APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pembuktian Cinta

Pembuktian Cinta

Bram bertekad membuktikan rasa cintanya pada teman masa kecil yang menyelamatkannya saat tragedi pembantaian keluarganya terjadi. Bertahun-tahun terpisah demi bertahan hidup, takdir mempertemukan mereka kembali. Demi melindungi sang kekasih dari tuduhan keji, Bram bahkan rela dipenjara. Sayang, pengorbanan itu berbalas kepedihan karena sang wanita tak pernah datang menjenguknya. Usai bebas, akankah Bram menemukan kebahagiaan atau justru melihatnya bersama pria lain?
Bab
Bagikan

Bab 2

Tangisan Bram, mamanya serta neneknya di liang lahat Migo.. Orang - orang sudah paad berpulangan,  hanya tersisa mereka bertiga disana.. Bram memeluk mamanya erat, dilihatnya batu nisan Migo.. Mata Bram sangat tajam menatap batu nisan itu, kedua tangan anak kecil itu di kepal kuat.. Dia sangat hapal seperti apa wajah pria yang sudah membunuh papanya..

"Ningsih.. Sebaiknya kita pulang, keburu sore nak.. Kita iklaskan Migo.. Mama juga sudah berusaha untuk iklas nak.. Kita hanya bisa berdoa untuk suami mu.." Ujar seorang wanita paru baya..

Hatinya sangat sakit, anaknya satu - satunya harus merenggang nyawa oleh ulah orang yang tidak bertanggung jawab..

"Hiks, Hiks.. Aku tidak tau harus apa ma, anak mama sudah pergi, aku harus apa ma, aku sangat mencintai suami ku, kenapa ma, kenapa ada orang yang tega melakukan itu para suami ku.. Suami ku selama ini tidak punya musuh. Kami datang ke desa ini untuk mengunjugi mama. Tapi malah mengantar nyawa suami ku.. Hiks, hiks.."

"Nak, iklaskan suami mu, kau harus kuat, ingat. Masih ada Bram yang butuh kamu, jangan sampai rasa sedihmu membuat mu lupa sama anak kamu.. Migo anak yang baik, semoga saja dia ditempatkan disisinya.."

"Ayo, kita pulang.. Sudah semakin sore.. Bram pasti lelah.. Dia juga butuh istirahat.."  Wanita paru baya itu membawa cucu dan menantunya pergi dari  pemakaman.. Sebagai seorang ibu, dia sangat sedih atas kehilangan anaknya..

Ningsing mengangguk. Dia merangkul anaknya sambil berjalan. Bukan hanya Ninsih saja, Bram putranya juga ikut terisak..

"Sayang, kita pulang ya. Besok kita kemari lagi menemui papa.. "

Bram mengangguk.. Dia menuruti apa kata mamanya..

Berjalan sambil terisak menuju mobil mereka.. Disaat mereka berada di pintu depan pemakanan, ada banyak pria berseragam hitam.. Mata Bram membulat, masih ingat dengan wajah orang - orang yang ada di depan mereka..

Deg..

"Siapa kalian?" Tanya Ninsih..

Bram mengeratkan pelukan nya pada Ningsih.. Dia ketakutan.. Tapi mata Bram tak luput mencari seseorang.. Seseorang yang sudah menembak papanya..

"Ternyata yang datang ke pemakanan hanyalah anak buah nya saja, yang di perintahkan untuk melenyapkan keluarga Migo hingga tak tersisa.."

"Hahahaha.. ternyata kalian disini. Kami capek mencari kalian ke kota..  Rumah kalian kosong, dan ternyata kalian malah di desa ini.. Katakan selamat tinggal untuk dunia yang penuh dengan  kebahagiaan ini, nyonya..."

"Apa maksdu mu, apa kalian tidak tau, kami sedang berduka, anak ku baru saja di makam kan.. Pergi kalian, jangan ganggu kami.." Teriak mamanya Migo..

"Haha.. Kami akan pergi, tapi setelah kalian kami lenyapkan.. Bos kami meminta kami untuk melenyapkan kalian. Jika kalian sudah lenyap, maka perusahaan serta seluruh aset Migo akan jatuh ketangan bos kami.."

"Bunuh mereka, lakukan dengan cepat.." Jawab bos dari anak buah itu..

"Lari Bram.. Lari sana.."

Ningsih melakukan perlawanan, dia bahkan mengigit tangan pria yang berusaha mencekik dirinya..

