APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Penolakan Sang Luna: Hancurnya Hati Alpha Vincent

Penolakan Sang Luna: Hancurnya Hati Alpha Vincent

Dijual oleh sang ayah, Sofia malah disiksa Alpha Vincent di gudang kumuh akibat fitnah kejam Isabel. Ia bahkan dijebloskan ke penjara perak hingga kulitnya melepuh, lalu kalung warisan ibunya dijadikan mainan anjing untuk Isabel. Di tengah penderitaan itu, Sofia bangkit sebagai White Wolf langka. Ia pun memutuskan ikatan Mate dengan Vincent, membiarkannya meraung kesakitan, lalu pergi mencari takdir baru bersama Pack yang jauh lebih kuat.
Bab
Bagikan

Bab 1

Ayahku menjualku kepada Alpha Vincent sebagai "Kontrak Disiplin", menjadikan aku bukan sebagai Mate yang dihormati, melainkan tawanan yang disembunyikan di gudang berdebu.

Namun, neraka yang sesungguhnya dimulai saat Isabel, wanita licik yang ia puja, datang menginvasi hidupku.

Isabel memalsukan penyerangan dan menuduhku sebagai pelakunya. Tanpa mendengar penjelasanku, Vincent menyeretku ke penjara bawah tanah dan merantaiku dengan perak murni—racun paling mematikan bagi kaum kami.

Saat kulitku melepuh dan mendesis terbakar oleh lilitan rantai, Vincent justru melakukan hal yang paling kejam. Dia melelang kalung peninggalan almarhum ibuku tepat di depan mataku.

"Vincent, belikan itu untukku," rengek Isabel manja. "Anjingku butuh kalung baru."

Tanpa menatapku, Vincent memberikannya.

"Terjual untuk Isabel."

Hancur. Bukan hanya tubuhku, tapi juga jiwaku. Mereka menertawakanku, menyebutku jalang yang tidak berguna, sementara aku menahan rasa sakit dari *Silver* yang menggerogoti tulangku.

Vincent tidak tahu satu hal. Darah yang ia tumpahkan malam ini bukanlah darah Omega lemah.

Itu adalah darah *White Wolf*, serigala paling langka dan suci yang memiliki kekuatan penyembuh mutlak.

Di ambang kematian, aku mendongak, menatap mata pria yang dulu kucintai itu dengan tatapan kosong.

"Saya, Sofia Permana..."

Vincent tertegun, matanya membelalak melihat aura putih menyilaukan yang tiba-tiba meledak dari tubuhku, melelehkan rantai besi itu.

"...menolakmu, Vincent Dirgantara, sebagai Mate-ku."

Malam itu, saat dia meraung kesakitan karena putusnya ikatan jiwa kami, aku bangkit dari abu, membakar penjara itu, dan berlari menuju takdirku sebagai Luna di Pack lain yang jauh lebih kuat.

Bab 1

Sofia POV:

Di sudut paling terpencil di perpustakaan kediaman Dirgantara, aku melakukan ritual kecilku.

Jemariku sama sekali tidak gemetar. Napasku berhembus stabil, berirama dengan detak jantung yang perlahan mengeras.

Satu per satu, aku merobek lembaran kulit domba tua itu.

*Krak. Krak.*

Bunyi kertas tebal yang terkoyak terdengar begitu memuaskan—renyah dan tajam, seolah aku sedang mendengarkan patahnya tulang-belulang belenggu yang selama ini menjeratku.

Ini adalah "Kontrak Disiplin"—sebuah penghinaan tertulis yang dikirimkan oleh ayahku sendiri, Hendra, sebagai persembahan untuk Alpha Vincent. Sebuah dokumen yang menyatakan bahwa aku, putrinya, hanyalah properti cacat yang perlu dididik ulang.

Sekarang, dokumen itu hanya menjadi serpihan sampah di atas meja mahoni yang dingin.

Aku menatap tumpukan sobekan itu. Anehnya, tidak ada amarah yang membakar di dadaku. Yang ada hanyalah ketenangan yang absolut, dingin dan jernih seperti permukaan danau beku di musim dingin.

Ini bukan sekadar merusak dokumen. Ini adalah pemutusan hubungan.

Dari kejauhan, aku bisa mendengar hiruk-pikuk pelayan yang sedang mempersiapkan makan malam di aula utama. Suara tawa, denting gelas kristal, dan aroma daging panggang yang samar menyelusup masuk melalui celah pintu.

Duniaku dan dunia mereka terpisah oleh dinding tebal dan status sosial yang tak terlihat namun mencekik.

Di sini, di antara rak-rak berdebu ini, aku hanyalah hantu. Seorang Omega yang tidak diinginkan.

Keheningan itu pecah seketika. Pintu perpustakaan didorong terbuka kasar, tanpa didahului ketukan sopan santun.

Isabel melangkah masuk.

