat.
Aku berdiri di depan pintu dan melihat Tommy sibuk merawat Merry. Aku merasa seperti orang ketiga yang masuk ke hubungan mereka.
"Tommy, suruh Nona Yura masuk."
Suara Merry terdengar lemah dari dalam.
Tommy melirikku sekilas, lalu menghindari pandangannya.
Aku pun menarik napas panjang dan melangkah masuk ke kamar.
"Nona Yura, jangan salahkan Tommy."
Merry bersandar di kepala ranjang, wajahnya pucat.
"Dia manggil kamu ke sini karena aku yang minta. Ada hal yang harus kita bicarakan baik-baik."
Aku menggigit bibirku dan tidak bicara.
Tommy duduk di sampingku dan menggenggam tanganku.
Wajahnya tampak penuh rasa bersalah, bibirnya bergerak seakan ingin bicara tapi tertahan.
"Yura, ada hal yang mau aku jelasin sama kamu."
Dia berhenti sejenak lalu melanjutkan.
"Aku dan Merry ketemu lagi di sebuah jamuan bisnis."
"Waktu itu ada rekan kerja yang sengaja maksa dia minum. Aku nggak tega lihatnya, jadi aku yang gantiin."
"Siapa sangka kami berdua kebablasan, lalu kejadian itu terjadi."
"Anak ini hasil dari kejadian itu."
Dia menatapku hati-hati. Matanya penuh penyesalan.
Dia menggenggam tanganku makin erat.
"Aku bersumpah, dari awal sampai sekarang di hatiku cuma ada kamu."
"Aku tahu ini bikin kamu sangat sulit, tapi anak itu nggak salah apa-apa."
"Dia darah dagingku, aku nggak bisa cuek."
"Kamu tenang aja, setelah anak lahir aku bakal daftarin dia atas namamu. Kamu yang bakal jadi ibunya."
"Aku harap kamu bisa ngerti aku."
Setelah berkata begitu, dia menatapku dalam-dalam dengan mata penuh harapan.
Aku menunduk, air mataku menggenang.
Ternyata inilah pilihannya.
Dia memilih Merry dan anak mereka.
Yang paling membuatku sakit adalah kebohongannya. Kenapa dia tidak jujur sejak awal, kenapa dia diam-diam menceraikanku, lalu menutupinya dengan buku nikah palsu.
Merry melihatku dan matanya ikut memerah.
"Nona Yura, aku beneran nggak sengaja mau masuk ke hubungan kalian."
"Tapi aku benar-benar nggak bisa, tubuhku lemah. Kalau aku gugurin bayi ini, aku nggak bakal bisa hamil lagi."
"Aku mohon, jangan sakiti anak ini ya?"
Dia menangis sambil bahunya bergetar.
Aku menatap mereka, dadaku terasa sesak.
Aku juga calon ibu. Aku tahu betul arti seorang anak bagi ibunya.
Aku menarik napas panjang dan memaksakan senyum.
"Aku tidak akan marah."
Aku mengatur perasaanku, berusaha membuat suaraku terdengar tenang.
"Aku mengerti."
Tommy tertegun. Dia jelas tidak menyangka aku akan begitu mudah memaafkan kebodohan ini.
Dulu aku memang lembut dan penurut, tapi soal perselingkuhan, aku sama sekali tidak bisa menoleransinya.
"Yura, kamu beneran ngerti?"
Aku mengangguk, bibirku membentuk senyum pahit.
"Tommy, semua ini demi keluarga."
"Aku ngerti kamu butuh penerus. Keluarga Kardi sebesar ini pasti ada yang harus melanjutkan."
"Kalau menurutmu lebih baik, kamu bisa bawa Merry tinggal di rumah. Dengan begitu aku juga lebih tenang."
Setelah aku berkata begitu, wajah Tommy langsung terlihat gembira.
Dia menghela napas lega.
"Yura, terima kasih, kamu baik banget."
Dia menggenggam tanganku erat, matanya penuh rasa haru.
Merry di sampingnya juga ikut terkejut. Dia tidak menyangka aku akan semudah itu setuju.
Tapi dia cepat mengubah sikap, senyum penuh tantangan muncul di wajahnya.
Aku menatapnya, hatiku sudah tidak bergolak lagi.
"Tommy, kalau tidak ada urusan lain aku pulang dulu."
"Aku mau menyiapkan kamar di rumah, lalu cari ahli gizi untuk bantu Nona Merry supaya bayinya bisa lahir dengan selamat."
Tommy mengangguk, matanya penuh rasa bersalah.
"Baik, kamu pulang dulu."
"Setelah semua ini selesai, nanti aku luangin waktu buat kamu."
Aku tersenyum tipis tanpa berkata apa-apa, lalu berbalik meninggalkan kamar.
Anda Mungkin Juga Suka





