APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pernikahan Sebatas Status

Pernikahan Sebatas Status

Demi mempertahankan rumah peninggalan orang tuanya, Jingga menyetujui sebuah kesepakatan rumit. Ia bersedia menjadi istri kontrak bagi Ganendra, seorang miliarder yang butuh perlindungan dari kejaran wanita pemburu harta. Pernikahan formalitas ini awalnya dilakukan demi keuntungan pribadi masing-masing. Namun, seiring berjalannya waktu, sandiwara tersebut justru menumbuhkan perasaan tulus. Hubungan tanpa rasa kini bersemi menjadi cinta yang nyata dan mendalam di antara keduanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pria itu sama sekali tak peduli tatkala Jingga merintih kesakitan. Ganendra terus bergerak memuaskan hasratnya sampai tuntas.

Dia sama sekali tak memedulikan air mata Jingga yang meleleh. Ganendra bahkan melanjutkan aksinya di atas ranjang.

Entah berapa detik dan menit berlalu, Jingga tak lagi menghitung. Dia terlalu lelah dan lemah. Bahkan untuk mengangkat tangan saja dirinya tak sanggup. Gadis malang itu terkulai di atas ranjang setelah Ganendra 'memakannya' dengan beringas.

Jingga tertidur pulas seperti orang pingsan. Dia baru terbangun saat mendengar dering ponsel yang berbunyi nyaring di sekitar kepalanya.

Jingga mengangkat kepala dan mendapati sebuah telepon genggam mahal tengah menyala. Nama Hilda tertera di layarnya.

Ragu-ragu dia hendak membangunkan Ganendra yang tidur dalam posisi tertelungkup. Hati-hati dia menyentuh permukaan punggung yang dihiasi bulu-bulu halus.

"Pak, ada telepon," ucap Jingga pelan.

Sentuhan lembut ternyata tak membangunkan pria itu, sehingga Jingga harus menepuknya lebih keras. Namun, Ganendra malah mendengkur halus.

"Pak ...." Jingga menggoyang-goyangkan lengan pria tampan itu. Setengah terkejut, Ganendra terbangun. Refleks dia meraih tangan Jingga dan mencekalnya kuat-kuat.

Jingga sama terkejutnya. Tubuhnya membeku selama beberapa saat. Iris mata hitamnya beradu dengan iris mata coklat terang milik Ganendra.

"Ada apa?" desis Ganendra.

"Telepon anda berbunyi tadi. Se-sekarang sudah mati." Jingga tergagap.

Ekor mata Ganendra bergerak ke arah ponselnya yang tergeletak di atas bantal. Dia lalu meraih ponsel itu dan memeriksa catatan panggilan.

Ganendra mengempaskan napas pelan saat membaca nama kontak yang masuk. Dia pun memutuskan untuk menelepon balik.

"Kenapa meneleponku pagi-pagi begini, Hil?" ujar Ganendra saat seseorang di seberang sana menerima panggilannya.

"Lagi di mana, Ga? Bukannya kamu sudah berjanji mengantarkanku belanja?" balas suara wanita yang samar-samar tertangkap oleh telinga Jingga.

"Kapan aku berjanji? Berapa kali harus kukatakan jika minggu pertama awal bulan, aku tidak mau diganggu siapapun! Kalau mau belanja, belanja saja. Jatah bulananmu sudah kutransfer kemarin, kan?" timpal Ganendra.

"Ck! Kamu nggak peka!" sentak wanita di seberang sana, sebelum mengakhiri telepon secara sepihak. Namun, Ganendra tak ambil pusing. Dia melemparkan ponsel itu, lalu kembali tidur.

Jingga yang sudah kehilangan rasa kantuknya, hanya bisa duduk terpaku di samping Ganendra. Dia terus memperhatikan punggung lebar itu sambil meremas selimut putih yang menyelimuti tubuhnya hingga ke dada.

Tak disangka, Ganendra tiba-tiba berbalik menghadap Jingga. Lagi-lagi pandangan mereka menyatu. "Jangan pernah bertanya macam-macam! Aku tidak suka perempuan cerewet!" ujar Ganendra mengingatkan.

"Kamu cukup melakukan tugasmu dengan baik selama seminggu ini, yaitu melayaniku." Ganendra menyeringai sembari menarik tubuh Jingga agar mendekat kepadanya.

Dia tiba-tiba menghentikan geraknya saat menyadari bahwa Jingga tengah menangis. "Kenapa?" tanya Ganendra tak suka.

Jingga menggeleng lemah. "Aku sudah membuat keputusan bodoh," isaknya lirih.

Ganendra sempat terheran-heran. Baru kali ini dia menyewa seorang gadis, dan menjanjikannya uang yang banyak. Bukannya bahagia, gadis itu malah bersedih.

