APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel PENGANTIN DADAKAN (Menikah Dengan Chef)

PENGANTIN DADAKAN (Menikah Dengan Chef)

Hidup Cantika berbalik seratus delapan puluh derajat akibat sebuah peristiwa tak disangka. Tanpa ada rencana atau persiapan, ia mendadak dipaksa masuk ke dalam pernikahan kilat yang sangat mengejutkan. Kenyataan baru sebagai istri yang datang tiba-tiba ini membuatnya dilingkupi rasa bingung sekaligus linglung. Kini, Cantika hanya bisa tertegun dan meratapi takdirnya yang berubah drastis dalam sekejap, terikat dalam pernikahan yang tak pernah ia bayangkan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Di sinilah aku sekarang, Bestie. Duduk di sebelah Mas Jimmi, menunggu akad nikah segera dilaksanakan. Besar harapanku Mas Jimmi mati sesak napas tiba-tiba karena keselek mikropon. Tadi hampir aku kabur, tapi, ancaman dari mamaku, hiks. Potong uang jajan lima puluh persen selama enam bulan. Oh, tidak, Bestie, aku paling nggak bisa kalau miskin uang jajan. Nanti aku ngemil apa? Masak minta sama suami orang?

“Saudara Jimmi Zolla, apakah anda sudah siap menikah dengan Saudari Cantika Ayu Jelitta Binti Rahmat Syarifuddin.” Pertanyaan dari pak penghulu.

Ayo, Mas, jawab, nggak siap. Males aku lihat mukamu itu. Ditekuk aja dari tadi, kayak sedotan es cendol. Duh, jam segini kebayang segarnya minuman dingin pelepas dahaga.

“Siap, Pak!” jawab si Mamas tanpa keraguan.

Aku melirik sebentar ke arahnya. Pandangan kami bertemu sejenak. Apa lihat-lihat, tak senang. Pengen banget rasanya teriak gitu di depan Mas Jimmi, kalau aku nggak tahu malu sih.

“Saudari Cantika Ayu Jelita, Nduk, sudah siap menjadi istri dari mamasmu, ini?”

Eh, bentar, aku perhatikan dulu. Ini, kan, penghulu viral yang sering sliweran di tik tok itu, tapi tetep aja pernikahan ini bukan yang aku inginkan. Warna baju pengantinnya aja kontras banget. Mas Jimmi baju putih, aku baju biru laut mati.

“Nggak!” jawaban spontan yang keluar dari bibirku.

Ya, memang gitu isi hatiku, masak mau dipaksakan. Mudah-mudahan habis pernikahan sandiwara ini Mas Jimmi menceraikan aku. Bodo amatlah jadi janda di usia muda. Janda kembang high class apa salahnya.

“Ndak siap untuk langsung malam pertama, toh, aaa ketahuan dari raut mukanya.” Dih, si bapak penghulu viral. Apaan, malam pertama. Mikir nanti malan makan seblak atau bakso aja aku bingung. Dua-duanya sama-sama enak.

“Maklum, Pak, anak saya masih kecil, tontonannya aja Boboiboy kartun setiap hari,” sahut mamaku, buka kartu depan orang.

“Yo, ndak apa-apa, nanti bisa buat anak sehebat Boboiboy.” Dih, masih bahas anak juga, pengen kabur rasanya aku dari sini.

“Sudah siap, ya. Ayok kita mulai ijab kabulnya,” kata pak penghulu viral lagi.

Aku risih beud denger kata-kata suci ini diucapkan oleh papaku terus dihawab sama Mas Jimmi.

Bayangiiiin, dalam beberapa jam aja statusku dari gadis suci harum mewangi berubah jadi istri. Mana Mas Jimmi lancar banget lagi, tuh, akadnya. Nggak ada acara salah sebut nama atau salah sebut nominal. Aje gile, pagi ini aku adi orang kaya dadakan, mahar emas sama uang lima puluh juta rupiah itu jadi punya aku. Ya, aku cuman fokus di bagian itu. Yang lain bukan urusanku.

Eh, tapi ndak bisa juga ndak jadi urusanku. Secara kerjaan, ngepel, nyuci piring, bersihin rumah, cuci baju dan segala macamnya pasti jadi bagianku. Makanya zaman sekarang cewek-cewek banyak takut nikah, sih. Udah disuruh pinter cari uang, eh, masih dikasih beban ngurus rumah, kebanyakan lakinya nggak mau tahu. Udah berasa raja banget di rumah. Untungnya mama sama papaku nggak gitu. Nggak tahu, deh, sama Mas Jimmi. Awas aja kalau nuntut macem-macem. Aku tinggalin seperti calon istrinya baru tahu.

“Nak Cantika, hayoo, melamunkan apa? Ndak sabar malam pertama ya?” celetuk pak penghulu membuyarkan lamunanku. Hadeeeh, malam pertama melulu yang dibahas.

“Ayo, coba sekarang Mas Jimmi dicium kening istrinya. Terus Nak Cantika, dicium tangan suaminya.”

Hmmmh, kenapa harus ada adegan ginian, sih. Apa nggak bisa langsung bubar gitu aja. Perutku udah laper lagi. Mana makanan di meja kayaknya udah melambai-lambai minta dijamah.

Aku diminta berhadap-hadapan sama Mas Jimmi. Untuk pertama kalinya, aku dan dia saling menatap begitu dalam. Apakah aku jatuh cinta pada pandangan pertama seperti di novel-novel? Tidack, Bestie! Itu tidak akan pernah terjadi. Yang ingin aku lakukan justru menculek dua bijik matanya sampai Mas Jimmi nangis. Gemes, geregetan, orang yang paling aku benci dari dulu tiba-tiba saja menjadi suamiku.

“Awas kamu, ya!” Aku berbicara perlahan di depan wajahnya. Mas Jimmi diam saja. Aku tahu, aku paham, pasti dia nggak mau aku jadi istrinya. Secara dulu dia sering marahin aku waktu sowan ke ruamh mama sama papa.

“Masak anak gadis nggak bisa masak!” Inget banget aku kata-kata dia itu.

Iiih pengen aku remes-remes mulutnya pakai cabe merah, biar pedes. Urusan masak nggak mandang gender. Zaman sekarang laki-laki sama perempuan dituntut untuk sama-sama bisa cari uang, jadi nggak salah, donk, kalau kita harus sama-sama bisa masak?

“Jangan deket-deket!” Aku bicara pelan lagi, tapi gigiku rapat luar biasa. Mas Jimmi berkedip sebentar, kemudian mencium keningku sekilas. Gitu doank, udah selesai!

“Loh, kok, malu-malu gitu. Ulang lagi, donk, sekalian buat kenang-kenangan.” Pak penghulunya bisa pulang aja ngga, sih, nyebelin banget dari tadi.

Terpaksa jadinya adegan cium kening diulang lagi. lebih perlahan seperti slow motion. Serius bibir Mas Jimmi rasanya pengen aku tonjok, Ya Allah. Akhirnya, kesucianku ternodah. Serius sekali Mas Jimmi mencium keningku. Detik itu juga rasanya kami berubah jadi artis yang dikeliling paparazzi. Orang ambil foto di mana-mana, blitz kameranya nggak dimatiin lagi. Udah berasa Lisa Black Pink aku jadinya.

“Mundur, Mas, aku santet baru tahu rasa nantik.” Kelamaan bibir Mas Jimmi nempel di keningku. Dia langsung mundur perlahan mendengar ancamanaku. Ahahahaha, aku memang sesepikopat itu jadi orang.

Terus orang-orang ngelihatin aku. Ya, aku harus ngapain? Masak disuruh salto.

“Nak, Cantika, ayo, dicium tangan suaminya. Cari keberkahan di sana.” Oh, harus, ya, ternyata. Kirain bisa di-swipe karena aku nggak like.

Kembali pandangan mata kami bertemu. Aku yakin Mas Jimmi pasti udah kesel sama aku. Bodo amat, bukan urusanku. Aku meraih tangan si galak ini, terus sengaja aku remas kuat-kuat. Dia agak kaget, biarin, dikira aku mau apa jadi istrinya. Tapi, akhirnya aku cium juga sih tangannya, dan adegan berlanjut sampai seterusnya. Minus pamer buku nikah, dengan kata lain pernikahan kami berdua ini sirri saja, karena belum ada kekuatan di depan hukum.

Kita sama-sama tahu, ya, Bestie, dari dulu kalau nikah sirri yang rugi selalu perempuan. Yang laki-laki enak, tinggal kabur aja mereka. Mau nikah banyak kali juga bebas.

Dari jauh aku lihat Mas Hilmi ketawa sama masku yang lain. Apes beud aku hari ini. Lalu apakah aku harus bersedih hari ini? Tentu tidack, karena perutku lapar sekali.

“Can, nanti dandan sama MUA ya. Gantian pakai baju yang sama dengan Mas Jimmi,” kata mamaku.

Terserah, deh, rasanya hari ini aku nggak punya hak sama hidupku. Oke, Cantika, masalah seberat apa pun kamu bisa hadapi, asal jangan lupa satu hal, makan. Aku harus makan, makan, dan makan.

“Eh, kamu mau ke mana?” Mamaku memegang tanganku.

“Mau makan, laper. Ada soto betawi kayaknya.”

“Duduk di sini, Can, kalian itu pengantin, biar Mama ambilin sotonya.”

“Dagingnya yang banyak, ya, Ma, bawang gorengnya juga, cabenya tiga sendok.” Ya, aku suka makan pedes.

Sisa kami berdua duduk di pelaminan sebentar menjelang ganti baju. Aku nggak terlalu memperhatikan Mas Jimmi ngapain. Yang jelas aku lihat dia tiap sebentar mencet-mencet hapenya. Pasti mau hubungi calon istrinya yang udah kabur duluan. Salah sendiri, ngapain galak-galak jadi orang.

“Nak Jimmi mau makan juga?” Mamaku baik sekali mau nawarin makan sama manusia kanebo kering di sebelahku. Aku sendiri mengaduk-aduk soto betawi yang aromanya sudah sampai ke kepala. Aku makan duluan tanpa memandang kiri dan kanan lagi.

“Can, Nduk, mbok, ya ditawarin gitu suaminya makan,” tegur mamaku.

Ah, ngapain juga, Mas Jimmi, kan, bisa jalan sendiri. Sekali lagi bodo amat, aku lapar. Lebih baik makan soto daripada makan Mas Jimmi. Dia juga dari tadi bengong aja, entar lagi kesambet baru tahu rasa.

Aku lihat Mas Jimmi buka-buka galeri ponselnya. Ada banyak fotonya sama calon istrinya di sana. Mulutku fokus makan, tapi mataku sibuk ngintip. Pastilah foto-foto itu akan disimpan sampai mati kalau perlu. Namanya lakik, katanya nggak akan pernah lupa sama cinta pertamanya. Terus cinta selanjutnya buat pasangan cuman sisa-sisa remahan rengginang aja.

Eh, ta-ta-tapi, tapi, eh, fotonya di-delete semua sama Mas Jimmi. Aku membelalakkan mata dan spontan mendekat ke arah Mas Jimmi. Kuah sotoku tumpah kena bajunya. Terus nggak sengaja pandangan mati kami bertemu lagi.

Jeng, jeng, jeng. Woow, apakah semudah itu bagi laki-laki menghapus sebuah kenangan. Aing tidack percaya sama sekali. Lebih percaya kalau buaya bisa tobat dari sifat suka menggodanya.

