APKDock Logo
Sampul Novel HARMONI BULAN DAN MATAHARI

HARMONI BULAN DAN MATAHARI

8.0 / 10.0
Pertemuan dengan Gideon Bastian, pemuda blasteran rupawan sekaligus ahli waris tunggal dinasti kaya raya, membawa kegelisahan baru dalam hidup Arlyna Aira. Gideon telah terpikat pada Arlyna sejak awal berjumpa. Namun, jalinan asmara mereka harus menghadapi berbagai rintangan pelik yang menguji kesetiaan. Di bawah tekanan keadaan yang mendesak mereka untuk berpisah, mampukah Arlyna dan Gideon menjaga ketulusan cinta mereka agar tetap bertahan?

HARMONI BULAN DAN MATAHARI Bab 1

"Aww, aww, aaa ,,,." 

Jerit tertahan terlontar dari gadis berponi bibir lipstik nude ketika kaki mungil terbalut sneakers putih hampir saja terpeleset jatuh menginjak tanah becek sisa genangan air hujan.

"Are you okay?!" 

SEERRR!

Aliran darah seakan berdesir begitu cepat ketika mata yang dihiasi bulu-bulu lentik bertabrakan dengan iris mata hitam legam dengan jarak hanya beberapa senti saja. 

Detik berikutnya, gadis tersebut baru menyadari tubuh mungilnya sedang melayang di udara dipegang tangan besar melingkari pinggang rampingnya.

"Be careful."

Gadis berponi tersebut cepat-cepat mengatur posisi berdirinya. "Thank you," ucapnya gugup, semburat merah merona langsung menghiasi wajahnya.

"You are welcome."

Setelah hari itu, tidak pernah ada pertemuan kedua, ketiga apalagi keempat dan seterusnya. Tapi bagi gadis berusia 24 tahun tersebut, itu adalah hari yang tak pernah bisa dilupakan seumur hidupnya. 

"Loe melamun lagi, Arlyna?!" 

Suara cempreng membuyarkan lamunan Arlyna  ketika teringat kembali dengan pria berwajah blasteran yang telah menolongnya.

"Yaelah, ck ck ck. Sampai kapan loe akan terobsesi dengan itu orang?!"

"Berisik loe, Bia!" sungut Arlyna.

Sejenak Bia terdiam seakan sedang memikirkan sesuatu, tak lama kemudian berteriak kegirangan. "OMG!" 

"Astaga!" Arlyna mengelus dada, kaget dengan teriakan Bia. "Loe kebiasaan selalu berteriak depan telinga gue! Lama-lama gue bisa mati sebelum waktunya!"

"Yey! Mana ada mati sebelum waktunya. Mati ya mati aja! Drama banget."

"He-he-he," Arlyna terkekeh, didorongnya kepala Bia pelan. "Pinter juga loe!"

"Arlyna, gue punya ide untuk mencari pangeran loe yang misterius itu!" Bia antusias. "Dengerin ya ,,,,"

Belum selesai Bia bicara, Arlyna langsung memotong, "Males gue dengan ide-ide loe! Hasilnya selalu zonk, ogah gue!"

"Yah elu. Ngomong juga belum, udah males!" sungut Bia diakhiri dengan cemberut. 

Tak berselang lama datang salah satu teman Arlyna yang terkenal cukup tomboy. Langsung duduk di sebelah Bia.

"Kenapa loe? Datang-datang bawa muka masam. Kasih salam kek pada kita berdua. Sudah datangnya telat, bawa muka begitu lagi. Bikin sepet mata gue!" cerocos Bia.

"Iya, kenapa Jeng Vio?! Apa ada yang mengganggu loe di jalan?!" tanya Arlyna.

"Mana ada yang berani ganggu si Vio. Lihat tangannya ini," Bia yang duduk di sebelah Vio mengangkat tangannya Vio. "Tangan kayak barbel begini mana ada yang berani, orang sudah kabur duluan lihatnya! Ha-ha-ha!" 

"Apa sih loe!" Vio menarik tangannya dengan kasar. "Tidak lucu!"

Arlyna dan Bia saling melempar pandang, heran dengan sikap temannya yang tidak biasa, padahal kalau diacak becanda apapun tidak pernah marah. Suasanapun mendadak jadi canggung dan hening. 

Ya, mereka bertiga selalu rutin menyempatkan waktu untuk bertemu ditengah kesibukan masing-masing di sebuah cafe yang telah menjadi tempat favorit mereka. 

Arlyna merupakan seorang fashion designer yang bekerja di butik cukup terkemuka di kota tempat tinggalnya. Bia, seorang sarjana ekonomi yang bekerja di perbankan sementara Vio seorang instruktur senam dan punya beberapa tempat gym.

"Sebentar lagi jam makan siang habis. Gue harus kembali bekerja," ucap Bia setelah melihat jam yang melingkar di tangan.

