APKDock Logo
Sampul Novel Perselingkuhan Gila Istriku

Perselingkuhan Gila Istriku

8.9 / 10.0
Kecurigaanku pada Lidya, istriku yang baru berusia 25 tahun, akhirnya mencapai batas. Kebohongannya tentang rekan kerja terbongkar hari ini, menyisakan tanya tentang sosok asli selingkuhannya. Didorong amarah akibat pengkhianatan dan gairah yang kupendam sejak pagi, aku mengonfrontasinya di atas ranjang. Sambil menindih tubuhnya, aku menuntut kejujuran di tengah badai emosi yang berkecamuk hebat.

Perselingkuhan Gila Istriku Bab 1

Ketika istriku memutuskan untuk kembali bekerja, kemudian di tahun yang lalu ia mengalami kenaikan posisi yang berdampak penghasilannya menjadi jauh berada diatasku, awalnya masih terasa biasa saja. Namun kira-kira di 6 bulan terakhir, perlahan ada perubahan yang mulai dirasakan pada sikap istriku.

Lidya, begitulah nama istriku. Sebagai seorang istri sikapnya memang masih sama seperti Lidya yang sudah aku nikahi 3 tahun yang lalu. Ia masih hormat dan patuh kepadaku, juga masih dengan sepenuh hati melayani segala kebutuhanku di rumah. Aku sebagai suaminya seharusnya merasa beruntung mendapatkan istri secantik dan sebaik dia. Namun diluar peran istri yang masih ia lakukan dengan baik, ada perbedaan yang menurutku cukup mengganggu, yaitu perkara dia yang sudah hampir tidak pernah melibatkanku untuk bepergian. Misalnya untuk berbelanja, jalan-jalan, menghadiri undangan, dll.

Jika dulu setiap hendak bepergian tanpaku, ia selalu meminta izin, kini hanya pemberitahuan saja. Tahu kan bedanya? Jika izin tentunya harus menunggu keputusanku sebagai kepala keluarga, apakah diizinkan atau tidak. Sedangkan jika pemberitahuan, ya sekedar memberi tahu saja kalau dia ada rencana keluar, mau diizinkan atau tidak... ya kegiatannya akan tetap berlangsung. Begitulah kira-kira.

Mungkin jika aku mau bersikap keras, bisa saja aku melarang dia bepergian jika memang aku tidak berkenan. Tapi jujur selama 6 bulan terakhir ini power-ku sebagai seorang suami memang sedang down. Aku bukanlah seorang yang memiliki penghasilan tetap dari gaji bulanan, aku hanya seorang penjual t-shirt yang usahanya menyewa di sebuah trade centre. Namanya bisnis, pendapatannya naik dan turun, bahkan bulan-bulan terakhir terasa sangat berat, omzet penjualan menurun drastis.

Dari pendapatanku, setelah dikurangi biaya sewa tempat dan gaji pegawai toko, yang bisa kudapatkan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga saja. Ada untungnya kami belum dikaruniai anak, kalau sudah… tentu semakin banyak kekurangan untuk menutupi biaya rumah tanggaku. Sementara cicilan rumah dan mobil, istrikulah yang menanggung selama 6 bulan terakhir ini. Memang Lidya tidak pernah perhitungan, sepertinya dia sangat ikhlas dengan apa yang sudah dia keluarkan, walaupun itu sesungguhnya adalah kewajiban suami. Namun aku dengan segala harga diriku, merasa sudah jatuh harkat dan martabat sebagai seorang suami dihadapannya.

Itulah mengapa kini aku tak memiliki keberanian untuk melarang setiap istriku pergi. Jikapun aku memaksakan untuk ikut pergi bersamanya, UANG DARIMANAAAA???!?!?!!? Dibayarin pun rasanya gengsi.

Aku memang sudah tidak pernah mengajaknya jalan-jalan, aku juga selalu menolak dengan beragam alasan apabila dia mengajakku, apalagi ketika Lidya mengatakan akan mentraktirku… tidak!!! Mungkin dari sikapku itulah awal mula mengapa Lidya sekarang jika ada kegiatan di luar rumah sudah tidak mau melibatkanku lagi.

