
Pernah Membenci dan Mencintaimu
Bab 3
Kevin akhirnya memutuskan tetap tinggal untuk menyelamatkanku. Dia berusaha sekuat tenaga memindahkan bongkahan batu di atas kepalaku. Namun, kekuatan satu orang saja jelas tidak cukup. Ini bagaikan menimba air laut dengan sendok.
Meskipun begitu, Kevin terus menyemangatiku, menyuruhku untuk tidak merasa takut.
Aku pun tersentuh oleh ketulusannya.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Logan lewat di depan kami sambil menggendong Cloe dengan wajah panik.
Cloe terkulai lemah di pelukannya, tetapi tampaknya tidak terluka sedikit pun.
Hati dan mata Logan hanya tertuju pada Cloe. Dia sudah sepenuhnya melupakan istri dan anaknya yang masih terjebak di bawah reruntuhan.
Kevin yang dengan gigih mengangkat batu hingga kuku-kukunya berdarah, akhirnya tidak bisa menahannya lagi. Dia berdiri menghadang Logan sambil menunjuk ke arahku yang berada tidak jauh dari sana.
"Kapten Logan, istrimu sedang hamil dan masih terjebak di bawah reruntuhan! Apa kamu hanya peduli menyelamatkan mantan kekasihmu? Apa kamu sudah nggak punya hati?"
Padahal aku tidak terlalu akrab dengan Kevin. Aku hanya beberapa kali bertemu dengannya saat menjenguk Logan ke asrama.
Namun, pemuda itu selalu ramah. Setiap kali bertemu, dia selalu menyapaku dengan sopan.
Pada detik berikutnya, Logan membentaknya dengan wajah muram.
"Jari-jari Cloe terluka! Apa kamu nggak tahu betapa pentingnya tangan bagi seorang dokter? Ini bisa menghancurkan masa depannya! Lagi pula, dia adalah istri dan anakku. Apa hubungannya denganmu?"
Kemudian, Logan melirikku, lalu menatap Kevin dengan pandangan menghina.
"Aku lihat kamu sangat peduli pada Jessica. Jangan-jangan kalian diam-diam menjalin hubungan di belakangku?" ujar Logan.
Aku hampir tertawa karena marah. Bagaimana bisa dia mengucapkan kata-kata seangkuh itu saat dirinya sendiri sedang memeluk wanita lain, meninggalkanku di sini tanpa berniat menyelamatkanku?
Kevin juga sampai kehilangan kata-kata karena geram.
Namun, Kevin tetap tidak menyerah padaku, bersikeras memanggil orang lain untuk ikut membantu menyelamatkanku.
Logan menatapnya dengan tatapan dingin sambil memeringatkan.
"Kevin, kamu hanyalah anggota baru di tim penyelamat. Masa depan kariermu ada di tanganku. Kalau kamu berani membangkang lagi, aku akan segera memindahkanmu ke perbatasan! Kamu tahu sendiri bagaimana kerasnya tempat itu!"
Namun, demi keselamatanku, Kevin tetap bergeming.
Ketika melihat ini, Logan mengganti pendekatannya. Dia berkata dengan suara rendah.
"Kalau kamu nggak peduli pada dirimu sendiri, setidaknya pikirkan orang tuamu yang masih bekerja di Keluarga Finley."
Orang tua Kevin memang bekerja di Keluarga Finley. Ibunya sebagai pelayan, sementara ayahnya sebagai satpam. Mereka sudah bekerja di sana lebih dari dua puluh tahun.
Logan dengan kejam menekan titik lemahnya. Wajah Kevin mendadak berubah pucat, sementara tatapannya mulai ragu.
Logan tampak puas melihat bawahannya mulai goyah. Dia mengangguk pelan.
"Kamu selalu memanggilnya Kakak Ipar. Hati-hati, jangan sampai tertipu dengan wajah palsunya. Dulu dia adalah wanita nakal yang arogan, suka menindas orang lain hanya karena keluarganya kaya!"
"Demi menggagalkan kompetisi penting yang akan diikuti Cloe, dia mengurungnya di ruang peralatan yang gelap. Padahal dia tahu Cloe menderita klaustrofobia. Akibatnya, Cloe sakit selama beberapa hari. Nggak hanya Cloe gagal mengikuti kompetisi, tapi dia juga kehilangan kesempatan beasiswa pascasarjana!"
"Saat Cloe pergi meninggalkanku karena kemarahan, dia langsung memanfaatkan keadaan dengan merancang kehamilan ini untuk memaksaku menikahinya. Sekarang dia ingin mengulang trik itu untuk memaksaku menyelamatkannya, hanya karena nggak rela melihat Cloe selamat!"
"Biarkan saja wanita licik dan manipulatif seperti itu mati di bawah reruntuhan!"
Setelah mengatakan itu, Logan pun membawa Cloe pergi tanpa menoleh sedikit pun.
Kevin sudah hampir menangis. Suaranya bergetar.
"Kakak Ipar, jangan takut. Aku pasti akan menemukan cara untuk menyelamatkanmu!"
Tak lama kemudian, aku merasakan getaran di tanah. Bongkahan batu mulai berjatuhan, sementara debu pun masuk ke mata dan mulutku.
Batu-batu di atas makin menekan dengan kuat. Aku merasa seperti mendengar suara tulangku bergeser. Rasanya seperti organ dalamku dihancurkan.
Dari atas kepala hingga ke tubuh bagian bawah, semua terasa hangat. Napasku pun menjadi makin sulit.
Aku masih bisa mendengar Kevin memanggil namaku dengan cemas dari kejauhan. Namun, aku sudah tidak punya tenaga untuk menjawab.
Dunia pun berubah menjadi gelap gulita.
Kesadaranku perlahan tenggelam, menghilang sepenuhnya.
Anda Mungkin Juga Suka





