APKDock Logo
Sampul Novel Mencintai Gadis Amnesia

Mencintai Gadis Amnesia

8.5 / 10.0
Belasan tahun hidup bersama Amelia rupanya tak membuat Adib jatuh cinta. Hatinya justru terpikat pada Adiba, gadis hilang ingatan yang ia selamatkan setengah tahun lalu. Walau ditentang keras oleh orang tua serta keluarga Amelia, tekad Adib untuk menikahi Adiba tidak goyah. Sang ibu akhirnya mengajukan syarat berat: Adib wajib melacak keluarga asli Adiba dan siap menghadapi segala konsekuensi. Sanggupkah Adib mempertahankan cintanya saat badai besar mulai mengancam hubungan mereka?

Mencintai Gadis Amnesia Bab 1

“Menikah sama Amel, atau kamu enggak usah balik ke rumah Mama.” Satu kalimat to the point yang diucapkan Aisyah saat pertama kali teleponnya diangkat, membuat sang putra menggeram di tempatnya. Dia langsung mengeratkan pegangan pada benda elektronik yang masih menempel di telinga kanannya.

Lelaki beralis tebal itu mengembuskan napas panjang. “Mama, masa kalimat pembukanya seperti itu? Tidak ada niat menanyakan kabar anaknya, gitu?” keluhnya seraya memijit pelipis. “Aku juga sudah lama tinggal terpisah sama Mama, ya kali tidak rindu?”

Karena sejak tahun pertama menjadi dosen, dia pindah ke salah satu rumah kontrak di dekat kampus. Selain mempertimbangkan lokasinya yang lebih dekat dengan kampus, daripada jarak dari rumahnya, sedikit banyak tuntutan Aisyah yang menginginkannya segera menikah juga ikut menjadi pertimbangan. Secara tidak langsung, dia menghindari tuntutan sang mama dengan kabur.

“Apakah pantas kamu bertanya seperti itu sama mamamu sendiri? Harusnya Mama yang tanya! Mau sampai kapan kamu mengelak dari Mama, Adib? Mama pusing mikirin kamu. Makin tua kok makin enggak bisa diatur? Disuruh nikah aja susah. Sudah begitu, jarang pulang ke rumah mamanya. Sudah merasa tidak punya mama kali, ya?”

Embusan napas lelaki itu kian gusar. Posisi duduk yang semula tegak, berubah sedikit condong ke depan. Dia menumpu kepala di meja kerjanya. Ekor matanya menatap ke sekeliling, memastikan tidak banyak orang di sana. Beruntung sekali suasana kantor cukup lengang. Karena memang saat itu masih waktunya para dosen mengisi materi di kelas masing-masing. Para staf yang biasanya siaga di kantor, entah sedang ke mana.

Cukup lama waktu berlalu dengan keheningan, akhirnya Adib buka suara karena sang mama yang terus menuntutnya. “Mama, aku lagi di kampus. Aku minta tolong sama Mama, kalau mau bicara soal itu, nanti, ya. Aku akan pulang ke rumah Mama, kita bahas di sana.” Meskipun sudah kesal saat kalimat pembuka telepon sang adalah kalimat menyebalkan itu lagi, Adib memang harus bisa menahan diri untuk tidak lepas kendali. Karena selain kondisi yang tidak tepat—sebab masih berada di tempat kerja—Adib tidak ingin pembicaraan dengan mamanya itu kembali berakhir dengan perdebatan seperti yang sudah-sudah.

“Enggak ada bantahan. Mama sudah kepalang kesal sama kamu. Mumpung anak durhaka yang super sibuk ini sedang kedatangan setan putih untuk mengangkat telepon mamanya sendiri, Mama enggak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, atau kamu akan kabur lagi dan susah dihubungi.”

Sekali lagi Adib memijat pelipis. Ekspresi yang tampak di wajahnya yang terbilang rupawan meski dengan warna kulit sawo matang, adalah kusut. Kentara sekali bahwa dia enggan dengan pembahasan yang digiring oleh sang mama. Meskipun pada satu sisi ada rasa bersalah karena memang dia sering mengabaikan pesan dan telepon wanita itu. Ya, demi tidak mendengar tuntutan untuk segera memiliki pendamping hidup, Adib bahkan sampai seperti itu.

“Kenapa diam? Kamu sudah sadar kalau apa yang Mama bilang adalah benar, kan?”