Lidya yang masih berusia 25 tahun rasanya memang masih pantas untuk merasakan bahagia bermain di luar sana, lagipula dia punya uang. Biarlah dia pergi tanpaku, namun pertanyaannya, dengan siapa dia berbahagia diluar sana? Makin hari kecurigaanku semakin besar, kalau dia bisa saja tak keluar bersama sahabat kantornya yang perempuan, lalu dengan siapa? entahlah, akupun belum bisa memastikan.

***

PAGI YANG TAK BIASA​

Aku terbangun dari tidur, sambil memicingkan mata aku melihat jam dinding yang tergantung di kamarku sudah menunjukan jam setengah delapan pagi. Aku memang meliburkan diri setiap hari Minggu. Dan di hari itulah aku sengaja ‘mengistirahatkan’ tubuh dan pikiranku dengan sedikit bermalas-malasan. Kemudian bercengkrama dengan istriku di sepanjang hari, menonton Netflix atau apapun itu, pokoknya masih aktivitas di seputaran rumah yang tak mengeluarkan uang. Tapi sepertinya itu semua tidak akan terjadi di hari ini.

Istriku kemarin malam sudah mengatakan bahwa dia akan pergi hari ini jam 10 bersama Vina, sahabat kantornya. Dan lagi-lagi aku hanya mengangguk tanpa berusaha untuk mencegahnya. Dia bilang hari Minggu ini akan ke salon, creambath, facial, skin care-an, kemudian lanjut dengan gym… jika masih ada waktu. Tidak ada yang aneh dengan kegiatannya itu, Lidya memang rutin merawat wajah dan tubuhnya. Tapi untuk gym, jadwalnya biasanya setiap hari Rabu malam sepulang dia bekerja, tapi entahlah… yang pasti dia mengatakan akan nge-gym di hari Minggu ini.

Biasanya setiap aku bangun kesiangan seperti ini di hari Minggu, aku tidak akan mendapati istriku di kamar. Dia sudah sibuk di dapur memasak masakan favoritku, atau sekedar membuatkan sarapan, seperti itulah kebiasaanya sejak awal pernikahan kami. Namun di pagi ini, aku melihat Lidya masih ada di kamar ini, ia sedang duduk di depan meja riasnya sambil berdandan, posisinya membelakangi tempat tidur. Dengan handuk yang masih membungkus tubuhnya, aku melihat begitu sexy-nya istriku ini. Saking asyiknya dia memoles wajahnya, tampaknya dia tidak menyadari bahwa aku sudah terbangun. Akupun memang sengaja tidak membuat gerakan atau suara yang mungkin akan mengganggu aktivitasnya. Saat ini aku menikmati pemandangan yang membuat batang kemaluanku lebih mengeras dibanding pagi-pagi sebelumnya.

Dari belakang, aku melihat pundaknya yang putih bersih terasa begitu menggairahkan dan bulatan payudara yang kulihat dari pantulan kaca menyembul dibalik lilitan handuknya. Ukurannya 34d, cukup membuat mata lelaki tak berkedip apalagi jika Lidya mengenakan pakaian yang sedikit ketat atau belahan dada yang sedikit terbuka. Pantatnya yang padat kini menempel di kursi rias kecil itu, membuat lekuk di kedua tepinya membulat dan tampak menggemaskan.

Lalu kini aku melihat wajahnya, Lidya bukanlah perempuan yang membuat make up sebagai topeng kecantikan. Tanpa make up sekalipun wajahnya sudah cantik, bulu alis hitam terurai rapi, mata yang bulat… namun selalu teduh setiap kali ia memandang, hidungnya yang mancung asli bukan hasil operasi, bibir tipis, dagu sedikit lancip (INGAT YA….. TAK SELANCIP LUCINTA LUNA!!!) dan lesung pipit yang hanya terlihat saat dia tertawa… ah Lidya istriku, kamu memang begitu sempurna.

