APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pesona Duda Manja

Pesona Duda Manja

Pengkhianatan mantan istri menjadi titik balik bagi Rizaldi Takki untuk bangkit. Lewat keahlian teknologinya, ia berhasil menarik minat investor dunia dan tumbuh menjadi pebisnis sukses. Di tengah pemulihan lukanya, dilema besar datang menghampiri. Sang mantan istri meminta kembali, seorang wanita baik berubah total, dan gadis sederhana malah menolak pinangannya. Mampukah sang duda kaya mengatasi peliknya asmara dan sisi manjanya di balik kesuksesan ini?
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari berlalu begitu cepat, dan sikap istriku Ardila semakin parah. Ia semakin seenaknya, bayangkan saja seluruh aktifitas melelahkan kini aku yang kerjakan. Ia hanya cukup bangun tidur sarapan, membuat kopi sendiri karena katanya kopi buatanku tidak enak, dan menaruh bekas makannya begitu saja. Siang hari menonton televisi sambil menghisap nikotinnya dalam, terkadang ditemani cemilan hasil dagangan penjual lewat depan rumah. Mungkin dengan begitu ia bahagia, dan aku berusaha merasakan kebahagiaan yang sama.

Aku berharap ia paham, bahwa aku sedang berusaha membahagiakannya. Aku sedang berjuang untuk memenuhi seluruh kebutuhan, meski usahaku terkadang ia patahkan, termasuk kontrak kerjak yang terpaksa kubatalkan demi menghindari perceraian.

Dan satu lagi, seharusnya ia tak pernah lupa, bahwa aku bukanlah orang kaya. Aku hanya anak yatim piatu miskin, dengan kecerdasan cukup baik, yang kedua orang tuanya meninggal dunia tak lama sebelum kami menikah.

TOK TOK TOK

"Pakeeett ..."

Rumah mungil ini mampu mendengar suara apapun yang ada di luar sana, maklum saja ukurannya hanya 10 X 5 meter persegi. huft, ia cuek, masih saja asik menonton televisi. Meski agak kesal, namun aku bersyukur karena hari ini ia tak keluar rumah.

Kuletakan ember berisi pakaian yang telah aku cuci, kulangkahkan kaki menuju pintu mencoba memastikan bahwa teriakan itu salah alamat.

"Siang mas, atas nama Rizaldi Takki?"

"Iya, saya sendiri."

"Total 3.750.000, uang pas ya mas," ucap kurir itu sambil menyerahkan bon beserta sebuah kardus besar tepat di sampingnya.

"Mau diletakan dimana, mas?"

Kini kertas tertera angka-angka ada dalam genggamanku, entah apa yang harus kulakukan padanya dan entah dengan apa aku harus membayarnya.

"Mas, saya tidak jadi membeli. Bisa dikembalikan lagi? Untuk ongkosnya saya yang akan tanggung."

"RIZAL! apa-apan sih, kamu! Itukan sudah aku beli, kamu tinggal bayar."

"Kita tidak ada uang, mau bayar pake apa?"

"Aku kan sudah bilang, aku CODan. Seharusnya kamu persiapkan uangnya, dong. Kecuali aku belum bilang!"

"Iya kamu bilang, tapi barangnya tak perlu semahal ini. Aku belum ada uang."

"Aku ga mau tau, aku mau beli kulkas itu. Kulkas apaan butut gitu! gak berguna dan sudah tua!" Menunjuk kulkas satu pintu di sisi dapur. "Harusnya kamu tuh bersyukur, aku mau diajak susah. Tapi kesabaran orang ada batasnya, aku gak maulah terus-terusan susah!"

"Dan kamu juga harusnya bahagia karna aku gak minta macam-macam, kulkaskan untuk kebutuhan kita juga, dan aku hanya order yang dua pintu. Kalau aku jahat, pasti sudah kuorder yang empat atau yang enam pintu!"

Lagi-lagi, ocehannya mampu membuatku diam, ocehan benar dan lumayan menyakitkan.

"Aku pingin minum air dingin, nanti gak mesti lagi kamu membuat es batu, karena kulkas itu sudah canggih dan kamu gak perlu lagi tiap bulan bersihkan."

"Yaaa, beli kulkasnya yaaa ..." Perkataan manja dan wajah sedihnya mampu membuatku terbuai dan terharu. Lagi-lagi aku luluh.

"Kamukan bisa pinjam uang lagi sama Andika. Kalau kamu pinjam, pasti dia kasih. Yaaa ... beli yaaa ... aku mau kulkas ini, ini bagus dan designnya juga moderen." Sambil menyentuh kardus besar di samping si kurir.

"Beliii ... beliin, Zal."

"Huft. Baiklah."

Jemari dan telepon genggamku langsung kompak beraksi. Tak menunggu lama, M-bankingku pun memberikan kabar, uang yang kupinjam telah sampai.

"Huft. Dilebihin lagi. Biasa banget neh anak! Dik, semoga gue bisa bales semua kebaikan loe."