Namun, pada akhirnya Ganendra tak peduli. Seperti yang telah dia katakan, selama seminggu penuh Jingga dikurung bak narapidana. Selama itu pula, Jingga menjadi budak Ganendra. Pria rupawan itu benar-benar tak membiarkan Jingga diam sedikitpun.

Ganendra memakai Jingga kapan saja dia mau. Dia juga tak keluar sama sekali dari apartemen mewahnya barang sedetikpun. Untuk urusan perut, Ganendra memiliki pegawai khusus yang bertugas mengantarkan makanan sebanyak tiga kali dalam sehari. Hal itu terus terjadi sampai di hari ketujuh, hari terakhir Jingga tinggal bersama Ganendra.

"Apa barangmu hanya ini?" Ganendra mengangkat tas selempang kecil milik Jingga.

Gadis itu mengangguk lemah. "Lalu, bagaimana dengan baju yang saya pakai ini, Pak? Kapan saya harus mengembalikannya?" Jingga balik bertanya.

"Pakai saja. Lagipula, baju itu tak terpakai. Masih banyak di lemari," jawab Ganendra enteng.

Rasa hati ingin menanyakan, pakaian-pakaian itu milik siapa. Akan tetapi, Jingga sadar diri dengan posisinya yang hanyalah seorang wanita bayaran.

Tak dapat dipungkiri, seminggu terkurung bersama Ganendra, telah menumbuhkan perasaan aneh sekaligus istimewa dalam hati Jingga. Namun, dia memilih untuk memendam dan menghapusnya.

"Periksa rekeningmu. Aku sudah menransfernya barusan," ujar Ganendra, membuyarkan angan Jingga. "Oh, ya. Kamu tidak perlu memberi tips pada Anton. Aku sendiri yang akan memberikannya nanti," imbuhnya.

"Iya, Pak. Terima kasih." Jingga memaksakan senyum. Ada banyak hal yang ingin dia ungkapkan pada pria itu. Sayang, semua harus tertahan di dada.

"Anton sudah datang. Dia menunggu di bawah," ucap Ganendra memecah keheningan yang hadir sejenak.

"Selamat tinggal, Pak." Pertama kali dalam seumur hidup, Jingga melakukan sesuatu yang menurutnya teramat berani. Jingga tiba-tiba menyentuh pipi Ganendra, lalu berjinjit mengecup bibir tipis pria itu.

Perasaannya campur aduk, tapi Jingga tak berani menatap Ganendra. Dia langsung berbalik meninggalkan apartemen tanpa menoleh lagi.

Entah apa yang Jingga tangisi. Yang jelas kini dia sibuk menghapus air mata sebelum pintu lift terbuka.

Sesampainya di lobi, Jingga memasang wajah ceria. Dia tersenyum ramah saat Anton menghampirinya.

"Terima kasih, ya!" ucap Anton tiba-tiba.

"Untuk apa?" Jingga menautkan alis tak mengerti.

"Saking puas dan senangnya dengan pelayananmu, Pak Ganendra memberikan tips yang cukup besar buatku," jelas Anton antusias. "Kamu berhasil menaklukkan dia. Padahal selama ini, dia terkenal sangat rewel," lanjutnya.

"Oh, ya?" Pipi mulus Jingga bersemu merah. Setitik harapan muncul di dalam hati. "Apa saya bisa bertemu dengan dia lagi?" tanyanya ragu.

"Kalau itu sepertinya tidak mungkin. Pak Ganendra hanya mencari yang benar-benar perawan. Dia tidak pernah memakai wanita yang sama lebih dari sekali," beber Anton, menghancurkan harapan Jingga seketika.

"Oh." Hanya itu yang bisa Jingga ucapkan. Gadis itu terdiam sejak keluar dari kompleks apartemen mewah sampai tiba di depan rumah peninggalan orang tuanya.

Rumah itu tampak sederhana, tapi bersih. Lengkap dengan pekarangan yang mungil dan asri. Sambil memasang raut lesu, Jingga membuka pagar kayu setinggi pinggang, kemudian menoleh ke belakang. Tampak Anton sudah bersiap melajukan mobilnya.

"Masuk dulu, Pak Anton," tawar Jingga.

"Kapan-kapan saja. Bos sudah menunggu," jawab Anton ramah dari balik kemudi. Pria itu melambaikan tangan sebelum berlalu.

Jingga tersenyum getir saat sedan hitam milik Anton sudah tak tampak dari pandangan. Dia kembali melanjutkan langkah menuju teras.

Sekilas Jingga melirik sebuah motor yang terparkir di halaman sambil menghela napas panjang. Motor tersebut adalah milik sang paman. Artinya, pria itu sedang ada di rumah. "Kebetulan," gumam Jingga.

