APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pengantin Boneka Demi Utang Keluarga

Pengantin Boneka Demi Utang Keluarga

Demi menyelamatkan Pramudita Global dari kebangkrutan, Anya Pramudita bersedia menikahi pewaris Wijaya Corp, Reza Wijaya. Di balik perjodohan ini, orang tua Reza memanfaatkan masalah keuangan tersebut demi kepentingan mereka. Sementara itu, Reza sebenarnya masih mencintai Kirana secara rahasia. Tanpa adanya rasa cinta, Anya yang bersikap dingin harus bertahan dalam pernikahan sandiwara ini. Akankah tumbuh cinta sejati di antara mereka, atau justru pengkhianatan yang akan mengakhirinya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Keesokan harinya, dinamika antara Anya dan Reza berubah secara signifikan. Ketegangan yang sebelumnya menyelimuti setiap interaksi mereka mulai mencair, digantikan oleh sebuah kolaborasi yang aneh namun efektif. Mereka menghabiskan berjam-jam di ruang kerja Anya, yang kini menjadi "markas" mereka, menganalisis data, merancang strategi, dan menyusun proposal.

Anya menyadari bahwa Reza memiliki pemikiran yang tajam dan pandangan bisnis yang luas, jauh melampaui citra playboy yang melekat padanya. Ia mampu melihat celah, mengidentifikasi risiko, dan menawarkan solusi yang tak pernah terpikirkan oleh Anya sebelumnya. Begitu pula sebaliknya, Reza terkesan dengan ketelitian Anya, kemampuan analitisnya yang luar biasa, serta visi inovatifnya di bidang teknologi.

"Kau yakin model proyeksi ini akurat?" tanya Reza suatu sore, menunjuk grafik di layar laptop Anya. "Penurunan pasar untuk produk manufaktur konvensional terlalu drastis di sini."

Anya menggeser kursornya. "Berdasarkan data riset pasar terbaru, trennya memang menunjukkan ke arah sana. Pergeseran ke produk yang lebih sustainable dan berteknologi tinggi semakin kuat. Pramudita Global harus berani mengambil langkah ekstrem jika ingin bertahan."

Reza mengangguk. "Logis. Tapi bagaimana dengan transisi karyawan? Kita tidak bisa begitu saja merumahkan ribuan orang yang sudah bekerja puluhan tahun di sana."

"Itulah tantangannya," Anya mengakui. "Aku sudah memikirkan program pelatihan ulang, mungkin bekerja sama dengan politeknik atau lembaga kejuruan. Kita bisa melatih mereka untuk lini produksi baru yang berbasis teknologi, atau bahkan mengalihkan beberapa ke departemen lain yang membutuhkan skill digital."

Reza menyilangkan tangan di dada, memandangi Anya dengan ekspresi kagum. "Kau benar-benar memikirkan segalanya, ya?"

Anya tersenyum tipis. "Ini perusahaan keluargaku, Reza. Dan mereka adalah orang-orang yang sudah mengabdi. Aku tidak bisa membiarkan mereka terlantar."

Reza menghela napas. "Aku mengerti. Dulu, aku tidak pernah memikirkan hal serumit ini. Pekerjaanku hanya sebatas formalitas, datang ke kantor, menandatangani dokumen, menghadiri rapat. Aku tidak pernah merasa ada tanggung jawab sebesar ini."

"Mungkin karena kau tidak pernah punya alasan kuat untuk merasakannya," kata Anya lembut. "Bagiku, ini adalah segalanya."

Reza menatapnya, ada sorot mata yang dalam, yang belum pernah Anya lihat sebelumnya. "Mungkin kau benar. Kau membuatku melihat sisi lain dari bisnis, Anya. Bukan hanya tentang keuntungan, tapi juga tentang orang-orang di baliknya."

Percakapan itu, meskipun sederhana, terasa seperti sebuah terobosan. Untuk pertama kalinya, Reza menunjukkan kerentanan, mengakui bahwa ada hal-hal yang belum ia pahami atau rasakan. Anya merasakan sesuatu yang hangat menjalar di dadanya. Ia mulai melihat Reza bukan hanya sebagai pria yang terpaksa menikahinya, tapi sebagai seseorang yang kompleks, dengan perjuangan dan pemikiran sendiri.