Arlyn juga melakukan hal yang sama. "Gue juga harus kembali ke butik. Banyak pesanan baju akhir-akhir ini dari para nyonya sosialita."

"Lah terus gue bagaimana?!" tanya Vio.

"Bagaimana apanya?!" tanya Bia dan Vio berbarengan.

"Gue datang, kalian pada pulang!" protes Vio ketus.

"Salah sendiri! Loe daritadi diam membisu," jawab Arlyn. "Gue cabut dulu. Bye. Sampai ketemu lagi."

"Yaelah! Gue lagi bingung, kalian malah pergi. Tidak ada empati sama sekali!" keluh Vio.

Bia yang belum beranjak dari tempat duduknya melihat Vio. "Loe kagak ngomong dari tadi. Bijimane kita bisa tahu!"

Vio menghela napas. "Ya sudahlah. Nanti saja gue cerita."

Bia kembali melihat jam tangannya. "Gue sudah telat nih. Cabut dulu ya!"

Sementara itu, Arlyna sedang berusaha mencari taksi di jalan depan cafe.

"Ya ampun! Pada ke mana ini taksi?!" gerutu Arlyna menutup kepala dengan majalah dari teriknya matahari.

Satu menit, dua menit berdiri tepi jalan akhirnya taksi terlihat tapi taksi berada di seberang jalan. 

"Kok taksinya lewat jalan itu?!" gumam Arjuna heran karena taksi tidak seperti biasanya melewati jalan di depan.

"Mbak!" suara wanita menyapa Arlyna.

"Iya," jawab Arlyna melihat wanita dengan rambut sudah di dominasi warna putih.

"Sedang menunggu taksi mbak?!" tanyanya lagi ramah.

Arlyna mengangguk. "Iya."

"Taksi tidak lewat jalan ini mbak, di depan sana!" tunjuknya ke arah kanan Arlyna berdiri. "sedang ada galian kabel jadi arahnya dialihkan."

"Oh, pantas dari tadi tidak ada taksi lewat," gerutu Arlyna.

Setelah mendapat informasi tersebut, Arlyna akhirnya memutuskan menyeberang. Dilihatnya kiri kanan untuk mencari tempat penyeberangan, tapi tidak ada.

"Ya sudah, menyeberang dari sini saja," ucapnya sendiri.

Suara klakson mobil yang saling bersahutan sedikit membuat nyali Arlyna ciut ketika akan menyeberang. Apalagi dengan kendaraan beroda dua yang saling mendahului.

Dilihatnya jam yang melingkar di tangan, waktu sudah menunjukan lewat dari waktu istirahat jam makan siangnya. 

"Gue harus buru-buru ke butik, Nyonya Ratih bisa ngamuk kalau tahu gue telat masuk," gumamnya sendiri.

Satu langkah, dua langkah, kaki dengan pantofel hitam mulai menjajaki jalan beraspal untuk menyeberang. 

TIIDH! 

Suara klakson mobil berhasil membuat jantungnya hampir lepas ketika lewat depan matanya. 

"Sialan!" umpat Arlyna berhenti sejenak. 

TIIIIDH!

Suara klakson mobil terdengar panjang dari samping kiri tubuh Arlyna. 

SEERR!

Aliran darah di seluruh urat dalam tubuh Arlyna seakan mengalir begitu cepat disertai hangat yang menjalar.

Wajah itu, wajah yang telah mengganggu hari-harinya hanya karena pertemuan pertama yang tidak bisa dilupakan sekarang berada tepat di depan matanya. 

Arlyna terpana, di dalam mobil sport merah, pria blasteran yang selalu dicarinya sedang duduk dibelakang setir. Pria blasteran yang telah menolongnya saat dirinya akan jatuh ke genangan air hujan.

TIIIDH!

Klakson panjang kembali terdengar menyadarkan Arlyna dari keterpakuannya. 

"Minggir!"

Suara teguran dari kendaraan lain membuat Arlyna harus segera melanjutkan langkah kakinya untuk menyeberang jalan.

"Dia ,,, dia ,,, pria itu. Apa gue tak salah melihat?!" Berbagai pikiran berkecamuk dalam benak Arlyna setelah berdiri di atas trotoar memandang mobil sport merah yang semakin lama semakin menghilang di antara kendaraan yang lain.

....

Sementara itu, pria yang selalu bermain dibenak Arlyna melajukan mobil sport merahnya membelah jalan raya. 

"Tuan muda, hati-hati bawa mobilnya. Jangan ngebut-ngebut! Mamang takut nabrak orang," tegur sopir pribadinya duduk di samping.

"Tenang saja Mang. Gideon Bastian selalu berhati-hati. He-he-he." Selesai bicara, kecepatan mobil malah ditambah. "Mamang ini kan seorang sopir, masa takut diajak ngebut!"

