APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel PESUGIHAN BERUJUNG PETAKA

PESUGIHAN BERUJUNG PETAKA

Terjerat utang rentenir yang mengancam nyawa, Farah, seorang ibu muda, menghadapi jalan buntu finansial. Keputusasaan menuntunnya mengambil langkah kelam dengan melakukan ritual pesugihan terkutuk. Demi melunasi seluruh utangnya, ia tega menumbalkan putri kandungnya sendiri. Namun, keputusan keji tersebut tidak menyelesaikan masalah, melainkan menjadi awal dari malapetaka mengerikan yang siap menghancurkan hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Apa pun resikonya aku sanggup Min, aku sudah bosan di hina dan di caci maki oleh orang-orang di sekitarku, apalagi mertua dan kakak iparku,duuuuh, sakiiiit hatiku!"

"Taruhannya nyawa!"

"Hah? Nyawa?"

Farah terperanjat mendengar ucapan Aminah, dia bingung apa maksud sahabatnya itu.

"Maksudmu nyawa kita Min?" tanya Farah polos.

"Bisa jadi Far, bisa nyawa kita, keluarga atau orang lain," jawab Aminah santai.

"Aku kok semakin bingung to Min."

"Aku dapat semua ini karena aku pakai pesugihan Far," akhirnya Aminah berterus terang, suaranya terdengar lirih.

"Pe-pesugihan? Pakai tumbal?"

Farah terkejut, mendengar kata pesugihan pasti ada kaitannya dengan tumbal.

"Aku bosan di hina karena miskin, karena banyak utang Far, dengan pesugihan aku bisa membungkam mulut mereka yang menghinaku, bisa membayar semua utangku, dan bisa punya semuanya, termasuk ini," ucap Aminah sambil memamerkan perhiasan yang dipakainya.

Mata Farah mengerjap melihat untaian kalung yang dipakai Aminah, gelang besar-besar yang melingkar di tangan Aminah sampai ke lengan, jari-jarinya penuh dengan cincin, bahkan jari telunjuknya juga dilingkari cincin emas yang tampaknya masih baru, subang berliannya membuat mata Farah silau.

"Nggak ada paksaan kok Far, semua harus dengan tekad dan niat kita." Aminah menambahi ucapannya.

Farah diam termangu, pikirannya berkecamuk, dia ingin cepat bebas dari semua utang-utangnya, ingin kaya seperti Aminah, tapi kalau dengan cara pesugihan seperti Aminah dia merasa takut.

Ning nong, ning nong!

"Itu mungkin suamimu Far, cepat buka pintunya, suruh dia masuk dulu," titah  Aminah, dia berdiri sambil melongokkan kepalanya ke arah luar rumahnya.

"Kok kamu tahu kalau ada orang datang to Min," ucap Farah heran.

"Lha itu tadi loncengnya bunyi to Far, berarti ada orang datang," sahut Aminah sambil mengerutkan dahinya.

"Jadi pas aku mencet-mencet di luar tadi bunyinya bisa nyampai sini?"

"Ya iyalah Far, kalau nggak dengar gimana aku bisa tahu kalau kamu datang," jawab Aminah sambil menahan tawa.

"Wah, hebat ya, aku juga pingin punya rumah seperti ini, jadi kalau ada koperasi datang aku bisa tahu dan nggak usah keluar," ujar Farah dengan mata yang berbinar membayangkan rumah seperti milik Aminah.

"Kamu gimana sih Far? Kalau kamu ikut cara seperti aku, nggak ada lagi koperasi yang akan nyari kamu, semua lunas! Dan kamu akan hidup bebas!"

Ning nong ning nong!

Ning nong ning nong!

"Wah, suamiku ngamuk Min, aku pulang dulu, kapan-kapan aku ke sini lagi," ucap Farah tergesa-gesa, disambarnya kantong kresek hitam berisi uang dari Aminah.

Tanpa menunggu jawaban Aminah, Farah langsung keluar dengan langkah tergesa-gesa.

"Ngapain sih di dalam? Sampe lecet jariku mencet lonceng!" gerutu Herman ketika Farah keluar dari pintu pagar besi itu.

"Nggak percaya kalau jari sampai lecet gara-gara lonceng," sahut Farah sambil mencibir.

"Ayo cepat naik, kasihan ibu pasti capek jagain anak-anak," titah Herman sambil menghidupkan mesin motornya.