Di tengah fokus mereka pada proyek Pramudita Global, dinamika di rumah Wijaya tetap menjadi tantangan. Helena dan Tuan Wijaya terlihat puas dengan "kemajuan" hubungan mereka. Mereka sering memuji Anya di depan publik, menyebutnya "menantu idaman" yang membawa aura baru ke dalam keluarga. Pujian itu terasa seperti pisau bermata dua bagi Anya. Ia senang mereka percaya pada kemampuannya, namun ia tahu itu hanyalah bagian dari permainan mereka.

Meskipun Reza dan Anya menghabiskan banyak waktu bersama, mereka tetap menjaga jarak fisik. Kamar tamu masih menjadi tempat tidur Anya, dan mereka selalu bersikap profesional saat ada orang lain di sekitar. Namun, garis batas antara formalitas dan kedekatan personal mulai samar. Mereka mulai berbagi cerita pribadi, tawa, bahkan keluhan tentang orang tua mereka.

Suatu malam, setelah menyelesaikan revisi proposal, Anya menguap. "Sudah larut sekali. Aku harus tidur."

Reza mengangguk. "Ya, aku juga. Aku akan siapkan beberapa data tambahan besok pagi."

Anya membereskan mejanya, lalu berdiri. Ketika ia berbalik, ia melihat Reza menatapnya. Tatapannya intens, berbeda dari biasanya. Ada sesuatu yang tak terucap di sana.

"Ada apa?" tanya Anya, jantungnya berdebar tanpa sebab.

Reza menggeleng. "Tidak ada. Hanya... kau terlihat cantik, Anya."

Pujian itu membuat Anya terpaku. Pipinya merona merah. Ia tak menyangka Reza akan mengatakan hal seperti itu. Selama ini, interaksi mereka selalu tentang bisnis, tanpa ada sentuhan pribadi seperti itu.

"Terima kasih," bisik Anya, merasa canggung. Ia buru-buru berbalik, berjalan menuju pintu.

"Anya, tunggu," panggil Reza.

Anya berhenti, namun tidak berbalik.

"Kau... kau tidak menyesal, kan?" tanya Reza pelan. "Menikah denganku?"

Anya terdiam. Pertanyaan itu menohok hatinya. Ia menyesal, tentu saja. Ia menyesal karena harus menjual kebahagiaannya. Ia menyesal karena harus terjebak dalam situasi ini. Tapi ia juga tahu, ini adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan keluarganya.

"Menyesal itu relatif, Reza," jawab Anya, akhirnya berbalik. "Pada akhirnya, kita berdua melakukan apa yang harus kita lakukan. Tidak ada pilihan lain, kan?"

Reza tidak menjawab. Ia hanya menatap Anya dengan sorot mata yang sendu. Ada pemahaman yang mendalam di sana, rasa sakit yang mereka berdua bagi.

"Selamat malam, Reza," kata Anya, lalu buru-buru keluar dari ruangan. Ia berjalan cepat ke kamarnya, jantungnya masih berdebar. Pertanyaan Reza, dan tatapan matanya, telah mengusik ketenangannya. Ia mulai bertanya-tanya, apakah ia benar-benar bisa menjaga jarak dengan Reza selamanya?

Beberapa minggu berlalu. Proposal restrukturisasi Pramudita Global telah rampung dan diserahkan kepada dewan direksi Wijaya Corp. Reza dan Anya bekerja keras untuk itu, bahkan berhari-hari mereka sampai pulang larut malam dan makan malam di ruang kerja. Mereka menjadi sebuah tim yang tak terpisahkan.

Di tengah kesibukan itu, Kirana kembali muncul. Kali ini, ia muncul di kantor Wijaya Corp, tepat saat Anya dan Reza sedang makan siang di kantin eksekutif.

"Reza!" sapa Kirana, suaranya ceria. Ia langsung berjalan ke meja mereka, tanpa peduli tatapan ingin tahu dari karyawan lain.

Reza terlihat terkejut melihat Kirana di sana. "Kirana? Ada apa?"

Kirana tersenyum manis. "Aku hanya ingin makan siang denganmu. Aku merindukanmu." Ia melirik Anya, senyumnya sedikit memudar. "Kau tidak keberatan, kan, Anya?"

