APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pendekar Kembara Semesta Seri 1

Pendekar Kembara Semesta Seri 1

Suro Joyo melepas takhta Kerajaan Krendobumi demi misi kemanusiaan. Menguasai Rajah Cakra Geni, sang Pendekar Kembara Semesta ini menjelajahi jagat raya dan menghadapi berbagai ujian berat. Suro terjerat dalam perebutan Bunga Puspajingga, ancaman Dewi Pemikat, serta kedahsyatan Tombak Siung Sardula. Konflik harta Goa Barong juga menyeretnya ke dalam bahaya. Kini, ia harus bertarung melawan Putri Siluman Alas Waru demi menegakkan keadilan.
Bab
Bagikan

Bab 1

Suro Joyo harus bisa mendapatkan Bunga Puspajingga. Kalau sampai tidak bisa memetik bunga itu, maka seumur hidupnya bakal merasa gagal berbakti kepada ibundanya. Juga merasa gagal berbakti kepada ayahanda. Sang ayahanda yang memerintahkan Suro Joyo untuk memetiknya.

“Aku akan memetik bunga itu walau harus menempuh resiko apa pun!” tekat membaja di dada sang pemuda sambil memandang puncak Gunung Sumbing. Gunung yang kokoh berdiri menantang para pendekar untuk menaklukkannya.

Sudah beredar kabar di kalangan pendekar bahwa Bunga Puspajingga yang ada di tebing Gunung Sumbing telah mekar. Bunga itu menjadi incaran para pendekar dari delapan penjuru mata angin karena memiliki banyak khasiat yang sangat hebat.

“Setelah kupetik, Bunga Puspajingga akan kubawa pulang ke Istana Kerajaan Krendobumi untuk menyembuhkan Ibunda Niken Sari,” gumam Suro Joyo.

Pendekar tampan berpakaian serba putih itu berdiri di kaki gunung yang segera didaki. Sebelum mendaki, dirinya teringat tentang kedua kaki ibundanya yang lumpuh sejak Suro Joyo masih bayi sampai sekarang.

Kelumpuhan kaki Niken Sari akibat pukulan maut dari ajian seorang pendekar pilih tanding dari golongan hitam bernama Jati Kawangwamg. Saat Suro Joyo masih bayi, Krendobumi diserang Jati Kawangwang yang memiliki kesaktian luar biasa. Penyerang yang sangat hebat dan kebal segala macam senjata itu punya julukan Dewa Naga Baja.

Raja Agung Paramarta, ayahanda Suro Joyo kalah dalam pertarungan melawan Dewa Naga Baja. Agung Paramarta diselamatkan Maeso Item. Sedangkan Niken Sari yang mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya diselamatkan Trinil Manis.

“Untung saja kedua orang tuaku diselamatkan para pendekar sakti itu,” kenang Suro Joyo tentang Maeso Item dan Trinil Manis. Sepasang pendekar yang tidak akur, tapi sama-sama mewariskan segala macam ilmu yang mereka miliki kepada Suro Joyo. Sepasang pendekar yang sebenarnya tidak layak disebut ‘sepasang’ karena mereka tinggal di pesanggrahan yang berbeda.

Maeso Item, suka berpakaian compang-camping, suka bersikap nyleneh alias aneh, tinggal di Goa Setan, memiliki julukan Pengemis Gila Goa Setan. Trinil Manis suka bersyair, berpikiran agak miring, memiliki julukan Penyair Edan Pantai Selatan, tinggal di sebuah pesanggrahan yang berada di Pantai Selatan.

Atas didikan kedua gurunya yang aneh, tapi berilmu dahsyat, Suro Joyo berhasil merebut kembali tahta Krendobumi dari tangan Jati Kawangwang. Tahta kembali ke tangan Agung Paramarta. Sekilas terbayang di benak Suro Joyo saat dirinya bertarung hidup-mati melawan si Dewa Naga Baja.

Saat itu lawan Suro Joyo tidak mempan segala macam jenis senjata sakti. Jati Kawangwang juga kebal segala macam ajian. Untung saja Suro Joyo mengetahui titik lemah musuh bebuyutan Kerajaan Krendobumi. Trinil Manis yang memberitahu Suro Joyo tentang kelemahan ajian lawan. Kelemahan si Dewa Naga Baja terletak di kepala bagian belakang. Ada bagian seluas lobang mata uang yang bisa ditembus dengan senjata atau pun ajian.

Saat Jati Kawangwang sedikit lengah, Suro Joyo menggunakan ajian andalannya, ajian Rajah Cakra Geni. Ajian dari Maeso Item. Dari telapak tangan kanan memancar sinar berbentuk cakra. Pukulan dari telapak itu adalah pukulan Cakra Geni. Benda apa saja yang kena hantaman, bakal lebur.

