APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Penuh Luka Penderitaan

Penuh Luka Penderitaan

Demi menghindari perundungan dari rekan kerjanya, Valeria terpaksa lembur. Namun, saat membersihkan meja di ruang CEO baru, seorang pria asing yang perkasa tiba-tiba menariknya ke kamar rahasia yang mewah. Valeria terhempas ke ranjang besar di bawah kungkungan tubuh kekar tersebut. Kini, ia terjebak tanpa daya dalam cengkeraman sosok misterius dari dunia yang berbeda, yang menuntutnya secara paksa untuk menjadi bagian dari hidup pria itu.
Bab
Bagikan

Bab 3

Keesokan harinya, Valeria terbangun dengan perasaan aneh yang menggelayuti dirinya. Rasa lelah yang menghinggapinya tidak hanya datang dari fisik, tetapi juga dari pikiran yang masih kacau setelah malam yang penuh dengan intrik dan ancaman. Ia tidak bisa mengabaikan kata-kata Dmitri, yang terus berputar dalam benaknya. Dunia kekuasaan yang ia masuki, dunia yang sebelumnya terasa begitu jauh dan asing, kini semakin mendekat dan menekan.

Dengan langkah lesu, Valeria pergi menuju kantornya, berusaha untuk mengalihkan pikirannya dari pertemuan yang telah terjadi. Namun, setiap sudut kantor itu terasa berbeda. Semua yang sebelumnya tampak biasa, kini seakan-akan dipenuhi dengan tanda tanya. Ia merasa setiap orang yang melihatnya menyimpan rahasia, seperti mereka tahu lebih banyak tentang permainan yang sedang berlangsung daripada yang ia ketahui.

Di ruang kerjanya, Valeria duduk di mejanya dengan gelisah. Seorang rekan kerja mendekatinya, wajahnya penuh perhatian. "Kamu baik-baik saja? Sepertinya ada yang mengganggumu," ujar wanita itu, suara lembut namun penuh keprihatinan.

Valeria menatapnya sebentar, mencoba menampilkan senyum yang meyakinkan. "Ya, saya hanya sedikit lelah. Terima kasih sudah khawatir."

Namun, dalam hati Valeria, kekhawatiran itu tidak hilang. Ia tahu, meskipun ia berusaha untuk bersikap biasa, segalanya telah berubah. Semalam, Dmitri telah mengingatkannya bahwa ia berada di dunia yang penuh dengan permainan tak terlihat-permainan yang hanya bisa dimenangkan dengan keberanian dan kecerdasan. Tapi, apakah ia siap untuk itu?

Seperti yang Dmitri katakan, ia harus memutuskan: bertahan atau menyerah.

Di tengah kebingungannya, pintu kantornya terbuka, dan seorang pria dengan pakaian formal memasuki ruangan. Matanya tajam, langkahnya penuh percaya diri-tanda bahwa ia adalah seseorang yang berkuasa di sini. Valeria menatapnya dan merasakan gelombang ketegangan yang datang bersamanya.

"Valeria, aku ingin berbicara denganmu," kata pria itu dengan nada yang tegas. "Ikuti aku."

Tanpa menunggu jawaban, pria itu berbalik dan berjalan keluar. Valeria tidak punya pilihan selain mengikuti langkahnya. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, seolah ada sesuatu yang besar sedang menantinya di ujung jalan.

Mereka sampai di sebuah ruang rapat yang terletak di ujung lorong. Pria itu membuka pintu dan memberi isyarat agar Valeria masuk terlebih dahulu. Di dalam, duduk beberapa pria dengan ekspresi serius. Salah satunya, Dmitri, yang langsung menangkap pandangannya dengan tatapan penuh makna.

"Silakan duduk, Valeria," kata Dmitri, suaranya rendah namun penuh wibawa. "Kami perlu berbicara."

