APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pembalasan Sang Istri Tertindas

Pembalasan Sang Istri Tertindas

Pasca tewas mengenaskan, Amara terlahir kembali ke masa lalu demi membalas dendam pada suaminya, Rafael, dan Isabella sang pelakor. Mereka telah merebut harta sekaligus merenggut nyawa buah hatinya. Di tengah perjuangan menuntut keadilan dan membuat Rafael menyesal, muncul seorang pria dari masa lalunya yang siap melindungi dengan tulus. Amara pun bimbang untuk terus fokus pada dendamnya atau menyambut cinta baru yang hadir.
Bab
Bagikan

Bab 2

Amara menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sebelum keluar dari kamarnya. Kunci keberhasilannya ada pada ketenangan. Ketenangan untuk mengamati, untuk memahami, dan untuk membalas setiap perlakuan yang pernah dia terima. Di kehidupan ini, dia tahu bahwa tidak ada lagi ruang untuk kelemahan, tidak ada lagi alasan untuk menangis diam-diam di sudut kamar. Dia harus kuat-lebih kuat dari sebelumnya.

Langkah kakinya mantap saat melangkah keluar dari rumah. Di luar, matahari pagi berkilau hangat, tapi tidak ada kehangatan yang dirasakannya. Hanya udara dingin yang menyentuh kulitnya. Dunia seolah menantinya untuk bertindak, untuk mengubah nasibnya yang telah ditulis ulang.

Ia mengingat pertemuannya dengan Rafael yang pertama kali terjadi delapan tahun lalu-sebuah pertemuan yang penuh dengan janji dan harapan palsu. Saat itu, Rafael datang dengan pesona yang luar biasa, senyumnya yang memikat membuat Amara merasa seperti dia adalah satu-satunya wanita di dunia ini. Mereka jatuh cinta begitu cepat, atau lebih tepatnya, Amara jatuh cinta pada seorang pria yang ternyata hanya melihatnya sebagai objek untuk kepuasan pribadinya.

Rafael, pria yang selalu menganggap dirinya lebih baik.

Amara menarik nafas, menepis kenangan itu dengan keras. Tidak lagi. Aku tidak akan menjadi wanita itu lagi.

Langkahnya menuju kafe kecil yang biasa ia kunjungi bersama ibunya, tempat di mana pertama kali Rafael memperkenalkannya pada dunia gemerlap yang penuh tipu daya. Amara duduk di meja dekat jendela, memandang ke luar dengan mata yang tajam. Di sana, di tengah keramaian, ia bisa melihat sosok pria yang pernah menjadi segalanya bagi dirinya-Rafael.

Dia mengenakan jas hitam rapi, berdiri di samping Isabella, wanita yang selalu merasa lebih berhak atas segala sesuatu. Amara memandang mereka dengan tatapan penuh kebencian. Isabella sedang tertawa dengan Rafael, seolah dunia ini adalah milik mereka berdua. Tanpa rasa bersalah, wanita itu berbicara tentang bisnis mereka yang berkembang, merencanakan masa depan yang sempurna.

Mereka begitu percaya diri.

Amara bisa merasakan betapa busuknya kebahagiaan mereka. Isabella, dengan segala kecantikannya, menyembunyikan ambisinya yang tak terbatas. Amara pernah percaya bahwa wanita itu teman baiknya, sampai akhirnya dia menyadari bahwa Isabella hanyalah seekor ular berbisa yang menunggu waktu untuk menggigit.

Namun kali ini, semuanya akan berbeda. Amara tahu siapa yang harus dia hadapi dan bagaimana cara menghancurkan mereka satu per satu. Setiap langkah yang diambil harus dihitung dengan cermat, setiap keputusan harus memiliki dampak yang besar.

Rafael dan Isabella terlihat begitu bahagia, tapi Amara tahu bahwa kebahagiaan itu rapuh. Seperti yang pernah dia alami, kebahagiaan palsu itu hanya akan bertahan sementara. Tak lama, semuanya akan runtuh.

Amara memutuskan untuk tidak menghampiri mereka dulu. Dia harus memulai dari yang lebih kecil, dari hal-hal yang selama ini terlupakan oleh mereka. Sebuah senyum kecil terukir di bibir Amara saat matanya tertuju pada ponselnya. Ada pesan dari Andre-sahabat lama yang pernah sangat berarti dalam hidupnya.

"Amara, aku tahu kamu sedang melalui banyak hal. Jika kamu butuh tempat untuk beristirahat, aku di sini. Selalu untukmu."

Pesan itu memicu perasaan campur aduk dalam dirinya. Andre adalah satu-satunya orang yang tak pernah berusaha mengubah dirinya. Andre adalah pria yang selalu ada di saat-saat buruk, yang selalu mendukung keputusan-keputusannya tanpa pernah menghakimi. Namun, di kehidupan sebelumnya, Amara tidak pernah menghargai kehadirannya. Dia terlalu sibuk mengejar Rafael yang tidak pernah memperhatikannya dengan sepenuh hati.

Kali ini, dia tidak akan mengabaikannya.

Amara membalas pesan itu, mengatur janji untuk bertemu. Mereka tidak perlu tahu tentang rencananya. Andre tidak perlu tahu tentang kebenciannya pada Rafael dan Isabella, dan tentang bagaimana Amara berencana membalas dendam. Dia hanya ingin melihat Andre, untuk merasa bahwa dia masih memiliki satu orang yang benar-benar peduli padanya.

