
Pengkhianatan Berujung Luka
Bab 2
Hendra mengirimkan pesan tanpa henti seperti orang gila. Notifikasi pesan terus muncul di ponsel, tapi aku tidak mau membukanya.
Aku mengemasi barang-barangku di rumah. Tiba-tiba aku menyadari ternyata barang-barangku di rumah sangat sedikit.
Aku memperhatikan barang-barang di rumah, kebanyakan semuanya merupakan barang milik suamiku, anakku, menantu, dan cucuku.
Selain beberapa pakaian dan kebutuhan sehari-hari, tidak ada barang lain di koperku.
"Bu, buat apa cari ribut? Ibu bukan anak kecil lagi, kenapa minta cerai?"
"Kalian sudah menikah puluhan tahun, masa Ibu belum mengenal sifat ayah? Itu hanyalah notifikasi, apa artinya?"
Benar, akulah satu-satunya orang yang mengenal sifat Hendra.
Oleh karena itu, aku sangat yakin ….
Hendra selingkuh.
Hendra memilih selingkuh tepat di hari perayaan ulang tahun pernikahan kami hari ini.
Kenapa tidak cari hari lain? Kenapa dia menghancurkan ketulusanku?
Aku malas berdebat dengan putraku. Bagi putraku, ayahnya yang paling hebat dan sosok yang paling dia sanjung.
"Bu, kalau kalian bercerai, bagaimana pandangan orang nanti? Bagaimana dengan reputasi ayah?"
Mendengar itu, langkahku terhenti.
Putraku senang karena mengira dia berhasil membujukku. Aku menatap putraku dengan tatapan dingin, seolah-olah sedang menatap orang asing.
"Kalau ayahmu memang nggak selingkuh, dia nggak perlu takut. Lagi pula, ada kamu yang melindungi ayahmu, 'kan?"
"Di matamu, aku hanyalah ibu rumah tangga yang nggak berguna. Dibandingkan ayahmu yang seorang profesor terkemuka, siapa aku?"
Ayah dan anak ini berada di kubu yang sama, mana bisa aku menang melawan mereka?
Aku sudah menjaga mereka berdua dengan tulus selama ini, pada akhirnya mereka berdua juga yang menyakiti hatiku.
Menantuku tidak tahu apa yang terjadi, dia memegangku dengan ragu, katanya, "Bu, jangan pergi. Tunggu sampai ayah pulang, nanti kita bicarakan masalah ini baik-baik."
Cucuku juga memeluk kakiku sambil berkata, "Nek, jangan pergi. Aku sangat sayang sama nenek!"
Hanya menantuku yang berbakti dan cucuku yang lucu ini yang membuatku tidak rela meninggalkan rumah ini.
Saat menengadahkan kepala, aku melihat ekspresi muak putraku. Aku kecewa melihatnya.
Aku sudah berkorban selama 30 tahun, ini waktunya aku berhenti.
Putraku menilai wanita yang dia panggil "Tante Ella" yang cerdas dan anggun, jauh lebih pantas menjadi ibunya.
"Kring … kring …."
Pada saat aku hendak meninggalkan rumah sambil menyeret koper, ponsel putraku berbunyi.
"Halo, apa benar Anda adalah keluarga Tuan Hendra?"
"Pak Hendra kecelakaan di jembatan layang, sekarang sedang dirawat di UGD rumah sakit. Mohon segera datang ke rumah sakit!"
…
"Ibu sudah puas sekarang?"
"Sudah setua ini, Ibu masih cari ribut. Gara-gara Ibu, Ayah kecelakaan saat perjalanan pulang. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Ayah, aku nggak mau mengakuimu sebagai ibuku lagi!"
Selama perjalanan ke rumah sakit, putraku terus menyalahkanku.
"Fokus menyetir saja, kamu juga mau kita kecelakaan?"
Aku membalas ucapan putraku dengan kesal, sedangkan putraku memelototiku.
"Bu, jangan marah. Dia bicara begitu karena cemas."
Menantuku menghiburku sehingga emosiku mereda.
Hendra pintar menyetir, dia juga banyak pengalaman dalam menggali makam kuno yang ada di daerah terpencil. Demi melindungi peninggalan sejarah, dia bisa mengendarai mobil jeep di tengah hujan deras. Mana mungkin dia bisa kecelakaan di jembatan layang?
Dari hasil pemeriksaan polisi, Hendra bukan ditabrak, melainkan Hendra sendiri yang hilang kendali saat menyetir, kemudian dia menabrak pembatas jalan.
Putraku sibuk mengurus administrasi di rumah sakit. Ketika aku ingin melihat rekam medis suamiku, putraku menghalangiku.
Anda Mungkin Juga Suka