Tak mau membuang waktu Farah langsung naik ke atas motor dan langsung memeluk pinggang suaminya.

"Di kasih nggak uangnya?" tanya Herman di sela-sela deru mesin motornya.

"Dikasih dong, lima juta," jawab Farah, dia lupa bahwa setahu suaminya tadi dia ke rumah Aminah untuk menagih utangnya yang hanya satu juta.

"Lima juta? Nggak salah kamu Dik?" tanya Herman dengan keras karena suaranya kalah dengan suara motornya.

"Eh, eh...maksudku dikasih satu juta terus ditambah lima puluh ribu, katanya uang terima kasih," Farah asal menjawab.

"Jangan Dik, itu namanya riba, dosa!"

"Lagian juga heran sama Aminah, punya rumah gedong, usahanya maju, dan emasnya banyak, kok bisa-bisanya pinjam uang satu juta sama kita yang miskin."

Farah mengabaikan semua ucapan Herman, dia asyik melamun membayangkan tinggal di rumah besar seperti rumah Aminah, punya pembantu empat dan punya banyak perhiasan serta baju-baju mahal.

"Dik, Dik, turun!" Herman menggoyang-goyangkan badan istrinya, sementara Farah asyik tersenyum sendiri sambil memeluk suaminya dengan erat, dia tak sadar kalau mereka sudah berada di depan rumah dan motor sudah berhenti.

"Diik!!" Herman memanggil istrinya dengan suara keras, sambil menoleh ke belakang.

"Eh, eh, ada apa Mas?" tanya Farah kaget, dia menoleh ke kiri dan ke kanan, dan baru sadar dia masih berada di atas motor.

"Kenapa nggak bilang kalau sudah sampai!" celetuk Farah sambil menepuk pundak suaminya pelan.

"Kenapa malah  Mas yang disalahkan?" Herman tak terima sambil menjewer telinga kanan Farah.

"Mana uangnya?" tanya Herman sambil menadahkan tangan.

Farah terkesiap, uang lima juta tadi belum sempat dipisahkan. Bergegas dia berlari masuk ke rumah.

"Aduh Mas, sakit perutku nggak tahan," Farah berteriak dari dalam memberi alasan.

"Dik, ada uang nggak, mau ngasih ibu buat bayar cicilan motornya Mbak Diah," tanya Herman kepada Farah yang sedang menjemur karpet di pagar depan rumahnya.

"Uang dari mana Mas, kan kemarin sudah buat belanja bulanan," sahut Farah tanpa menoleh ke arah suaminya.

"Lagian mbak Diah kan kerja, kenapa nggak pakai gajinya saja," sambung Farah lagi. Dia kadang merasa jengkel terhadap suaminya, selalu saja menuruti kemauan ibu dan kakaknya.

"Farah, kalau nggak mau ngasih ya sudah, nggak usah pakai nyuruh pakai gajinya Diah, jadi orang itu mbok ya jangan pelit sama keluarga," ucap bu Ningrum, ibu  mertuanya Farah.

Farah menghela nafas pelan mendengar ucapan bu Ningrum, selama ini dia selalu mengalah, keuntungan dari berjualan perabot keliling suaminya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, sedangkan Diah yang bekerja sebagai marketing di sebuah perusahaan bergaji lumayan habis hanya untuk kebutuhannya sendiri.

"Dik, mbok coba pinjam sama Aminah, waktu itu dia kan sudah pinjam sama kita, sekarang giliran kita pinjam sama dia," kata Herman yang sontak membuat mata Farah melotot.

"Aminah pinjam uang sama kalian? Nggak salah? Dia lho kaya raya, hartanya nggak habis dimakan tujuh turunan," celetuk bu Ningrum, dia menatap Farah dengan tajam.

"Iya Bu, waktu itu pinjam satu juta, tapi sudah dikembalikan, uangnya buat bayar sewa kios," ujar Herman menjelaskan, kalau tak dijelaskan pasti ibunya menanyakan uang tersebut.

"Mana Man uangnya, ini aku mau keluar biar sekalian aku bayarkan," Diah tiba-tiba muncul dengan pakaian rapi, dia selalu menomor satukan penampilan,tak heran jika gajinya yang lumayan tinggi tak cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

"Belum ada Mbak," jawab Herman pelan, dia yakin sebentar lagi pasti kakaknya marah-marah.

