APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Penolakan Sang Luna: Hancurnya Hati Alpha Vincent

Penolakan Sang Luna: Hancurnya Hati Alpha Vincent

Dijual oleh sang ayah, Sofia malah disiksa Alpha Vincent di gudang kumuh akibat fitnah kejam Isabel. Ia bahkan dijebloskan ke penjara perak hingga kulitnya melepuh, lalu kalung warisan ibunya dijadikan mainan anjing untuk Isabel. Di tengah penderitaan itu, Sofia bangkit sebagai White Wolf langka. Ia pun memutuskan ikatan Mate dengan Vincent, membiarkannya meraung kesakitan, lalu pergi mencari takdir baru bersama Pack yang jauh lebih kuat.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sofia POV:

Keputusan itu sudah final.

Aku menerima tawaran pernikahan politik dari Alpha Alexander Nugraha. Surat balasannya sudah kuremas menjadi bola kertas tak berbentuk dan kulemparkan ke dalam perapian, namun setiap kata di dalamnya sudah terpatri, membakar memori di otakku.

Aku duduk terpaku di depan cermin retak di kamar gudangku yang lembap.

Di telapak tanganku, tergeletak sebuah kotak beludru usang. Di dalamnya, tersimpan cincin perak sederhana—benda yang pernah Vincent tempa dengan tangannya sendiri untukku saat dia masih remaja. Itu terjadi jauh sebelum dia menjadi Alpha yang dingin, jauh sebelum Isabel datang dan meracuni segalanya.

Dulu, aku mengira cincin ini adalah janji abadi. Sekarang, aku tahu ini hanyalah belenggu yang mencekik.

Tanpa ragu sedikit pun, aku melemparkan cincin itu ke dalam lidah api perapian yang menyala kecil.

Aku menyaksikan logam itu memerah, melepuh, lalu menghitam menjadi arang tak berharga.

"Peranku dalam drama murahan ini sudah selesai," bisikku pada bayanganku sendiri yang tampak menyedihkan.

Tidak ada lagi air mata. Air mataku sudah lama mengering untuk pria yang bahkan tidak pantas mendapatkan setetes pun kesedihanku.

Aku menghabiskan dua hari berikutnya dengan mengubur diri, mempelajari struktur politik Pack Yarunica. Aku menghafal nama-nama tetua, memetakan jalur perdagangan, dan meresapi sejarah mereka. Aku mempersiapkan diriku untuk menjadi Luna bagi Pack lain, mematikan segala rasa dan memori tentang Dirgantara.

Tapi Vincent tidak membiarkanku pergi dengan tenang.

*Alpha's Command*—perintah mutlak seorang Alpha—tiba-tiba bergema, menghantam tengkorakku dan memaksaku hadir di pesta penyambutan resmi Isabel malam ini.

Tubuhku bergerak di luar kehendakku. Aku tidak punya pilihan selain menyeret kakiku yang berat menuju aula pesta.

Vincent berdiri di sana, tampak begitu gagah dan berkuasa dalam setelan jas hitamnya. Di lengannya, Isabel menggelayut manja, mengenakan gaun putih berkilauan seolah-olah dia adalah pengantin wanita yang suci.

Saat aku melangkah masuk, tatapan Vincent langsung terkunci padaku. Ada kilatan aneh di matanya—mungkin rasa bersalah yang terpendam, atau mungkin kebingungan karena melihat betapa dingin dan matinya tatapanku.

Namun, momen itu hancur dalam sekejap.

Seorang *Rogue* yang menyusup—atau lebih tepatnya, disewa untuk berada di sini—tiba-tiba membuat keributan. Dia menerjang ke arahku, mencoba menyentuhku dengan tangan kotornya.

Secara refleks, aku menepis tangannya kasar. "Jangan sentuh aku!"

Isabel, yang berada dua meter dariku, tiba-tiba menjerit histeris. "Aaa! Dia mendorongku!"

Tubuhnya jatuh terduduk dengan dramatis dan anggun, seolah sudah berlatih berkali-kali.

Vincent langsung berbalik, matanya menyala merah oleh amarah. Dia buta. Dia tidak melihatku yang sedang dikepung *Rogue*. Dia hanya melihat Isabel, 'korban' yang rapuh.

"Bawa Isabel ke tempat aman!" perintahnya menggelegar pada para pengawal, mengabaikan keberadaanku sepenuhnya.

Namun, puncak penghinaan itu terjadi saat sesi lelang amal dimulai.

Sebuah kalung tua dimunculkan di panggung. Napasku tercekat. Itu adalah *Moon Amulet*, peninggalan satu-satunya dari ibu kandungku yang dicuri ayahku dan dijual demi judi.

