APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perpisahan yang Kutandatangani

Perpisahan yang Kutandatangani

Setelah sebelas tahun bersama Petro, Yasmin mendapati suaminya berselingkuh selama tiga tahun dengan gadis yang lebih muda dan memiliki kemiripan wajah hingga enam puluh persen dengannya. Penderitaan Yasmin memuncak ketika putranya, Haris, menyodorkan surat pemutusan hubungan dan menuduhnya merusak kebahagiaan keluarga. Dengan hati yang hancur, Yasmin akhirnya menandatangani kesepakatan cerai dan memutuskan untuk memutus semua ikatan dengan suami serta anaknya.
Bab
Bagikan

Bab 6

Setelah Yasmin pergi, Petro juga kehilangan selera makan.

Mengabaikan sikap manja Yara, dia langsung mengambil jaket yang dikembalikan lalu membuangnya ke tempat sampah. Pandangannya menurun tajam, seolah sedang menatap sampah.

"Aku sudah bilang apa sama kamu, kamu lupa, ya?"

"Yara, jangan coba-coba main licik. Jangan pernah punya pikiran aneh. Kamu belum pantas."

Selesai bicara, tanpa peduli pada permohonan maaf Yara, dia menarik Haris yang wajahnya pucat sejak tadi, lalu melangkah keluar dengan cepat.

Tanpa sepatah kata pun, Petro menyalakan mobil dan langsung melaju pulang.

Saat sampai rumah, Yasmin sudah ada di sana.

Bayangan punggung Yasmin saat pergi tadi masih melekat di benak Petro, membuatnya gelisah.

Kini begitu melihat Yasmin nyata di hadapannya, dadanya yang berdebar baru sedikit tenang.

Karena diliputi rasa bersalah, Petro ingin menebusnya. Dia merogoh kantong, kebetulan menemukan sebuah kotak hadiah.

Tanpa ragu, dia membuka bungkusnya dan mengeluarkan sebuah kalung.

"Yasmin, aku bawain kamu hadiah tahun baru."

Dia berjalan perlahan mendekat, tubuhnya condong ke arah Yasmin. Dengan senyum intim, dia menggantungkan kalung itu di depan wajah Yasmin.

Tangannya terhenti di udara, menanti seruan gembira dari Yasmin.

Tapi, setelah lama menunggu, suara itu tidak kunjung datang. Petro heran dan mengangkat wajah. "Nggak suka?"

"Kalung ini bulan lalu baru kamu kasih ke aku."

"Hadiah peringatan."

Dada Petro seketika menegang. Matanya bergetar. Ketika menunduk, dia baru sadar, di leher Yasmin sudah ada kalung yang sama persis dengan yang dia sodorkan.

Benar-benar kalung yang identik.

Ingatannya kembali. Kalung itu sebenarnya Yara yang minta, katanya Yasmin memakainya terlihat cantik. Dia juga ingin punya. Petro merasa itu bukan permintaan berlebihan, jadi dia menyetujuinya.

Siang tadi, asistennya baru menyerahkan kalung itu. Tapi, setelah keributan sore tadi, pikirannya penuh dengan Yasmin sampai melupakan hal itu.

Wajahnya sempat panik. Tapi, pengalaman menutupi kesalahan bertahun-tahun membuatnya cepat kembali tenang. Tanpa ekspresi, dia menarik kembali kalung itu dan melemparkannya ke tempat sampah.

"Pasti pegawai tokonya yang salah bungkus. Sudahlah, toko kayak gitu memang nggak pantas buat kamu. Nanti aku cariin yang terbaik di lelang."

"Beberapa hari lagi kita pergi belanja, sekalian nyiapin tahun baru. Kamu butuh apa, biar aku yang beliin."

Yasmin hanya menyinggungkan senyum tipis, menjawab sekenanya. Tapi, di sudut matanya yang tak terlihat Petro, tatapannya dingin, tenang, benar-benar seperti air mati.