Dia mengenakan gaun sutra berwarna merah muda yang mencolok, wajahnya dihiasi senyum polos yang terlalu lebar untuk menjadi tulus. Di tangannya, dia membawa seikat mawar merah segar.

Dia berjalan melewaticu seolah aku adalah perabot usang, langkah kakinya berisik saat ia menuju vas bunga di meja tulis Alpha.

Aroma parfum sintesis yang menyengat langsung memenuhi ruangan, menampar indra penciumanku.

Baunya menusuk, campuran menjijikkan antara gula hangus dan esens bunga kimiawi, begitu kuat hingga mencekik aroma alami kayu tua dan buku-buku yang menenangkan.

Di dunia kami, *Scent* atau aroma tubuh adalah identitas jiwa. Tapi Isabel selalu menutupi ketiadaan aroma *Wolf*-nya dengan parfum mahal ini.

Baunya seperti invasi. Dia sedang menandai wilayahnya dengan cara yang paling artifisial.

"Oh, sayang sekali," gumam Isabel, mengatur bunga-bunga itu dengan gerakan yang dilebih-lebihkan.

Dari jendela yang setengah terbuka, suara tawa berat seorang pria terdengar.

Vincent.

Jantungku tersentak, sebuah respons terkondisi yang aku benci setengah mati.

"Vincent, kau nakal sekali!" pekik Isabel, tawanya melengking sengaja agar menembus dinding perpustakaan, memastikan aku mendengarnya.

Kemudian, dia berbalik menatapku. Senyumnya berubah, matanya menyipit dengan kilatan tajam yang merendahkan.

"Sofia, tolong bereskan vas bunga yang lama. Airnya sudah bau," katanya dengan nada manis yang menjijikkan.

Itu bukan permintaan. Itu adalah perintah dari seseorang yang merasa dirinya adalah calon Luna.

Perutku terasa mulas. Insting *Omega* dalam diriku ingin menunduk, ingin patuh pada siapa pun yang memiliki status lebih tinggi.

Tapi aku menelan rasa mual itu. Jemariku mengepal di balik rok gaunku yang lusuh hingga kuku-kukuku menancap di telapak tangan.

Pintu terbuka lebih lebar, dan Vincent melangkah masuk.

Aura Alpha-nya langsung mendominasi ruangan seperti badai yang tiba-tiba menerjang. Udara terasa lebih berat, seolah oksigen disedot keluar oleh kehadirannya yang mengintimidasi.

Dia bahkan tidak menatapku.

Matanya menyapu meja tulis, melewati tumpukan kertas kontrak yang baru saja kurobek, seolah itu tidak ada artinya. Seolah usahaku untuk memberontak hanyalah lelucon anak kecil yang tidak lucu.

"Vincent," Isabel merengek, segera menghambur dan memeluk lengan kekar pria itu seperti lintah. "Lihat, Sofia sepertinya tidak senang dengan kontrak dari ayahnya. Dia merobeknya. Mungkin dia merasa tidak pantas menerima 'didikan' darimu?"

Kata-kata itu berbisa, dirancang untuk merendahkan dan memprovokasi.

Vincent menoleh padaku. Tatapannya dingin, kosong, seperti melihat serangga yang mengganggu di ujung sepatunya.

Aku menahan napas. Tanganku yang terkepal memutih.

Bekas gigitan di leherku berdenyut nyeri, mengingatkanku pada kesalahan fatal tiga tahun lalu.

Saat itu, aku bodoh. Aku mencoba memberinya obat tidur agar bisa kabur dari perjodohan gila ini. Tapi takdir mempermainkanku. Obat itu memicu *Heat* pertamaku.

Dan malam itu, Vincent mencium *Scent*-ku.

Hukum alam mengambil alih. Biologi kami berteriak. Kami bersatu dalam kegilaan *Mate*. Dia meninggalkan gigitan di leherku—tapi bukan *Marking* yang sempurna. Hanya gigitan kepemilikan tanpa pengakuan jiwa.

Selama dua tahun, dia menggunakan *Alpha's Command* untuk membungkamku, menyembunyikan hubungan kami, sementara aku dengan naifnya berpikir *Mind-Link* tipis di antara kami adalah tanda cinta yang belum mekar.

Tapi Isabel datang. Sang "penyelamat" palsu.

"Biarkan saja," suara Vincent terdengar datar, tanpa emosi. "Dia hanya sedang mencari perhatian. Seperti biasa."

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada tamparan fisik.

Isabel tertawa kecil, kemenangan terpancar jelas di wajahnya yang berlapis riasan tebal.

Aku menarik napas dalam-dalam, menekan *Inner Wolf*-ku yang melolong sedih di sudut pikiranku. Tidak. Tidak ada lagi air mata.

Cukup.