Anya merasakan sebuah gumpalan di tenggorokannya. Ia tahu Kirana punya hak untuk bersama Reza, tapi berada di tengah-tengah mereka seperti ini terasa sangat tidak nyaman. "Tentu saja tidak," kata Anya, mencoba terdengar ramah. "Aku sudah selesai. Kalian bisa makan berdua."

Anya buru-buru bangkit. "Aku harus kembali ke ruanganku. Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan."

"Tapi, Anya..." Reza memanggilnya, ada nada protes di suaranya.

Namun Anya tidak menunggu. Ia langsung pergi, meninggalkan Reza dan Kirana berdua. Ia berjalan cepat menyusuri lorong kantor, dadanya terasa sesak. Ia merasa seperti orang ketiga, padahal ia adalah istri Reza yang sah. Ironis sekali.

Saat ia sampai di ruang kerjanya, ia mencoba melanjutkan pekerjaannya, namun pikirannya terus kembali pada pemandangan Reza dan Kirana yang sedang makan siang bersama, tertawa, dan terlihat begitu bahagia. Rasa sakit itu, rasa cemburu yang tak seharusnya ada, mulai menyelinap masuk ke dalam hatinya. Ia benci perasaan ini. Ia benci bahwa ia mulai merasakan sesuatu yang ia anggap tabu: cinta.

Beberapa saat kemudian, pintu ruang kerjanya terbuka. Reza masuk, wajahnya terlihat kesal.

"Kenapa kau pergi begitu saja?" tanya Reza, suaranya sedikit meninggi.

Anya tidak menatapnya. "Aku tidak ingin mengganggu kalian. Kalian terlihat bahagia."

Reza menghela napas. "Kau pikir aku bahagia? Kau pikir aku ingin Kirana datang ke sini dan membuat drama di depan umum?"

"Itu kekasihmu, Reza," kata Anya, akhirnya menatapnya. Matanya penuh rasa sakit. "Kau mencintainya. Dan kau selalu mengatakan itu padaku. Aku tidak bisa berpura-pura tidak melihat itu."

Reza mendekat, berdiri di depan meja Anya. "Dengar, Anya. Aku tahu ini rumit. Tapi... kita sudah sepakat untuk berpura-pura, kan? Di depan umum, kita adalah suami istri. Apa kau ingin orang tuaku tahu bahwa kita punya masalah?"

Anya tertawa getir. "Masalah? Reza, seluruh pernikahan ini adalah masalah! Kau mencintai wanita lain, aku dipaksa menikahimu, dan orang tuamu mempermainkan perusahaan keluargaku! Apanya yang bukan masalah?"

Reza terdiam. Ia menatap Anya dengan sorot mata yang tak bisa Anya baca. "Aku tahu. Aku minta maaf. Aku tidak pernah ingin kau merasakan ini."

"Tapi aku merasakannya, Reza!" seru Anya, suaranya bergetar. "Aku lelah berpura-pura. Aku lelah menjadi boneka yang sempurna. Aku lelah melihatmu bersama wanita lain, sementara aku harus menjadi istrimu!" Air mata yang sudah ia tahan mati-matian, kini mengalir deras di pipinya.

Reza terlihat terkejut melihat Anya menangis. Ia jarang sekali melihat Anya menunjukkan sisi rentannya. Ia mengulurkan tangannya, ragu-ragu, lalu menyentuh pipi Anya, mengusap air matanya dengan ibu jarinya.

Sentuhan Reza terasa hangat, dan mengejutkan Anya. Ia tidak menyangka Reza akan melakukan itu. Selama ini, sentuhan mereka sangat minim, dan selalu formal.

"Jangan menangis, Anya," bisik Reza, suaranya lembut. "Aku tidak suka melihatmu menangis."

Anya menepis tangan Reza. "Jangan sentuh aku! Jangan membuatku berpikir bahwa ada sesuatu di antara kita, Reza. Aku tidak mau merasakan ini. Aku tidak mau jatuh cinta padamu, karena aku tahu itu tidak akan pernah terbalas."

Kata-kata Anya membuat Reza terdiam. Ia menarik tangannya, wajahnya berubah menjadi muram. "Jatuh cinta? Kau pikir aku bisa membuatmu jatuh cinta, Anya?" Ada nada terluka dalam suaranya.

