
Perawatan
Bab 2
"Sayang?"
"A ... aku keluar sebentar lagi. Tu ... tunggu ya."
Gerakan tangan Eric semakin cepat. Sampai akhirnya, aku hampir jatuh berlutut di lantai ....
Pintu terbuka.
Suamiku menatapku dengan bingung dan bertanya, "Sayang, kenapa wajahmu merah sekali?"
Dengan wajah yang memerah karena gairah, aku menunduk malu dan tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.
Eric menjawab dengan tenang dan wajar, "Sepertinya karena pijatannya melancarkan peredaran darah. Itu normal."
Khawatir suamiku akan menyadari sesuatu, aku segera mendorongnya keluar. "Bukannya kamu bilang mau pergi dinas seminggu setelah aku masuk ke sini? Sudah sana, pergi saja, nggak usah khawatirkan aku."
Akhirnya, suamiku pun pergi setelah aku paksa. Sepanjang sisa hari itu, pikiranku terus dipenuhi oleh Eric.
Tak disangka, dengan penampilan sesopan itu, tubuhnya ternyata sangat kekar. Saat menahanku, otot lengannya tampak sangat jelas. Begitu mengerahkan tenaga, urat-urat di lengannya tampak menonjol.
Seandainya saja otot-otot itu digunakan untuk menindihku ....
Pukul sepuluh keesokan malamnya, bayi sudah tertidur pulas.
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu kamar. Aku tahu itu Eric. Di jam segini, tidak ada orang lain yang datang selain dia. Entah kenapa, seperti ada dorongan aneh, aku justru membiarkannya masuk.
"Nyonya, aku datang untuk membantu Anda pijat," ucap Eric pelan saat berdiri di hadapanku.
"Hari ini nggak usah," jawabku menolak.
Namun entah mengapa ... di dalam hatiku, ada secercah penantian.
"Nyonya, Anda tahu sendiri, sesi pijat ini nggak boleh terputus."
Seluruh tubuhku terasa seperti diselimuti oleh bayangan Eric dan menghadirkan tekanan yang sulit dijelaskan.
"Nggak usah malu, Nyonya. Ini semua hal yang wajar," ucap Eric sambil menyunggingkan senyum tipis yang penuh keyakinan.
Pada akhirnya, aku ditarik olehnya ke ruang pijat.
Aku menghibur diriku sendiri dengan mengatakan bahwa semua ini adalah demi kesehatanku, bukan karena alasan memalukan lainnya ....
Namun, begitu teringat dengan kejadian yang akan terjadi selanjutnya, tubuhku tak kuasa menegang. Pada akhirnya, aku hanya memejamkan mata.
Setelah menunggu dua detik, Eric datang dengan membawa minyak esensial.
"Nyonya, aku mulai ya," ucap Eric memberi aba-aba. Kemudian, dia langsung mengulurkan tangannya ke dalam pakaianku.
Minyak pijat yang belum dihangatkan langsung dioleskan oleh tangan besar yang kasar ke kulitku yang halus dan sensitif.
"Ugh ...." Aku meremas seprai ranjang dengan erat.
Sejuk sekali ....
Tanpa menunggu reaksiku lebih jauh, Eric telah memulai langkah selanjutnya. Gerakannya bahkan lebih berani dibandingkan tadi siang. Aku tahu, dia pasti sengaja!
Tak lama kemudian, hasrat dalam hatiku kembali terpancing oleh gerakan Eric.
Aku meremas seprai dengan erat dan menggertakkan gigi. Namun, gerakan Eric semakin dahsyat. Rasanya tidak berlebihan jika menggambarkan tindakannya ini sebagai penindasan. Kulitku yang putih mulus kini dipenuhi dengan bekas jarinya.
"Dasar genit," gumam Eric diam-diam.
Aku tidak mendengar jelas apa yang diucapkannya. Jadi, aku bertanya dengan kebingungan, "Apa kamu bilang?"
"Bukan apa-apa. Nyonya, tahap awal pijatannya sudah selesai. Selanjutnya aku mau memijat bagian selulit."
Tanpa menunggu reaksiku, Eric langsung melepas celanaku hingga ke lutut dan menyisakan celana dalam berenda di dalamnya. Setelah itu, dia mengambil tali pengekang di samping ranjang pijat untuk mengikat kaki dan tanganku.
"Nanti akan kuteteskan minyak esensial yang baru, efeknya lebih bagus lagi. Ini adalah untuk mencegah agar Nyonya nggak bergerak sembarangan sehingga mengganggu sesi pijatan nanti. Yang patuh ya, aku mulai sekarang."
Eric mengeluarkan sebuah tabung kecil berisi cairan bening, lalu meneteskan beberapa tetes ke dalam botol minyak pijat dan mengocoknya hingga tercampur rata. Setelah itu, dia langsung menuangkan minyak pijat tersebut ke perut bagian bawahku.
Cairan bening itu mengalir menyusuri pinggangku. Entah mengapa, api gelora tiba-tiba terasa seperti berkobar di bagian bawah perutku.
"Jangan! Eric, gatal ...." Api gelora ini menyerangku dengan hebat. Aku hanya merasa seolah-olah tubuhku ini akan habis terbakar dan terpaksa meminta tolong pada pria di hadapanku yang menyebabkan semua ini.
"Ini normal kok, Nyonya. Artinya minyak esensialnya sudah bekerja. Tahan sebentar lagi." Eric meratakan minyak esensialnya diteteskan di kulitku untuk mempermudah penyerapannya.
Aku benar-benar merasa hampir gila. Sekujur tubuhku menggeliat parah di atas ranjang.
"Eric, nggak bisa. Aku nggak tahan lagi! Gatal! Panas sekali!"
"Nyonya mau aku bantu gimana?" Eric kembali meneteskan minyak ke tangannya.
"Terserah mau bagaimana asalkan kamu bisa membantuku!" Mataku memerah dan aku hampir saja menangis.
"Oke, Nyonya sendiri yang bilang begitu."
Tangan Eric yang berlumuran minyak itu menyapu bagian bawah perutku dengan arah melingkar, kemudian perlahan-lahan memasuki bagian intim .... dan mengoleskan seluruhnya ke bagian tersebut.
"Dasar genit, lemaskan tubuhmu."
Eric menaiki ranjang, lalu mengangkat kedua kakiku ke pundaknya.
Anda Mungkin Juga Suka