"Om?" panggil Jingga saat tak menemukan keberadaan pamannya di ruang tamu. "Om, aku punya dua ratus juta! Apa om bisa mengubah jangka waktu pelunasan dengan pihak bank?" serunya.

Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki paruh baya tergopoh-gopoh keluar dari bagian dalam rumah. "Jingga?" desis pria yang tak lain adalah pamannya. "Dapat darimana uang sebanyak itu?"

"Tidak penting aku dapat darimana, asalkan rumah peninggalan ayah tidak disita," sahut Jingga kesal. "Apa om bisa menghubungi pihak bank untuk menjadwalkan ulang pembayaran utang?"

"Jingga ...." Pria itu tampak gugup dan salah tingkah. "Maaf, tapi ...."

"Apa?" Jingga mulai tak sabar melihat sikap sang paman.

"Maaf, kalau Om tidak jujur. Sebenarnya, rumah ini bukan hendak disita oleh pihak bank, tapi oleh seseorang yang pernah meminjamkan uang dalam jumlah besar pada Om," jawabnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Beautiful Hurt
9.1
Akibat fitnah dari sebuah pesan singkat, Marilyn dituduh merusak hubungan kakaknya sendiri. Christian, miliarder yang marah karena reputasinya rusak, mengira Marilyn adalah wanita licik yang gila harta. Demi membalas dendam, Christian memaksa gadis itu menikahinya dan bersumpah akan menyiksa hidupnya. Di tengah tuduhan kejam tanpa bukti tersebut, Marilyn hanya bisa pasrah menghadapi kebenaran sepihak mereka.
Sampul Novel Godaan Berdosa: Tuan Playboy Miliuner Memohon Kembali Padaku
9.3
Sejak kecil, Iris diadopsi oleh keluarga Stewart dan tumbuh menjadi kekasih rahasia dari pamannya, Vincent. Di balik reputasi playboy-nya, CEO itu bersikap sangat dingin pada Iris. Harapan Iris hancur saat lamaran tulusnya ditolak Vincent demi pernikahan bisnis. Ingin lepas dari penderitaan, Iris nekat menerima lamaran seorang pengacara. Namun di hari pernikahan, Vincent justru datang bersimpuh dan memohon agar Iris tidak pergi.
Sampul Novel Cinta yang Telah Kandas
9.4
Pernikahan lima tahun hancur saat Nathan memaksa istrinya menggugurkan kandungan demi melindungi anak dari wanita simpanannya, Lucia. Tak cukup sampai di situ, Nathan bersekongkol dengan dewan direksi untuk mencopot sang istri dari jabatan wakil direktur agar bisa digantikan oleh Lucia. Namun, sang istri tidak tinggal diam menerima penindasan ini. Dengan penuh keberanian, dia melakukan perlawanan fisik dan konfrontasi langsung untuk membongkar kebenaran di balik pengkhianatan mereka.
Sampul Novel Crazy Woman
8.3
Ria Ananta, seorang putri konglomerat, memilih menyembunyikan identitas aslinya demi menjalani hidup biasa di tengah kemewahan. Namun, kedamaiannya sirna setelah ia berpacaran dengan Christian, seorang idola populer. Penolakan keras dari keluarga kekasihnya memicu depresi berat dan membangkitkan sisi gelap dalam diri Ria. Terjebak dalam hubungan penuh kekerasan, ia kini berjuang melawan kehancuran mental serta dorongan bunuh diri di balik gelimang hartanya.
Sampul Novel Dignity ( Demi Harga Diri)
9.4
Suri Hidayah harus menelan pil pahit setelah delapan tahun menikah. Prasetyo, sang suami, berubah menjadi sangat sombong sejak menjabat sebagai direktur. Ia kerap menghina Suri dan membandingkannya dengan atasannya, Murni. Di tengah kepedihan itu, Suri memilih bangkit, membenahi diri, dan merintis bisnis rajutan. Langkahnya membawa Suri bertemu Damar Adhiyatna, pengusaha benang yang juga mantan suami Murni. Lewat kerja sama barter, Suri berjuang mengembalikan harga dirinya.
Sampul Novel GAIRAH LIAR IBU TIRIKU
9.7
Di usia kepala tiga, mantan model dewasa Meghan Crafson hidup mewah setelah dinikahi miliarder New York. Namun, ia merasa hampa karena suaminya yang tua tak bisa memberi kepuasan. Kehadiran Hardin, putra tirinya yang tampan dan atletis, mengubah segalanya. Terpikat oleh sosok pemuda itu, Meghan mulai melancarkan godaan terlarang. Kini, Hardin terjebak dalam dilema besar antara menjaga moralitas atau menyerah pada gairah liar ibu tirinya.