Aku maju dengan langkah gemetar, suaraku parau menahan tangis. "Aku menawar semua tabunganku untuk itu."

Isabel tertawa kecil, suara yang terdengar seperti denting gelas pecah. "Oh, kalung jelek itu? Vincent, Sayang, belikan untukku. Anjingku butuh kalung baru."

Tanpa menatapku, Vincent mengangkat tangannya. "Terjual untuk Isabel."

Duniaku runtuh seketika.

Isabel mengambil kalung itu, mengayun-ayunkannya di depan wajahku dengan senyum mengejek. "Lihat, bahkan ibumu yang jalang itu tidak bisa melindungimu."

*Jalang.*

Kata itu memicu ledakan nuklir di dalam kepalaku.

Bukan kemarahan biasa. Ini adalah lahar panas yang meledak dari inti jiwaku yang paling dalam.

Sakit yang luar biasa menghantam dadaku. *Inner Wolf*-ku melolong, bukan lolongan kesedihan, tapi lolongan perang yang menuntut darah.

Tanpa sadar, cakarku memanjang, menembus kulit ujung jariku. Aku menerjang.

Bukan untuk membunuh, tapi untuk mengambil kembali apa yang menjadi hakku.

Cakarku menggores lengan Isabel saat aku merebut kalung itu. Darah segar menetes ke lantai marmer.

"Dia menyerangku! Dia gila!" jerit Isabel, suaranya melengking.

"TANGKAP DIA!" Suara Vincent menggelegar, memenuhi ruangan.

*Alpha's Command* menghantamku seperti palu godam tak kasat mata, memaksaku berlutut, menghancurkan perlawananku.

Malam itu berakhir di kegelapan penjara bawah tanah.

Mereka merantaiku dengan perak murni.

*Silver*. Racun mematikan bagi kaum kami.

Kulitku mendesis dan melepuh di setiap titik di mana rantai itu menyentuh. Rasa sakitnya membakar, menjalar hingga ke sumsum tulang, membuatku ingin menjerit namun suaraku tertahan.

Aku terbaring di lantai dingin yang lembap, napasku tersengal berat.

Dari celah pintu besi yang berkarat, sayup-sayup aku mendengar percakapan dua penjaga.

"Kasihan Nona Sofia. Dia tidak tahu kalau Alpha Vincent menerima tugas 'mendidik' dia cuma untuk balas dendam pada ayahnya."

"Iya, kudengar Alpha bahkan merekam pertemuan mereka dulu sebagai bukti pemerasan. Benar-benar kejam."

Darahku membeku seketika.

Jadi, malam pertama kami... penyatuan suci Mate kami... itu semua hanya senjata politik? Hanya alat untuk menghancurkan ayahku?

Aku merasa ingin muntah. Perutku bergejolak hebat.

Tiba-tiba, rasa sakit di perutku kembali, kali ini seribu kali lipat lebih parah. Perak itu tidak hanya melukai kulitku, tapi bereaksi dengan sesuatu yang purba di dalam darahku.

Darah *White Wolf* yang selama ini tertekan, kini berontak.

Vincent muncul di balik jeruji besi. Wajahnya terlihat lelah, ada keraguan yang melintas di matanya saat melihat luka bakar di tubuhku.

"Sofia..." suaranya terdengar ragu.

Namun Isabel muncul di belakangnya, memeluk pinggangnya posesif, menatapku dengan senyum kemenangan yang menjijikkan.

Cukup.

Aku memejamkan mata, mengumpulkan sisa-sisa tenaga terakhir dari jiwaku yang telah hancur lebur.

Rasa sakit fisik ini tidak ada apa-apanya dibandingkan lubang menganga di hatiku.

Aku berdiri, tertatih namun pasti. Rantai perak itu mendesis semakin keras, membakar kulitku, tapi aku tidak peduli lagi.

Aku menatap lurus ke dalam mata Vincent. Mata yang dulu kucintai setengah mati. Sekarang, aku hanya melihat orang asing yang kejam.

Aku membuka mulutku, suaraku parau namun bergema dengan kekuatan aneh yang membuat obor di dinding berkedip ketakutan.

"Saya, Sofia Permana..."

Mata Vincent membelalak, menyadari apa yang akan terjadi. "Sofia, jangan—"

"...menolakmu, Vincent Dirgantara, sebagai Mate-ku."

*KRAK!*

Rasanya seperti ada benang baja yang putus di dalam otakku.