"Aku tidak tahu," kata Anya, suaranya serak. "Aku hanya tahu bahwa semua ini... terlalu berat bagiku. Aku mencoba untuk menjadi kuat, tapi aku juga manusia."

Reza menghela napas panjang. "Maafkan aku, Anya. Aku tidak menyadari bahwa ini akan sesulit ini bagimu. Aku... aku akan mencoba lebih berhati-hati. Aku tidak akan membawa Kirana ke sini lagi jika itu membuatmu tidak nyaman."

Anya menatapnya. Ada ketulusan di mata Reza. "Kau akan melakukannya?"

Reza mengangguk. "Ya. Aku tidak ingin membuatmu menderita lebih jauh. Ini sudah cukup sulit bagi kita berdua."

Anya merasakan sedikit kelegaan, namun juga kebingungan. Perasaan apa ini yang ia rasakan terhadap Reza? Apakah ia benar-benar mulai jatuh cinta padanya? Atau hanya sekadar perasaan nyaman karena mereka berada dalam satu perahu yang sama?

"Terima kasih," bisik Anya.

Reza mengangguk. "Sekarang, bisakah kau berhenti menangis? Aku tidak tahu bagaimana menghadapi wanita yang menangis." Ia mencoba melontarkan candaan, namun suaranya masih terdengar serius.

Anya tersenyum tipis, menghapus sisa air matanya. "Sudah."

Reza kembali ke tempat duduknya, mengambil proposal yang mereka kerjakan. "Kita harus menyelesaikan ini. Besok ada rapat penting dengan dewan direksi."

Mereka kembali bekerja, namun suasana di antara mereka telah berubah. Ada sebuah kesadaran baru, sebuah pengakuan tak terucap tentang perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka, meskipun mereka berdua mencoba menolaknya. Garis batas antara formalitas dan kedekatan, kini semakin samar.

Rapat dewan direksi berjalan tegang. Tuan Wijaya memimpin rapat dengan wajah serius. Anya dan Reza mempresentasikan proposal restrukturisasi Pramudita Global. Anya berbicara dengan lancar dan meyakinkan, menjelaskan setiap detail rencana dengan data dan analisis yang kuat. Reza mendukungnya, menambahkan poin-poin penting dan menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit dari para direksi.

Namun, Helena, yang juga hadir dalam rapat, terlihat tidak senang. Ia sesekali melirik Anya dengan sorot mata yang penuh perhitungan, seolah mencoba membaca apa yang sebenarnya terjadi. Ia tampaknya tidak suka melihat Anya dan Reza bekerja sama seakrab itu.

Setelah presentasi, salah satu direksi senior, Pak Hendra, mengajukan pertanyaan. "Nona Anya, ini proposal yang sangat ambisius. Kami mengagumi semangat Anda. Namun, ini juga berarti Anda akan mencurahkan sebagian besar waktu dan energi Anda untuk Pramudita Global. Bagaimana dengan komitmen Anda terhadap Wijaya Corp? Bukankah itu yang diharapkan dari seorang menantu keluarga Wijaya?"

Anya menatap Pak Hendra dengan tenang. "Saya memahami kekhawatiran Anda, Pak Hendra. Namun, saya percaya bahwa keberhasilan Pramudita Global akan membawa dampak positif yang besar bagi citra dan ekosistem bisnis Wijaya Corp secara keseluruhan. Selain itu, saya berjanji akan tetap menjalankan semua tanggung jawab saya sebagai bagian dari keluarga Wijaya. Saya akan membuktikan bahwa saya mampu menyeimbangkan kedua hal ini."

Reza menimpali. "Anya memiliki kemampuan manajemen waktu yang luar biasa, Pak Hendra. Dan saya sendiri akan ikut memantau progress Pramudita Global. Kami akan bekerja sebagai tim untuk memastikan ini berhasil."

Tuan Wijaya mengangguk. "Saya setuju dengan Reza. Kita harus memberi kesempatan pada Anya. Lagipula, ini adalah investasi besar bagi kita." Ia melirik Helena, seolah memberi isyarat.