Tepat dua bulan kulkas dua pintu itu menjadi saksi rumah tangga kami, kini kontrakan minimalis ini memiliki satu barang mewah. Sebuah kulkas dua pintu yang cukup mengurangi ruang gerak penghuninya, namun sayang interaksi penghuni di dalamnya semakin jarang dan berkurang karena kini tepat satu bulan, istriku mulai bekerja.

Berniat membantu memenuhi kebutuhan keluarga dengan cara bekerja, mengasah kembali kecerdasan otaknya dan mengisi kekosongan waktu, itulah alasan Ardila hingga aku mengizinkannya bekerja. Namun sepertinya itu adalah keputusan yang salah, kegiatan di luar rumah banyak menyita waktu dan pekerjaannya itu semakin merubah sikap Ardila menjadi lebih parah.

Tak ada lagi kata-kata mesra yang kadang ia ucapkan di tempat umum, tak ada lagi sikap manja yang ia tunjukan, dan tak ada lagi sentuhan-sentuhan hangat yang ia berikan ketika kami di depan banyak orang. kini ia benar-benar telah berubah, sikapnya dingin, acuh dan masa bodo.

Mungkin baginya, pernikahan kami tak ada artinya lagi, hanya tinggal status, karena kini ia mampu memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Dan seolah ia telah menemukan pelabuan baru, untuk mengisi seluruh kekuranganku. Rasa curigaku ini selalu berusaha kutepis, karena aku yakin Ardila masih sangat mencintaiku.

lamunan panjangku terganggu, tampak Ardila menjatuhkan tubuh berbaring membelakangiku dengan pakaian seksinya. Entah tak sengaja atau itu niatnya, hingga membuatku ingin sekali memeluk tubuhnya dan mengecup permukaan leher jenjangnya. Namun tiga detik kemudian pakaian tipisnya menampakan sesuatu, penglihatanku terganggu, ada tanda kemerahan di sana, berfikir itu tanda kepemilikian, namun dengan cepat kualihkan. Tak ingin berprasangka jahat padanya dan tak ingin mengotori pemikirian tanpa sebuah bukti, hasil penglihatanku sendiri.

Aku yakin, ia masih sangat mencintaiku. Ia hanya kurang sabar dengan proses yang saat ini sedang kami jalani. Setelah pekerjaanku lancar, aku yakin ia akan kembali seperti Ardila istriku yang dulu. Istriku yang cantik, baik dan penyayang di tambah predikat baru sebagai wanita karir, cantik, dan cerdas.

Dari pada berfikir yang tidak-tidak, lebih baik aku kerja. Pikirku. Kuaktifkan aplikasi tranportasi onlineku, TRING!

Entah siapa dia, sepagi ini ordranku masuk. 'Ok, kerja-kerja-kerja. Demi Ardila.' Berusaha menyemangati diri sendiri.

"Bang rumah sakit Hermina, ya."

"Siap! pake helm dulu, ka."

"Oh iya, lupa. Makasih, bang."

Motor maticku melaju membelah ibu kota yang masih sepi, hanya ada beberapa kendaraan berlalu-lalang, karna saat ini masih jam dua pagi.

"Bang bisa lebih cepat? Kakak saya lahiran, dia sendirian."

"Oh, iya ka. Semoga lahirannya lancar, ya kak. Em ... emang suaminya kemana, ka?" Sumpah demi apapun, baru kali ini aku lancang.

"Di luar kota."

'Laki-laki bodoh! Jangan sampai kau menyesal sepertiku dulu!'

Uang yang kugenggam begitu banyak lebihnya, "kembaliannya, ka!" ucapku di balik helm full face yang kupakai.

"Ga usah, buat abang aja. Terima kasih, ya bang." Ia lepas helmku yang berlogo hijau dan berlalu pergi, di akhiri dengan senyuman indah.

"Pagi-pagi dapet rejeki."

Kini, waktu menunjukan pukul dua belas malam dan istriku belum juga datang. Aku menunggunya sejak sore tadi, aku buru-buru pulang karena aku berniat memberikan kabar gembira perihal kontrak kerja yang akan aku dapatkan.

Sebuah kontrak kerja, dalam bidang pelatihan tenaga kerja IT di sebuah instansi pemerintah. Dengan kemampuanku dan kelihaianku dalam bidang komunikasi dan jaringan, para penghasil uang di dunia teknilogi tak segan-segan memberdayakan kami yang tak bertitel ini.

Kesuksesan aku dan istriku, didepan mata. Hal-hal penunjang kebahagiaan Ardila, akan aku penuhi seluruhnya dan rumah tangga kami akan harmonis setelah ini. Gambaran itu terpancar dalam benakku.

Hingga kini pukul dua pagi, ia belum juga kembali. Rasa kantukku mulai menghantui, akhirnya kuputuskan untuk membiarkan diri tertidur sejenak di sofa yang sudah jelek.

Suara pintu terbuka mengganggu tidur nyenyaku, kuarahkan pandangan pada jam dinding di atas televisi. Saat ini pukul empat pagi, dan istriku baru pulang dengan penampilan di luar logikaku.

Rambut indah yang biasa tertata rapih, kini berantakan. Pakaian sederhana yang biasa ia kenakan, kini berganti menjadi pakaian yang menjijikan. Lipstik merah merona, terlihat menggoda. Dan_

'Tidak, tidak mungkin. Ini tidak mungkin.'

Aku mengusap kedua mataku, berharap apa yang kulihat hanya pantulan cahaya atau hanya kotoran mata. Namun percuma, langkahnya yang semakain mendekat membuat tanda merah itu semakin terlihas dan nyata.

Aku berusaha mengendalikan diri dan berniat berbicara baik-baik demi masa depan rumah tangga kami. Aku bangkit kemudian berjalan kearahnya, "itu apa?" Tunjuk jemariku.

Menundukan wajah, "oh, ini?" mengusap bagian merah tepat di atas belahan dada. "Ulah si Anggi," jawabnya santai sambil berjalan menuju kamar.

Aku mempercayainya, aku berusaha percaya walau ia berbohong. Aku yakin ia punya alasan, ia kesepian karena aku selalu pulang larut malam. Dan ia kesal karena aku belum bisa memenuhi seluruh kebutuhannya, hingga ia harus ikut mencari nafkah.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menikah Dengan Seorang Miliarder Berkondisi Vegetatif?!
7.9
Valerie menjadi korban pengkhianatan kekasih dan adiknya sendiri hingga dituduh berselingkuh setelah malam bersama pria asing. Akibat fitnah itu, sang ayah membuangnya dan memaksanya menikahi seorang miliarder yang terbaring koma demi bisnis. Enggan terus ditindas, Valerie memutuskan hubungan dengan keluarganya. Namun, begitu suaminya terbangun dan menuntut pertanggungjawaban, Valerie justru memilih melarikan diri untuk memulai lembaran hidup baru.
Sampul Novel BABY CEO 21+
8.6
Dalam momen yang intim, Vanya terhanyut oleh ciuman intens Ares yang membuatnya sesak napas. Sentuhan lembut serta kecupan membara dari Ares di area sensitif terus membakar gairah Vanya hingga ia mengerang gelisah. Di tengah gejolak hasrat yang menyiksa itu, Vanya berulang kali memanggil nama Ares seolah mendambakan lebih. Namun, Ares dengan tenang memintanya untuk menikmati prosesnya dan tidak terburu-buru, membiarkan ketegangan romansa dewasa mereka kian memuncak.
Sampul Novel Cinta dan Dendam Andara
9.8
Demi membalas penderitaan ibunya dahulu, Andara nekat mengadu nasib ke kota besar. Saat bekerja sebagai petugas kebersihan, takdir mempertemukannya dengan sang CEO tampan yang menjadi bosnya. Ketulusan Andara perlahan memikat hati sang atasan hingga cinta merebak di antara mereka, meski terhalang jurang status sosial. Namun, saat ikatan mereka kian erat, ujian berat mulai berdatangan mengancam keteguhan cinta mereka.
Sampul Novel HASRAT TERLARANG GIGOLO
8.1
Demi menghidupi ibu yang sakit jiwa dan tiga adiknya, Bagaskara yang berusia 20 tahun terpaksa menjadi pria sewaan. Ia pun tergiur tawaran fantastis dari Arta Syakila, miliarder wanita berumur 27 tahun yang rela membayar 500 juta rupiah demi satu malam bersamanya. Meski hidup bergelimang harta, motif Arta menyewa gigolo masih menjadi misteri. Akankah Bagas mampu keluar dan hidup tenang, atau malah terjebak selamanya dalam rahasia gelap sang wanita kaya?
Sampul Novel Istri Dari Desa
8.5
Sering dicap udik dan bertubuh gemuk, Asmi terus menerima hinaan dari keluarga suaminya. Ibu mertuanya bahkan terang-terangan menolaknya karena statusnya yang dianggap miskin dan yatim. Namun, sebuah fakta besar akhirnya terkuak. Sang suami tidak pernah menyangka bahwa wanita yang direndahkan itu sebenarnya adalah miliarder dengan aset melimpah di berbagai tempat. Akankah perlakuan buruk keluarga tersebut berubah setelah mengetahui jati diri Asmi yang sesungguhnya?
Sampul Novel Mami, Papi Memintamu Kembali
8.1
Binar Mentari memilih menyudahi tiga tahun pernikahan penuh penderitaan bersama sang penguasa sombong, Barra Atmadja, yang kerap merendahkannya. Usai lenyap tanpa kabar, ia kini hadir kembali sebagai dokter sukses yang membesarkan anak kembar genius. Saat banyak lelaki hebat mengagumi sosoknya, Barra justru datang lagi dengan penyesalan besar demi meminta maaf. Sanggupkah Binar memaafkan masa lalu sang mantan suami dan kembali bersatu demi anak-anak mereka?