Valeria duduk dengan hati berdebar, matanya melirik ke seluruh ruangan. Ruangan itu terasa begitu dingin, penuh dengan ketegangan yang hampir bisa dirasakan. Para pria di sekeliling meja tampaknya menunggu sesuatu, dan Valeria merasa seperti seorang pion yang tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Bagaimana perasaanmu setelah semalam?" tanya Dmitri, tidak langsung membahas urusan penting, tetapi memberikan kesan bahwa ia sedang mengamati Valeria dengan seksama.

Valeria menelan ludah, berusaha untuk tidak menunjukkan rasa takut yang menguasainya. "Saya... saya merasa bingung, Tuan Dmitri. Ada begitu banyak yang saya tidak mengerti," jawabnya, suaranya masih penuh ketegangan.

Dmitri tersenyum tipis, namun senyumnya kali ini lebih penuh arti. "Begitulah seharusnya. Semua hal baru akan membuatmu merasa bingung pada awalnya. Tapi, seiring waktu, kamu akan mulai melihat gambaran yang lebih besar."

Valeria tidak tahu apa yang lebih besar itu, dan tidak tahu apakah ia ingin tahu lebih banyak. Namun, ia tahu satu hal: ia tidak bisa mundur sekarang.

"Jangan khawatir," lanjut Dmitri, seolah membaca pikiran Valeria. "Kamu tidak perlu tahu semuanya sekarang. Kita mulai dengan hal kecil. Kamu akan belajar banyak hal dari sini, dan siapa tahu, mungkin kamu akan menemukan jalanmu sendiri."

Valeria hanya bisa menatapnya, bingung namun juga mulai merasa bahwa ada sesuatu yang lebih besar yang sedang disusun di balik semua ini. Ketegangan di ruangan itu semakin meningkat, dan ia tahu bahwa ia tidak bisa hanya duduk diam. Ini adalah permainan yang tidak bisa ia hindari, dan entah ia suka atau tidak, ia harus memainkan perannya dengan baik.

Seorang pria di sebelah Dmitri membuka mulut, memecah keheningan. "Kamu tahu, Valeria, di dunia ini, hanya ada dua pilihan: menang atau kalah. Tidak ada ruang untuk setengah-setengah. Kita tidak punya waktu untuk bermain-main."

Kata-kata itu seperti cambukan yang membuat Valeria terdiam. Semua yang terjadi begitu cepat. Ia hanya seorang asisten biasa yang baru beberapa minggu bekerja di perusahaan ini, dan sekarang ia telah terjerat dalam jaringan yang begitu besar, yang tampaknya penuh dengan ambisi dan rahasia gelap.

"Apakah kamu ingin menang, Valeria?" tanya Dmitri, tatapannya penuh makna.

Valeria menatap matanya yang tajam. Ia merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar pertanyaan biasa di balik kata-kata itu. Ini adalah ujian. Ujian yang akan menentukan apakah ia siap untuk terjun lebih dalam ke dalam permainan ini, atau apakah ia akan menjadi korban dalam permainan yang lebih besar.

"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Valeria, suaranya kini lebih tegas. Ia tahu bahwa jawabannya akan menentukan arah hidupnya selanjutnya.

Dmitri tersenyum. "Bagus. Kamu mulai memahami. Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah mengikuti arus, dan mengerti kapan harus membuat langkahmu sendiri. Di dunia ini, hanya mereka yang cerdas dan berani yang bisa bertahan."

Ruangan itu terdiam sejenak, dan Valeria merasakan sebuah beban yang semakin berat di pundaknya. Semalam, ia merasa terjebak. Hari ini, ia merasa lebih terperangkap lagi. Apa yang harus ia lakukan untuk bertahan hidup di dunia ini? Apa yang harus ia korbankan?

Ketegangan semakin meningkat saat Dmitri berdiri dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh lagi pada Valeria. "Kamu punya waktu untuk berpikir, Valeria. Tapi ingat, keputusan yang kamu buat hari ini akan menentukan apakah kamu bertahan atau jatuh."

Valeria hanya bisa menatap Dmitri yang meninggalkan ruangan itu, bersama pria-pria lainnya yang mengikutinya keluar. Ia duduk diam, tubuhnya lelah, tetapi pikirannya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.