Keseharian Lidya termasuk saat ia berangkat kerja biasanya hanya memoles wajahnya dengan sapuan make up yang tipis-tipis saja. Tapi mengapa kali ini dia serius sekali berdandan? Memang kali ini yang dia lakukan belum termasuk kategori menor, tapi cukup diluar kebiasaannya. Entah dari jam berapa dia berdandan, sekarang masih menunjukan jam setengah 8 lebih, sedangkan dia rencana berangkat jam 10. Selama itukah dia mempercantik diri? Se-spesial apa kegiatannya hari ini? Bukankan dia mengatakan hanya bepergian bersama Vina ke salon dan gym saja?

Dengan pikiranku yang liar kesana kemari, tanpa sengaja kakiku tersentak saking kesalnya dengan apa yang kupikirkan, gerakanku itu membuat bunyi yang menyadarkan Lidya dari kegiatan berdandannya.

“Sayang, udah bangun?”, tanya Lidya menoleh ke arahku sambil tersenyum dengan sangat cantiknya.

“Eh… iya, u.. udah Mah”, jawabku terbata seperti seorang anak yang sedang ketahuan mengintip.

Aku langsung beranjak dari tempat tidur, masuk ke kamar mandi yang masih ada di dalam kamar tidurku. Kencing, cuci muka, sikat gigi kemudian aku keluar dan melihat Lidya masih serius di depan meja riasnya. Bahkan kali ini dia seolah tidak menghiraukanku. Melihat hal itu aku langsung keluar kamar menuju ruang makan untuk sarapan.

Begitu terkejutnya ketika aku tidak melihat makanan apapun di atas meja makan… bahkan air minum sekalipun tak ada. Aku sedari kecil bukanlah lelaki manja yang harus disiapkan segala sesuatunya termasuk makan dan minum. Aku sebenarnya bisa menyiapkannya sendiri, aku juga tak pernah menuntut istriku untuk memperlakukanku seperti itu. Tapi sejak pernikahan hingga hari kemarin, tanpa diminta pun Lidya selalu tidak pernah absen menyajikan sarapan setiap pagi dan juga makan malam, air minum untukku pun biasanya sudah dia sediakan di meja makan ini. Bahkan sedang sakit sekalipun, Lidya tetap melakukan pekerjaan itu. Itu yang membuatku kini menjadi sedikit manja dan cukup shock dengan kenyataan yang kudapatkan di pagi ini.

Aku kemudian duduk di meja makan yang kosong. Aku tidak marah, tidak….! Sedikitpun aku tidak merasa marah. Hanya aku bertanya-tanya, ada apa dengan Lidya?

Tak lama kemudian dari arah kamar, Lidya berlari ke arahku, gerakan lari tergopoh-gopoh dengan kondisi tubuhnya yang masih terbalut handuk membuat payudaranya naik turun dengan jelas.

“Pah, maaf… Mamah lupa belum nyiapin sarapan”, kata Lidya panik dan seperti sangat menyesal dengan kekhilafannya. Kemudian dia bergegas hendak ke arah dapur bersih yang berada tepat di belakangku. Aku kemudian menghentikan langkahnya dengan memegang lengannya, akupun berdiri dan mengecup keningnya.

“Sudah Mah, lanjutin aja dulu pake pakaiannya, Papah bisa rebus telur sendiri koq, kasian Mama udah cantik… masa harus masak?”, ucapku mencoba tersenyum untuk menenangkan Lidya. Ucapanku dibuat setegar mungkin seolah aku baik-baik saja, padahal apa yang bergemuruh di dalam hatiku berkata lain.

“Beneran Pah?”, tanya Lidya dengan mata membulat memandangku untuk memastikan kalau aku tidak marah.

“Iya, Sayang…..”, jawabku singkat kemudian berusaha mengecup bibirnya. Namun Lidya menolak ciumanku dengan cara menjauhkan wajah dan tubuhnya dari pelukanku. Jujur, aku sangat kecewa dan semakin bertanya-tanya, mengapa dia sampai menghindar seperti itu? Padahal selama ini tak pernah sekalipun dia menolak setiap kali aku ingin mengecupnya. Apakah takut riasannya menjadi rusak? Atau karena hal lain?

“Nanti malam aja ya Sayang”, Lidya berucap dengan senyuman terukir indah di wajahnya, kedua telapak tangannya pun kini mengelus-elus pipiku, sepertinya ia tahu aku kecewa dari perubahan ekspresi wajahku, dan kini dia sedang mencoba untuk menghiburku.

Belum juga aku terhibur, tak sempat juga aku membalas senyumannya, ia sudah berbalik menuju kamar dan melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Kembali mempercantik diri, yang entah kecantikannya itu akan ditunjukan pada siapa?​

Bersambung

Lanjut Membaca

Daftar Isi Perselingkuhan Gila Istriku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Boss Lady: Mantan Suamiku Ingin Aku Kembali
8.9
Selena kerap dicap parasit oleh Kenneth, sang suami. Lelah terus terluka, ia akhirnya menggugat cerai dan meminta pembagian aset. Kenneth yang mendambakan kebebasan segera menyetujuinya. Namun di luar dugaan, Selena justru bangkit menjadi pebisnis sukses yang didekati banyak pria. Terpaku melihat perubahan mantan istrinya yang kini mandiri, Kenneth pun berbalik mengejarnya. Di tengah luapan amarah Selena, Kenneth mengakui obsesinya dan memohon rujuk demi menyatukan harta serta masa depan.
Sampul Novel Istri Palsu Miliarder
8.7
Setelah berselingkuh, Vivienne mencoba menghabisi Soren Blackwood. Namun, anak buah sang miliarder justru salah menculik Kira, kembaran identik Vivienne. Kira terpaksa berpura-pura menjadi istri dari CEO kejam yang kini lumpuh tersebut. Di tengah dendam membara, Soren perlahan jatuh cinta pada Kira yang bersikap sangat berbeda. Bisakah rahasia ini terus tersimpan rapat? Bahaya mengintai saat Vivienne yang asli bersiap kembali merebut posisinya.
Sampul Novel Mengandung Anak Boss
8.3
Siska awalnya hanya ingin bekerja sebagai sekretaris di perusahaan mewah. Namun, Arga, sang atasan yang tampan, malah menyodorkan kontrak kerja yang sangat tidak biasa. Bosnya tersebut rupanya memiliki kondisi medis khusus yang mewajibkannya meminum ASI. Siska pun kini berada di persimpangan jalan yang sulit, harus memilih antara tetap bersikap profesional atau bersedia menjadi penyedia ASI demi memenuhi kebutuhan kesehatan unik sang pimpinan.
Sampul Novel Ranjang Panas Istri Kedua
8.2
Di dalam kamar yang sunyi dan terasa sesak, Bella terbuai dalam pusaran gairah hangat bersama Bram. Dekapan erat sang suami membuatnya meremas sprei dengan kuat, seiring napas mereka yang saling memburu. Bella tidak mampu lagi menahan rintihan nikmat yang dipicu oleh setiap sentuhan intim dari suaminya. Bram pun terus memacu hasrat sang istri, menikmati setiap getaran tubuh Bella. Malam itu, derit ranjang menjadi saksi bisu bagi keintiman membara yang mereka lalui.
Sampul Novel Sketsa Hati
9.5
Ditolak keluarga karena gagal masuk kedokteran, bakat seni Lia dianggap tak berharga hingga ia diusir dari rumah. Di tengah keterpurukan, kehadiran Ares sempat menjadi penyelamat sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan luka baru. Saat harapan kembali tumbuh lewat sosok Rio, Lia justru harus menghadapi kenyataan pahit yang terus menguji kekuatannya. Cobaan bertubi-tubi ini membuatnya mulai meragukan arti eksistensi dirinya di dunia.
Sampul Novel Terjerat Cinta Duda Dingin
8.9
Sejak remaja hingga berumur hampir kepala tiga, Kinara Larissa Putri hanya mencintai satu pria. Impiannya terwujud saat ia dinikahi Arka, duda menawan dambaannya. Sayangnya, pernikahan itu hambar. Arka yang kaku dan egois ternyata menikahinya cuma demi sang anak, tanpa rasa cinta. Di tengah dinginnya sikap sang suami, sesosok pria lain hadir menawarkan kasih sayang yang tulus. Kinara kini bimbang, sanggupkah ia bertahan dalam pernikahan tanpa cinta saat godaan baru mulai datang?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan