
Penyesalan Selalu Datang Terlambat
Bab 3
Namun, Ibu sudah lupa. Dulu, saat aku menikah, Ibu menggenggam tanganku sambil mengingatkanku agar aku memberitahunya jika aku dianiaya. Ibu berkata bahwa Ibu pasti akan membela diriku.
'Ibu, aku benar-benar sangat sedih ....' pikirku.
'Bagaimana aku harus bermurah hati dan memaafkan kesalahan Stevan?'
Aku memeluk diriku sendiri dan akhirnya terlelap.
Saat aku bangun tidur, hari sudah malam, ruang tamu ini gelap gulita.
Sheila Norman, sahabatku, tiba-tiba menghubungiku. Aku tercengang sejenak sebelum menerima panggilan itu.
"Halo? Nana, kamu lagi di mana?"
Begitu aku menerima panggilannya, aku langsung mendengar suara Sheila.
Aku menjawab dengan pelan, "Di rumah."
"Stevan nggak di rumah, ya?" tanya Sheila.
"Iya."
Suara Sheila tiba-tiba melengking. "Tahukah kamu siapa yang aku lihat barusan?!"
Sebelum aku bisa menjawab, dia langsung berseru, "Aku melihat Stevan!"
"Dia sedang bersama seorang wanita muda. Tapi, yang terpenting adalah, dia menghabiskan banyak uang dan membelikan banyak barang untuk wanita itu!"
"Jangan-jangan dia selingkuh?!"
Menghabiskan banyak uang? Aku tiba-tiba teringat bahwa Stevan sudah lama sekali tidak membelikan apa pun untukku.
"Iya," jawabku.
Suaraku sangat pelan, sedangkan Sheila terus berteriak dengan terkejut.
"Apa?! Dasar bajingan! Kalian baru menikah, tapi dia malah berani-beraninya selingkuh! Biar kuhajar dia!"
Mendengar napas Sheila yang kasar karena amarahnya, aku hanya tertawa sambil berpikir, 'Syukurlah, di dunia ini, masih ada yang menyayangiku.'
Aku pun berkata, "Jangan, jangan cari dia. Aku akan cari waktu untuk bercerai dengannya."
"Nana, kamu pasti sangat sedih, 'kan? Bagaimana kalau aku pergi menemanimu?" tanya Sheila.
Aku pun menghibur Sheila dengan tenang. "Jangan datang, sudah malam. Cepat pergi istirahat, deh."
Sebenarnya, bagaimana mungkin aku tidak ingin ditemani oleh orang lain?
Hanya saja, sekarang, sahabatku sudah berkeluarga, anaknya juga baru sebulan, aku tidak mungkin menyuruhnya untuk meninggalkan anaknya dan menemaniku untuk satu malam.
"Aku baru tanya suamiku, wanita selingkuhan itu muridnya Stevan!" seru Sheila lagi.
"Dasar mesum, bisa-bisanya dia menggoda muridnya sendiri!"
Suaminya Sheila adalah teman dekatnya Stevan, jadi wajar saja jika dia mengetahui hal ini. Namun, aku tidak menyangka bahwa Stevan akan berselingkuh dengan muridnya sendiri.
Stevan bekerja sebagai seorang profesor di universitas. Karena ketampanannya, ada banyak murid yang menyatakan perasaan mereka padanya. Namun, dia selalu memisahkan kehidupan pribadinya dengan pekerjaannya dengan sangat jelas, dia tidak pernah berhubungan dekat dengan muridnya. Tak disangka, dia akhirnya melanggar prinsipnya sendiri.
"Namanya Rachel Lowie, dia lumayan terkenal di kelas mereka ...."
Sheila masih terus melaporkan informasi yang dia dapatkan padaku, tetapi aku tidak ingin mendengarnya lagi.
Pada saat ini, notifikasi pembayaran mulai bermunculan di ponselku. Melihat jumlah pengeluaran itu, aku mengernyit karena totalnya sudah setara dengan pengeluaran tahunan kami.
Akhirnya, aku tidak tahan lagi. Aku pun menghubungi Stevan.
Setelah sekian lama, hingga aku sudah mengira bahwa Stevan tidak akan menerima panggilanku lagi, dia menerimanya.
Dari ujung telepon lainnya, dia bertanya dengan dingin, "Halo? Ada apa?"
Aku menarik napas dalam-dalam dan bertanya, "Kamu beli barang untuknya dengan uang kita?"
Dia terdiam sejenak, lalu menjawab dengan cuek, "Iya."
Aku pun mengernyit dan berkata dengan kesal, "Atas dasar apa kamu beli barang untuk wanita lain dengan uangku? Stevan, kamu tahu, nggak, kamu sekarang suami siapa?"
"Uangmu? Sudah berapa lama kamu nggak kerja? Bukankah harus aku yang menghidupimu, ya? Jadi, terserah aku mau beli barang untuk siapa pun dengan uangku sendiri," kata Stevan.
Dengan suara bergetar, aku berkata, "Kita sudah menikah. Sekarang, seluruh harta kita milik bersama."
Awal tahun ini, kinerja perusahaan tempat aku bekerja kurang bagus. Bosku selalu melakukan eksploitasi tenaga kerja. Satu orang dari kami dipekerjakan layaknya tiga orang dan sering bekerja lembur, tanpa sedikit pun kenaikan gaji. Aku bertahan selama sebulan sebelum akhirnya mengundurkan diri dari perusahaan.
Anda Mungkin Juga Suka