Setelah menulis balasan, Amara berdiri, melangkah keluar dari kafe, dan menuju jalanan yang lebih sepi. Hatinya terasa lebih ringan setelah mengirim pesan itu. Langkahnya tidak lagi dipenuhi kebencian, namun lebih pada rasa tenang yang aneh. Mungkin ini adalah langkah pertama menuju penebusan, atau mungkin, ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

Namun, begitu ia melangkah ke sudut jalan, suara familiar memanggilnya, membuat tubuhnya menegang.

"Amara, kita perlu bicara."

Amara menoleh. Di sana, berdiri Rafael dengan wajah serius. Wajah yang dulu begitu ia cintai, tapi kini hanya mengingatkan dirinya pada penderitaan.

"Apa yang kamu inginkan, Rafael?" suara Amara terdengar datar, meski di dalam hatinya, ada gemuruh yang tak bisa ia tahan.

Rafael mendekat, matanya penuh dengan tatapan khawatir yang ia tahu hanyalah topeng. "Amara, aku tahu kamu marah. Tapi... kita bisa perbaiki semuanya. Aku akan menjelaskan semuanya."

Amara menghela napas, menatap Rafael dengan tatapan tajam yang penuh kebencian. "Jangan berpura-pura peduli sekarang. Semua sudah terlambat, Rafael. Aku tidak butuh penjelasanmu."

Rafael tampak terkejut dengan jawaban dinginnya. "Amara, tolong. Jangan buat ini lebih sulit. Kamu tahu aku mencintaimu."

"Cinta?" Amara tertawa pelan, tapi suara tawanya begitu tajam. "Jika itu cinta, Rafael, aku adalah orang bodoh yang mempercayainya. Tapi aku sudah tidak bodoh lagi. Jadi, simpan semua kata-kata manismu untuk Isabella."

Rafael terdiam sejenak, ekspresinya berubah. "Isabella... itu tidak seperti yang kamu pikirkan."

Amara tersenyum sinis. "Aku sudah cukup mendengar kebohonganmu. Sekarang pergilah sebelum aku menyesal telah mendengarkanmu sama sekali."

Rafael memandangnya dengan tatapan campuran antara terkejut dan kecewa. "Amara, aku akan membuatmu menyesal."

Amara hanya memandangnya dengan tatapan kosong, menyadari bahwa kalimat itu tidak lagi menakutkan. Rafael tidak tahu, tapi sekarang dia adalah bagian dari rencananya. Dan kali ini, Amara yang akan membuatnya menyesal.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 LEGION
9.6
Kedamaian tiga bangsa kini terancam akibat hadirnya sosok misterius dari masa lalu. Tokoh ini memegang kunci penting yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Ia juga menjadi figur sentral yang akan mengungkap kebenaran di balik sejarah kelam Legion yang lama tersembunyi. Lewat petualangan penuh misteri ini, identitas asli sang pendatang akan membongkar rahasia besar yang telah lama terkubur rapat dari dunia mereka.
Sampul Novel A Thousand Tears of Sword
8.8
Di benua terkutuk yang penuh penindasan dan perdagangan manusia, dewa mengutus Dewi Kematian untuk menegakkan keadilan. Sialnya, sebuah insiden saat turun ke bumi melenyapkan seluruh kekuatannya. Ia justru bereinkarnasi sebagai gadis kecil bernama Hua Hua. Tanpa kekuatan dewa yang tersisa, mampukah ia menuntaskan misi sucinya untuk menyelamatkan mereka yang tertindas di tengah neraka dunia ini?
Sampul Novel Aku Saingan Ibu Mertuaku
8.2
Setiap hari, ibu mertuaku meniru gaya rambut dan pakaianku. Keanehan ini memuncak saat ayah mertuaku salah mengenali orang lalu memelukku dari belakang. Kemarahan membuatku menampar suamiku yang manja, memicu pertikaian besar yang berakhir tragis ketika ibu mertuaku mendorongku dari lantai atas. Namun, kematian bukanlah akhir. Saat terbangun kembali, aku terlempar ke masa lalu, tepat di hari ketika ibu mertuaku ingin meminjam rantai celana dalam milikku.
Sampul Novel Bayang Hitam Sang Jenderal Tirani
8.5
Jenderal kejam Zane Alexander Thorn hidup sebagai senjata pembunuh demi misi berdarah ayahnya di dunia yang hampir hancur. Namun, jalannya berubah total setelah ia menolak perjodohan politik. Zane justru memilih menyekap seorang gadis misterius yang memiliki kekuatan super. Alih-alih fokus bertempur, sang tiran kini terobsesi membongkar rahasia besar gadis itu sambil perlahan terpikat oleh pesonanya. Kehidupan sang jenderal dingin pun mulai kehilangan kendali.
Sampul Novel CANDIKALA
9.2
Hidup Halimah berubah mencekam saat ia tiba-tiba mampu melihat dimensi gaib mengerikan dan para calon tumbal yang terancam mati. Kemampuan misterius ini membawanya pada dilema batin yang gelap: apakah ia harus ikut memburu tumbal demi bertahan hidup? Di tengah teror yang terus mengintai, Halimah harus berjuang keras mengungkap rahasia kutukan kuno tersebut sekaligus menemukan jalan keluar untuk menyelamatkan jiwanya dari ancaman maut.
Sampul Novel Geger di Bhumi Manggala
8.2
Tangisan Tadah Asih menggema di bawah langit Kilen yang memerah, menjadi awal dari ramalan kelam seorang petapa suci tentang kehancuran Bhumi Manggala. Saat sebuah kerajaan dirundung duka akibat kematian tragis seorang bangsawan agung, para prajurit setianya pun bangkit melakukan aksi bela pati. Di tengah situasi yang kian kacau dan dunia yang mulai runtuh, seorang pemuda berdiri dengan kemarahan memuncak. Ia memutuskan melangkah pergi demi menuntaskan dendam membara di hatinya.