Saat mereka berbalik untuk meninggalkan ruangan, aku membungkuk perlahan. Bukan untuk menghormati mereka, tapi untuk memungut serpihan kertas di lantai.

Setiap sobekan adalah harga diriku yang pernah diinjak, dan kini kumpulkan kembali.

Setelah pintu tertutup dan langkah kaki mereka menjauh, aku merogoh saku tersembunyi di balik lapisan rokku.

Aku mengeluarkan secarik kertas kecil yang kusut.

Di sana tertera koordinat perbatasan dan frekuensi *Mind-Link* darurat untuk Pack Yarunica.

"Vincent Dirgantara," bisikku pada kesunyian ruangan, suaraku bergetar bukan karena takut, tapi karena adrenalin. "Kau pikir aku hanya Omega-mu? Kau salah."

Aku menatap ke luar jendela, ke arah hutan gelap di kejauhan yang bermandikan cahaya bulan pucat.

"Mulai hari ini, kau bukan hanya kehilangan Mate yang kau buang," ikraku pada malam. "Tapi kau kehilangan jiwa yang tidak akan pernah bisa kau kendalikan lagi."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alpha Rexton, I'm Not Your True Luna
9.4
Akibat pengaruh alkohol, Amelie tidak sengaja menyerahkan kesuciannya kepada Alpha Rexton, kekasih dari kakak angkatnya. Diliputi penyesalan mendalam, ia memohon agar sang Alpha menolak dirinya demi menjaga perasaan Matilda, sosok yang telah merawatnya sejak kecil. Amelie rela mengorbankan batinnya asal keutuhan keluarga angkatnya tetap terjaga. Namun, rahasia takdir mate ini mengancam segalanya. Akankah hubungan mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Sampul Novel Luna Tak Terikat
8.0
Lima tahun memimpin suku, Kaitlin tetap menjaga kesuciannya. Ketika Rosalyn, kakaknya, pulang tanpa keturunan, Phillip Elliott mendadak menuntut seorang pewaris. Hati Kaitlin hancur saat mengetahui niat busuk Phillip yang hanya ingin menjadikannya rahim pengganti untuk menyokong posisi Rosalyn. Merasa dikhianati, Kaitlin memilih pergi dan kembali ke orang tua angkatnya. Tak disangka, Phillip yang biasanya bersikap dingin kini justru memohon padanya untuk kembali dengan penuh keputusasaan.
Sampul Novel Omega-nya yang Terbuang, Kehancuran Raja Alpha
9.1
Lima belas tahun mendampingi Baskara Adijaya, sang Alpha mematikan, hancur begitu saja saat aku menyadari pengkhianatannya. Aroma wanita lain dan pesan vulgar dari asistennya, Jasmine, membongkar perselingkuhan mereka. Akibat ikatan yang tercemar, kondisi 'Penolakan Jiwa' menyerangku, diperparah klaim kehamilan Jasmine. Kini, aku melepaskan peran sebagai penenang monster di dalam dirinya. Tanpa menuntut harta, aku memilih bebas dan bersiap meruntuhkan dunianya.
Sampul Novel Reject Me
9.0
Pasca-kematian misterius sang ayah, hidup Eliza berubah total. Sang ibu membawanya mengungsi ke kota asing demi keamanan. Namun, kepindahan ini justru menyingkap tabir rahasia asal-usulnya. Di tempat baru tersebut, sosok Henry hadir dan mengklaim Eliza secara posesif tanpa mau melepaskannya. Kini, Eliza harus menghadapi teror penguntit misterius sekaligus berjuang mengungkap dalang pembunuhan ayahnya. Akankah ia mampu bertahan menghadapi takdir rumit ini?
Sampul Novel Sang Luna yang Ditolak Alpha: Mengandung Anak Musuhnya
9.6
Demi Lyra, Alpha Kaelan tega mengkhianatiku. Aku dipaksa mengaku ternoda dan merawat anak haramnya. Tragisnya, saat aku hamil, Kaelan menyuruhku menggugurkan kandungan demi perasaan Lyra. Penderitaanku kian lengkap ketika ibunya menyekapku hingga aku kehilangan bayi kami. Di tengah kehancuran ini, rasa cintaku sepenuhnya mati. Melalui lolongan suci, kupanggil keluarga kerajaan dari Klan Taring Putih untuk menjemput putri mereka kembali.
Sampul Novel Wrong Marriage
9.3
Hidup Angel Matthew berubah total setelah menyerahkan kesuciannya kepada Erick Cullen, mahasiswa baru yang ternyata seorang vampir. Situasi kian pelik dengan kemunculan Jack Wild, sesosok werewolf yang juga mulai memburunya. Angel kini menyadari dirinya adalah Gadis Suci yang diperebutkan oleh kedua kubu. Terjebak di tengah perseteruan abadi antara klan vampir dan werewolf, ia tidak lagi memiliki jalan untuk melarikan diri dari takdir mistis ini.