
Pernah Membenci dan Mencintaimu
Bab 2
Telepon di tangan Logan belum ditutup. Dari sana, kembali terdengar suara lembut Cloe.
"Kak Logan, apakah Kakak Ipar juga terjebak? Kalau begitu, selamatkan dia dulu saja .... Aku … aku masih bisa menunggu ...."
Kening Logan berkerut makin dalam. Dia bahkan tidak lagi menatapku, langsung menanyakan bagaimana kondisi Cloe saat ini.
Cloe mulai terisak, "Aku ada di supermarket pusat kota, di sekelilingku sangat gelap. Tanganku sepertinya tertimpa sesuatu. Kak Logan, sakit sekali ...."
"Kak Logan, apa aku akan mati di sini? Aku benar-benar takut. Aku nggak ingin meninggalkanmu selamanya setelah akhirnya kita bertemu belum lama ini ...."
Ketika mendengar pengakuan tulusnya itu, mata Logan langsung memerah.
"Cloe, kamu akan baik-baik saja! Aku nggak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu! Aku akan segera ke sana menyelamatkanmu!"
Setelah mengatakan itu, dia benar-benar tidak peduli padaku lagi. Dia memutuskan untuk membawa tim untuk menyelamatkan Cloe.
Kevin tampak khawatir padaku, dia menahan Logan, "Kapten Logan, bagaimana dengan Kakak Ipar? Keadaannya juga kritis. Terlebih lagi kalau sampai ada gempa susulan. Dia mengandung anakmu ...."
Namun, Logan malah menyela dengan nada dingin. Dia menatapku, lalu berkata dengan nada penuh ejekan.
"Jessica, aku sudah melihat kalau kamu jelas-jelas berada di zona aman. Kamu nggak akan mati meski harus menunggu sedikit lebih lama."
"Aku yakin ini semua sudah kamu rencanakan. Kamu tahu kalau Cloe menderita klaustrofobia, tapi kamu tetap menggunakan kehamilanmu untuk memaksaku menyelamatkanmu lebih dulu, supaya dia mati!"
"Kamu sendiri juga seorang dokter, apa kamu nggak tahu betapa pentingnya tangan bagi seorang dokter? Kamu nggak punya empati sedikit pun. Aku nggak akan membiarkan wanita kejam sepertimu berhasil!"
Setiap kata dari mulut Logan terasa seperti pisau yang menusuk hatiku. Namun, hatiku sudah mati rasa, sama seperti tanganku yang terluka ini.
Aku memandangnya dengan tatapan tenang, tanpa marah, tanpa menangis.
Pengalaman pahit di kehidupan sebelumnya telah membuka mataku sepenuhnya terhadap siapa sebenarnya pria yang aku cintai selama belasan tahun ini.
Dia tidak mencintaiku. Mungkin dia hanya pernah mencintaiku sebentar saja.
Di dalam hatinya, aku dan anakku tidak akan pernah bisa menyaingi Cloe, wanita yang dia puja serta tempatkan di puncak hatinya.
Jika memang begitu, aku juga tidak akan menyimpan harapan padanya lagi.
Di kehidupan ini, aku akan memenuhi keinginannya. Aku tidak akan berebut, tidak akan mengganggu, tidak akan mencampuri hidupnya lagi.
Kevin tetap tidak menyerah padaku, bersikeras ingin menyelamatkanku lebih dulu.
Nada suara Logan makin tidak sabaran, "Kevin, kenapa kamu masih diam saja? Sumber daya penyelamatan terbatas, lokasi Cloe lebih dekat ke pusat gempa, situasinya jauh lebih berbahaya."
Aku membujuk Kevin agar tidak memedulikanku, lalu ikut pergi bersama Logan.
Kemudian, aku menatap Logan yang tampak terkejut, lalu berkata padanya dengan nada tenang.
"Pergilah. Kalau aku berhasil selamat, kita akan bercerai."
Setelah mengucapkan kalimat itu, seluruh tenagaku seolah menghilang seketika.
Logan mengira aku hanya bercanda, jadi dia pergi dengan wajah penuh ejekan.
Tangan satu-satunya yang masih bisa aku gerakkan tanpa sadar menyentuh perutku yang mulai membuncit. Ketika melihat punggung Logan yang pergi dengan terburu-buru, air mata jatuh dari sudut mataku.
Sayang, maafkan Ibu.
Aku tahu bahwa tidak lama lagi akan ada gempa susulan. Kini, bagian bawah tubuhku juga mulai terasa hangat.
Kemungkinan besar, anakku tidak akan bisa diselamatkan.
Anda Mungkin Juga Suka