Helena tersenyum tipis, senyum yang dingin. "Baiklah. Kami akan menyetujui proposal ini, Anya. Dana akan dicairkan secara bertahap, sesuai dengan milestone yang telah disepakati. Tapi ingat, kami akan memantau ketat setiap progresnya. Dan kami berharap, kau akan segera bisa bergabung secara aktif di Wijaya Corp setelah Pramudita Global stabil."

Anya menghela napas lega. Ia tersenyum tulus. "Terima kasih, Tuan Wijaya, Nyonya Helena. Saya tidak akan mengecewakan Anda."

Setelah rapat selesai, Anya dan Reza keluar dari ruang rapat, keduanya merasa lega.

"Kita berhasil, Reza!" seru Anya, ada kegembiraan nyata dalam suaranya.

Reza tersenyum. "Ya, kita berhasil. Kerja keras kita terbayar." Ia menatap Anya. "Kau hebat di sana, Anya. Kau sangat percaya diri dan meyakinkan."

Pujian dari Reza terasa manis di telinga Anya. "Kau juga. Dukunganmu sangat membantu."

Mereka berdua berjalan menyusuri lorong kantor, perasaan hangat mulai menyelimuti mereka. Ada rasa bangga atas apa yang telah mereka capai bersama.

Namun, di tengah perasaan itu, ada sebuah pikiran yang mengganggu Anya. Bagaimana jika ia mulai benar-benar menyukai Reza? Bagaimana jika ia mulai berharap lebih dari sekadar perjanjian? Itu adalah sesuatu yang ia coba hindari mati-matian, karena ia tahu, hati Reza masih terikat pada Kirana.

Malam harinya, saat makan malam, Helena kembali memancing.

"Anya, kau dan Reza terlihat sangat kompak belakangan ini," kata Helena, senyumnya tipis. "Mama senang melihatnya. Kau benar-benar menantu yang kami impikan."

Anya tersenyum canggung. "Terima kasih, Ma. Kami hanya... bekerja sama untuk Pramudita Global."

"Oh, hanya itu?" Helena mengangkat alis. "Mama melihat ada sesuatu yang lebih dari sekadar pekerjaan di antara kalian." Ia melirik Reza. "Benar, Reza?"

Reza meletakkan garpunya. "Mama, kami hanya fokus pada proyek. Itu saja."

Helena terkekeh. "Baiklah, baiklah. Tapi Mama harap, kalian tidak akan melupakan tugas utama kalian sebagai suami istri. Sudah waktunya kalian berdua memikirkan kelanjutan keluarga. Mama ingin segera punya cucu."

Pernyataan Helena membuat Anya tersedak makanannya. Reza terlihat kaget dan tegang. Suasana di meja makan tiba-tiba menjadi sangat canggung.

"Mama!" seru Reza, nadanya memperingatkan. "Itu bukan hal yang harus dibicarakan di meja makan."

Helena hanya tersenyum. "Apa salahnya? Itu adalah tugas seorang istri. Dan Anya adalah wanita yang cerdas, Mama yakin dia bisa mengurus keluarga dan juga bisnis."

Anya merasakan pipinya memerah padam. Ia menatap Reza, matanya meminta bantuan.

Reza menghela napas. "Ma, biar itu menjadi urusan kami. Kami akan membahasnya sendiri."

Tuan Wijaya akhirnya menengahi. "Helena, biarkan mereka. Mereka masih muda. Jangan terlalu menekan."

Helena mendengus, namun akhirnya mengalah. Namun, kata-katanya telah menanamkan benih kecemasan baru di hati Anya. Tugas seorang istri. Kelanjutan keluarga. Cucu. Semua itu adalah hal-hal yang tidak pernah ia pikirkan ketika ia setuju untuk menikah dengan Reza.

Malam itu, Anya tidak bisa tidur. Kata-kata Helena terus terngiang di benaknya. Ia tidak hanya harus berpura-pura menjadi istri Reza, tapi ia juga harus memikirkan tentang kewajiban perkawinan. Ia melihat ke kamar Reza. Lampunya masih menyala. Ia tahu Reza juga pasti memikirkan hal yang sama.

Garis batas yang sebelumnya hanya samar, kini terasa semakin nyata dan menekan. Perasaan Anya terhadap Reza mulai berkembang, namun ia tahu ia harus menahannya. Ia tidak bisa jatuh terlalu dalam, karena ia tahu hati Reza masih milik Kirana. Dan kewajiban baru ini, yang menuntut lebih dari sekadar pura-pura, akan menjadi ujian terberat bagi pernikahan mereka yang penuh kepalsuan ini.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bias: Dari Uncle, Jadi Daddy
9.0
Demi pekerjaan baru, Alexandria Serenata Atmadya pindah ke kota megapolitan. Sifatnya yang sungkanan justru dimanfaatkan Ragnala Firaz Himawan untuk menjebaknya dalam pernikahan kontrak yang manipulatif. Di tengah adu siasat antara keduanya, sebuah rahasia besar terungkap mengenai keberadaan anak berumur empat tahun. Alexandria kini harus bertahan menghadapi rayuan manis Ragnala, sembari berjuang demi cinta di tengah bayang-bayang masa lalu yang kelam.
Sampul Novel Dibuang suami kere dinikahi Dokter Tajir
8.0
Silvia hancur akibat perselingkuhan suaminya. Di tengah kepedihan, insiden kecil mempertemukannya dengan Dokter Dana hingga mereka saling jatuh cinta. Namun, konflik baru muncul saat ayah Silvia yang hilang sepuluh tahun kembali sebagai konglomerat. Sang ayah menjodohkannya dengan pria lain demi membalas budi. Kini Silvia bimbang antara cinta pada Dana atau takdir ayahnya, sementara sang mantan suami mulai menyesal melihatnya jadi wanita terhormat.
Sampul Novel Hari Pamermu, Hari Kematianku
8.9
Demi menyelamatkan diri dari kemiskinan dan kejaran musuh saat Andre bangkrut, tokoh utama memilih memutuskan hubungan dan berpaling ke pria kaya lain. Meski Andre memohon dan menyatakan tidak bisa hidup tanpanya, penolakan kejam dengan siraman wiski akhirnya mengusir pria itu pergi. Enam tahun berlalu, Andre kembali ke Jalan Wandara sebagai taipan keuangan sukses Kota Yorin. Berniat memamerkan tunangan barunya sebagai pembalasan dendam, Andre justru harus menghadapi kenyataan pahit bahwa wanita yang dicarinya telah meninggal dunia tepat di hari kepulangannya.
Sampul Novel KUKIRA MISKIN, RUPANYA CEO
8.4
Lamaran Aditya ditolak mentah-mentah oleh Yuni karena hanya sanggup memberi hantaran lima puluh juta. Tak hanya dihina, Belinda sang kekasih pun ikut merendahkannya. Dalam kemarahan, Aditya justru melamar Dahlia, asisten rumah tangga Belinda, dengan cincin berlian mewah. Tak ada yang tahu bahwa staf administrasi biasa ini sebenarnya adalah putra mahkota pemilik perusahaan. Saat identitas aslinya sebagai CEO terungkap, mampukah Aditya dan Dahlia merajut cinta tulus dari awal yang penuh emosi ini?
Sampul Novel Menguncimu di Hatiku
8.0
Pernikahan singkat yang dingin sempat menyatukan Lyla dan Yosua karena takdir. Tiga tahun berlalu, Lyla kini kembali sebagai wanita mandiri dari keluarga terpandang, membawa serta anak kembarnya. Saat Yosua berusaha mendekatinya lagi, ia menyadari mantan istrinya telah berubah dan sulit ditaklukkan. Ketika Yosua yang angkuh mencoba memaksakan kehendak dalam sebuah pertemuan, Lyla dengan tegas mengingatkan bahwa hubungan mereka sudah lama usai.
Sampul Novel Menunggu Perceraian yang Dinantikan
9.0
Keputusan berpisah diambil sang istri setelah Navish, suaminya, lebih memilih mengantar obat flu untuk sang asisten saat dirinya terjebak di lift dalam kondisi klaustrofobia. Menganggap istrinya hanya merajuk karena sebatang kara, Navish menandatangani berkas cerai dengan penuh percaya diri, yakin masa tunggu 30 hari akan membuatnya memohon kembali. Di tengah pamer kemesraan Navish dengan asistennya di media sosial, sang istri justru diam-diam mengemasi barang dan bersiap terbang ke New York.