Hantaman dari ajian Suro Joyo menyambar bagia belakang kepala Jati Kawangwang. Tubuh Jati Kawangwang tumbang. Tergeletak di tanah. Suro Joyo ingin mendekat uti memastikan lawannya masih hidup ataukah sudah binasa.

Namun di luar dugaan Suro Joyo, ada sosok pendekar wanita berpakaian serba ungu bergerak sangat cepat. Pendekar wanita itu menyambar tubuh Jati Kawangwang. Tubuh Dewa Naga Baja lenyap dalam kelebatan kilat si pendekar misterius.

“Kalau saja waktu itu aku tidak kelelahan, pasti kukejar,” gumam Suro Joyo. “Aku masih penasaran. Jati Kawangwang sudah mati atau hanya terluka.”

Suro Joyo sampai sekarang masih memikirkan tentang bagaimana keadaan Jati Kawangwang. Kalau dia Jati Kawangwang masih hidup, tentu masih merasa gusar. Jati Kawangwang tentu akan kembali ke Krendobumi untuk menguasai kerajaan itu kembali. Dia telah merasakan enaknya menjadi raja dengan cara merebut paksa tahta dari yang berhak. Rasa nikmat itu tentu ingin dirasakannya lagi.

“Seandainya Jati Kawangwang masih hidup dan ingin merebut kembali Krendobumi, aku sudah siap menghadapinya,” kata Suro Joyo lirih, yang hanya bisa didengar diri sendiri. “Aku tidak akan membiarkan Krendobumi lepas dari tangan Ayahanda.”

Sejenak Suro Joyo melupakan tentang Jati Kawangwang. Dia kembali memikirkan cara tercepat untuk memetik Bunga Puspajingga. Kedua kaki ibundanya yang lumpuh harus disembuhkan secepatnya. Suro Joyo merasa sangat kasihan kepada sang ibu. Niken Sari tidak bisa menggunakan kedua kakinya untuk berjalan selama belasan tahun. Ingin secepatnya Suro Joyo melihat ibunya bisa berjalan dan melakukan apa saja dengan kedua kakinya.

Masalahnya aku tidak tahu jalan paling dekat menuju puncak gunung. Suro Joyo berkata dalam hati. Ini ada jalan bercabang. Satu menuju ke arah tenggara. Satunya menuju arah timur laut. Di antara dua jalan ini, mana yang paling cepat menuju puncak Gunung Sumbing?

Di puncak kebingungannya untuk memilih satu dari dua jalan yang mesti dilalui, ada seorang pendekar berjalan dari arah barat berhenti di pertigaan. Tidak jauh dari tempat Suro Joyo berdiri. Pendekar yang juga muda usia itu bernama Garjitalung. Dia sosok pendekar muda berwajah tampan, tidak kalah rupawan dibandingkan Suro Joyo.

Garjitalung mengenakan pakaian warna coklat muda yang cerah. Kecerahan warna pakaian itu menambah penampilannya semakin menawan. Di pinggangnya terselip tombak pendek yang terbungkus sarung kulit binatang warna hitam. Di dunia persilatan, Garjitalung termasuk pendekar hebat yang diperhitungkan oleh sesama pendekar.

Ketika melihat Suro Joyo, Garjitalung terlihat kaget. Dia tidak menyangka ada orang yang telah lebih dulu sampai di pertigaan ini. Dahi Garjitalung berkerut, merasa asing dengan sosok pendekar muda berpakaian serba putih. Dia cermati sosok pemuda yang berdiri di depannya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Keduanya bertatapan sejenak. Suro Joyo ingin bertanya, tapi Garjitalung mendahului.

”Hei, apa kamu tahu jalan terdekat menuju Gunung Sumbing?” tanya Garjitalung. Nada suaranya kasar. Sikapnya kurang menyenangkan bagi orang lain yang belum mengenalnya.

”Hei, kamu ini mau Tanya, apa mau ngejek?” Suro Joyo balik bertanya. Rasa kesal terdengar dari nada suara.

”Monyet! Beraninya kamu balik bertanya! Apa kamu belum tahu siapa aku?”

”Lho, memangnya kamu ini siapa? Kamu merasa lebih hebat ya?”

”Brengsek! Jangan bersikap sembarangan! Bisa-bisa nyawamu melayang dengan sia-sia!”

”Kamu juga jangan bersikap sembarangan pada orang yang belum kamu kenal. Bisa-bisa kamu kehilangan muka!”

