APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pendekar Kembara Semesta Seri 2

Pendekar Kembara Semesta Seri 2

Petualangan Suro Joyo menjelajahi semesta berlanjut. Setelah mengalahkan Putri Siluman Alas Waru, sang pendekar malah terseret dalam konflik politik Kerajaan Karangtirta. Suro tidak hanya harus menghentikan pemberontakan, tetapi juga melawan bajak laut Selat Utara yang kejam. Tugasnya bertambah saat ia harus menyelamatkan Ayumanis di Penginapan Melati Jingga, hingga puncaknya ia harus bertarung melawan Sanggariwut, pemilik Jurus Ular Api Neraka.
Bab
Bagikan

Bab 1

Suro Joyo menyusuri perbukitan dengan langkah pasti. Baru saja dia menyelesaikan tugas yang diberikan oleh ayahandanya untuk menumpas Riris Manik. Ayahandanya, Agung Paramarta, penguasa di Kerajaan Krendobumi. Riris Manik pernah melakukan perbuatan yang meresahkan Kerajaan Krendobumi, sehingga Agung Paramarta menugaskan Suro Joyo agar menangkap dan membawanya ke Istana Krendobumi untuk diadili.

Namun Riris Manik malah melarikan diri dan bersembunyi di Pesanggrahan Alas Waru milik Keksi Anjani. Suro Joyo melacak buron sampai ke pesanggrahan milik Keksi Anjani. Dalam upaya menangkap Riris Manik, Suro Joyo bertarung habis-habisan melawan Keksi Anjani dan anak buahnya.

Saat bertarung, Suro Joyo hampir tewas di tangan lawan. Banaswarih, putra mahkota Kerajaan Karangtirta menyelamatkan nyawa Suro Joyo. Kebaikan hati Banaswarih kini akan dia balas dengan kebaikan pula. Suro Joyo yang kini mengenakan pakaian berwarna serba kuning berjalan tegap menuju Karangtirta.

“Aku ingin balas budi pada Pangeran Banaswarih,” gumam Suro Joyo dalam perjalanannya melewati bukit bebatuan. “Kemarin, sebelum kami berpisah, Pangeran Banaswarih minta diriku untuk datang ke Kerajaan Karangtirta. Sepertinya ada bahaya tersembunyi yang mengancam Karangtirta.”

Dugaan Suro Joyo memang tepat. Saat ini kerajaan yang dipimpin Raja Tiyasa sedang berada dalam masa kelam. Masa kelam bukan karena ketidakmampuan sang raja menyejahterakan rakyatnya, tapi karena adanya desas-desus yang membuat rasa cemas.

Rakyat Kerajaan Karangtirta dirundung kecemasan. Kabar tentang pergerakan bawah tanah yang dilakukan orang-orang yang ingin melakuan pemberontakan, membuat rakyat semakin cemas. Para telik sandi, prajurit rahasia Kerajaan Karangtirta telah mengendus adanya pemberontak yang semakin banyak jumlahnya mulai melakukan gerakan-gerakan yang lebih berani. Ada yang berani memaksa penduduk perbatasan mengikuti mereka. Kalau tidak mau mengikuti, dibunuh atau dibantai secara keji!

“Putraku Banaswarih, lakukan apa saja yang perlu kamu lakukan untuk meredam gerak para pemberontak yang mulai berani ngelunjak!” perintah Raja Tiyasa suatu malam. “Kamu ambil tindakan yang tegas. Kalau perlu keras! Siapa saja yang ketahuan mendukung atau malah menjadi pelaku pemberontakan, habisi tanpa perlu diadili!”

“Siap, Ayahanda!” kata Banaswarih.

Malam makin larut. Hanya ada anak dan bapak di pendapa kerajaan yang semakin lengang.

“Bawalah Soka Pratanda ini!” kata Tiyasa sambil menyerahkan logam berbentuk segi empat bergambar simbol Kerajaan Karangtirta. “Simpanlah dengan rapat! Gunakan kalau benar-benar dibutuhkan.”

Banaswarih menerima Soka Pratanda dari Tiyasa. Pemegang logam segi empat itu mendapatkan kepercayaan mutlak dari sang raja. Soka Pratanda hanya satu. Benda berfungsi sebagai ‘pengganti raja’ itu hanya diberikan kepada orang yang dipercaya ketika situasi benar-benar darurat!

“Ayahanda,” kata Banaswarih, “Ananda ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin bisa membuat Ayahanda lebih tenang menghadapi situasi sekarang ini.”

“Tentang apa, Banaswarih?” tanya Tiyasa dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

“Ananda telah menyampaikan permintaan bantuan kepada Pangeran Suro Joyo dari Krendobumi. Semoga Pangeran Suro Joyo bisa membantu kita menyelesaikan kemelut yang terjadi di Karangtirta.”

***

Senapati Tunggulsaka bersama puluhan prajuritnya menyusuri perbatasan wilayah Kerajaan Karangtirta dengan Kerajaan Parangbawana. Mereka berjalan dari arah selatan menuju ke utara. Menjelang matahari tegak di atas kepala, Senapati dan para prajurit tersebut sampai di pantai utara.

Menurut kabar dari beberapa telik sandi atau prajurit rahasia yang ditugaskan Tunggulsaka ke seluruh wilayah Karangtirta, ada gerombolan perampok yang bersarang di perbatasan. Gerombolan itu dipimpin Olengpati. Cukup lama mereka bersarang di perbatasan Karangtirta dengan Parangbawana. Kerajaan Karangtirta dan Parangbawana bertetangga baik sejak lama, sejak ratusan tahu silam. Dua kerajaan yang saling membantu bila satu dari keduanya membutuhkan bantuan.

“Apa benar kabar dari telik sandi itu, Senapati?” tanya seorang prajurit kepada Tunggulsaka. Karangtirta

“Aku yakin, benar,” jawab Tunggulsaka yakin. “Memangnya kenapa? Kamu tidak yakin bahwa laporan telik sandi itu benar?”

“Bukan begitu, Senapati. Bisa saja telik sandi salah menyerap kabar, sehingga kurang tepat ketika memberikan laporan.”

Benar juga ya kata prajuritku ini. Kata Tunggulsaka dalam hati. Namanya saja manusia, bisa saja dia salah dalam menyerap warta yang beredar di masyarakat. Wah, kalau prajurit telik sandi salah memberikan laporan, bisa membahayakan Karangtirta.”

Saat ini Tunggulsaka dan para prajuritnya merasakan bahwa keadaan tenang. Kawasan Hutan Ugeran termasuk wilayah Kerajaan Karangtirta dan Hutan Rukem kelihatannya aman-aman saja. Tak ada sesuatu yang mencurigakan. Senapati andalan Karangtirta itu sejenak bertanya-tanya dalam hati. Salahkah berita yang disampaikan para para telik sandi itu? Semoga laporan mereka tidak ada yang salah.

Selama ini para prajurit telik sandi selalu memberikan kabar yang tepat. Mereka memberi laporan padanya setelah melakukan penyelidikan secara sungguh-sungguh. Dalam laporan itu disebutkan bahwa mereka mengetahui tentang kebeadaan gerombolan perampok pimpinan Olengpati bersembunyi di Hutan Rukem, wilayah Parangbawana, dekat perbatasan dengan wilayah Karangtirta.

“Para perampok pimpinan Olengpati itu diduga kuat ada hubugan erat dengan pemberontak yang saat ini sedang menyusun kekuatan. Mereka menyusun kekuatan fisik berupa jumlah pasukan. Mereka juga mengumpulkan uang dan harta untuk membiayai para pemberontak,” kata Tunggulsaka.

“Dengar-dengar, ada anggota pemberontak berani mengancam penduduk perbatasan sini,” kata seorang prajurit yang lain. “Apa benar, Senapati?”

“Ehm…, ya, begitulah laporan yang kuterima. Sebentar…, sebenarnya mereka belum bisa disebut pemberontak,” Tunggulsaka meluruskan kata-kata anak buahnya. “Mereka sekumpulan orang yang sedang menggalang kekuatan. Mereka diduga kuat akan melakukan pemberontakan. Kapan melakukan pemberontakan? Kita tidak tahu.”

“Walau mereka belum melakukan pemberontakan, mereka sudah layak disebut pemberontak. Mereka suka membangkang terhadap semua peraturan yang ada di Kerajaan Karangtirta. Masyarakat Karangtirta yang tidak suka pada kelakuan mereka, sampai ada yang beramai-ramai mengusir orang-orang yang mendukung pemberontak.”

“Mengapa sampai bertindak sepertti itu?”

“Mereka kesal, Senapati. Masyarakat yang tidak suka kepada pendukung pemberontak itu punya alasan yang masuk akal, Senapati.”

“Apa alasannya?”

“Alasannya, para pendukung pemberontak itu cari makan dan menikmati segala hal diberikan pihak Kerajaan Karangtirta, tapi malah suka menjelek-jelekkan Raja Tiyasa dengan alasan ngawur. Alasan yang tidak masuk akal. Mereka hanya asal mangap saja. Asal membuka mulut, tanpa menggunakan otaknya.”

Senapati Tunggulsaka bisa memahami perkataan anak buahnya. Gerombolan Olengpati yang dicurigai ada hubungan dengan para pemberontak bawah tanah, sering membuat keonaran. Mereka membuat keonaran di desa-desa wilayah Karangtirta. Akibat ulah Olengpati dan anak buahnya, desa-desa tersebut tidak aman.

Penduduknya sering berjaga siang malam. Mereka berjaga-jaga dari segala kemungkinan yang bisa menimpa penduduk desa. Para penduduk sering berjaga semalam suntuk, sehingga paginya mengantuk. Akibatnya mereka bekerja secara malas-malasan pada siang harinya. Hal ini menimbulkan perasaan penduduk tidak tenang, penghasilan mereka dalam bertani juga berkurang.

“Agaknya itulah tujuan Olengpati dan gerombolannya,” kata Tunggulsaka. “Mereka menebar keonaran yang membuat penduduk desa di seluruh wilayah Kerajaan Karangtirta resah. Karena resah, para penduduk menjadi lemah. Baik lemah badannya, juga lemah semangat hidupnya. Hal ini tidak akan kubiarkan terjadi berlarut-larut. Maka aku segera mengambil tidakan. Aku ingin segera menumpas Olengpati dan gerombolannya. Tentu saja yang kulakukan ini atas sepengetahuan Paduka Raja Tiyasa.”

Tunggulsaka tidak ingin penduduk desa atau rakyat jelata dalam keadaan tidak tentram, rasah, dan selalu khawatir sepanjang masa. Kalau rakyat dalam keadaan tidak aman, maka akan meruntuhkan kewibawan Karangtirta.

Maka dari itu, Tunggulsaka mohon ijin Raja Tiyasa yang menjadi orang paling berkuasa di Karangtirta. Tunggulsaka minta ijin untuk menumpas gerombolan Olengpati. Raja Tiyasa mengijinkan. Sehingga saat ini Tunggulsaka dan empat puluhan prajuritnya telah berada di perbatasan.

”Prajurit, berhenti di sini!” kata Tunggulsaka. ”Kita istirahat sebentar.”

”Baiklah, Senapati...,” sahut para prajurit serentak.

Para prajurit segera duduk-duduk di berbagai tempat. Ada yang duduk di bawah pohon besar, ada pula yang duduk di balik batu besar. Mereka duduk sambil menikmati bekal yang mereka bawa dari kerajaan.

”Lunjak, apa pendapatmu tentang situasi di perbatasan ini?” tanya Tunggulsaka setelah makan siang.

“Maaf, Senapati, saya belum punya pendapat,” kata Lunjak.

”Kalau kamu bagaimana, Bandem?” Tunggulsaka bertanya kepada Bandem.

”Menurut saya, ini barangkali cuma jebakan, Senapati,” jawab Bandem.

”Maksudmu?”

”Maksudnya begini, Senapati, Olengpati membuat daerah perbatasan ini seolah-olah aman. Padahal siapa tahu dia dan anak buahnya bersembunyi di sekitar sini. Pada saat rakyat lengah, dia keluar dari persembunyiannya. Mereka lalu merampok harta rakyat secara tiba-tiba dan tak terduga.”

”Ya..., aku juga berpikiran demikian. Cuma sekarang kita bingung mau bertindak apa? Karena kita belum menemukan persis di mana persembunyian mereka.” kata Tunggulsaka sambil menghela napas.

Ketika Tunggulsaka dan kedua anak buahnya sedang bercakap-cakap, tiba-tiba terdengar teriak kematian dari seorang prajurit yang sedang duduk di bawah pohon besar. Leher prajurit itu tertembus anak panah!

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 Sayap Pelindungku
9.0
Lauren, putri bungsu keluarga Torres yang lemah, pulang setelah empat tahun di Gereja Mistik. Kepulangannya disambut dingin dan sinis oleh ketiga kakak laki-lakinya. Namun, segalanya berbalik saat pesta ulang tahunnya tiba. Lauren ternyata mampu melihat masa depan. Berkat ramalannya, sang kakak sulung selamat dari maut, kakak kedua terhindar dari kebangkrutan, dan penyakit kakak ketiga berhasil dideteksi. Kini, ketiga kakaknya berbalik menjadi pelindung setia yang siap menjaganya.
Sampul Novel Aku Saingan Ibu Mertuaku
8.2
Setiap hari, ibu mertuaku meniru gaya rambut dan pakaianku. Keanehan ini memuncak saat ayah mertuaku salah mengenali orang lalu memelukku dari belakang. Kemarahan membuatku menampar suamiku yang manja, memicu pertikaian besar yang berakhir tragis ketika ibu mertuaku mendorongku dari lantai atas. Namun, kematian bukanlah akhir. Saat terbangun kembali, aku terlempar ke masa lalu, tepat di hari ketika ibu mertuaku ingin meminjam rantai celana dalam milikku.
Sampul Novel Pengkhianatan Sang Gamma, Pasangan Pendendam Sang Alpha
8.2
Lima tahun aku berkorban demi membantu Lucian meraih posisi Gamma. Sialnya, ia justru membiarkanku disiksa di penjara demi saudara tiriku. Menyadari ia hanya memanfaatkan cintaku demi takhta, aku bersumpah membalas dendam. Saat Lucian datang ke upacara ikatanku dengan harapan palsu, aku akan menghancurkannya. Ia akan menyaksikan sendiri bagaimana aku bersanding dengan rivalnya, seorang Alpha yang menjadi pasangan kedua sejatiku. Ini adalah awal dari kejatuhan mutlaknya.
Sampul Novel Primadona Disangka Murahan
8.8
Sebuah unggahan pengakuan cinta di situs kampus menjadi awal kehancuran hidupku ketika pacar teman sekamarku menyebarkan fitnah keji bahwa aku telah meniduri seluruh mahasiswa. Meski aku melaporkannya ke polisi dan mendapat permohonan maaf dari temanku, penyebaran video syur yang mirip denganku membuat situasi tak terkendali. Dituduh oleh seisi kampus, dipaksa cuti, hingga diusir oleh orang tua sendiri membuatku putus asa dan mengakhiri hidup. Anehnya, aku justru terbangun kembali di hari pertama fitnah itu dimulai.
Sampul Novel Reinkarnasi Pembunuh Bayaran: Dendam dari Tubuh Kedua
8.4
Pembunuh bayaran Liu Yifen tewas saat misi, lalu mendapat peluang hidup baru dari dewi misterius. Ia pun bereinkarnasi ke dalam tubuh pilihan pertamanya demi menuntaskan tugas baru. Namun, nasib buruk kembali datang saat ia tewas bersimbah darah di hadapan musuh yang gembira atas kematiannya sebelum misi itu selesai. Apakah ini akhir dari perjalanan hidup Liu Yifen, atau masih ada reinkarnasi berikutnya yang telah dipersiapkan oleh takdir?
Sampul Novel Saya milik mereka semua.
9.6
Dalam kisah fantasi romantis bernuansa gelap ini, seorang wanita tidak menyadari kekuatan dahsyat yang ia miliki. Secara tidak sengaja, ia berhasil mengakses sebuah ruang misterius yang tak pernah terjangkau oleh siapa pun. Namun, ia tidak tahu bahwa gerbang tersebut juga bisa diakses dari arah sebaliknya. Kehadiran sang wanita di sana justru memicu daya tarik bagi para pria berbahaya yang kini mulai mengincar dan memburunya.