APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pemuas Birahi Setengah Baya

Pemuas Birahi Setengah Baya

Anisa terhanyut dalam pesona misterius dunia pria matang yang penuh gairah tak terduga. Di balik usia mereka, terdapat pengalaman dan maskulinitas liar yang membangkitkan sensasi mendalam bagi dirinya. Setiap sentuhan dan godaan penuh rahasia menuntun Anisa menemukan sisi lain dari nafsu yang membara. Terpikat oleh stamina serta daya tarik pria setengah baya, ia akhirnya menyerahkan diri sepenuhnya untuk menjadi pemuas birahi dalam hubungan yang begitu panas ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Di bale bambu depan warung Bu Ida, dua perempuan paruh baya tengah duduk berselonjor, mengunyah rengginang dan sesekali menyeruput teh manis dari gelas bercorak bunga. Suara ayam tetangga sesekali menyela percakapan mereka, bersaing dengan bunyi motor yang menderu dari kejauhan.

Bude Ami, janda beranak dua yang dulu sempat jadi primadona ronda malam, duduk termenung sambil mengipas-ngipas dirinya dengan kain serbet lusuh, usai membantu Bu Ida menggoreng bakwan.

“Aku tuh ngerasa aneh, Rin…” gumamnya lirih, seolah berbicara pada angin pagi.

“Apanya yang aneh, Bud?” sahut Rini, sahabat sejawat sesama janda beda usia, yang sedang asyik menyesap rokok kretek sambil menggoyang-goyangkan kakinya di ujung bale. Rini tak punya anak, tapi buah dadanya seperti ibu menyusui bayi kembar.

“Kita ini… kayak makin gak laku. Dulu mah tiap sore, tiap malam ada aja yang nyenggol. Sekarang? Lewat depan pos ronda aja kayak hantu tak kasat mata. Jangankan brondong, aki-aki aja kaya gak bisa liat kita.”

Rini tertawa pendek, sinis. “Lha iya. Kita udah dianggap bukan cabe lagi, Bud. Kita tuh… apa ya… kayak udah dianggap rempah-rempah jadul. Wanginya cuma buat yang ngerti aja.”

Tapi Bude Ami tak tertawa. Matanya malah menyipit menatap jalan, tempat Anisa, biasa melintas dengan langkah pelan dan pakaian kerja yang modis, atau naik ojeg yang katanya tukangnya pun sampai antri ingin membonceng dia.

“Sejak si Anisa tinggal di kampung kita, dunia para janda berubah drastis, Rin!” desis Bude Ami, nada suaranya seperti menahan geram. “Punya suami tapi gaya dia kayak janda muda. Jalan dikit, paha keliatan. Senyum dikit, yang di pos ronda langsung duduk tegak.”

Rini mendengus. “Aku liat sendiri kemarin. Mang Usup tukang sayur aja sampe nabrak tiang listrik gara-gara mandangin dia terus. Padahal si Anisa cuma jalan biasa sambil nenteng belanjaan dari warung.”

“Ya ampun, Rin… Aku aja sekarang kalau ngajakin si Ujang, malah pura-pura sibuk goreng tahu. Kata temennya sih lagi fokus sama si Anisa. Sakit banget hatiku. Walau cuma gocap sekali naik, kan bisa buat beli beras.”

Mereka terdiam sesaat. Hanya suara cericit burung dan seruput teh yang terdengar. Lalu, tiba-tiba Bude Ami menepuk pahanya, seperti mendapat wahyu. “Aku yakin si Aroh, si Ijah, si Mumun dan yang lainnya, pasti merasakan hal yang sama. Sekarang janda turun pamor, bini orang malah kesohor.”

“Berat emang. Terus kita harus gimana, Bud?” Rini ikutan makin bingung.

“Aku punya ide. Gimana kalau si Anisa, kita ajak gabung.”

“Gabung apa?” Rini melirik waspada.

“Ya… gabung ke lingkaran kita. ‘Geng Janda Rasa Rawit, Tangguh dan Mengigit.’ Kita ajak dia arisan, pengajian, atau paling nggak duduk-duduk sore sambil ngerumpi. Biar dia ngerti rasanya jadi single parent di kampung ini. Siapa tahu auranya nular ke kita.” Bude Ami bicara antusias dan rona wajahnya mulai sedikit berbinar.

Rini menggigit bibir bawahnya, berpikir keras dengan ide yang dia pikir agar mustahil itu.

“Jadi strategi pansos gitu ya?” Rini ingin memastikan.

“Ya… numpang eksis lah, Rin. Daripada duduk begini terus tiap hari kayak patung warung. Kita dekati dia pelan-pelan, akrabin. Biar lelaki di kampung kita mulai melirik kita lagi.”

“Kalau dia gak mau?” tanya Rini ragu.

Bude Ami meneguk tehnya sampai bunyi. Matanya menyipit nakal, bibirnya tersungging jahat.

“Kalau dia nolak, ya tinggal minta bantuan Bah Udin aja, biar diritual. Kita semua kan anak buahnya, masa harus pusing-pusing, hehehe” Bude Ami makin bersemangat.

Rini terkekeh, lalu menepuk-nepuk lutut Bude Ami. “Bude jahat, tapi aku suka.”

Mereka masih duduk di bale bambu, tapi kali ini dengan posisi agak menunduk, seperti dua konspirator ulung tengah merancang kudeta kecil. Angin kampung yang semilir membawa aroma warung dan suara kambing dari kejauhan, tapi obrolan mereka tetap berpusat pada satu nama: Anisa Sang Perusak.

“Eh, tapi kamu berani gak ngadepin suaminya? Si Pian itu anak mantan kades kita loh.” bisik Bude Ami, matanya menyipit, seolah ada bayangan Pian mengintip dari balik pohon pisang.

Rini menyeringai santai. “Alah, Pak Abdul kan udah gak tinggal di sini. Lagian si Pian itu belum tentu anak kandungnya Pak Abdul. Liat aja mereka itu kaya bumi dan langit.”

Bude Ami mengangkat alis, setengah tak percaya. “Jangan sembarangan, Rin. Si Pian emang kurus, letoy, item, ngomong pelan, kerjaan di sawah. Tapi kasih sayang Pak Abdul justru paling besar sama dia. Katanya kebutuhan bulannya pun masih disubsidi.”

Rini menjulurkan lidah, mengejek. “Prett lah… Pak Abdul itu baik bukan karena si Pian, tapi ada maunya sama si Anisa, menantunya. Hihihi.”

Tawa kecil meledak di antara mereka. Bukan karena lucu, tapi karena tergoda bayangan skandal besar yang mereka bayangkan sendiri.

“Wajar sih,” sambung Bude Ami, tak mau kalah, “Lah Pak Kades yang sekarang aja katanya diam-diam suka nanyain si Anisa.”

“Hih, dasar lelaki. Lihat jidat bening dikit, langsung lupa istri di rumah, apalagi sama kita-kita pelanggan lama.”

“Balik lagi ke topik. Jadi gimana, si Anisa, kita ajak gabung aja? Berani gak ngadepin suaminya?”

Rini menghela napas, lalu menepuk-nepuk pahanya sendiri. “Ya… kita pikir-pikir dan cari celah dulu, deh. Sambil jalan sambil mikir gitu loh. Nggak bisa ujuk-ujuk terjang, nanti kita malah kelihatan lapar dan dicurigai.”

Bude Ami manggut-manggut, lalu menatap lurus ke jalan setapak yang bisas dilewati Anisa saat akan ke warung Bu Ida.

“Aku setuju. Kita gak usah buru-buru. Tapi kalau proyek ini berhasil, yang lain juga pasti gabung lagi sama kita. Geng kita akan kembali berjaya, bukan hanya sekampung ini yang kita taklukan, tapi sekabupaten, hehehe.”

Mereka tertawa pelan, kali ini seperti dua bidak catur yang sadar akan posisi masing-masing — tak punya kekuatan besar, tapi punya modal licik, sabar, dan berani bergerak dalam bayang-bayang.

“Eh, tapi gimana dengan Bu Ida, dia pasti gak setuju si Anisa gabung. Secara dia akan merasa tersaingi.”

“Biarin aja. Bu Ida kan emang punya suami, ngerasa janda. Kalau dia gak setuju, kita tinggalin aja. Lagian Bu Ida gak nambah aura sama geng kita. Malah adi beban.”

“Oke deh, kalau gitu, mulai sekarang kita harus rancang strategi jitu.”

Mereka pun toast dengan wajah semringah penuh harapan. Sepertinya permainan besar akan segera dimulai.

^*^

Di bawah pohon ketapang dekat lapang voli SMAN 14, Haikal dan Daren duduk santai sambil nyemil gorengan. Plastik es teh bergoyang pelan di tangan mereka, sesekali diteguk sambil melihat anak-anak lain berlalu-lalang di jam istirahat.

“Eh, Kal,” Daren mulai dengan nada pelan, “lu ngerasa gak sih, Kang Badri sama Kang Diat tuh kayak ngebet banget sama Mbak Anisa?”

Haikal nyengir, menyikut pelan lengan temannya. “Ya elah, nenek-nenek bau tanah aja mereka godain, apalagi Mbak Anisa. Padahal mereka udah punya bini dan anak, dasar Kang Ojek rasa buaya semua.”

Daren cengengesan. “Tapi emang sih, Mbak Anisa itu beda. Matanya, senyumnya, jalannya... asli, aura selebgram banget. Gue yakin, semua cowok yang pernah ngeliat dia pasti… ya langsung ngebayangin yang aneh-aneh malamnya. Gue aja kadang sampai coli, heheheh.”

“Ya, sama aja, hehehe,” timpal Haikal sambil tertawa kecil.

Daren mengangguk cepat. “Tapi gue masih heran, kenapa dia mau sama Mas Pian?”

Haikal mendesah. “Namanya juga jodoh, Bro. Tapi gue akui sih, auranya Mbak Anisa emang kuat banget. Seksinya elegan, gak kayak emak-emak komplek yang doyan pamer paha.”

“Kalau menurut gue,” Daren nyeruput es teh plastiknya, “walau punya suami, tapi vibe-nya tuh janda banget. Ada sisi liar yang susah dijelasin. Lu ngerti kan?”

Haikal ngangguk. “Nyokap gue pernah bilang, dulu waktu nikah sama Mas Pian, dia emang janda. Tapi cuma bentar sama suami pertamanya, terus gak jelas.”

“Serius, Bro? Gue kira perawan-bujangan.” Daren melotot.

“Ya, gak banyak yang tahu. Kayaknya mereka emang nutupin. Mungkin Mas Pian malu dapetin janda, hehehe.”

“Hah! Yang harusnya malu tuh Mbak Anisa, dapetin suami jelek banget.”

Haikal gak merespon, biar bagaimana pun, Pian masih saudaranya. Pandangannya kosong, terbang ke peristiwa kemarin sore, saat Anisa memeluknya dari belakang karena motornya ngerem mendadak dan sedikit oleng.

“Eh, ngomong-ngomong,” Daren kembali angkat suara, “mereka udah lama ya nikahnya. Tapi kok belum punya anak juga? Menurut lu siapa yang payah?”

Haikal nyengir nakal. “Kalau ngeliat penampilan fisiknya sih... Mungkin Mas Pian, hehehe.”

Daren angkat bahu. “Mungkin. Tapi ya sudahlah, bukan urusan kita.”

“Bukan urusan kita, tapi bahan coli lu tiap malam,” goda Haikal.

“Anjay, setuju! Jujur gua bahkan rela kalau diminta antar-jemput dia tiap hari. Pelukannya... bisa bikin gue tidur nyenyak seminggu penuh.”

“Asal jangan lu lampiasin ama kambing aja, Ren.”

“Gila, mending dilampiasin sama Bude Ami atau Mbak Rini. Janda-janda keladi rasa rawit. Biar udah tua, tapi goyangannya masih pedas, bikin muncrat banyak, hahahaha.”

Haikal nyaris cerita soal dia berkesempatan jemput Anisa. Tapi dia tahan, tahu Daren adalah saingan beratnya. Kalau dia tahu, bisa-bisa tiap sore Daren nongkrong depan toko Tante Maya.

“Eh Bro, pernah mikir gak... sebenernya Mbak Anisa tuh gak puas sama suaminya?” lanjut Daren.

“Mungkin.” Hikal menjawab singkat.

“Dari gosip emak-emak, selain kurang ganteng, Mas Pian juga kurang greng gitu.”

Haikal tak merespon.

“Dan gue ngerasa, Mbak Anisa itu emang kesepian, makanya dia sering ngasih kode.”

“Kode gimana?” tanya Haikal penasaran.

“Kalau pas ngobrol, mata dia tuh kadang suka fokus ke selangkangan kita. Dan sumpah, kadang punya gue suka langsung ngaceng kalau diliatin gitu.”

Haikal terbelalak tak percaya.

“Dan, sejak sering digituan sama dia, gue jadi males ngelayanin emak-emak.”

Haikal agak melongo. “Berarti lu udah gak main sama Bu Iis?”

“Jangkan Bu Iis, Bu Mila yang udah sering transfer aja, gue tolak.”

“Gokil, lu serius banget ya.”

Daren menatap serius. “Ya, gue mau serius deketin Mbak Anisa.”

Haikal tersenyum kecut. “Tapi berat Bro. Saingannya banyak. Ada Kang Badri, Kang Diat, Pak RW, Bah Adi, Ustaz Umar dan...”