"Mau kemana kamu anak manis.. Sini sama om, biar om berikan kamu kedamaian.. Duni ini terlalu kejam untuk kami, sayang.."

"Tidak, jangan sakiti aku. Kalian sudah membunuh papaku, kalian jahat.." Bram pun mengigit tangan pria itu..

"Agkkhh.. Kurang ajar, beraninya kau melakuakn ini padaku.. Rasakan ini,.."

Belum juga tangan pria itu sampai mencekik Bram, Tapi Bram sudah memukul aset berharga miliknya dengan kuat..

"Argkkk.. Kurang ajar, beraninya kau anak kecil.. Rasakan ini.." Bram pun di cekik..

"Agkkk.. Ma, tolong Bram.." Teriak anak kecil itu, suara tangisan nya melengking kuat..

"Bram.." Lirih Ningsih. Dia mengejar Bram, lalu di pukulnya kepala pria itu kuat..

"Agrhkk. sialan, wanita ja-lang. Berani sekali kau memukulku, akan kuhabisi kau dan anakmu, pergilah menyusul suamimu ke neraka.."

Ningsih menendang aset pria itu. Hingga tersungkur di tanah.

"Ayo Bram, kita lari.."

"tapi ma, nenek bagaimana..?" Langkah Ningsih pun terhenti. di lihatnya di belakang, jika mertuanya sedang di cekik dua orang pria, sedang satu pria tertawa melihat nenek itu kesakitan..

"Pergi Ningsih, jangan perdulikan mama, bawa Bram pergi, selamatkan diri kalian, mama sudah tua, nak. Mama mohon.." Pinta Wanita paru baya itu dengan memohon..

Ningsih menangis, entah apa yang harus dia lakukan, tidak tega meninggalkan mama mertuanya disana.. Ningsih pun menurut, dia kembali berrbalik, meraih tangan anaknya, lalu berlari dari sana, Ningsih membawa Bram menuju mobilnya.. Dia memacu mobil dengan kecepatan penuh..

"Brengsek, wanita itu berhasil kabur,, kejar dia, jangan sampai lolos.. Tuan bisa marah, kalau wanita itu berhasil lolos dari kita.."

Mereka berempat pun langsung menuju mobil, memacu mobil mereka dengan cepat, mengejar Ningsih yang sudah pergi sejak tadi..

"Ma, nenek ma.."

"Tenang sayang, kita pasti kembali menolong nenek, kamu jangan khawatir ya.."

"Ma, mereka yang sudah membunuh papa, aku melihatnya, ma.." Jawab Bram dengan isakan  pilu.. Ningsing meremas dadanya satu tangan.. Rasanya sangat sakit.. Sakit sekali..

Ningsih melihat sekolah SMA, dia berhenti disana.. Ayo, nak. Turun..

"Kita mau kemana , ma.."

"Turun saja nak, kita pergi lagi menolong nenek.."

"Tapi ma, penjahat itu.."

"Tidak apa, nak. Kita pergi lagi, penjahat itu pasti sudah pergi.."

Ningsing menyetop taksi yang lewat.. Dia kembali  kepemakaman, dan benar saja mertuanya sudah terlelatk disana..

"Mama.."

"Nenek.."

Ibu Win membuka mata, dilihatnya menantu serta cucunya dengan senyuman..

"Ningsih, jangan kembali lagi ke ibu kota, pergi lah yang jauh, selamatkan dirimu dan juga cucu mama.. Pergilah ke desa  mama.. Disaan desa yang sangat terpencil, mereka pasti tidak akan menemukan kalian disana.."

"Tapi, ma.."

"Nak, dengar kan mama.. Mama sudah tua, waktu mama juga sudah tidak banyak lagi.. Biarkan mama menemani, Migo suami kamu.. Jaga cucu mama, jaga diri kalian.. Kau bisa berkebun disana, kau bisa menghidupi Bram hingga dia dewasa disana.. percaya sama mama, nak.. Tolong jangan membantah.."

Ningsih menangis, entah dosa apa yang sudah dia lakukan hingga  cobaan hidupnya sangat berat. Di waktu yang bersamaan, akan kah dirinya kehilangan orang - orang yang dia cintai..

"Ma, kita bisa pergi bersama.. mama harus kuat, kita bisa pergi ke desa yang mama maksdu, Jangan tinggalin kami lagi, Ma. Ningsih mohon.. Ningsih sudah cukup terpukul dengan kepergian suamiku, mama harus kuat, kita ke rumah sakit, ma.."

"Tidak, nak. Mama sudah tidak sanggup lagi.. Mama hanya pesan, jaga Bram cucu mama.. Jaga diri kalian berdua. Mama sayang sama kamu, nak. Mama juga sayang sama cucu mama.."

"Nenek, hiks, hiks, Jangan tinggalin, Bram nek, Bram takut.. Hiks.."

Tangan wanita paru baya itu terangkat, di elusnya wajah menantu dan cucunya, tersenyum hangat..

"Jaga mama kamu, nurut sama mama kamu.." Selesai mengucapkan kata itu, dia menutup mata, bersamaan dengan tangannya jatuh ke bawah..

"Mama..  Hiks, Hiks"

"Nenek. Hiks, Hiks.."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belenggu Cinta
7.9
Saat mengetahui kehamilannya, sang protagonis justru mendapati suaminya, Yohan Suharso, mendampingi Maudy Hutomo memeriksakan kandungan. Menghadapi sikap dingin Yohan yang memilih tidak pulang, ia memutuskan untuk menggugurkan kandungannya. Selama ini, semua orang mengira ia tidak akan pernah pergi karena sangat mencintai Yohan. Padahal, pengorbanannya bertahan selama sepuluh tahun murni demi membalas utang budi. Kini, saatnya ia mengakhiri pernikahan sepihak ini dan melangkah pergi.
Sampul Novel Mencintai ayah angkat ku
8.6
Adam memendam obsesi kelam pada Hana, anak angkat yang dirawatnya sejak kecil. Ketika Hana berniat menyudahi hubungan tabu ini agar Adam bisa bahagia bersama perempuan lain, kemarahan Adam memuncak hingga berujung kekerasan. Ia berjanji tak akan membiarkan lelaki lain memiliki Hana. Di tengah konflik batin dan penolakan moral, Adam tetap memaksakan perasaan egoisnya. Sanggupkah ikatan penuh derita ini bertahan dari tentangan dunia?
Sampul Novel Satu-PD176
9.5
Sinta dan putrinya terdesak oleh serangan musuh Leo, suaminya. Di tengah bahaya, pengawal dari Leo justru melarikan diri. Sinta mencoba menghubungi suaminya berkali-kali tanpa hasil, hingga Yosan sang kakak datang menyelamatkan. Ketika panggilan ke-99 akhirnya dijawab, Leo malah mengampuni si pengawal walau putri mereka telah tewas. Kecewa berat atas pengkhianatan ini, Sinta yang merupakan pengusaha senjata terbesar memilih bercerai dan memutus seluruh pasokan senjata untuk Leo.
Sampul Novel Tahan Nafsumu Tuan Jenderal
7.9
Fang Ru Lan, perampok gunung berhati mulia dari Dinasti Tang, tewas dikhianati sahabatnya sendiri. Di saat terakhir, musuh bebuyutannya, Jenderal Song Kwan Xin yang jujur, justru mencoba menolongnya. Terungkap bahwa sang jenderal selalu sengaja mengalah saat mereka bertarung. Demi membalas budi dan menepati janjinya, Ru Lan bereinkarnasi ke abad 21 dalam raga seorang gadis muda. Di dunia modern yang asing ini, ia memulai pencarian panjang nan sulit untuk menemukan kembali sosok sang jenderal.
Sampul Novel Tarian Aksara
8.5
Sambil menangis di atas kursi roda, Ara meratapi kepedihan hidupnya di bawah langit senja. Ia merasa takdir begitu tidak adil padanya. Namun, Aksa hadir sebagai sahabat setia yang berjanji untuk selalu mendampingi gadis bermata hazel tersebut. Di tengah keputusasaan Ara yang mendalam, Aksa memohon agar ia tetap bertahan. Kisah ini menyoroti perjuangan berat menerima kenyataan hidup yang pahit dengan dukungan tulus dari orang terdekat.
Sampul Novel Tergoda Suami Tetangga
8.0
Amanda kerap merasa nyaman dengan kesendiriannya, meski adakalanya kesunyian tetap melanda. Di tengah lamunannya, ia sering memperhatikan rumah Raka dan Laila yang terlihat begitu damai. Tetangga sekitar memandang mereka sebagai pasangan yang sangat serasi. Raka adalah pria tampan yang penuh wibawa, sedangkan Laila merupakan sosok istri menawan yang ramah. Keharmonisan hidup mereka pun menjadi tontonan harian bagi Amanda.