
Persembahan Untuk Sang Kirin
Bab 2
Sejak zaman kuno, semua binatang tanpa terkecuali memiliki kebiasaan menandai wilayah atau benda milik mereka dengan urin atau cairan tubuhnya.
Para biksu sengaja membuat tubuh kami terkontaminasi oleh cairan tubuh kirin. Tujuannya adalah untuk mengelabui makhluk mitos itu.
Agar makhluk tersebut berpikir bahwa kami adalah miliknya.
Dengan kata lain, binatang betinanya!
Memikirkan hal itu, hatiku dipenuhi rasa takut.
Jika kirin benar-benar ada, bukankah tubuhnya akan sangat besar? Bagaimana mungkin tubuh kecil kami mampu menanggungnya?
Terlebih lagi, kami semua adalah gadis muda yang masih suci, dipilih dengan sangat teliti karena dianggap masih belum ternodai.
Tiba-tiba, efek dari mata air roh kini mulai terasa.
Pertama-tama, airnya semakin berbau amis, warnanya pun berubah menjadi putih keruh.
Lama-kelamaan, tidak hanya warnanya yang berubah, tetapi suhu airnya juga semakin panas. Panasnya begitu menyengat hingga aku berkeringat deras.
Tubuhku mulai tak kuat menahannya.
Namun, para biksu tetap tidak mengizinkan kami keluar dari mata air.
Hingga beberapa biksu datang membawa kendi panjang, mereka akhirnya menyuruh kami keluar dari kolam.
Tubuhku yang telah terendam terlalu lama menjadi merah. Bersama gadis-gadis lain, kami merangkak keluar, berbaris di tepi kolam, dengan tubuh yang terpapar jelas.
"Rangkak yang benar! Makhluk suci nggak bisa dilayani oleh gadis biasa."
Aku tetap dalam posisi merangkak, tetapi sudut mataku memperhatikan mereka.
Terlihat seorang biksu menuangkan air dari kendi panjang yang penuh dengan air mata roh itu. Dengan kasar, dia memaksa seorang gadis di sampingku untuk meminum semuanya.
"Aaaa! Sakit sekali!" jerit gadis itu kesakitan.
Wajahnya yang sebelumnya merona seperti bunga persik, tiba-tiba berubah pucat. Tubuhnya gemetar hebat, tampak sangat menderita.
"Jepit yang kuat!“ bentak sang biksu.
Namun, gadis itu terlihat hampir kehabisan napas. Akhirnya, dengan satu jeritan panjang, dia terjatuh ke tanah. Kakinya gemetar hebat cairan dari tubuhnya mengalir keluar, menyemprotkan air mata roh itu ke segala arah.
"Dasar nggak berguna," ujar sang biksu dan menampar wajah gadis itu dengan keras. Lalu melanjutkan, "Hanya dengan tubuh seperti ini, bagaimana kamu bisa mengandung pil?"
Mengandung pil?
Aku mendengar istilah baru ini.
Sepertinya, ini membuktikan dugaanku.
Para biksu ini sedang melatih kami menjadi binatang betina untuk kemudian menggunakan tubuh kami sebagai alat untuk melahirkan sesuatu yang mereka inginkan.
Setelah gadis itu diseret keluar, sang biksu kembali mengisi kendi dengan air mata roh dan mendekati gadis berikutnya.
Melihat apa yang terjadi pada gadis sebelumnya, wajah gadis ini dipenuhi rasa putus asa. Dia pun berusaha melawan.
Namun, tetap saja dia ditundukkan ke tanah dan dipaksa menelan seluruh isi kendi.
Dia bertahan lebih lama, tetapi seiring waktu, aku melihat perut gadis itu semakin membesar, seperti balon yang ditiup.
Air mata roh itu tampaknya mengalami perubahan misterius di dalam tubuhnya.
Satu per satu, para gadis dipaksa menjalani hal yang sama, hingga tiba giliranku.
Aku tidak berani memohon ampun.
Namun, tak kusangka, sikapku yang diam saja justru membuat mereka bertindak lebih kasar.
Biksu itu menuangkan lebih banyak cairan ke dalam tubuhku dibandingkan yang lain.
Perutku mulai membuncit, tetapi aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri.
Akhirnya, penglihatanku mulai buram dan tubuhku hampir kehilangan kendali.
Saat aku sudah tak dapat menahannya, terdengar sang biksu berkata, "Cukup."
Tubuhku seperti bendungan yang jebol, semua cairan itu mengalir keluar dan tubuhku terasa sangat lega.
"Lanjutkan ke tahap pelatihan berikutnya."
Usai bicara, dia membuka sebuah kotak dan mengeluarkan sebuah patung kayu besar, setebal lengan manusia.
"Apa ... apa ini?" Seketika hatiku dipenuhi rasa putus asa.
Biksu itu mengoleskan cairan akar kirin pada kayu itu, kemudian menjatuhkanku ke tanah. "Kalau jalurmu nggak diperbesar, bagaimana tubuhmu bisa menampung akar makhluk suci kirin?"
Anda Mungkin Juga Suka