"Kalian ini gimana sih? Aku butuhnya sekarang,cuma uang satu juta saja kalian nggak mau bantu!"

"Percuma punya saudara laki-laki nggak mau membantu saudaranya!" Diah mulai nyerocos, begitulah kalau keinginannya tak terpenuhi.

"Kamu Farah! Jadi istri itu yang pinter ngatur uang pemberian suami, jadi kalau pas butuh gini nggak bingung!"

"Harusnya kamu itu sadar dan tahu diri, kamu itu numpang makan tidur di sini!" Diah masih nyerocos, sejenak dia menjeda kalimatnya.

"Suami capek-capek..."

"Cukuup!"

Bentakan Farah menghentikan ocehan Diah, dia menatap Farah dengan pandangan sengit.

"Mbak,sadar nggak apa yang mbak ucapkan? Mbak punya gaji besar, tapi mbak pernah nggak mikir kebutuhan di rumah ini?"

"Mbak nggak pernah mikir kan beli beras, minyak, sayur, gas, sabun, listrik, mbak tahunya makan tersedia, baju bersih wangi!"

"Mbak minta uang satu juta harus ada sekarang, mbak mikir nggak, penghasilan mas Herman berapa?"

"Dan sekarang saya tanya, yang nggak tahu diri dan yang numpang siapa? Ini lho rumah peninggalan orang tuaku, kok bisa-bisanya mbak bilang aku numpang, nggak kebalik Mbak?" ucap Farah sambil mengulas senyum tipis.

"Farah!"

Plakk!

Plaaak!

Farah terkejut, dia menatap Herman dengan wajah marah,tanpa membuang waktu dia berlari ke kamarnya.

"Dasar menantu nggak berguna, lebih baik kamu ceraikan saja, ibu bosan melihatnya!" celetuk Ningrum dengan ketus.

"Betul kata ibu Man, ceraikan saja, mbak muak hidup seatap dengannya!" Diah menambahi hasutan ibunya.

Mendengar ucapan ibu mertua dan kakak iparnya, darah Farah mendidih, sambil menyeka air matanya dia bergerak maju mendekati Bu Ningrum dan Diah.

"Ayo Mas, talak aku sekarang juga! Dan setelah ini, kalian harus keluar dari rumah ini!"

"Jangan ngawur kamu! Yang harus keluar itu kamu!" Bu Ningrum menghardik Farah dengan keras, matanya melotot lebar.

"Ini rumah saya, kenapa saya harus keluar?" Ucapan Farah berhasil membuat Herman terkesiap.

"Ini rumah peninggalan orang tua saya Bu, sertifikat juga atas nama Mas Agung!"

"Herman kepala keluarga di sini, jadi rumah ini milik Herman!" Bu Ningrum membalas dengan penuh percaya diri.

"Terserah ibu mau bilang apa, yang jelas rumah ini atas nama Mas Agung, Mas Herman nggak ada hak sedikitpun atas rumah ini!"

"Pokoknya aku nggak mau tahu, mau rumah ini milik Herman kek, ibu kek, yang aku tahu uangnya harus ada sekarang!" pekik Diah keras, memecah keheningan yang beberapa saat tercipta.

"Ayolah Dik, tolong mbak Diah, dia kan kakakmu juga," bujuk Herman.

"Walaupun aku ada uang satu milyar, satu sen juga nggak sudi aku nolong orang yang nggak tahu diri seperti kakakmu Mas!" sahut Farah ketus.

"Orang miskin saja sombong!" ucap Diah kalap, dia beranjak mendekati Farah dan menjambak rambutnya, namun dengan gesit Farah berhasil menarik rambutnya.

"Maaf, mau ketemu bu Farah," tiba-tiba seorang lelaki datang mencari Farah.

"Mas ini siapa?" tanya Farah heran, karena dia memang tak pernah ketemu apalagi kenal lelaki itu.

"Pura-pura tanya, paling juga selingkuhannya!" ujar bu Ningrum ketus.

"Ibu jangan sembarangan ya, saya hanya disuruh orang untuk mengantarkan ini," ucap lelaki itu menatap bu Ningrum dengan tajam, bu Ningrum menundukkan kepalanya, tak berani menatap lelaki tersebut.

