
Pernikahan yang Ketiga Puluh Tiga
Bab 3
Hampir sebulan lamanya, Lorenzo tidak menghubungiku.
Dia seolah mengabdikan seluruh waktunya untuk Sophia.
Akun Facebook yang biasanya tidak pernah aktif, mulai sering memunculkan jejak mereka berdua.
Mereka seperti pasangan biasa, menonton opera, pergi ke pulau pribadi, melakukan semua hal yang dulu Lorenzo anggap tidak berarti.
Unggahan terakhirnya adalah foto pernikahan yang diambil bersama Sophia, di mana dia tampak mengenakan setelan jas khusus.
Keterangannya: [Ingin sekali melihat wanita yang kucintai mengenakan gaun pengantin.]
Aku tersenyum miris dan menekan tombol suka.
Kemudian, mematikan ponsel.
Keesokan harinya.
Lorenzo meneleponku dengan nada kesal. Suaranya terdengar enggan.
"Chiara, bawa dokumen identitasmu. Satu jam lagi, temui aku di gereja tua."
Belum sempat aku menjawab, sambungan sudah diputus.
Selama lima tahun, untuk pertama kalinya, Lorenzo sendiri yang meminta untuk pergi ke gereja.
Aku hendak menulis pesan penolakan, tiba-tiba aku teringat cincin peninggalan ayahku masih ada padanya.
Sebelum pergi, aku harus mengambilnya kembali.
Aku pun menuju ke gereja tua keluarga itu. Jalanan di sekitarnya terasa begitu familier, selama lima tahun ini, aku telah melaluinya entah berapa kali.
Untuk pertama kalinya, tidak terjadi apa pun di sepanjang perjalanan.
Di bawah pilar batu gereja yang dipenuhi bekas peluru, aku menunggu Lorenzo selama satu jam, hingga akhirnya sosoknya muncul di hadapanku.
Lingkar hitam di bawah matanya begitu jelas, dan aroma tembakau dari tubuhnya makin pekat.
Setelah bertahun-tahun bersama, aku tahu, dia hanya merokok saat hatinya sedang kacau.
Setelah sebulan tidak bertemu, dia terlihat terkejut saat melihatku.
"Kenapa kamu jadi seperti ini?"
Hanya dalam sebulan, rasa sakit akibat penyakit dan efek kemoterapi telah membuatku begitu kurus.
Tanpa dia mengatakannya pun aku tahu, penampilanku sekarang pasti sangat buruk.
Melihatku tidak menjawab, Lorenzo berkerut kesal. "Hari ini, hari kita menandatangani akta pernikahan. Kamu yakin mau tampil seperti ini di foto pernikahan kita?"
"Aku bukan datang untuk mengikat janji pernikahan. Aku hanya ingin mengambil cincin peninggalan ayahku," ujarku datar sambil mengulurkan tangan padanya.
Lorenzo menatapku dengan heran, seolah menganggapku sedang membuat ulah.
Kemudian, dia tertawa sinis, lalu meraih pergelangan tanganku dan menarikku masuk ke gereja tanpa memberi aku kesempatan menolak.
"Nggak perlu memainkan siasat tarik-ulur di depanku. Apa kamu pikir, aku akhirnya akan menyerah pada hutang budi ini dan menikahimu?"
"Baik, aku akui kamu menang. Ayo masuk dan selesaikan upacaranya, lalu tentukan waktu untuk mengadakan pernikahan." Lorenzo berkata dengan nada nyaris putus asa.
Ketika melihat kami datang, pastor di gereja dengan sigap menyiapkan dokumen dan perlengkapan yang diperlukan untuk upacara pernikahan.
"Mohon kalian berdua menunjukkan identitas dan menandatangani surat permohonan pernikahan."
Lorenzo mengeluarkan cincin berukir lambang keluarganya. Saat dia menyerahkannya, ujung lengan bajunya tersingkap sedikit, memperlihatkan sebuah tato baru di bagian dalam pergelangan tangannya.
Itu adalah inisial nama Sophia, dengan setangkai mawar merah yang melilit di atasnya.
Pastor yang tidak memahami situasinya, berusaha mencairkan suasana.
"Kalian benar-benar pasangan yang serasi, sampai menato nama pasangan di tubuh sendiri. Kelihatan sekali kalian begitu bahagia."
Lorenzo sempat tertegun, lalu dengan canggung menarik kembali lengan bajunya.
Tanpa sadar, dia menoleh ke arahku. Melihat aku masih berdiri tanpa ekspresi, nada suaranya menjadi penuh sindiran.
"Kenapa? Takut di jalan terjadi insiden lagi sampai kamu lupa membawa dokumen identitasmu?"
Melihat sikapnya yang seperti itu, aku menarik napas dalam-dalam. "Aku sudah bilang, aku datang bukan untuk menikah. Tolong kembalikan cincin..."
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, telepon satelit Lorenzo berdering nyaring.
Begitu tersambung, dari seberang terdengar suara anak buahnya yang panik.
"Ketua! Gawat! Nona Sophia menelan banyak pil tidur di vila, sepertinya keadaannya kritis!"
"Selain itu... kami menemukan surat wasiat. Di dalamnya tertulis... tertulis bahwa Nona Chiara yang memaksanya!"
Anda Mungkin Juga Suka





