APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pernikahan Sebatas Status

Pernikahan Sebatas Status

Demi mempertahankan rumah peninggalan orang tuanya, Jingga menyetujui sebuah kesepakatan rumit. Ia bersedia menjadi istri kontrak bagi Ganendra, seorang miliarder yang butuh perlindungan dari kejaran wanita pemburu harta. Pernikahan formalitas ini awalnya dilakukan demi keuntungan pribadi masing-masing. Namun, seiring berjalannya waktu, sandiwara tersebut justru menumbuhkan perasaan tulus. Hubungan tanpa rasa kini bersemi menjadi cinta yang nyata dan mendalam di antara keduanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Apa maksudnya, Om?" Jingga menggeleng tak mengerti.

"Surat pemberitahuan penyitaan oleh bank itu palsu, Ngga. Maafkan om." Pria paruh baya itu tiba-tiba bersimpuh di hadapan Jingga. Dia memeluk kaki keponakannya itu sambil tergugu.

"Jingga nggak ngerti, Om," desis gadis itu lirih. Setelah semua pengorbanan yang dia lakukan, tiba-tiba saja pamannya berkata demikian.

"Om hanya ingin memperbaiki hidup kita. Ayahmu dulu sudah menyerahkan tanggung jawab untuk merawatmu pada Om, Nak. Om malu kalau selamanya kita harus hidup susah," paparnya.

"Om Lukman, tolong jangan bertele-tele." Jingga berusaha melepaskan diri dan menjauh dari pamannya.

Masih dalam posisi bersimpuh, pria bernama Lukman itu mendongak dengan air mata bercucuran.

"Lima tahun lalu, Om meminjam uang lima ratus juta pada seorang teman lama. Uang itu Om pergunakan untuk membuka bisnis kecil-kecilan. Awalnya, bisnis berjalan lancar. Om bisa membelikan segala macam kebutuhan kita, sekaligus membayar cicilan utang dan bagi hasil tiap bulan," jelas Lukman.

"Tapi ... dua tahun terakhir ini semua serba sulit, Ngga. Perjanjian pengembalian utang yang dikembalikan tiap bulan sesuai kesepakatan, harus Om ingkari. Uang itu habis untuk membayar kuliahmu dan makan sehari-hari. Tanpa sadar, utang om sudah menumpuk. Om juga tidak lagi memberikan bagi hasil." Lukman menundukkan kepala dalam-dalam. Dia begitu malu membalas tatapan Jingga.

"Awalnya Om mengajukan pailit ke Pengadilan Niaga, tapi semua dipersulit. Teman Om juga tidak mau tahu. Dia ingin sisa uangnya kembali, ditambah bunga," lanjut Lukman.

"Jadi, Om berpura-pura kalau rumah ini hendak disita bank? Padahal hendak diberikan pada teman Om itu untuk membayar utang, begitu?" terka Jingga.

Lukman menjawabnya dengan anggukan.

"Berapa utang Om sebenarnya? Yang kutahu, rumah ini bisa dihargai lima ratus juta," ucap Jingga curiga.

"Sudah dua tahun Om menunggak, Ngga. Bisa dibayangkan berapa bunganya," dalih Lukman.

"Astaga ...." Jingga menyugar rambut panjangnya dengan kasar. "Aku tidak mau kehilangan rumah ini. Hanya tempat ini satu-satunya kenangan dari ayah."

"Om minta maaf, Ngga." Entah sudah berapa kali Lukman mengucapkan itu.

"Apa yang harus kukatakan pada ayahmu? Om sudah menghancurkan hidup kita. Terutama hidup kamu." Lukman kembali menangis sesenggukan.

"Semua sudah terjadi," sahut Jingga gamang. Terbayang tiba-tiba dalam benaknya, pergumulan panas penuh dosa bersama Ganendra selama seminggu penuh. Jingga menggeleng pelan. Perih rasa hati mengingat semua keputusan yang telah dilaluinya. "Disesali pun percuma."

"Om hanya berniat untuk memberikan yang terbaik untukmu. Om sungguh tidak menyangka kalau akan seperti ini akhirnya," sesal Lukman.

"Yang terpenting, sekarang serahkan uang dua ratus juta itu pada teman Om secepatnya. Nanti kita bisa berunding ulang untuk melunasi sisanya," saran Jingga.

Lukman tak mampu berkata-kata. Dia kembali mengangguk lemah tanpa bersuara.

"Tapi ... kalau Om boleh tahu, darimana uang sebanyak itu, Ngga?" tanya Lukman hati-hati.

"Aku kan, sudah bilang. Om tidak perlu tahu darimana kudapatkan uang itu. Yang penting, aku sudah punya sebanyak itu. Tinggal mencari sisanya," jawab Jingga sedikit ketus.

"Kalau boleh Om menasihati, jangan sampai kamu dapatkan uang itu dengan cara yang tidak baik," ujar Lukman.

Jingga hanya bisa tersenyum getir mendengarnya. Nasihat Lukman terasa seperti gurauan baginya.

"Apa kamu mau ikut menemui teman Om?" ajak Lukman setelah beberapa saat lamanya mereka saling terdiam.

"Terserah Om. Aku ganti baju dulu," sahut Jingga yang sudah merasa tak nyaman dengan dress ketat yang dia pinjam dari lemari Ganendra.

Selama Jingga masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap, Lukman menghubungi seseorang. Cukup lama dia menunggu sampai teleponnya diangkat.

"Pak Atmawirya, bisakah kita bertemu? Saya ingin membicarakan masalah penyitaan rumah," ujar Lukman sesaat setelah panggilannya diterima.

"Aku sedang di luar negeri. Biar anakku nanti yang mengurus semuanya," sahut suara di seberang sana. "Apakah rumah itu bisa dibaliknamakan secepatnya?" tanya Atmawirya.

"Ehm, ma-masalah itu ...." Lukman tergagap. "Saya tidak jadi memberikan rumah abang saya sebagai pengganti pelunasan utang. Saya baru berhasil mengumpulkan dua ratus juta saja, Pak. Selebihnya akan saya lunasi dalam waktu secepatnya."

"Ya, ampun, Lukman. Jika bukan karena berutang budi pada kakakmu, mungkin aku sudah menjebloskanmu ke penjara." Atmawirya berdecak kesal.

"Sudahlah, datang saja dulu ke rumah. Nanti biar anakku yang mengatur semuanya!" tegas Atmawirya, kemudian mengakhiri teleponnya begitu saja.

Beberapa menit kemudian, Jingga sudah siap dengan setelan favoritnya, kemeja sederhana dipadu dengan celana bahan berwarna gelap.

Lukman menyodorkan helm pada Jingga dan menunggu sampai keponakannya itu duduk di jok motor. "Maaf ya, Ngga. Kamu jadi naik motor ke mana-mana. Semoga nanti kesampaian, kita membeli mobil lagi," ujarnya.

"Sudahlah, Om. Yang penting sekarang adalah melunasi utang," timpal Jingga sedikit kesal.

Lukman tak menimpali lagi. Mereka saling diam sampai motor yang Lukman kendarai tiba di kawasan perumahan elit. Mereka berhenti di depan gerbang sebuah rumah paling megah di blok itu.

Lukman memberi isyarat pada Jingga untuk turun dari motor dan mendekat ke pintu kecil yang berada di sisi gerbang. Lukman menekan tombol yang terdapat di samping pintu.

Sebuah kamera CCTV yang terpasang di atas gerbang, bergerak hingga lensanya mengarah lurus pada Lukman.

"Perkenalkan diri bapak dan sebutkan tujuan bapak datang," ujar suara yang keluar dari pengeras suara yang terpasang di bawah kamera.

"Nama saya Lukman Ardana. Tadi saya sudah menghubungi Pak Atmawirya. Beliau menyuruh saya bertemu dengan putra beliau," jelasnya.

"Oh, baik, Pak. Silakan masuk. Kebetulan putra Pak Atmawirya juga baru saja datang. Langsung menuju balai, ya," ujar suara itu lagi.

"Balai?" Jingga mengernyit. Sesaat kemudian, pintu kecil di hadapannya itu terbuka. Lukman dipersilakan membawa motornya masuk. Dua orang itu sempat kebingungan saat melintasi halaman luas berumput. Beruntung, seseorang dari kejauhan setengah berlari menghampiri mereka.

Seorang wanita bersetelan rapi menyambut kedatangan Lukman dan Jingga. "Saya Sandra, asisten Pak Atmawirya," sapanya sambil mengulurkan tangan.

""Saya teman lama Pak Atmawirya." Lukman memperkenalkan diri seraya membalas jabat tangan Sandra.

"Tadi beliau sudah menceritakan semua. Sebenarnya, saya sudah diberi beberapa catatan. Namun, biar putra Pak Atmawirya sendiri yang akan menjelaskan secara detilnya. Saya hanya ditugaskan untuk mengantar anda ke balai," tutur Sandra sopan.