Adib menegakkan tubuh tetapi tidak menjawab pertanyaan sang mama. Dia malah menatap laptop yang masih menyala karena pekerjaannya belum selesai. Yakin bahwa pembicaraan dengan Aisyah ini akan memakan banyak waktu, lelaki yang bekerja sebagai tenaga pendidik di salah satu kampus swasta itu perlahan menutup operasi benda itu. Yang lebih penting saat ini adalah meredakan emosi sang mama. Jadi, dia memang harus mengesampingkan sebentar pekerjaannya. Lagi pula dia memang sudah tidak mempunyai jadwal mengajar setelah ini. Pekerjaan tadi bisa dikerjakan di rumah.

“Ahmad Adib Al-Faroby, kamu dengar Mama bicara, kan? Kenapa malah diam saja?”

Adib menghela napas. “Iya, mamaku sayang. Aku dengar. Ini aku lagi siap-siap untuk pulang ke rumah Mama. Kita akan bahas permintaan Mama yang satu itu.” Adib memasukkan laptop hitam itu ke dalam ransel berwarna hitam pula. Dia rapikan beberapa buku dan jurnal yang berserakan, menumpuknya di satu tempat khusus yang ada di sudut meja. Terakhir, setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, dia melangkah untuk keluar dari kantor Fakultas Tarbiyah itu.

“Awas saja kalau enggak datang. Nanti Mama penggal lehermu biar tahu rasa.”

Adib meringis tanpa suara. Mamanya ini kalau sudah marah, sadis juga. Sangat bisa membuat bulu kuduk merinding. “Kalau aku dipenggal, Mama enggak bakal punya mantu, lo. Alih-alih punya mantu, anaknya pun mungkin bakal tidak ada.”

Aisyah mendengkus keras. “Sembarangan kalau ngomong. Kalau ada di depan Mama, sudah Mama pentokkan ke pintu tuh kepala kamu.”

Lagi, Adib meringis tanpa suara. Dengan spontan dia menggigit bibir mendengar kata-kata mamanya yang kian sarkasme. “Mama, tenang, Ma. Tidak usah emosi begitu, ya. Ini aku kan sudah mau pulang ke rumah Mama.”

“Mama begini juga karena kamu! Mama kesal sama kamu yang hobi berkelit terus kalau Mama ngomong.” Adib beristigfar dalam hati. Jika saja tidak ingat akan siapa dan jasa apa yang telah wanita itu lakukan untuknya, sudah pasti Adib memarahinya habis-habisan. Mood-nya sedang buruk, tetapi dipaksa untuk berdebat. Apalagi kata-kata yang selalu Aisyah ucapkan penuh penekanan dan tidak mau dibantah.

“Berkelit bagaimana, sih, Ma? Perasaan aku tidak ada benarnya di mata Mama.”

“Ya karena kamu selalu membantah Mama. Coba enggak membantah, pasti Mama enggak akan sebegininya sama kamu.”

Mama, oh, Mama. Kenapa makin menjadi-jadi, sih?

“Pak Adib masih ada kelas?” sapa Pak Alka ketika berpapasan dengan Adib di depan pintu. Dosen yang juga mengajar di Fakultas Tarbiyah itu baru saja datang dari kelas—usai mengisi materi. Adib yang tampak sedikit melamun meski kakinya terus melangkah itu lantas mengalihkan pandang ke arah dosen tersebut. Dia kemudian menggeleng sambil tersenyum, memberi isyarat kalau sedang menerima telepon.

“Pamit, ya, Pak,” pelan Adib seraya menjauhkan ponselnya dari telinga. Pak Alka mengangguk maklum, kemudian berlalu menuju dalam kantor. Sedangkan Adib, terus melangkah menuju parkiran dengan panggilan yang masih terhubung dengan Aisyah. Tentunya dengan omelan-omelan yang wanita itu ucapkan sepanjang perjalanan.

Begitu sampai di tempat mobilnya terparkir, Adib membuka pintu kemudian duduk di belakang kemudi. Dia pejamkan matanya untuk menetralisir kekesalan. Membiarkan sambungan teleponnya terhubung dengan Aisyah tanpa pembicaraan apa pun. Tentu saja Adib lelah. Saat memilih untuk fokus dengan dunia karier terlebih dahulu yang baru menginjak tahun ketiga, Aisyah selalu memaksanya untuk segera menikah. Apalagi dengan perempuan yang sama sekali tidak diinginkannya.

“Adib! Kamu ke mana? Kenapa diam saja?”

Anak semata wayang Aisyah itu membuka mata, kemudian menghela napas. “Mama Aisyah, Mama sudah tahu dengan apa yang aku inginkan sekarang, ‘kan? Aku mohon sama Mama, berhenti menuntut aku. Bisa, kan, Ma? Aku lelah dipaksa-paksa terus seperti ini, Ma. Apalagi Mama memaksakan Amelia untuk jadi istriku. Aku lebih kenal Amel daripada Mama. Dari zaman SMP aku dan dia sudah berteman malah.”