Empat hari kemudian, Petro mengajak Yasmin pergi ke pusat perbelanjaan terdekat.

Yasmin sebenarnya tidak terlalu berminat, tapi Petro sangat bersemangat membelikan barang. Perhiasan, pakaian, sepatu, tas. Selama Yasmin melewati atau melirik sebentar, Petro langsung membayar tanpa ragu.

Suara decak kagum terdengar di sekeliling, disertai pujian yang tidak berhenti-henti.

"Gila, kayanya bukan main! Siapa yang bisa kasih aku cowok sekaya dan seganteng itu."

"Katanya cinta seorang pria ada di mana uangnya dia taruh. Pak Petro pasti sayang banget sama istrinya!"

Yasmin mendengarnya. Tapi, yang muncul di dadanya hanya rasa getir dan ejekan.

Saat Yasmin masuk ke sebuah butik, Petro duduk di sofa. Pandangannya tanpa sengaja melirik keluar, lalu tiba-tiba terhenti.

Itu Yara.

Matanya merah, menatap Petro dengan keras kepala. Dia tidak pergi, tidak bersembunyi, seakan sengaja memperlihatkan dirinya tanpa rasa takut ketahuan.

Petro menggertakkan gigi, melontarkan umpatan pelan, lalu buru-buru berkata singkat pada Yasmin sebelum bergegas ke toilet di lantai bawah.

Dia melangkah dengan cepat, tidak menyadari Yasmin beberapa saat kemudian diam-diam mengikutinya.

Tidak lama menunggu, Yara pun muncul.

Begitu melihat Petro, dia langsung berlutut. Tidak peduli lantainya kotor atau tidak, dia memeluk kaki Petro sambil menangis tersedu.

"Kak Petro, aku benar-benar sadar salah."

"Tolong kasih aku satu kesempatan lagi. Waktu itu aku khilaf. Mulai sekarang aku janji tahu posisi. Aku cuma bakal muncul waktu kamu butuh. Aku janji nggak akan pernah muncul di depan Yasmin lagi, boleh kan?"

"Aku pasti sembunyi baik-baik. Jangan buang aku."

Hanya dalam beberapa hari, Yara terlihat jauh lebih kurus. Lingkar hitam di matanya mencolok, suara tangisnya bergetar, tubuhnya juga gemetar hebat, penuh ketakutan.

Petro menatap wajah rapuh itu lama sekali. Akhirnya dia menghela napas berat.

Saat Yara terisak, nada suaranya mirip Yasmin. Petro tidak bisa menolak, hatinya kembali luluh.

"Ingat, karena kamu sudah ikut aku beberapa tahun, kali ini aku maafin."

"Tapi, jangan ada lagi yang kedua."

Begitu kata-kata itu keluar, Yara langsung menubruk Petro, menangis sambil menunduk dan mencium wajahnya.

"Aku ngerti. Mulai sekarang aku bakal nurut. Aku pasti jadi yang paling nurut."

Kepatuhan dan manja Yara selalu jadi yang paling disukai Petro. Dia tersenyum tipis, membalas pelukan di pinggangnya. Setelah tangis Yara mereda, barulah dia membuka pintu untuk pergi.

Baru saja keluar dari toilet, tiba-tiba sebuah bayangan jatuh di depannya. Petro menengadah, pupilnya mengecil drastis, wajahnya seketika pucat.

"Yasmin, kok kamu di sini? Sudah lama, ya?"

Suara Petro dibuat lebih keras, berharap Yara di dalam mendengar dan tidak keluar. Karena terlalu tegang, nada suaranya ikut bergetar tanpa dia sadari.

Untungnya Yara paham. Dia tetap bersembunyi di dalam.

Udara seolah menipis. Yasmin menatap Petro lama sekali. Telapak tangannya yang tersembunyi sudah berlumur darah akibat genggaman erat, tapi dia hanya tersenyum tipis.

"Toilet di atas rusak, jadi aku baru saja turun."

"Tunggu sebentar, aku cuci tangan dulu. Kita jalan bareng."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ANITA ( Pernikahan atas penukaran jaminan)
9.4
Demi melunasi kerugian akibat ulah sang saudara, Anita Azaelia terpaksa menjalani pernikahan kilat tanpa landasan cinta. Beban hidupnya kian menumpuk saat mengetahui sang suami sama sekali tidak mencintainya. Setelah sebelumnya terluka oleh pengkhianatan masa lalu, kini Anita harus bertahan melewati kepedihan nasib yang menguji batas kemampuannya. Akankah ia berhasil meraih kebahagiaan sejati di tengah badai rumah tangga yang menempatkannya tak lebih dari sekadar jaminan utang?
Sampul Novel Bittersweet
9.0
Arvin Bintang Mahatama dan Hana Farsya Aurina bertetangga sejak kecil. Meski Arvin sangat jahil sedangkan Hana manja tapi dewasa, mereka tak terpisahkan dari TK hingga SMA. Hubungan keduanya kerap diwarnai pertengkaran bagai Tom and Jerry akibat perbedaan sifat. Memasuki masa remaja, persahabatan erat ini diuji oleh tumbuhnya benih-benih cinta. Akankah ikatan platonis mereka mampu bertahan saat perasaan baru mulai mewarnai kisah pahit manis di sekolah?
Sampul Novel Menikahi Lelaki Brengsek
8.9
Kehidupan indah Raden Roro Ayu, bangsawan berpendidikan tinggi, runtuh setelah mengandung anak dari Nanda, sahabat dari pacarnya sendiri. Pernikahan terpaksa ini membawa penderitaan bagi Ayu hingga memicu dendam membara, merusak kedamaian keluarga, dan melahirkan permusuhan besar. Sementara itu, Sonny yang tetap mencintai Ayu menolak merelakannya. Ayu pun kini berada di persimpangan jalan, terjebak antara pernikahan dinginnya atau pulang ke pelukan Sonny.
Sampul Novel My Soulmate From My Heart (Series 2)
9.5
Demi menghindari perjodohan dengan Cheryl yang sudah dianggapnya adik sendiri, Arland nekat menjalin hubungan palsu dengan Kiran. Rencana yang semula hanya sandiwara ini perlahan berubah menjadi cinta yang sungguh-sungguh. Namun, saat Arland mulai benar-benar menyayangi Kiran, hubungan mereka justru dihadapkan pada ujian berat. Sang mama menentang keras kedekatan mereka dan menolak memberikan restu.
Sampul Novel OLD VIRGIN (WHEN I LOVED YOU)
7.9
Shereen Edwarida, seorang wanita karier sukses, menutup rapat hatinya akibat trauma masa lalu yang mendalam. Ia ditinggalkan oleh kekasihnya tepat sebelum pernikahan demi perempuan lain. Meski dicap perawan tua oleh lingkungan sekitar, Shereen tetap memilih sendiri dengan dukungan keluarga dan sahabat. Namun, pertahanannya goyah saat sang mantan kembali untuk menebus kesalahan. Akankah ia memberikan kesempatan kedua di tengah bayang-bayang luka lama?
Sampul Novel Ranjang Panas Istri Kedua
8.2
Di dalam kamar yang sunyi dan terasa sesak, Bella terbuai dalam pusaran gairah hangat bersama Bram. Dekapan erat sang suami membuatnya meremas sprei dengan kuat, seiring napas mereka yang saling memburu. Bella tidak mampu lagi menahan rintihan nikmat yang dipicu oleh setiap sentuhan intim dari suaminya. Bram pun terus memacu hasrat sang istri, menikmati setiap getaran tubuh Bella. Malam itu, derit ranjang menjadi saksi bisu bagi keintiman membara yang mereka lalui.