
Pewaris yang Kubawa Pergi
Bab 4
Malam itu Tommy membawa Merry pulang ke rumah, bahkan memasak sendiri.
Saat makan malam, dia terus-menerus mengambilkan lauk dan menuangkan sup untuk Merry. Dia tahu persis makanan apa yang Merry sukai.
"Merry, sup ini rasanya ringan, pas banget sama seleramu."
"Nih, ikan yang kamu suka. Makan yang banyak biar badanmu kuat."
Aku melihat kedekatan mereka, air mataku hampir jatuh.
Aku menunduk dan terus makan diam-diam.
Aku tidak boleh menunjukkan reaksi yang terlalu keras, aku tidak boleh membuat Tommy sadar kalau aku sudah berbeda.
Kalau dia tahu aku berencana pergi, dia pasti tidak akan membiarkanku.
Apalagi sekarang aku sedang mengandung anaknya, hal itu juga tidak boleh dia tahu.
"Tommy, kamu segitunya merhatiin aku, apa Nona Yura nggak marah?"
Merry melirikku dengan sengaja saat berkata begitu.
Tommy sempat terdiam lalu buru-buru menjawab, "Dia nggak bakal marah, Merry. Kamu sekarang hamil, kamu harus makan makanan yang bergizi."
"Yura juga perempuan, dia bisa ngerti kamu."
Aku menunduk, wajahku datar tanpa ekspresi.
Setelah makan malam, aku berjalan sendirian di taman.
Saat aku sampai di gazebo, aku melihat Merry datang menghampiri.
"Nona Yura, kamu jalan-jalan sendirian, lagi nggak enak hati ya?"
Dia duduk di depanku, wajahnya penuh tantangan.
"Kamu beneran kuat ya, rela ngurusin anak orang lain tapi nggak mau pergi?"
Aku meliriknya tanpa menjawab apa pun, lalu berdiri hendak pergi.
"Berhenti!"
Merry tiba-tiba mengulurkan tangan untuk menghadangku, wajahnya penuh amarah.
Diamku justru membuatnya makin marah.
Dia ingin melihatku meledak, marah, histeris, tapi aku tidak melakukannya.
Dia mengira bisa memancing reaksiku dengan anak yang dikandungnya, tapi aku juga tidak terpengaruh.
"Yura, kamu cuma pura-pura, 'kan? Pura-pura nggak peduli, pura-pura nggak masalah?"
"Mana ada perempuan yang rela ngurusin anak suaminya dengan perempuan lain!"
"Kenapa kamu nggak marah, kenapa kamu nggak ribut sama Tommy, kenapa kamu malah pura-pura besar hati?"
"Dasar munafik!"
"Kamu pikir dengan pura-pura besar hati, kamu bisa bikin Tommy ngerasa bersalah terus gantinya dia bakal senangin kamu?"
"Itu cuma rasa bersalah, bukan cinta! Kamu kasihan banget, hidup di pernikahan tanpa cinta!"
Aku menggigit bibirku erat-erat supaya tidak menangis.
"Oh ya, anak dalam perutku ini bukan anak Tommy. Tapi karena Tommy udah gila mau punya anak, aku bikin cerita bohong, eh dia percaya begitu saja…"
Aku terkejut mendengarnya.
Aku baru hendak bicara, tapi dia tiba-tiba berdiri dan mendorongku dengan keras.
"Aku bakal tunjukin sekarang siapa yang paling penting buat Tommy."
Lalu dia sengaja menjatuhkan diri ke lantai dan meringis kesakitan.
"Perutku… sakit banget…"
Dia menekan perutnya dengan kedua tangan, darah mulai merembes dari bawah tubuhnya.
Aku kaget setengah mati. Aku jelas tidak melakukan apa-apa, kenapa dia bisa berdarah begitu…
Tommy datang terburu-buru setelah mendengar suara. Saat melihat pemandangan itu, ekspresinya langsung berubah.
"Merry!"
Dia segera memeluk Merry ke dalam dekapannya lalu menoleh padaku dengan tatapan tajam.
"Yura, kamu apain Merry?"
"Aku nggak…" Aku menggeleng, tapi Merry langsung memotong ucapanku.
Merry bersandar di pelukannya sambil menangis.
"Tommy, aku nggak apa-apa. Kamu jangan salahin Nona Yura."
"Aku tahu dia nggak suka sama aku, apalagi sama anakku…"
Tommy makin marah setelah mendengarnya.
Dia mendorongku dengan kasar, lalu mengangkat Merry dan berjalan cepat pergi.
"Yura, kamu keterlaluan!"
"Kalau Merry kenapa-kenapa, aku nggak bakal maafin kamu!"
Aku jatuh terduduk di lantai. Hatiku membeku menatap punggung mereka yang menjauh.
Malam itu Tommy tidak pulang.
Vila yang luas itu hanya menyisakan aku seorang diri.
Aku berbaring di tempat tidur, berguling ke sana kemari tanpa bisa tidur.
Kepalaku penuh dengan wajah Tommy yang tidak percaya padaku, dan senyum puas Merry.
...
Keesokan paginya aku mulai mengemasi barang-barang.
Aku memasukkan semua isi lemariku ke dalam koper, lalu menyingkirkan setiap barang di rumah yang berhubungan denganku.
Setelah membereskan semuanya, aku menyeret koper keluar dari vila.
Saat menutup pintu, aku menoleh sekali.
Dulu tempat ini adalah rumahku bersama Tommy.
Sekarang, rumah itu sudah tidak lagi menjadi milikku.
Sebelum pergi, aku menelpon pengacara.
"Pak Leon, semua aset sudah beres, 'kan?"
"Sudah, Nona Yura. Uangnya sudah masuk ke rekening Anda."
"Paspor Anda juga sudah siap, dan rumah di Swessia sudah dibeli."
"Semuanya sudah siap."
Aku mengangguk, merasa sedikit lega.
"Baik, terima kasih."
"Aku berangkat sekarang."
Setelah menutup telepon, aku melihat berita utama yang penuh dengan foto Tommy sedang menemani Merry di rumah sakit bersalin.
"Bos mafia Tommy, suami penyayang sejati…" Ya, aku sudah menikah dengannya bertahun-tahun, tapi tidak pernah sekalipun orang luar mengenalku.
Tidak ada identitas resmi yang diakui publik. Mungkin itu sudah cukup menunjukkan segalanya.
Mungkin dia sebenarnya tahu kebohongan Merry, bahwa anak yang dikandungnya bukan anak Tommy. Tapi dia memilih pura-pura tidak tahu. Hanya dia sendiri yang tahu alasannya.
Sebagai bos mafia dan pebisnis yang licik, mana mungkin dia tidak menyadari kebohongan murahan seperti itu.
Namun, kenyataannya sudah tidak penting lagi bagiku. Aku tidak peduli.
Aku mengusap perutku. Setidaknya aku masih punya anak-anak ini.
Aku menarik napas panjang, menghapus semua kontak Tommy dari ponsel, lalu berbalik naik ke pesawat.
Anda Mungkin Juga Suka





