APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel PESUGIHAN BERUJUNG PETAKA

PESUGIHAN BERUJUNG PETAKA

Terjerat utang rentenir yang mengancam nyawa, Farah, seorang ibu muda, menghadapi jalan buntu finansial. Keputusasaan menuntunnya mengambil langkah kelam dengan melakukan ritual pesugihan terkutuk. Demi melunasi seluruh utangnya, ia tega menumbalkan putri kandungnya sendiri. Namun, keputusan keji tersebut tidak menyelesaikan masalah, melainkan menjadi awal dari malapetaka mengerikan yang siap menghancurkan hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Ayo cepat naik,kamu mau diusir oleh pak Murshid?"

"Galang dan Melati gimana Mas, besok sajalah, kasihan mereka," Farah menolak ajakan Herman, dia menjadikan anak-anaknya sebagai alasan.

"Mereka juga biasanya anteng sama ibu kan?" celetuk Herman, dia tetap bersikeras mengajak Farah ke rumah Aminah.

Takut suaminya curiga, akhirnya Farah segera naik motor yang mesinnya dari tadi sudah dihidupkan oleh Herman.

Sepanjang jalan Farah memutar otaknya, bagaimana caranya bicara dengan Aminah.

"Sudah sampai Dik, turun!" suara Herman membuyarkan lamunan Farah. Sepanjang jalan melamun, tahu-tahu sudah berdiri di depan rumah megah berpagar besi tinggi.

"Itu pencet loncengnya, panggil Aminah keluar, biar Mas yang minta langsung uangnya, orang punya rumah gedong gini kok pinjam uang ke orang miskin," Herman menggerutu kesal.

"Biar aku saja Mas, nggak etis dong suami ikut campur urusan istri, nanti aku yang nggak enak, sebaiknya Mas ke rumah Bayu saja, nanti pulangnya mampir ke sini!" Ucapan Farah langsung disetujui suaminya.

"Tumben kamu mau main ke sini Far?" ucap Aminah setelah Farah duduk di sofa yang tampak masih baru.

"Aku segan kalau mau ke sini Min," ucap Farah jujur, matanya berputar mengitari seluruh penjuru ruangan dengan perasaan takjub.

"Lho kenapa?" tanya Aminah heran, dahinya berkerut.

"Rumahmu kaya istana gini, mau masuk jadi grogi," ucapan Farah membuat Aminah tertawa terbahak-bahak.

"Owalah Faraaah, biasa sajalah, eh tapi ngomong-ngomong angin apa yang membawamu ke sini?" tanya Aminah penasaran.

"Ceritanya gini Min." Setelah terdiam beberapa saat Farah menceritakan tentang masalah yang dihadapinya, dia juga minta maaf telah mengkambing hitamkan nama Aminah untuk menutupi kebohongannya.

"Asemm tenan kamu Far, uang sudah dikasih ke rentenir kok bilang aku yang pinjam, untung saja kamu ini sahabat terbaikku, kalau tidak..."

"Kalau tidak apa Min?" tanya Farah penasaran, wajahnya tampak serius.

"Kalau tidak sudah aku jejeli cabai rawit mulutmu, ha ha ha," celetuk Aminah cepat, lalu tertawa, Farah hanya meringis melihat sahabatnya yang tampak lebih cantik dan segar dari pada dulu waktu hidupnya masih terbilang susah, seperti dirinya saat ini.

"Jadi gimana Min, boleh nggak aku pinjam uangmu?" tanya Farah dengan wajah penuh harap.

"Memang kamu butuh berapa?" Aminah bertanya sambil menggigit buah apel merah yang ada di depannya.

Dalam diam Farah menelan salivanya saat melihat keranjang yang isinya bermacam-macam buah mahal dan mewah menurut isi kantongnya.

"Kalau ditanya butuh berapa sih butuhku buanyak Min, wong utangku lho di mana-mana," jawab Farah dengan wajah dibuat-buat sedih.

Aminah menatap Farah dengan perasaan iba. Timbul niat dalam hatinya untuk menolong sahabatnya yang dulu juga sering membantunya saat dia berada dalam kesusahan.

"Aku juga pernah kok ngalami seperti kamu Far, gali lobang tutup lobang," ujar Aminah dengan suara pelan.

"Orang-orang pasti tanya utang banyak-banyak uangnya buat apa, mereka nggak tahu kita banyak utang karena uangnya untuk menutupi utang-utang yang lain," ucap Aminah lagi, ingatannya kembali ke masa-masa pahit dan sakitnya di hina karena banyak utang.

Saat itu dia juga terjebak utang rentenir seperti yang di alami Farah. Tetangga, teman bahkan saudara menjauh karena keadaannya yang miskin. Tak sedikit yang menghina keadaannya yang tak berdaya.

"Kok malah ngelamun to Min, gimana ... bisa nggak pinjami uang, tolong ya Min, aku takut suamiku ngamuk," suara memohon Farah membuat Aminah iba.

Di masa sulit dulu hanya Farah yang masih mau menjadi sahabatnya. Farah memang tak bisa membantu materi, tapi Farah selalu membantu Aminah, Farah juga sering menemaninya bersembunyi kalau ada yang mencarinya untuk menagih utang.

Dulu waktu suami Aminah mengamuk gara-gara ada rentenir datang, Farah menyembunyikan Aminah di rumah neneknya, dan itu yang selalu di ingat oleh Aminah. Sejak suaminya meninggal, kehidupan Aminah berubah drastis, utang-utangnya semua lunas, dan kekayaannya semakin bertambah.

"Aku pinjami lima juta cukup?" tanya Aminah.

"Cukup ... cukup Min, terima kasih banget, selesai sudah urusanku dengan pak Murshid," Farah menjawab pertanyaan Aminah dengan cepat, rasa senang dan gembira tak dapat disembunyikan dari wajahnya.

"Dan angsuran koperasimu?" tanya Aminah dengan serius.

"Itu dipikir belakang saja Min, kalau semua dipikir bersamaan bisa stress aku!" keluh Farah, pandangannya menerawang jauh, dia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti.

Aminah tersenyum miris, lagi-lagi keadaan Farah saat ini membuka lagi kenangan pahit yang pernah dialaminya dulu.

"Eh, Min, tapi aku kagum sama kamu, biarpun kamu janda, tapi kamu pinter cari uang. Padahal kamu dulu juga kehidupannya nggak lebih baik dari aku," ucap Farah sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah Aminah.

Rumah megah dengan perabotan mewah membuat Farah berdecak kagum, di sisi lain ada terbersit iri di hatinya.

"Kamu juga bisa kok Far seperti aku," ucap Aminah dengan santai, sambil menghitung lembar demi lembar uang warna merah.

"Aku nggak punya apa-apa buat modal Min, kalau kamu kan dulu dapat warisan dari nenekmu yang kaya raya to, jadi bisa buka warung sate kambing yang sampai bercabang di mana-mana," kata Farah seolah meratapi nasibnya.

Menurut cerita Aminah, dia buka warung sate kambing karena dapat warisan dari neneknya.

"Tanpa modal, kamu bisa seperti aku Far, yang penting kamu ada niat dan kemauan!" Aminah menimpali ucapan Farah yang merasa tak percaya diri.

"Kemauan dan niat aku pasti ada Min, tapi gimana caranya?" tanya Farah yang mulai tertarik dengan kata-kata Aminah.

"Aku punya solusi dan cara untuk menyelesaikan masalah hutang-hutangmu dan untuk menutup mulut orang yang menghina, tapi aku ragu-ragu,  apa kamu sanggup?" Aminah berkata dengan ragu-ragu.

"Maksudnya apa to Min?" Farah bertanya sambil lebih mendekatkan dirinya ke Aminah.

"Duh, gimana ya mau menjelaskannya, aku bingung Far, soalnya ini menyangkut nyawa dan nama," ucapan Aminah semakin membuat Farah bingung.

"Mbok jangan bikin aku penasaran to Min, aku ini bingung tenan!" Farah berkata sambil menggoyang-goyangkan tangan Aminah.

"Kamu mau semua utangmu lunas dan punya usaha warung sate kambing seperti aku?" Aminah bertanya dengan serius.

"Ya jelas pingin to Min, tapi aku kan nggak punya mod..."

"Aku tanya kamu mau apa enggak, itu saja!" Aminah memotong ucapan Farah dengan tegas. Farah tertegun sejenak.

"Mau,mau Min!" akhirnya Farah berkata dengan tegas dan semangat.

"Apapun resikonya?" tanya Aminah dengan wajah serius.

"Lho, ada resikonya juga?" tanya Farah, dahinya berkerut, ditatapnya mata sahabatnya itu dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Kamu pikir, rumah besar dan isinya ini aku dapat gratis? Enggak Far, ada resikonya, dan nggak semua orang sanggup!" ucap Aminah bersungguh-sungguh.

"Apa pun resikonya aku sanggup Min, aku sudah bosan dihina dan dicaci maki oleh orang-orang di sekitarku, apalagi mertua dan kakak iparku,duuuuh, sakiiiit hatiku!" ucapan Farah begitu yakin dan pasti.

"Taruhannya nyawa!"

"Hah? Nyawa?"

"Maksudnya gimana Min?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Asmara Mendendam
9.5
Demi pekerjaan, Nezza nekat tinggal di kos angker dan jatuh hati pada Ari, anak pemilik kos yang bersikap dingin. Walau harus bersaing dengan Adelina dan Putri yang agresif mendekati Ari, kekaguman Nezza tak luntur. Situasi mencekam saat teror mistis melanda, namun Ari curiga ada dalang manusia di baliknya. Ketegangan memuncak ketika Rahma menuduh Jessy sebagai pelaku teror sekaligus pembunuh mahasiswi dua tahun lalu. Akankah misteri kelam ini terpecahkan?
Sampul Novel CANDIKALA
9.2
Hidup Halimah berubah mencekam saat ia tiba-tiba mampu melihat dimensi gaib mengerikan dan para calon tumbal yang terancam mati. Kemampuan misterius ini membawanya pada dilema batin yang gelap: apakah ia harus ikut memburu tumbal demi bertahan hidup? Di tengah teror yang terus mengintai, Halimah harus berjuang keras mengungkap rahasia kutukan kuno tersebut sekaligus menemukan jalan keluar untuk menyelamatkan jiwanya dari ancaman maut.
Sampul Novel Dicintai Raja Siluman Ular
9.4
Demi cinta dan harta, Alana nekat menikahi Cakra meski tanpa restu. Namun, pernikahan impian itu berubah jadi teror mengerikan. Alana kerap menemukan ular liar raksasa di ranjangnya akibat kegemaran aneh sang suami. Tak hanya itu, ia terus dihantui mimpi erotis bersama sosok asing yang tak dikenal. Saat mencoba menyelidikinya, Alana menemukan fakta kelam tentang hilangnya mantan istri Cakra secara misterius. Kecurigaan pun membuncah, siapa sebenarnya sosok suaminya itu?
Sampul Novel Mantra pemanggil kuntilanak
7.8
Ara, seorang wanita mandiri berparas menawan yang tinggal jauh dari keluarga, kerap memikat hati banyak pria. Di balik daya tariknya, keseharian Ara selalu dilingkupi teror mistis yang mencekam. Ia bahkan menjalin hubungan unik hingga berteman dengan makhluk gaib. Namun, semua gangguan supranatural yang membayangi hidupnya mendadak sirna setelah ia resmi menikah. Kini, kehidupan Ara yang semula penuh misteri berubah drastis menjadi ketenangan yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Sampul Novel Setelah Mati, Aku Dijadikan Patung
8.3
Setelah tewas akibat siraman air keras di ruang bawah tanah, jasadku yang tak dikenali justru dimanfaatkan oleh keluargaku sendiri tanpa melapor ke polisi. Ibu menguliti dagingku, sementara Ayah melapisi tulang-tulangku dengan gips hingga menjadi patung indah. Karya mengerikan ini membawa Kakak meraih penghargaan sebagai seniman genius yang dipuja. Namun, kepanikan melanda mereka ketika patung itu mendadak pecah dan memperlihatkan potongan jari manusia yang tersembunyi di dalamnya.
Sampul Novel SUAMI GHAIB
8.3
Kebiasaan malam Sinta mengundang perhatian genderuwo yang kemudian menyamar sebagai suaminya, Aldo, saat ia sedang dinas di luar kota. Terjebak dalam tipu daya mistis tersebut, Sinta menghadapi hubungan terlarang dan berbagai teror aneh yang mengancam keluarganya. Di tengah kekacauan ini, ia kesulitan membedakan kenyataan dan ilusi. Mampukah mereka selamat dari jerat makhluk halus tersebut, ataukah Sinta akan selamanya terperangkap?