APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pengkhianatanmu Adalah Kesalahan Terbesarmu

Pengkhianatanmu Adalah Kesalahan Terbesarmu

Sebagai anak angkat di keluarga Haris, hidup Alya hancur setelah dikhianati Revan hingga berbadan dua. Demi nama baik keluarga, ia diusir dan dipaksa menggugurkan bayinya. Alya menolak, lalu memilih pergi demi membesarkan putranya, Rayan, seorang diri. Saat telah sukses, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Revan yang kini datang memohon ampun. Meski pria itu mencoba menebus kesalahannya, kepedihan Alya terlanjur mendalam. Akankah ada kesempatan kedua?
Bab
Bagikan

Bab 1

Hujan baru saja berhenti sore itu ketika seorang anak perempuan kecil berdiri di depan gerbang besar rumah keluarga Haris. Bajunya lusuh, rambutnya lepek karena air hujan, dan matanya memancarkan rasa takut bercampur harap. Di tangan mungilnya, ia menggenggam boneka beruang kecil dengan salah satu matanya hilang.

"Namamu siapa, Nak?" tanya seorang wanita paruh baya yang membuka pagar. Suaranya lembut, tapi sorot matanya penuh selidik.

"A-Alya," jawab gadis itu pelan, suaranya bergetar.

Wanita itu menatapnya lama, lalu tersenyum samar. "Mulai hari ini, kamu tinggal di sini, ya. Aku Ratna, dan nanti kamu panggil aku Ibu."

Alya mengangguk ragu. Ia tak tahu bahwa langkah kecilnya memasuki rumah besar itu akan menjadi awal dari kisah panjang hidupnya - kisah tentang cinta, luka, dan kehilangan.

Tahun-tahun pertama berjalan penuh kebahagiaan. Alya tumbuh sebagai anak yang lembut dan penurut. Ratna benar-benar memperlakukannya seperti anak kandung sendiri, bahkan lebih lembut dibanding pada Revan, anak laki-lakinya yang berjiwa bebas dan sulit diatur.

Revan saat itu baru berusia sembilan tahun. Ia awalnya kesal harus berbagi kasih sayang dengan anak asing yang tiba-tiba datang. Tapi seiring waktu, hatinya luluh.

"Jangan nangis, nanti Ibu marah sama aku lagi," kata Revan suatu kali ketika Alya menangis karena dijahili teman sekolah. Ia menyodorkan permen karet sambil mengacak rambut Alya. "Udah, senyum. Kamu kan kuat."

Alya yang waktu itu masih kecil menatapnya dengan mata berkaca. "Kamu jahat tadi, ninggalin aku sendirian."

Revan terkekeh kecil. "Maaf, tadi aku cuma ambil air. Tapi tenang aja, mulai sekarang aku jagain kamu."

Janji polos seorang anak laki-laki yang seolah sederhana - tapi bagi Alya, janji itu berarti dunia. Ia mulai percaya, bahwa rumah itu benar-benar miliknya. Bahwa keluarga itu adalah tempat ia pulang.

Namun waktu berjalan. Revan tumbuh menjadi remaja yang keras kepala. Ia lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah, nongkrong dengan teman-teman, pulang larut malam, bahkan kadang mabuk. Haris sering menegur, tapi Ratna selalu memaafkan.

Sementara itu, Alya tumbuh menjadi gadis yang tenang dan rajin. Ia pandai memasak, sopan, dan selalu menjaga sikap. Tak jarang, Ratna memujinya di depan tamu-tamu mereka.

"Kalau semua anak perempuan seperti Alya, dunia pasti damai," ujar Ratna suatu malam.

Revan yang mendengar dari tangga hanya mendengus. "Iya, iya, si malaikat kecil," gumamnya sinis, lalu naik ke kamarnya tanpa bicara.

Sejak saat itu, hubungan mereka mulai renggang. Alya mencoba bersikap baik seperti biasa, tapi Revan semakin dingin. Kadang ia sengaja mengacuhkan Alya, kadang bersikap kasar tanpa alasan.

Alya tak mengerti kenapa Revan berubah. Ia hanya tahu, setiap kali Revan pulang dalam keadaan mabuk, matanya selalu tampak kosong.

Suatu malam, hujan turun deras. Petir menyambar, dan listrik di rumah padam. Ratna dan Haris sedang menghadiri acara bisnis di luar kota, meninggalkan rumah hanya dengan dua penjaga dan pembantu. Alya baru saja beranjak tidur ketika mendengar pintu depan dibuka dengan keras.

"Revan?" panggilnya pelan.

Langkah kaki berat terdengar menaiki tangga. Bau alkohol tercium kuat.

"Revan, kamu mabuk lagi, ya?" tanyanya dari balik pintu kamarnya. Ia khawatir, tapi juga takut.

Tak ada jawaban. Hanya suara langkah yang semakin dekat.