"Mari." Wanita itu mengarahkan tangannya ke bangunan lain yang berada tak jauh dari bangunan utama.

"Silakan." Sandra mempersilakan Lukman dan Jingga masuk ke ruangan yang mirip dengan ruang meeting berukuran besar. Mereka duduk bersebelahan.

"Iya, terima kasih," ucap Lukman sebelum beralih pada Jingga. "Bagaimana, Ngga? Apa sudah kamu siapkan rekeningnya?" tanyanya.

"Sudah, Om." Jingga menunjukkan aplikasi di ponselnya ketika ruangan itu terbuka. Sesosok pria berpakaian rapi, masuk dan berjalan mendekat.

Baik Jingga maupun pria itu sama-sama saling pandang dengan sorot terkejut. "Pak Ganendra?" desis Jingga.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alia
8.7
Menikah muda setelah dilamar sang kekasih membuat Alia harus membagi waktu antara kuliah dan status barunya sebagai istri. Di bawah tekanan ibu mertua yang membencinya, ia terus berjuang. Bahkan, Alia hampir mengorbankan kehormatannya demi masa depan sang suami. Namun, kemunculan sosok penolong misterius menghadirkan perasaan terlarang di hatinya. Kini, Alia bimbang antara mempertahankan kesetiaan pernikahan atau menyerah pada godaan pengkhianatan.
Sampul Novel Ditinggalkan 66 Kali, Kini Aku Pergi
8.1
Tujuh tahun menjalin hubungan dengan Andrew, seorang dokter bedah, berakhir dengan luka mendalam. Sebanyak 66 kali rencana pernikahan kami digagalkan karena dia selalu memilih pergi demi Selena, mulai dari urusan kelalaian medis hingga alasan konyol seperti anjing yang sakit. Bahkan saat ibuku terkena serangan jantung akibat pembatalan itu, Andrew tetap pergi. Meski sempat memohon maaf, dia kembali mengulangi kesalahannya. Kini, aku menyerah, memilih pergi jauh untuk bergabung dengan tim medis internasional.
Sampul Novel Istri Rahasia CEO
9.5
Kehidupan Abia berubah total setelah ia tidak sengaja merusak mobil mewah milik bosnya. Arya, seorang CEO duda beranak satu yang terkenal sangat dingin, memberikan pilihan sulit. Abia harus membayar ganti rugi yang sangat besar atau bersedia menjadi istrinya. Karena tidak memiliki uang, ia terpaksa menyetujui pernikahan tersebut. Kini, Abia harus tinggal satu atap dengan pria galak yang selalu ia hindari di tempat kerja demi melunasi seluruh utangnya.
Sampul Novel Pelarian Cinta Yang Terlarang
9.0
Pasca kematian sang ibu, Elara yang berumur sepuluh tahun diadopsi Thorne, pria yang dicurigai hampir meracuni ibunya. Elara harus tinggal bersama Thorne yang sangat obsesif dan posesif. Demi melawan kendali ayah angkatnya itu, ia berubah dari gadis manja menjadi sosok pemberontak. Saat menyadari Thorne menyimpan perasaan gelap padanya, Elara kini berjuang keras untuk meloloskan diri dari jeratan berbahaya tersebut.
Sampul Novel SANG ALPHA : Tak Tersentuh
9.8
Akibat fitnah kejam, Jordan Smith Watanabe yang religius harus mendekam di penjara terasing selama enam tahun. Begitu bebas, ancaman maut langsung mengintainya. Demi bertahan hidup, ia terpaksa mengikuti petunjuk sang penyelamat untuk masuk ke dunia mafia yang penuh kekerasan. Kini, prinsip suci Jordan diuji sepenuhnya. Sanggupkah pria yang taat beragama ini bertahan di tengah kebrutalan organisasi kriminal yang sangat bertolak belakang dengan keyakinan hidupnya?
Sampul Novel Tante, mau kan jadi Mamaku?
9.7
Kehidupan tenang Intan, seorang mahasiswi, terusik sejak Mahardika menjadi tetangga barunya. Meski duda tersebut sangat tampan, ulah nakal putrinya yang bernama Bella justru kerap membuat Intan naik darah. Bella sangat terobsesi menjadikan Intan sebagai ibu tirinya, tetapi Intan bersikeras menolak demi kedamaiannya. Saking nekatnya, Bella bahkan menghasut sang ayah memakai pelet agar rencana itu berhasil. Sanggupkah Intan bertahan menolak tawaran konyol ini?