
Perceraianku Dimulai Saat Mertua Didiagnosis Kanker
Bab 3
Hendi mengucapkan kata-kata manis yang membuat ibu mertuaku tertawa terbahak-bahak.
Sekeluarga terdengar begitu harmonis, hanya saja keharmonisan ini dibangun di atas penderitaanku. Mendengar tawa ibu mertua membuatku merasa tersiksa, seperti jarum halus menusuk-nusuk hatiku.
"Kamu juga jangan terlalu mempermasalahkan ibumu," ibu mertuaku terus memainkan perannya sebagai orang baik, "Meskipun dia dari muda suka menyimpan dendam, memang agak sempit hati, tapi bagaimanapun dia tetap ibumu. Ingat waktu kamu baru lahir dulu."
Ibu mertua berbicara sambil suaranya mulai serak lagi.
"Nenek pikir dia akan berubah, tapi siapa sangka selama bertahun-tahun, bukannya berubah malah makin parah."
Aku memasukkan pakaian terakhir ke dalam koper.
Ingatanku kembali ke hari itu.
Aku diam-diam memberi makan anjing liar dan ketahuan oleh ibu mertua. Dia marah besar, menganggap binatang kotor itu bisa membahayakan cucunya, lalu mengambil pisau dapur dan mengejar untuk membunuh anjing-anjing malang itu.
Aku mengejarnya sambil menangis dan memohon agar tidak menyakiti anjing-anjing itu karena mereka sudah sangat malang.
Namun, dia memaki aku sebagai "perempuan sok suci" dan "perempuan nggak tahu malu" yang memakai uang anaknya untuk memberi makan anjing liar. Saat dia mendorong-dorongku, aku terjatuh ke jalan dan tertabrak mobil yang melintas, menyebabkan Hendi lahir prematur.
Dadaku terasa sesak. Hendi yang kecil sekali dulu, berbaring di inkubator, kini telah tumbuh besar, tetapi sudah belajar ....
Aku menutup koper dan mendorongnya keluar menuju ruang tamu. Melihat orang-orang di ruang tamu, aku tidak bisa menahan diri untuk mencemooh.
"Waktu itu Ibu menyebabkan aku tertabrak mobil, Hendi lahir prematur, dan tinggal di ruang perawatan intensif selama sebulan penuh. Apa Ibu pernah sekali saja menjenguk?"
Saat itu, Hendi lahir prematur.
Ibu mertua menangis dan melarang Yoga membayar biaya rumah sakit, mengamuk di rumah sakit, memaki-maki, mengatakan rumah sakit menipu uang. Dia bilang melahirkan saja kenapa harus dirawat dan menghabiskan begitu banyak uang.
Dia membuat keributan di rumah sakit selama dua hari.
Akhirnya orang tuaku datang tergesa-gesa dari luar kota dan membayarkan biaya pengobatan.
Aku melihat ekspresi ibu mertuaku berubah, lalu melanjutkan, "Setelah orang tuaku membayar biaya rumah sakit, kenapa kamu tiba-tiba berhenti menangis?"
"Kenapa mendadak Ibu berubah sikap dan bilang harus mengikuti saran dokter?"
Wajah ibu mertuaku tampak bersalah. Aku tidak pernah menceritakan masa lalu ini kepada Hendi. Aku selalu merasa ini adalah masalah di antara orang dewasa dan tidak seharusnya dibebankan pada anak.
Namun, melihat sikap Hendi hari ini, aku sudah tidak peduli lagi.
"Hendi tinggal di rumah sakit selama sebulan, baru saja pulang ke rumah, siapa yang tidak rela menggunakan air panas, dan memandikan anak itu dengan air dingin di musim dingin yang beku sehingga dia terkena pneumonia begitu keluar dari rumah sakit?"
Tahun itu musim dingin sangat parah.
Di luar sedang turun salju lebat. Aku baru saja pulang dari pusat perbelanjaan membeli susu formula dan botol bayi, lalu melihat ibu mertua memandikan Hendi dengan air dingin di dalam rumah berpenghangat.
Aku sangat terkejut, mendorong ibu mertuaku dan memeluk Hendi yang tubuhnya dingin, lalu segera membungkusnya dengan selimut untuk menghangatkannya.
Namun, ibu mertuaku malah berkata aku berlebihan, bahkan menegaskan bahwa anak harus dikeraskan sejak kecil agar tubuhnya kuat.
Dia menggunakan air dingin dengan alasan untuk melatih daya tahan tubuh anak.
Akibatnya, hari itu juga Hendi demam tinggi. Aku ingin membawanya ke rumah sakit, tetapi ibu mertua mencegahku dengan paksa, mengatakan demam itu karena terkena roh jahat. Bersama Yoga, mereka merebut anak itu dari tanganku dan membawanya ke kuil untuk membakar kertas jimat, membuat tiga mangkuk air jimat, lalu memaksanya meminum air itu.
Ketika aku tiba, yang kulihat adalah Hendi yang hampir kehilangan nyawa.
Hendi mendengar ceritaku dan ekspresinya menjadi kosong, lalu menoleh ke arah ibu mertuaku.
"Nenek."
"Apa yang dikatakan Ibu itu benar?"
Tentu saja benar.
Aku menatap mata ibu mertuaku yang penuh rasa bersalah. Ketika dia hampir menyerah, Yoga keluar dari ruang kerja. "Sudah berapa lama kejadian itu berlalu, kenapa kamu masih saja mengungkitnya?"
"Pada akhirnya, bukannya itu karena kamu sendiri yang nggak bisa berkomunikasi dengan baik dengan Ibu?" Yoga menyalahkanku.
"Ibu juga sangat menyayangi anak-anak. Di matamu, itu seperti dosa besar, ya?"
Dengan beberapa kata, Yoga membela ibunya sepenuhnya.
Hendi tampak tersadar.
"Bu, Ibu juga jangan menyalahkan Nenek," dia mulai berbicara dengan nada mendamaikan. "Nenek nggak berpendidikan, jadi tidak paham soal ini. Ibu terus membahas ini juga nggak ada gunanya. Lagi pula, Nenek lagi sakit."
"Jadi, Ibu jangan terus-menerus terjebak pada masalah-masalah itu."
Aku memandang ibu mertuaku, yang kini telah bangkit kembali. "Benar, Yana, bagaimanapun kita ini satu keluarga."
Ibu mertuaku melirik koper di tanganku, lalu mengubah nada bicara.
"Kamu bawa koper ini untuk apa?"
"Kamu nggak mungkin mau meninggalkan rumah lagi, 'kan?" Ibu mertuaku sengaja mengungkit masa lalu, "Dulu kamu pakai cara ini untuk memaksa Yoga mengusirku. Apa kamu sekarang juga ...."
Ibu mertuaku mulai menangis lagi.
"Pada akhirnya ini salah Ibu. Ibu nggak seharusnya datang. Ibu pergi saja!"
Ibu mertuaku bahkan belum menggerakkan tubuhnya, tetapi aku sudah melihat Hendi berdiri di depannya, dan wajah Yoga penuh dengan kemarahan. Tiba-tiba, aku merasa semua ini tidak ada artinya lagi.
Sepanjang hidupku, aku telah berkorban untuk keluarga ini.
Yang kudapatkan ....
Hanya tuduhan bahwa aku terlalu perhitungan.
Kalau begitu ....
Aku ingin melihat, tanpa aku yang dianggap suka menghitung-hitung kesalahan ini, bagaimana mereka bisa hidup harmonis.
"Ibu nggak perlu pergi."
Aku memotong drama ibu mertuaku, lalu menatap Yoga dengan dingin di bawah ekspresi terkejut ibu mertua. "Kita bercerai."
Anda Mungkin Juga Suka