Ini bukan hanya tentang bertahan hidup. Ini tentang memilih apakah ia akan menjadi bagian dari dunia ini-dunia yang penuh dengan kekuasaan, permainan, dan pengkhianatan. Dunia yang kini tak bisa lagi ia hindari.

Valeria tahu, ia harus membuat keputusan, dan tidak ada jalan untuk kembali.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Terhalang Ukuran
9.4
Sebagai ahli waris kaya raya berparas rupawan, Dhipta Wisnu Pratama terlihat sempurna di mata publik. Namun, sebuah rahasia tentang kekurangan fisiknya membuat pria ini selalu meragukan ketulusan cinta yang datang. Ujian terberat bagi Dhipta tiba ketika ia mulai mencintai Anandhila Prameswary, aktris sekaligus model papan atas yang begitu memikat. Kini, Dhipta harus berjuang keras menaklukkan hati Dhila dan mengajaknya membina rumah tangga di tengah segala ketidaksempurnaan dirinya.
Sampul Novel Dendam Cinta Sang Miliarder
9.4
Sagara Tyson Murphy dirundung duka mendalam setelah kematian tragis tunangannya, Janessa. Ia meluapkan kemarahannya pada Aluna Jaylee Morris, sosok yang dituding bertanggung jawab atas kecelakaan maut tersebut. Tak rela melihat Luna hidup bebas, Saga memaksanya menikah demi membalas dendam secara langsung. Demi melindungi orang-orang tercinta, Luna rela menanggung segala siksaan Saga. Namun, akankah kebencian Saga goyah saat tabir kebenaran perlahan mulai tersingkap?
Sampul Novel Dihapus oleh Kebohongan dan Cintanya
9.8
Sepuluh tahun Aria berkorban demi kesuksesan Baskara, namun ia justru dicampakkan setelah sang suami berhasil. Demi memikat investor barunya, Aurora, Baskara tega melenyapkan identitas Aria dan menyekapnya di gudang gelap yang memicu fobianya. Puncaknya, ia membiarkan Aria disiksa penculik demi melindungi Aurora. Di tengah keputusasaan, Aria menghubungi Tante Evelyn, pengacara hebat yang siap menjemputnya dengan jet pribadi untuk menuntut balas atas semua pengkhianatan ini.
Sampul Novel Foto Pelakor di Profil Ponsel Suamiku
8.3
Muak dikhianati Agung serta ditindas oleh keluarga mertuanya, Serani Gunawan mantap mengambil keputusan untuk bercerai. Penyesalan mendalam segera menghampiri sang mantan suami ketika menyadari bahwa CEO baru di kantornya adalah Serani, yang selama ini menyembunyikan status miliardernya. Demi menguasai kekayaan Serani, Agung dan selingkuhannya menyusun berbagai rencana jahat. Beruntung, Serani tidak sendirian; dua pria kaya dan tampan siap mendampinginya menghadapi setiap ancaman demi menemukan cinta sejati.
Sampul Novel Gadis Simpanan yang Melahirkan Anakku
8.1
Seorang gadis polos terpaksa menjadi simpanan CEO berkuasa di Amerika demi membiayai pengobatan ayahnya yang kritis. Sang miliarder menuntutnya melahirkan ahli waris karena istrinya mandul. Terjebak dalam kemewahan penuh rahasia kelam, ia menghadapi konflik batin yang hebat. Kini, ia harus memilih antara mempertahankan harga diri atau mengikuti benih cinta yang mulai tumbuh di situasi yang salah.
Sampul Novel Kau Milikku
9.4
Pertemuan pertama dengan Will Greyson langsung membuat Hanna muak karena sikap lancang miliarder angkuh tersebut. Kekesalan Hanna memuncak saat Will mendadak melamarnya hanya untuk dijadikan alat terapi pribadinya. Walau mendapatkan penolakan keras, pria sombong itu tidak tinggal diam. Hanna yang telanjur geram pun bertekad memberi pelajaran, sementara Will justru semakin tertantang untuk menaklukkan hati gadis yang berani menentangnya.