“Harusnya itu malah bagus. Kalau kamu tahu bagaimana Amelia, lebih nyaman buat kamu dan dia menjalani pernikahan kalian.”

Adib menutup pintu mobilnya yang ternyata masih terbuka. Beruntung belum ada kendaraan yang akan keluar. Kalau saja ada, sudah pasti dia ditegur oleh pengendara lain. Menyamankan posisi duduknya sebentar, dia lantas menjawab sang mama, “Justru itu yang buat aku menolak, Ma. Tolong, ya, Ma. Jangan paksa aku menikah dengan Amel. Aku sama sekali tidak ada rasa apa-apa sama dia.”

“Urusan cinta itu belakangan, Dib. Yang penting itu kenyamanan. Cinta bisa datang kapan aja.”

Lanjut Membaca

Daftar Isi Mencintai Gadis Amnesia

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Akulah Cintamu
9.3
Pasca panggilan video terakhir, suami Kayra lenyap tanpa jejak, meruntuhkan dunianya dan memaksanya membesarkan dua anak sendirian. Di tengah perjuangan berat ini, ia dipertemukan kembali dengan Damar, adik ipar yang menaruh dendam padanya akibat skandal masa lalu yang melibatkan saudari kembar Kayra. Sempat menolak mengakui sang keponakan, kemiripan fisik bayi tersebut akhirnya meluluhkan kerasnya hati Damar. Mampukah takdir baru ini mengembalikan kebahagiaan Kayra yang sempat sirna?
Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Perjodohan dengan pria yang dulu pernah ditolaknya memicu dilema mendalam bagi sang wanita. Apakah pernikahan ini berjalan atas dasar cinta lama yang tersisa, ataukah sang suami tengah menyusun rencana balas dendam demi membalas luka masa lalunya? Di dunia Chronophile yang sangat menghargai waktu, pasangan suami istri ini harus berkomitmen di tengah bayang-bayang masa lalu. Kini, rahasia serta konflik mulai menguji kesetiaan dan keutuhan rumah tangga mereka.
Sampul Novel Dewa Itu Adalah Patungku
8.6
Melinda kecil membawa pulang patung beruang yang ia temukan di jalan tanpa tahu rahasia di baliknya. Benda mati itu sebenarnya adalah wujud lain dari seorang pria muda yang sangat kuat. Melinda terus merawatnya dengan tulus hingga ia tumbuh dewasa menjadi wanita yang menawan. Keadaan mulai berubah saat ketegangan melanda hubungan mereka yang tidak biasa ini. Akankah kisah cinta unik antara manusia biasa dan sang dewa dapat bersatu dalam kebahagiaan?
Sampul Novel KARENA MANTANMU, KUNIKAHI ADIKMU
8.6
Randika mengurus ekspansi bisnis keluarga Baskoro di Bali bersama mentornya, Charli. Di sana, ia terpikat oleh kemandirian Andini Wijaya, seorang pemilik sekolah. Namun, hubungan mereka menghadapi ujian berat saat mantan kekasih Andini, Junot, tiba-tiba muncul kembali. Masalah kian rumit karena Lily, adik Andini, bertekad merebut Randika demi membuktikan diri kepada ayah mereka, Sigit Wijaya. Akankah cinta Randika dan Andini bertahan di tengah bayang masa lalu dan ambisi keluarga?
Sampul Novel Kurang dari tiga
9.2
Hubungan cinta Raka dan Cherry kini terancam retak akibat kehadiran Nadia. Raka merasa terus dikesampingkan oleh sang kekasih, yang selalu mendahulukan sahabat berkacamata tebalnya tersebut. Emosi Raka akhirnya memuncak begitu menyadari dirinya cuma menjadi prioritas kedua bagi Cherry. Namun, rasa cemburu yang membakar ini malah mengantarkan Raka pada sebuah titik balik tak terduga dalam hidupnya. Sanggupkah jalinan asmara mereka bertahan di tengah renggangnya prioritas Cherry?
Sampul Novel P. S. I LOVE YOU
8.5
Kehidupan Cyra Alesha, mahasiswi berumur dua puluh tahun yang bekerja paruh waktu di kota besar, berubah drastis akibat kesalahpahaman dengan Felix Domil. CEO muda yang kejam sekaligus pewaris tunggal tersebut tega menyiksa dan menginjak harga diri Cyra. Di tengah penderitaan itu, Cyra justru terpikat oleh pesona sang miliarder. Kini, ia dihadapkan pada pilihan sulit: terus bertahan menghadapi kekejaman Felix atau memilih berontak untuk membebaskan dirinya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan