
Perpisahan yang Kutandatangani
Bab 7
Beberapa hari berikutnya, Petro tiba-tiba berubah. Dia tidak lagi sibuk seperti biasa, seharian menempel di sisi Yasmin, seakan-akan ingin menguji apakah Yasmin sempat mendengar sesuatu atau tidak.
Yasmin tetap tenang. Sikapnya sama sekali tidak menunjukkan hal yang janggal.
Petro tahu betul Yasmin bukan tipe yang bisa menoleransi hal kecil sekalipun. Kalau benar dia mendengar sesuatu, mustahil dia bisa bersikap setenang itu. Perlahan, rasa khawatirnya pun mereda.
Tidak lama kemudian, tahun baru tiba.
Yasmin itu yatim piatu. Jadi, masalah tahun baru harus dirayakan di keluarga siapa, tidak pernah menjadi beban baginya. Malam itu, Petro mengajaknya bersama Haris kembali ke rumah keluarga besar Yogara untuk makan malam bersama orang tuanya.
Begitu masuk, tubuh Petro langsung menegang. Yasmin heran, melirik ke dalam, dan terkejut melihat Yara duduk di ruang tamu.
Yara duduk manis di samping ibu Petro, wajahnya dihiasi senyum patuh.
"Kak Yara!"
Haris terlihat begitu bahagia melihatnya. Dia melepaskan tangan Yasmin lalu berlari memeluk Yara.
"Kamu jangan pulang malam ini. Tahun baruan sama aku dan Ayah, ya. Kita butuh kamu!"
"Kebetulan banget kalian pulang. Ini Yara, guru postur tubuhnya Nelly. Sudah malam, jadi aku suruh dia makan malam di sini sekalian."
"Ramai-ramai begini 'kan lebih meriah. Kalian anak muda juga bisa ngobrol banyak."
Ibu Petro sama sekali tidak menyadari wajah kaku dan pucat anaknya. Dia terus merasa puas memperkenalkan Yara. Yasmin hanya diam, tapi di dalam hati dia merasa geli melihat maksud yang terlalu jelas.
Sejak awal, ibu Petro memang tidak pernah menyukai dirinya. Dia tidak suka latar belakang keluarganya, tidak suka pekerjaannya.
Sekarang, begitu tahu Petro punya perempuan lain di sekitarnya, dia langsung membawanya pulang untuk malam tahun baru tanpa repot mencari alasan.
Saat makan malam, Haris sengaja menyingkirkan Yasmin. Dia duduk di antara Petro dan Yara, sambil terus bersorak gembira.
Ibu Petro makin menjadi-jadi. Dia terus mengambilkan lauk untuk Yara, menciptakan kesempatan, menyuruh Yara berdiri bersama Petro memberi salam tahun baru, lalu menyuruhnya menuangkan minum untuk Petro.
Pada akhirnya, dia memakai alasan seolah Yara seperti putrinya sendiri, lalu memaksa Yara menginap malam itu.
Selama semua itu berlangsung, Yasmin tidak sekalipun dilirik olehnya.
Malam itu Yara menginap di rumah keluarga Yogara. Saat Yasmin dan Petro duduk di lantai satu menemani Haris bermain kembang api, Yara berkali-kali lewat dengan piyama renda tipis sambil pura-pura minum. Sudah lima kali Dia muncul.
Setiap lewat, dia selalu berhenti sebentar dan menyapa pelan.
Yasmin tetap diam. Petro justru makin berat napasnya. Matanya tetap menatap layar ponsel, jarinya mengetik cepat.
Yasmin menunduk, melirik sekilas, lalu tersenyum sinis tanpa berusaha menutupinya.
Tepat pukul dua belas malam.
Ponsel Petro berbunyi beberapa kali.
Dia akhirnya membuka pesan-pesan itu.
Matanya terpaku lama di layar. Dia menarik napas kasar, menahan gejolak, lalu meletakkan ponsel dan mencoba tidur.
Setengah jam kemudian, Petro masih gelisah. Dia berbalik untuk kelima kalinya, lalu membuka mata.
Dia menoleh ke arah Yasmin. Napas istrinya tetap teratur. Petro menghela napas, bangkit, lalu melangkah pelan keluar kamar.
Baru keluar, Yasmin mendengar suara serak rendah. Matanya langsung terbuka, sama sekali tidak mengantuk.
"Kamu kok di sini?"
"Aku kangen. Aku nunggu kamu keluar."
"Gila! Kamu nggak takut ketahuan orang?"
"Bukankah ini juga maunya ibumu? Aku salah di mana?"
"Diam. Jangan sampai Yasmin dengar. Kamar kamu di mana?"
Suara berisik terdengar, lalu langkah kaki mereka menjauh. Satu berat, satu ringan.
Karena buru-buru, pintu kamar tidak ditutup rapat. Yasmin berdiri, lalu menutupnya sendiri. Wajahnya datar, matanya setenang air mati.
Anda Mungkin Juga Suka