Ketika pintu terbuka, Revan berdiri di sana dengan pandangan gelap. Wajahnya merah, napasnya berat, dan matanya tak seperti biasanya. Alya mundur selangkah, jantungnya berdegup cepat.

"Kenapa kamu selalu pura-pura suci di depan mereka, ha?" suaranya berat, seperti menahan amarah dan emosi yang bercampur.

"Aku... aku nggak ngerti maksud kamu apa," jawab Alya gemetar.

Revan mendekat, membuat Alya terdesak ke dinding. "Kamu pikir aku nggak tahu semua orang lebih sayang kamu? Bahkan Ibu... Ibu lebih bangga sama kamu daripada aku sendiri."

"Revan, kamu mabuk. Tolong keluar," katanya sambil menahan tangis.

Tapi Revan tak bergerak. Malam itu, dalam gelap, sesuatu terjadi - sesuatu yang tak pernah seharusnya terjadi antara mereka.

Dan dunia Alya hancur.

Pagi harinya, Alya duduk di lantai kamar, memeluk lututnya sambil menatap kosong. Tubuhnya gemetar, matanya bengkak. Ia tak bisa berhenti menangis.

Ketika Revan sadar dari mabuknya, ia sendiri ketakutan. Ia mencoba meminta maaf, tapi setiap kata yang keluar terdengar seperti racun bagi Alya.

"Aku nggak sengaja... aku nggak tahu apa yang aku lakukan semalam..."

"Pergi," bisik Alya pelan tapi tegas. "Aku nggak mau lihat kamu lagi."

Sejak hari itu, dunia mereka berubah total. Alya tak pernah bicara lagi dengan Revan. Ia menghindar sebisa mungkin, sementara Revan memilih bersembunyi dalam rasa bersalahnya sendiri.

Namun kebohongan tak bisa bertahan selamanya. Dua bulan kemudian, Alya mulai sering mual dan pingsan. Saat Ratna membawanya ke dokter, rahasia itu terbongkar.

"Alya mengandung, Bu," kata dokter dengan wajah canggung.

Ratna membeku. Dunia seolah berhenti berputar. "A... apa?"

Dan ketika Alya akhirnya mengaku siapa ayah dari bayi itu, Ratna menamparnya tanpa ampun.

"Kau memalukan! Bagaimana bisa kau menuduh kakakmu sendiri melakukan hal sekeji itu?! Apa kamu gila?"

Alya hanya diam. Air matanya mengalir tanpa suara. Ia tak lagi punya tenaga untuk menjelaskan.

Sementara Revan berdiri di balik pintu ruang tamu, mendengar semua itu dengan wajah pucat. Tapi ia tetap diam - terlalu pengecut untuk mengaku.

Hari itu juga, Ratna memintanya pergi.

"Keluar dari rumah ini, Alya. Aku tak mau menanggung malu!"

Dengan tas kecil dan beberapa helai baju, Alya melangkah keluar dari rumah yang dulu ia sebut rumah. Hujan kembali turun, sama seperti hari ketika ia pertama kali datang ke sana.

Malam-malam setelahnya adalah neraka. Alya tinggal di rumah sewa kecil di pinggiran kota, bekerja di warung makan siang malam untuk membayar sewa dan kebutuhan harian. Tubuhnya lemah karena hamil, tapi ia tak menyerah.

Dalam kesunyian, ia sering memeluk perutnya dan berbicara pelan.

"Nak, kamu kuat ya. Mama janji, Mama nggak akan biarin kamu sendirian. Kita cuma punya satu sama lain."

Setiap kali rasa sakit datang, Alya menggigit bibirnya, menahan tangis. Dunia menolaknya, tapi ia tetap bertahan.

Hingga malam itu, saat kontraksi pertama datang, ia sendirian di rumah. Ia berjuang melahirkan di rumah bidan dengan uang seadanya. Tangis bayi laki-laki itu pecah di udara dingin dini hari, menjadi suara paling indah yang pernah ia dengar.

"Namanya Rayan," bisik Alya lemah. "Artinya cahaya."

Tangannya gemetar saat menyentuh pipi mungil bayinya. Dalam benaknya, ia berjanji - masa lalu akan berhenti di sini. Anak itu tak akan tahu tentang luka ibunya.

Tahun-tahun berlalu, Alya membesarkan Rayan dengan penuh kasih. Ia membuka usaha kecil menjahit, hidup sederhana tapi bahagia. Setiap pagi Rayan memeluknya sebelum berangkat sekolah.

"Ma, nanti aku bawa nilai bagus ya!" katanya ceria.

Alya tersenyum lembut. "Mama nggak butuh nilai bagus, Mama cuma mau kamu bahagia."

Kadang ia teringat masa lalunya, tapi ia belajar memaafkan takdir, walau belum bisa memaafkan pelakunya.

