
Pernikahan yang Ketiga Puluh Tiga
Bab 4
Begitu anak buahnya selesai berbicara, Lorenzo tiba-tiba berdiri.
Seluruh akal sehatnya lenyap tanpa jejak, menyisakan kepanikan di wajahnya.
"Chiara! Berani-beraninya kamu...!"
Dia menatapku dengan rahang mengeras.
Meskipun telah mengenalnya bertahun-tahun, ini pertama kalinya aku melihat Lorenzo kehilangan kendali seperti itu.
Tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan apa pun, Lorenzo langsung memberi isyarat kepada para pengawal di belakangnya untuk menyeretku dengan kasar ke dalam mobil dan membawaku ke kediaman Sophia.
Di dalam vila begitu berantakan. Semua foto dirinya bersama Lorenzo pecah dan berserakan di lantai.
Sophia terbaring di atas ranjang dengan wajah pucat pasi, tanpa tanda-tanda kehidupan. Dada yang nyaris tidak bergerak menunjukkan betapa lemah napasnya.
Kedua kaki Lorenzo melemas. Dia hampir terjatuh saat berlari ke arah Sophia. Dengan tangan bergetar, dia menggenggam erat tangan Sophia yang dingin.
"Sophia! Lihat aku! Aku nggak akan menikah lagi! Bukalah matamu dan lihat aku!"
Di samping tangan Sophia tergeletak sebotol obat tidur yang telah dibuka, serta sepucuk surat wasiat yang berlumuran darah.
Dalam surat itu, penuh kata-kata yang menuduhku. Dia menimpakan seluruh kesalahan atas kematiannya padaku.
Pupil Lorenzo menyempit karena amarah yang meluap. Dia berbalik dan mencengkeram leherku dengan kuat.
Lorenzo sama sekali tidak menyadari bahwa lebih dari setengah isi botol obat tidur itu masih tersisa. Sophia sebenarnya hanya meminumnya sedikit.
Seperti binatang buas yang kehilangan kendali, Lorenzo menghardikku.
"Chiara! Kenapa kamu melakukan ini? Kamu ingin menikah denganku, aku sudah menyetujuinya! Mengapa kamu masih harus memaksanya sampai mati?"
"Apa salahnya?"
Tatapan penuh kebencian itu menembus jantungku seperti sebilah es yang tajam.
Lorenzo, dia tidak pernah percaya padaku.
"Aku nggak memaksanya bunuh diri. Aku juga nggak ingin menikah denganmu. Aku hanya ikut bersamamu untuk mengambil kembali cincin ayahku."
Kata-kata itu keluar dengan susah payah dari bibirku, sementara rasa sesak menyerangku.
Aku tahu, apa pun yang kukatakan, dia tidak akan percaya.
Detik berikutnya, Lorenzo melepaskanku.
Plak!
Pandanganku mendadak gelap. Rasa nyeri yang hebat menyergap.
Lorenzo menamparku sekuat tenaga.
Dengan mata memerah, dia menarik cincin di jarinya dengan kasar.
Lalu, menjatuhkannya di depanku.
Cincin itu menghantam lantai dan pecah berkeping-keping.
Barang terakhir peninggalan ayahku di dunia ini, kini telah hancur berkeping-keping.
Aku menatap kosong pada pecahan cincin di kakiku, bibirku bergetar tanpa bisa dikendalikan.
"Kalau kamu menginginkannya, aku akan mengembalikannya padamu."
"Kamu pikir aku berterima kasih karena orang tuamu menyelamatkanku sepuluh tahun lalu? Kalau aku tahu aku harus membayarnya dengan pernikahan dan kebebasanku, aku lebih rela mati di malam penyerangan itu!"
"Kematian orang tuamu adalah pilihan mereka sendiri! Mengapa aku harus menanggung belenggu ini seumur hidup?
Nada suara Lorenzo dipenuhi kebencian dan dendam yang terpendam selama sepuluh tahun. Bunuh diri Sophia sepenuhnya menghancurkan kewarasannya.
Tatapan matanya padaku makin dingin.
Dia memungut botol obat tidur yang tergeletak di lantai.
Atas isyaratnya, pengawal di sampingnya memukul bagian belakang lututku dengan keras hingga aku tidak berdaya dan jatuh berlutut di lantai.
"Lorenzo! Kamu sudah gila?"
Lorenzo mencengkeram daguku, lalu dengan kasar memaksa semua obat tidur yang tersisa dalam botol masuk ke tenggorokanku!
Pil-pil obat itu menggores tenggorokanku, menimbulkan rasa perih yang menusuk dan sesak yang mencekik.
"Ketika Sophia menelan obat itu, pasti jauh lebih menyakitkan dari ini. Sekarang, kamu rasakan sendiri bagaimana rasanya!"
Aku berusaha memuntahkan obat itu, tapi pengawalnya menutup mulutku rapat-rapat dan mencengkeram leherku agar aku menelannya.
Rasa sesak yang hebat menyerang, kesadaranku mulai memudar.
Sebelum semuanya benar-benar gelap, Lorenzo menunduk dan memandangku dari atas, tatapannya hanya menyisakan keteguhan yang dingin tanpa sedikit pun belas kasih.
"Chiara, aku akan meminta ibuku membatalkan pertunangan kita. Aku salah. Seharusnya sejak awal aku memilih Sophia."
Air mata mengalir dari sudut mataku.
Mereka pergi tanpa menghiraukanku, membiarkanku tergeletak di atas karpet. Tubuhku menggeliat kesakitan, sementara kesadaranku perlahan tenggelam ke dalam kegelapan yang tidak berujung.
Lorenzo menyesali keputusannya yang terpaksa menepati janji pernikahan itu.
Namun, untungnya, aku sudah lebih dulu membuat pilihan untuknya...
...
Di sisi Lorenzo.
"Tanda-tanda vital pasien stabil. Dosis yang diminum tidak cukup untuk menyebabkan kematian, dia akan segera sadar."
Mendengar konfirmasi dari dokter pribadinya, Lorenzo perlahan menghembuskan napas lega.
Kepalanya masih berdengung karena ketakutan dan amarah yang tadi meledak.
Semuanya terjadi terlalu cepat. Saat melihat Sophia terbaring tanpa tanda-tanda kehidupan di atas ranjang, rasa takut benar-benar membuatnya kalut.
Setelah tenang sejenak, napas Lorenzo tiba-tiba tertahan.
Dia tiba-tiba teringat pada Chiara yang juga dipaksa menelan obat tidur dalam jumlah besar. Penyesalan yang kuat langsung menyergapnya.
Tadi seluruh pikirannya hanya tertuju pada Sophia, hingga dia benar-benar melupakan Chiara!
Dia segera menoleh dan menatap anak buahnya di belakang. "Di mana Chiara? Kalian sudah membawanya ke rumah sakit, 'kan? Cepat panggil dokter untuk mencuci lambungnya! Masalah ini ... cukup sampai di sini!"
Beberapa anak buah saling berpandangan, lalu menjawab dengan ragu.
"Ketua ... Anda tidak memerintahkan kami untuk membawa Nona Chiara ke rumah sakit... Kami ... kami hanya mengikuti perintah Anda, membiarkannya tetap di sana..."
Anda Mungkin Juga Suka