“Gue siap singkirin saingan aki-aki semua, gampang. Bahkan suaminya bisa gue singkirin,” Tantang Daren. Lalu mencondongkan kepala, berbisik cukup lama di telinga Haikal. Setelahnya, Haikal menatapnya dengan alis terangkat.

“Lu serius?” tanya Haikal pelan.

Daren membalas dengan senyum penuh misteri. “Kita coba aja dulu. Namanya juga usaha, Kal.”

“Bahaya gak?”

“Justru makin enak kalau gede risikonya.”

“Kalau gagal?”

“Tinggal temui Bah Udin, gampang!”

Mereka saling adu pandang dan memainkan alisnya masing-masing, seolah sepekat atas sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar khayalan siswa kelas tiga SMA. Dan rencana itu akan mereka susun, walau entah kapan bisa dieksekusi. Dan mungkinkah mereka berani ambil resiko?

^*^

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Sang Ladyboy
8.4
Pesona Vanya sebagai ladyboy cantik kerap membuat wanita tulen merasa tersaingi. Di sebuah klub malam, ia jatuh hati pada Ricardo Esteban, meski ragu karena identitasnya. Daya tarik Vanya saat menari juga memicu obsesi dari miliarder New York, Peter Hallmark, dan bos mafia Italia, Don Salvatore. Namun, di balik profesinya sebagai MUA, ia justru terperangkap dalam sindikat perdagangan manusia. Sanggupkah Vanya bertahan dan meraih cinta sejati di tengah penderitaan ini?
Sampul Novel HARMONI BULAN DAN MATAHARI
8.0
Pertemuan dengan Gideon Bastian, pemuda blasteran rupawan sekaligus ahli waris tunggal dinasti kaya raya, membawa kegelisahan baru dalam hidup Arlyna Aira. Gideon telah terpikat pada Arlyna sejak awal berjumpa. Namun, jalinan asmara mereka harus menghadapi berbagai rintangan pelik yang menguji kesetiaan. Di bawah tekanan keadaan yang mendesak mereka untuk berpisah, mampukah Arlyna dan Gideon menjaga ketulusan cinta mereka agar tetap bertahan?
Sampul Novel Ibu Mertuaku, Godaanku
8.5
Kehidupan baru Nathan bersama sang istri, Elira Devina, di kota besar awalnya tampak sempurna. Namun, segalanya berubah sejak kehadiran Seraphine, ibu mertuanya yang berstatus janda dan sangat memikat. Ketegangan mulai menyelimuti rumah tangga mereka saat Nathan merasakan getaran terlarang dari interaksi yang tak disengaja. Di balik pernikahan yang terlihat bahagia, sebuah rahasia gelap perlahan tumbuh dan mengancam mereka ketika batas hubungan menantu dan mertua mulai terkikis.
Sampul Novel Pengantin Yang Terjebak Dalam Dendam
9.4
Sephia terjebak dalam pernikahan paksa dengan Elandro Varela, seorang pewaris tak berbelas kasih. Hubungan ini bermula saat Sephia harus mengurus ibu Elandro setelah kecelakaan tragis. Alih-alih membina rumah tangga, Elandro memakai ikatan tersebut untuk melampiaskan dendamnya. Bagi Sephia, pernikahan ini adalah hukuman dan penjara emas penuh kebencian. Di tengah perang dingin yang menyiksa, sanggupkah Sephia bertahan, atau justru hancur oleh amarah Elandro?
Sampul Novel Stay With Me (Gaza dan Clara)
9.5
Pernikahan paksa akibat insiden tak terduga menyatukan Gaza dan Clara dalam ikatan tanpa cinta. Seiring waktu, rasa terpaksa itu terkikis saat mereka menyadari perasaan tulus yang rupanya telah lama terpendam. Namun, kebahagiaan mereka langsung diuji begitu pengakuan cinta terucap. Berbagai rintangan berat kini datang bertubi-tubi mengancam komitmen baru mereka. Mampukah hubungan yang berawal dari ketidaksengajaan ini bertahan melewati badai ujian?
Sampul Novel Sugar Daddy Dosenku
8.0
Kehidupan di kota besar membuat Nina, seorang mahasiswi penerima beasiswa, merasa terdesak secara finansial. Uang beasiswa yang ia terima ternyata tidak cukup untuk menutup biaya hidup sehari-hari sekaligus memuaskan keinginannya akan gaya hidup mewah. Didorong oleh tuntutan ekonomi dan hasrat memiliki barang-barang mahal, Nina akhirnya terjun ke dunia gelap penuh rahasia. Ia terperangkap dalam realitas kelam demi memenuhi ambisi pribadinya.