Gemeretak gigi Garjitalung. Sikap dan kata-kata Suro Joyo membuatnya naik pitam. Dia yang selama ini dihargai sesama pendekar, kini serasa diremehkan oleh orang yang menurutnya bukan orang yang terkenal di belantara persilatan.

”Bangsat! Diam atau kurobek mulutmu!” gertak Garjitalung untuk menekan mental lawan bicara.

”Lho..., apa hakmu kok pakai nyuruh-nyuruh diam!” Suro Joyo menjawab dengan enteng. Sikapnya tenang, tidak terbawa arus kemarahan lawan bicara yang sikapnya menjengkelkan.

”Agaknya mulutmu perlu dibungkam secara paksa, hiaaat!”

Garjitalung langsung melancarkan pukulan-pukulan mautnya untuk menghantam wajah Suro Joyo. Pukulan-pukulannya gencar dan cepat untuk membungkam orang yang menyinggung perasaannya.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Immortal Soul
9.1
Di dunia ini, kekuatan kultivasi hanya dikuasai oleh pemilik ikatan spiritual yang kuat, sementara mereka yang berakar fana ditakdirkan hidup biasa saja. Mo Wuji terperangkap dalam kasta fana tersebut karena keterbatasan bakatnya. Namun, ia menolak tunduk pada nasib yang tidak adil ini. Saksikan perjuangan keras Mo Wuji dalam menembus batas kemampuan dan melampaui takdir kelamnya demi membuktikan bahwa seorang manusia biasa juga bisa menjadi luar biasa.
Sampul Novel My Handsome Partner
8.0
Karir jurnalisme Senja yang mandek berubah drastis saat ia terjebak banjir bandang kala bertugas. Tersesat di hutan belantara, ia bertahan hidup bersama peri bernama Ella. Situasi kian menegangkan ketika Senja menyelamatkan Salaar Bayu dari serangan laba-laba raksasa. Pertemuan itu membawa mereka ke Desa Galie, tempat Bayu bekerja sebagai jagawana. Bersama-sama, mereka menyelidiki rahasia Hutan Sungai Hitam. Namun, kehadiran sang mantan, Fajar, menguji perasaan Senja di tengah misi berbahaya ini.
Sampul Novel Permaisuri Baru Milik Kaisar
9.1
Kaisar Lu Yin bertekad mencari selir baru demi mendapatkan penerus takhta. Kehamilan Selir Ban dan kehadiran putri dari Permaisuri Xin Shi rupanya belum cukup memuaskan sang penguasa. Pilihan akhirnya jatuh pada Xi Yi, putri tabib istana yang jelita dan berbakat dalam pengobatan. Terpaksa masuk ke istana, gadis lembut ini harus menghadapi aturan ketat dan kerasnya persaingan di antara para wanita Kaisar. Mampukah Xi Yi bertahan?
Sampul Novel Reinkarnasi Ke-dua di Dunia Lain
8.2
Demi melindungi Ratu dan rakyat Danirmala dari Demon Lord, sang penguasa agung Alfina rela gugur hingga kehilangan memorinya. Kini, ia terlahir kembali untuk kedua kalinya di sebuah dunia asing. Anehnya, Al hanya mampu mengingat masa-masa SMA saja. Tanpa kekuatan hebat dari masa lalunya, mampukah mantan raja ini bertahan? Simak perjuangan epik Al merintis kembali segalanya dari nol di dunia baru.
Sampul Novel SANG MATAHARI
9.1
Menyusuri belantara misterius yang sarat keajaiban, Aria Stormheart melangkah mantap sebagai petualang sejati. Dengan pedang bercahaya yang selalu siap di pinggangnya, ia siap menghadapi segala rintangan di dunia fantasi ini. Di sepanjang jalan, perasaan cemas dan gembira berbaur di dalam hatinya. Namun, tekad kuat Aria tidak pernah goyah. Setiap jengkal langkah yang diambilnya menjadi bukti nyata dari keberaniannya menantang bahaya.
Sampul Novel Sup Kecantikan
9.2
Gadis berkulit gelap dan kurus ini menjalani hidup penuh penderitaan, sangat kontras dengan ibunya yang cantik jelita dan dimanjakan oleh seluruh pria di desa. Di tengah siksaan kerja keras dan perundungan anak-anak sekitar yang menyebutnya pembawa sial, sebuah ramalan mengerikan membayangi masa depannya: ia akan dinikahkan dengan dewa gunung dan mati di kuilnya. Menolak pasrah pada takdir tragis tersebut, ia merancang rencana nekat untuk menukar identitasnya dengan sang ibu sebelum upacara pernikahan dimulai.