Hingga suatu hari, saat ia menjemput Rayan di sekolah, seseorang berdiri di dekat gerbang.

Seorang pria dengan kemeja rapi, wajahnya tampak dewasa, tapi sorot matanya tak asing. Revan.

Waktu seolah berhenti. Alya terpaku, napasnya tercekat. Revan melangkah mendekat, suaranya pelan tapi jelas.

"Alya..."

Ia menunduk menatap anak kecil di sampingnya - Rayan. Mata keduanya sama, begitu mirip.

"Dia... anakku?" suara Revan bergetar.

Alya memeluk Rayan erat, seolah takut anaknya diambil. "Jangan berani-berani mendekat. Semua sudah berakhir, Revan."

Tapi Revan tak pergi. Ia menatap Alya lama, dengan penyesalan yang begitu dalam. "Aku cuma mau minta maaf. Sekali ini aja."

Air mata yang selama bertahun-tahun Alya tahan akhirnya jatuh.

"Maafmu nggak akan bisa ngapus apa yang kamu lakuin."

Dan di tengah jalan sekolah yang ramai, dua jiwa yang dulu terikat oleh kesalahan kembali dipertemukan - bukan untuk mengulang, tapi mungkin untuk menebus.

Namun bagi Alya, maaf bukan hal mudah. Luka itu masih berdarah, meski waktu telah berlalu.

Di hatinya hanya ada satu doa kecil setiap malam -

Aku ingin kuat. Demi anakku. Bukan demi masa lalu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Amanda Rhea
9.1
Terlempar ke masa lalu, Amanda Rhea kembali dipertemukan dengan Hagana. Takdir unik kemudian menjalin ikatan misterius antara Amanda dan putri dari pria tersebut. Namun, kedamaian mereka terancam ketika iblis mimpi mulai muncul dan mencelakai orang-orang terdekat Amanda. Di tengah teror mencekam yang terus mengintai, mampukah cinta lama antara Amanda dan Hagana tumbuh kembali seiring takdir yang terus mempersatukan mereka?
Sampul Novel Cinta satu malam dengan boss
9.0
Seorang wanita terkejut saat bos miliardernya mengajukan penawaran tak biasa. Tanpa dilandasi cinta, pria berkuasa yang dikelilingi banyak wanita itu secara dingin menegaskan bahwa dia hanya menginginkan tubuhnya demi kepuasan fisik semata. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit dalam hubungan tanpa status yang murni transaksional ini, terus mempertanyakan alasan di balik keputusan sang bos memilih dirinya sebagai pemuas hasrat pribadi.
Sampul Novel Hidupku yang Kaya Mendadak
8.5
Demi membiayai kuliah dan membelikan iPhone kekasihnya, seorang pemuda miskin rela bekerja keras setengah mati. Sialnya, ia justru dikhianati dan memergoki pacarnya bermesraan dengan pria lain. Tak cukup diselingkuhi, ia juga dihina dan dipukuli hingga sangat terpuruk. Namun, roda nasib berputar saat sang ayah menelepon dan mengungkap rahasia besar bahwa ia sebenarnya adalah putra kandung seorang miliarder yang sangat kaya raya.
Sampul Novel PUSTAKA CERITA DEWASA 21+
7.9
Buku ini merangkum deretan kisah cinta penuh gairah dari berbagai karakter unik, khusus untuk pembaca dewasa. Setiap bab menyajikan fantasi romantis yang berani dan menggoda, dirancang khusus menjadi teman membaca yang intens di malam hari. Rasakan dinamika hubungan yang mendalam lewat narasi yang memicu imajinasi di setiap lembarnya. Segera temukan dan nikmati kepuasan cerita yang menghibur ini.
Sampul Novel SALAH KIRIM KADO
9.5
Akibat kado yang salah kirim, Sarah mengetahui pernikahan siri suaminya, Indra, dengan Siska. Kecewa dan marah, Sarah merancang rencana mempermalukan mereka sebelum mengajukan cerai. Saat menghadapi badai hidup ini, Dareen muncul dan mengungkapkan perasaan cintanya yang telah lama disimpan. Ketika Indra bangkrut, Siska yang materialistis mulai menyebar fitnah untuk memisahkan Sarah dan Dareen. Mampukah Sarah meraih kebahagiaannya, atau ia akan hancur oleh dendam Siska?
Sampul Novel Sesal yang Terlambat
9.4
Lima tahun silam, ia memilih pergi saat didesak melakukan tes DNA untuk sang anak. Sekarang, ia kembali dan memohon hal serupa. Di tengah kesuksesanku, aku curiga ia hanya ingin memanfaatkan anak itu. Namun, kebenaran di balik kepulangannya sungguh tak terduga. Ia ternyata ingin menitipkan buah hati kami karena sisa usianya tak lama lagi. Penyesalan mendalam kini mulai menghantui seiring terungkapnya rahasia masa lalu.