"Maaf Mas, siapa yang menyuruh mas?" tanya Farah.

"Bu Aminah," jawab lelaki itu singkat.

Mendengar nama yang disebut lelaki itu, Farah baru mau menerima bungkusan yang diberikan padanya.

"Wah, HP mahal itu!" seru Diah setelah Farah membuka bungkusan tersebut.

"Sini buat aku saja!"

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dinodai Tetangga
8.9
Satu peristiwa keji meruntuhkan dunia Andini. Alex, tetangga yang seharusnya bisa dipercaya, memerkosanya—meninggalkan luka yang tak kunjung sembuh. Trauma itu membuat Andini menjauh dari suaminya, Arka, yang mencoba memahami istrinya yang hancur. Demi mengubur kenangan buruk itu, mereka memutuskan pindah rumah. Namun, kenyataannya, kejahatan tidak mengenal alamat. Alex terus membayangi dan mengganggu Andini, seolah tak pernah rela melepaskannya. Pertanyaannya, sampai kapan Andini bisa bertahan? Akankah ia membiarkan teror itu berlanjut, atau menemukan keberanian untuk melawan? Sebuah kisah gelap tentang trauma, ketakutan, dan batas akhir ketahanan seorang istri.
Sampul Novel Ganjaran Nafsu
7.8
Terperangkap dalam kondisi antara hidup dan mati, aku mengalami eksistensi yang mengerikan tanpa kebutuhan biologis seperti makan atau tidur. Meski kesadaranku sepenuhnya pulih, tubuhku lumpuh total di tengah kegelapan pekat yang sunyi. Tanpa interaksi, kewarasanku perlahan terkikis oleh waktu yang tidak lagi terasa. Namun, tepat ketika keputusasaan hampir merenggut segalanya, keheningan abadi itu mendadak pecah oleh suara ketukan misterius dari luar.
Sampul Novel Kanjeng Ratu Minta Mantu
9.5
Melanjutkan kisah dari Tante, Mau kan jadi Mamaku?, sekuel ini menghadirkan dilema horor yang unik. Bagi seorang lulusan baru, kejaran makhluk halus rupanya tidak ada apa-apanya dibanding desakan sang ibu yang sangat berambisi mencarikannya pasangan hidup. Teror perjodohan setiap hari ini terasa jauh lebih mengerikan bagi sang protagonis. Ikuti perjuangan jenakanya menghadapi tuntutan keluarga di tengah gangguan mistis yang penuh misteri.
Sampul Novel Mantra pemanggil kuntilanak
7.8
Ara, seorang wanita mandiri berparas menawan yang tinggal jauh dari keluarga, kerap memikat hati banyak pria. Di balik daya tariknya, keseharian Ara selalu dilingkupi teror mistis yang mencekam. Ia bahkan menjalin hubungan unik hingga berteman dengan makhluk gaib. Namun, semua gangguan supranatural yang membayangi hidupnya mendadak sirna setelah ia resmi menikah. Kini, kehidupan Ara yang semula penuh misteri berubah drastis menjadi ketenangan yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Sampul Novel Suara Dari Kamar Mama
9.4
Liontin, gadis berusia 22 tahun, mencurigai gelagat aneh ibunya, Bu Santy. Kepada sang kekasih, Sandrian, ia mengadukan suara desahan misterius yang selalu terdengar dari kamar ibunya tiap malam. Namun, upaya Liontin mengungkap misteri ini kerap dihalangi Wulan, kakaknya yang pemarah. Di rumah yang kian mencekam sejak wafatnya sang ayah, hanya Bi Siti dan adiknya, Anggun, yang mendukung Liontin. Rahasia kelam apa sebenarnya yang disembunyikan oleh keluarga ini?
Sampul Novel Sumpah Dalam Kubur
8.0
Hana merenggang nyawa secara tragis, dikubur hidup-hidup oleh mertua dan iparnya saat sang suami, Hadi, sedang pergi. Fitnah kejam pun disebar bahwa ia melarikan diri dengan pria lain, hingga membuat Hadi sakit parah akibat duka mendalam. Di tengah keserakahan keluarga yang memanfaatkan keadaan ini, arwah Hana menolak tenang. Ia bersiap bangkit dari kubur demi menuntut balas pada para pengkhianat. Kisah horor mencekam tentang dendam yang menembus batas kematian.