Sakitnya membutakan, seolah jiwaku dirobek paksa. Vincent terhuyung ke belakang, memegangi dadanya, meraung kesakitan saat ikatan itu putus.

Tapi bagiku, rasa sakit itu diikuti oleh gelombang kekuatan yang memabukkan.

Api putih meledak dari tubuhku, terang dan menyilaukan. Rantai perak itu meleleh seperti lilin. Pintu sel besi terlempar hingga menghantam dinding seberang.

Aku berlari.

Aku membakar gudang penyimpanan saat aku lewat. Biarkan semuanya hangus. Biarkan kenangan busuk ini menjadi debu.

Malam itu, langit di atas kediaman Dirgantara berwarna merah oleh api amarahku. Dan aku berlari kencang menuju kegelapan hutan, meninggalkan abu masa laluku jauh di belakang.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alpha Rexton, I'm Not Your True Luna
9.4
Akibat pengaruh alkohol, Amelie tidak sengaja menyerahkan kesuciannya kepada Alpha Rexton, kekasih dari kakak angkatnya. Diliputi penyesalan mendalam, ia memohon agar sang Alpha menolak dirinya demi menjaga perasaan Matilda, sosok yang telah merawatnya sejak kecil. Amelie rela mengorbankan batinnya asal keutuhan keluarga angkatnya tetap terjaga. Namun, rahasia takdir mate ini mengancam segalanya. Akankah hubungan mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Sampul Novel Luna Tak Terikat
8.0
Lima tahun memimpin suku, Kaitlin tetap menjaga kesuciannya. Ketika Rosalyn, kakaknya, pulang tanpa keturunan, Phillip Elliott mendadak menuntut seorang pewaris. Hati Kaitlin hancur saat mengetahui niat busuk Phillip yang hanya ingin menjadikannya rahim pengganti untuk menyokong posisi Rosalyn. Merasa dikhianati, Kaitlin memilih pergi dan kembali ke orang tua angkatnya. Tak disangka, Phillip yang biasanya bersikap dingin kini justru memohon padanya untuk kembali dengan penuh keputusasaan.
Sampul Novel Omega-nya yang Terbuang, Kehancuran Raja Alpha
9.1
Lima belas tahun mendampingi Baskara Adijaya, sang Alpha mematikan, hancur begitu saja saat aku menyadari pengkhianatannya. Aroma wanita lain dan pesan vulgar dari asistennya, Jasmine, membongkar perselingkuhan mereka. Akibat ikatan yang tercemar, kondisi 'Penolakan Jiwa' menyerangku, diperparah klaim kehamilan Jasmine. Kini, aku melepaskan peran sebagai penenang monster di dalam dirinya. Tanpa menuntut harta, aku memilih bebas dan bersiap meruntuhkan dunianya.
Sampul Novel Reject Me
9.0
Pasca-kematian misterius sang ayah, hidup Eliza berubah total. Sang ibu membawanya mengungsi ke kota asing demi keamanan. Namun, kepindahan ini justru menyingkap tabir rahasia asal-usulnya. Di tempat baru tersebut, sosok Henry hadir dan mengklaim Eliza secara posesif tanpa mau melepaskannya. Kini, Eliza harus menghadapi teror penguntit misterius sekaligus berjuang mengungkap dalang pembunuhan ayahnya. Akankah ia mampu bertahan menghadapi takdir rumit ini?
Sampul Novel Sang Luna yang Ditolak Alpha: Mengandung Anak Musuhnya
9.6
Demi Lyra, Alpha Kaelan tega mengkhianatiku. Aku dipaksa mengaku ternoda dan merawat anak haramnya. Tragisnya, saat aku hamil, Kaelan menyuruhku menggugurkan kandungan demi perasaan Lyra. Penderitaanku kian lengkap ketika ibunya menyekapku hingga aku kehilangan bayi kami. Di tengah kehancuran ini, rasa cintaku sepenuhnya mati. Melalui lolongan suci, kupanggil keluarga kerajaan dari Klan Taring Putih untuk menjemput putri mereka kembali.
Sampul Novel Wrong Marriage
9.3
Hidup Angel Matthew berubah total setelah menyerahkan kesuciannya kepada Erick Cullen, mahasiswa baru yang ternyata seorang vampir. Situasi kian pelik dengan kemunculan Jack Wild, sesosok werewolf yang juga mulai memburunya. Angel kini menyadari dirinya adalah Gadis Suci yang diperebutkan oleh kedua kubu. Terjebak di tengah perseteruan abadi antara klan vampir dan werewolf, ia tidak lagi memiliki jalan untuk melarikan diri dari takdir mistis ini.