
Perawatan
Bab 3
Keesokan harinya, aku terbangun saat hari sudah siang.
Begitu membuka mata, yang kurasakan hanyalah tubuh yang segar, tidak ada rasa lengket sama sekali.
Saat melihat Eric, ingatanku langsung kembali. Ekspresiku pun silih berganti antara pucat dan muram. Sementara itu, Eric bersikap seolah tak terjadi apa-apa dan tetap menjalankan pekerjaannya seperti biasa.
Pukul sepuluh malam, Eric kembali mengetuk pintu kamar tepat waktu.
Tubuhku yang sudah terbiasa dengan sentuhan minyak pijat, mulai merindukan sensasinya. Namun, jauh di lubuk hati, aku tidak ingin terus mengkhianati suamiku. Kali ini aku tidak membiarkan Eric masuk, melainkan bersembunyi dalam selimutku.
Hanya saja, teknikku kalah jauh dibandingkan Eric ....
Di saat napasku masih terengah-engah, selimutku tiba-tiba tersingkap.
Eric datang.
Barusan pikiranku penuh dan kacau, sampai-sampai aku tak sadar kapan dia masuk ke ruanganku.
Setelah menilai penampilanku sejenak, Eric berkata sambil tertawa, "Apa serunya Nyonya main sendiri? Memangnya senikmat yang kuberikan pada Nyonya?"
Saat ini, sorot mata Eric dipenuhi hasrat yang membara, berbeda 180 derajat dengan penampilannya yang sopan tadi siang.
Aku merasa sedikit takut, lalu memberanikan diri untuk berkata dengan tegas, "Aku nggak minta kamu masuk. Cepat keluar dari sini!"
Eric hanya tertawa sinis, lalu langsung duduk di tepi tempat tidur dan menyentuhkan jarinya ke perut bagian bawahku.
"Entah wanita genit mana yang terus mengotot mau minta dipuaskan semalam? Hari ini malah langsung pura-pura nggak kenal?"
"Eric! Kamu nggak merasa bersalah sama Melinna?" Aku merasa marah dan malu. Dengan wajah memerah, aku membentaknya dan berusaha menghentikan apa pun yang akan dia lakukan.
Baru belakangan ini aku tahu, ternyata Eric dan Melinna adalah sepasang kekasih.
"Lihat ini dulu, baru putuskan mau menolakku atau nggak." Eric mengeluarkan ponselnya, lalu membuka sebuah foto dan menyodorkannya ke hadapanku.
Foto itu adalah diriku yang kehilangan kendali semalam. Wajahku penuh dengan hasrat. Kulit dan tubuhku yang telanjang terfoto dengan jelas.
Aku menenangkan diri, lalu bertanya, "Apa maumu? Uang?"
Eric menyimpan ponselnya dan berkata, "Aku nggak mau uang. Aku cuma mau Nyonya. Asalkan Nyonya membuatku puas, aku akan menghapus foto itu. Kalau nggak, aku nggak jamin apakah foto ini akan muncul di ponsel suamimu atau nggak."
"Jangan!" Aku memohon padanya, "Oke, aku janji. Tapi, kamu nggak boleh kirim foto itu ke suamiku, juga nggak boleh sampai ketahuan Melinna! Selain itu, setelah aku pergi dari sini, hubungan kita telah berakhir sepenuhnya. Kamu nggak boleh lagi datang mencariku dan harus hapus semua foto ini!"
"Oke. Kebetulan Melinna lagi cuti sakit dan suamimu juga baru akan pulang minggu depan. Tenang saja, nggak akan ada yang gangguin kita selama beberapa hari ini," ujar Eric.
Eric memberiku pijatan seperti biasanya dan melumurkan "minyak pijat khusus" itu di seluruh tubuhku. Saat aku tenggelam dalam hasrat dan memohon padanya, dia baru akan menggunakan jarinya untuk memuaskanku.
Setelah "sesi pijat" selesai, aku telah dipermainkan hingga bermandikan keringat. Tubuhku bergetar tanpa sadar, hingga jari-jari kakiku pun mengepal erat.
Eric sangat suka melihat keadaanku yang menyedihkan ini. Setiap kali setelah membuatku seperti ini, dia baru akan naik ke ranjang untuk memuaskanku.
Kemampuannya memang hebat, sampai-sampai aku kewalahan menghadapinya.
Selain itu, dia sangat kasar di atas ranjang. Dia suka menarik rambutku sambil berhubungan. Eric sama sekali tidak menganggapku sebagai manusia, melainkan lebih mirip seperti seekor anjing betina.
Tadinya aku ingin menyuruhnya menggunakan pengaman. Namun, dia merasa tidak nyaman dan akhirnya mengeluarkannya di dalam. Dia juga tidak mengizinkanku untuk membersihkannya.
Hanya dalam dua hari, tubuhku sudah terbiasa dengan keberadaan Eric, seolah-olah sepenuhnya menyesuaikan dirinya dengannya.
Dengan sebuah sentuhan kecil dari tangannya, tubuhku langsung bereaksi. Bukan hanya itu, dia juga tidak mengizinkanku mengenakan pakaian dalam. Aku hanya diperbolehkan memakai rok untuk memudahkannya jika ingin berhubungan kapan saja.
Terkadang, dia melakukannya sambil menggendong anakku dan menekan pinggangku di samping meja.
Demikianlah kehidupan kami yang kacau ini berlangsung selama lima hari. Melihat bahwa suamiku dan Melinna sudah akan kembali, hatiku merasa agak gelisah.
Hanya dengan melihatnya sekilas, Eric langsung mengetahui apa yang sedang kupikirkan.
Di hari keenam, setelah menidurkan anak, dia membawaku keluar. Ini adalah pertama kalinya aku keluar setelah datang ke pusat perawatan ini.
Eric tidak membawaku keluar gedung, melainkan turun ke satu lantai di bawah. Aku baru tahu, lantai bawah ini ternyata juga masih bagian dari pusat perawatan pasca-melahirkan. Tidak seperti kamar rawat di lantai atas, lantai bawah ini justru didekorasi seperti hotel.
Eric membawaku masuk ke sebuah kamar.
Kamar itu memiliki tata letak yang aneh. Hanya ada satu tempat tidur besar dan sebuah dinding putih polos tanpa hiasan. Entah tombol apa yang ditekan Eric, dinding putih itu perlahan terangkat dan di baliknya ternyata sebuah kaca.
Di sisi lain kaca itu, aku melihat dua wajah yang sangat kukenal.
Anda Mungkin Juga Suka