“Mas minta maaf, sudah menyusahkan kamu.” Wiiih akhirnya, es batu ini ngomong juga.

“Bayar!” jawabku asal. See, dia diam aja.

Bersambung

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Istri Polos sang Milyarder
8.6
Akibat ulah orang tak bertanggung jawab, Cantika tak mampu membayar biaya pengobatan ayahnya. Demi melunasi utang medis tersebut, ia terpaksa menikah sebagai istri kedua seorang miliarder dan bersedia mengandung anaknya. Namun, pernikahan impiannya justru berubah menjadi siksaan yang kejam layaknya neraka. Akankah perempuan polos ini sanggup bertahan menghadapi penderitaan tersebut, atau ia akan memilih melarikan diri demi meraih kembali kebebasannya?
Sampul Novel Jejak Cinta di Atas Abu
9.7
Tiga hari setelah kematianku, Sandi Subowo menerima panggilan telepon untuk mengidentifikasi jasadku. Alih-alih peduli, dia justru asyik memeluk wanita lain dan dengan dingin meminta petugas mengkremasi tubuhku terlebih dahulu sebelum menghubunginya lagi. Setelah ragaku hangus terbakar menjadi abu di dalam tungku, pihak rumah abu kembali menghubungi Sandi. Dengan helaan napas tidak sabar dan enggan, pria itu akhirnya bersedia datang untuk menjemput sisa jasadku yang telah tiada.
Sampul Novel Menantu Yang Tak Diinginkan
8.3
Pernikahan Anara Alfhatunnisa Zayba dengan seorang pria mapan berujung pilu saat sang suami mengabaikannya di malam pertama demi pekerjaan. Alih-alih bahagia, Anara justru terjebak dalam siksaan batin akibat ibu mertua yang cerewet dan ipar yang egois. Keadaan kian memburuk saat suaminya diduga berselingkuh. Muak dengan segala tekanan dan perlakuan buruk keluarga barunya, Anara kini bertekad bulat untuk bangkit dan mengubah jalan hidupnya.
Sampul Novel Mencintai Gadis Amnesia
8.5
Belasan tahun hidup bersama Amelia rupanya tak membuat Adib jatuh cinta. Hatinya justru terpikat pada Adiba, gadis hilang ingatan yang ia selamatkan setengah tahun lalu. Walau ditentang keras oleh orang tua serta keluarga Amelia, tekad Adib untuk menikahi Adiba tidak goyah. Sang ibu akhirnya mengajukan syarat berat: Adib wajib melacak keluarga asli Adiba dan siap menghadapi segala konsekuensi. Sanggupkah Adib mempertahankan cintanya saat badai besar mulai mengancam hubungan mereka?
Sampul Novel Merindu Suamimu
9.1
Pertemuan kembali Fino dan Melisa setelah lama terpisah membangkitkan lagi perasaan cinta yang pernah ada. Namun, situasi kini tak lagi sama dan jauh lebih rumit. Status Nadia sebagai istri sah Fino menjadi tembok besar yang menghalangi bersatunya cinta lama mereka. Melisa kini dihadapkan pada pilihan untuk kembali terluka, sementara Fino dituntut berani mengambil risiko besar demi membayar penyesalan masa lalunya.
Sampul Novel Terjerat Cinta Sang Kakak Ipar
8.2
Kehidupan Syera berubah rumit sejak tinggal bersama kakaknya, Syima. Murka akibat perselingkuhan Syima, Raihan meluapkan dendamnya kepada Syera. Namun, kebencian itu lambat laun berubah menjadi cinta yang tulus. Di belakang keluarga, keduanya pun terjerat dalam hubungan asmara terlarang yang sangat rahasia. Situasi semakin pelik dan mencapai puncak konflik saat Syera mendapati dirinya hamil akibat hubungan mereka.