"Ya beda dong tuan muda," seru Mamang ketakutan memegang seatbelt yang melingkar di tubuh. "Tuan muda hobinya balapan sedangkan mamang hanya sopir biasa, sopir papinya tuan."

Gideon malah terkekeh melihat sopirnya ketakutan. "Pegangan Mang, kita akan terbang!" serunya becanda.

"Jangan, tuan! Jangan! Mobilnya tidak bisa terbang. Mobil ini tidak punya sayap!" wajah pucat langsung menghiasi mamang.

Gideon semakin terbahak, tapi tetap fokus menyetir. "Ha-ha-ha. Memang yang ada sayapnya itu apa mang?!"

"Yang punya sayap mah burung, tuan!" Mamang tetap menjawab walau ketakutan sedang melanda. "Burung bisa terbang."

Kepolosan sopir pribadinya malah menggelitik Gideon untuk becanda. "Tapi ada juga mang, burung yang tidak bisa terbang. Tidak punya sayap, tapi dinamakan burung. Tahu enggak mang, apa nama burung itu?!"

Lanjut Membaca

Daftar Isi HARMONI BULAN DAN MATAHARI

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Bayangan Pengantin yang Terlupakan
9.3
Selama lima tahun menjalin kasih, aku percaya pada cinta Ronan Leach, CEO miliarder Grup Leach. Namun, tiga tahun hidup bersama justru diwarnai pengkhianatan. Ronan menikahi janda sahabatnya, mengumumkannya sebagai istri di depan media, hingga menghamilinya. Meski terus memohon maaf atas nama cinta, luka yang ditorehkan terlalu dalam. Kini, aku memilih pergi selamanya sambil membawa rahasia kehamilan yang dinantikannya, meninggalkan sang CEO dalam penyesalan terdalam.
Sampul Novel Dewa Perang Terbaik
8.9
Daniel, sang Dewa Perang yang sangat disegani, tak pernah melupakan masa remajanya yang kelam dan penuh kelaparan. Kala itu, sepotong biskuit dari seorang gadis kecil menjadi penyelamat hidupnya. Demi membalas budi yang begitu berharga, Daniel kini memutuskan kembali ke kampung halaman. Ia bertekad menjadi pelindung bagi sosok penyelamatnya masa lalu, yang kini telah tumbuh dewasa menjadi seorang wanita muda berparas sangat jelita.
Sampul Novel Gadis Muda untuk Tuan Duda
8.3
Rayyan, duda 32 tahun, didesak ibunya untuk menikahi Mayra, gadis 19 tahun yang bekerja sebagai guru PAUD sekaligus pengasuh. Mayra secara luar biasa mampu meluluhkan hati Asyifa, putri Rayyan yang berumur empat tahun dan dikenal selalu menolak belajar dengan siapa pun. Melihat kedekatan yang begitu erat di antara mereka, sang ibu meminta pernikahan ini demi kebaikan Asyifa. Akankah Rayyan setuju menjadikan Mayra sebagai ibu baru untuk putrinya?
Sampul Novel Gairah Liar Isteriku
9.5
Pernikahan Nara dan Rama tampak sempurna di mata publik, padahal Nara memendam kesepian yang luar biasa. Demi mengisi kekosongan hati, ia nekat menjalin perselingkuhan dengan Arka. Namun, kedamaian semu itu hancur ketika Arka mengirim ancaman untuk membeberkan hubungan rahasia mereka. Kini, Nara terjebak dalam pusaran pengkhianatan dan rasa sakit yang hebat. Di tengah kemelut asmara yang penuh misteri ini, ia harus berjuang keras demi menemukan kembali jati dirinya.
Sampul Novel "Gita Cinta dari Gadjah Mada"
8.1
Kisah cinta membara hadir di Universitas Gadjah Mada antara Gita, seorang mahasiswi berbakat, dan Mada yang penuh ambisi. Di tengah dinamika dunia perkuliahan yang padat, jalinan asmara mereka harus menghadapi berbagai tantangan nyata. Pembaca akan dibawa merasakan perjuangan emosional sepasang kekasih ini dalam mempertahankan hubungan mereka. Sebuah potret romansa masa muda yang berjuang bertahan melewati kerasnya rintangan di lingkungan akademis kampus.
Sampul Novel Jebakan Sang Mantan Istri
8.2
Pasca lolos dari sabotase mobil yang hampir merenggut nyawanya, Calista Anindya memilih lenyap demi keselamatan sang bayi. Enam tahun berlalu, ia kembali dengan mental baja, didampingi sepasang anak kembar yang genius. Calista pulang membawa misi khusus: membalas dendam pada mantan suami yang mengkhianatinya. Namun, akankah pembalasan ini berhasil, ataukah rahasia kelam masa lalu justru kembali merusak hidup yang telah ia tata?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan