APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pembalasan Janda Talak Tiga

Pembalasan Janda Talak Tiga

Tepat setelah ijab kabul selesai, seorang mempelai wanita langsung diceraikan dengan talak tiga oleh suaminya. Di hadapan para tamu undangan yang tertegun, momen bahagia itu seketika sirna, meninggalkan luka batin yang teramat dalam. Namun, kesedihan tersebut segera berubah menjadi amarah dan tekad bulat. Menolak untuk hancur dan menyerah pada keadaan, sang janda kini bangkit demi menuntut balas atas penghinaan kejam yang telah merusak hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Semua orang mulai beranjak dari pemakaman. Aku masih betah berdiri di samping makam Bapak.

"Bu, Ibu pulanglah dulu. Zafi masih ingin disini!" titahku pada Ibu yang masih sesegukan.

"Tapi Ibu juga ingin disini, Fi." jawab Ibu sambil mengelus papan yang bertuliskan nama Bapak.

"Tapi Ibu butuh istirahat, Bu. Beberapa hari ini Ibu sangat sibuk menyiapkan pernikahan Zafi. Zafi mohon, Bu". isakku sambil memegangi erat tangan Ibu.

"Zafi gak mau kehilangan Ibu!" air mata lagi-lagi lolos. Ibu memelukku erat. Bibi bergantian mengelus punggung kami.

"Baiklah, Zafi. Jangan lama-lama disini, Nak. Ibu kuatir denganmu!" Ibu mengalah.

"Iya, Bu." aku tersenyum.

"Bi, titip Ibu ya."

"Iya, Zafi. Jangan lama-lama, Nak." ucap Bibi sembari menghapus air mata. Aku hanya tersenyum melihat Ibu dan Bibi mulai menjauh dari makam Bapak.

Setelah memastikan mereka tak ada disini. Sesak yang dari tadi ku tahan kini ku lepaskan. Aku menangis sejadi-jadinya di makam Bapak. Entah berapa jam aku menangis, aku hanya merasa kepala kian berat.

"Pak, yang tenang ya! Zafi akan kuat demi Ibu, Pak"

"Semoga apapun pilihan dari Mas Dion, akan menjadi baik untuknya, Pak".

"Zafi akan coba ikhlas, Pak".

"Hanya saja tidak ada maaf untuknya."

"Zafi!" suara seseorang mengejutkanku. Paman berjalan setengah berlari ke arahku.

"Ibumu kuatir, sudah hampir dua jam kamu disini, Nak. Hari juga sudah mau magrib!" ucap Paman terengah-engah.

"Maafkan Zafi, Paman"

"Tidak apa, ayo kita pulang. Kasihan Ibumu!" aku mengikuti langkah Paman dan naik motor menuju rumah.

Sesampainya di halaman, kembali tubuh ini terhenyak. Tenda yang tadi di gunakan untuk tamu undangan berganti dengan tenda untuk orang yang datang melayat.

"Kak Zafi!" Irene saudara sepupuku datang dan menghambur ke pelukanku.

"Kakak yang sabar ya, Kak. Irene sangat prihatin dengan semua yang menimpa Kakak." ucapnya terisak.

"Mas Dion benar-benar brengsek, Kak. Dia sudah mencampakkan wanita hebat seperti Kakak!" isaknya dalam pelukku.

"Sudah Irene, insyaallah Kakak kuat. Tapi Kakak minta, kamu jangan sebut lagi nama Dion di depan Kakak!" ucapku tegas.

"Maafkan Irene, Kak" dia mulai melepaskan pelukan.

"Kalian disini?" Bibi menghampiri kami.

"Zafi, bersihkan badanmu, Nak! Selepas magrib akan ada orang datang untuk tahlilan!" perintah Bibi padaku.

"Baik, Bi. Ibu dimana, Bi?"

"Ibumu di kamar, Nak. Bibi minta istirahat. Kasihan Ibumu!" jawab Bibi dengan mata berkaca-kaca.

"Terimakasih, Bi. Zafi pamit dulu ya!" ucapku pada Bibi.

"Iya, Nak.!" aku kembali melangkah kaki ke dalam rumah. Teringat setiap momen yang baru saja terjadi. Masih banyak pelayat yang duduk di dalam rumah. Di depan ruangan tamu yang cukup besar, terpampang tulisan Zafi dan Dion yang sudah di dekorasi seindah mungkin. Melihat itu ingin rasanya ku musnahkan segalanya, tetapi aku masih bisa menahan meski bersusah payah.

Langkah ini mulai memasuki kamar, aku mengunci pintu dari dalam. Pernak pernik di dinding, bahkan foto prewedding juga terpampang. Aku mengambil foto tersebut dan

Prang!

Semuanya hancur berantakan! Aku berteriak sekeras-kerasnya. Aku beruntung saat meminta untuk mendesign kamar ini menjadi ruangan kedap suara.

****

"Pak, kamar Zafi dibuat kedap suara ya, Pak!" pintaku saat Bapak hendak merehab beberapa bagian rumah.

"Kenapa, Nak?"

"Bapak kan tau Zafi hobi bernyanyi, Zafi takut suara Zafi bisa terdengar oleh tetangga" ucapku manja.

"Lo, kan bagus, Nak. Biar tetangga pada ada hiburan."

"Tapi suara Zafi kan cempreng, Pak!" rajukku lagi.

"Iya, Sayang. Kamu tenang saja ya!" Bapak mencium pucuk kepalaku.

****

Bapak

Bapakkkkkkk

Aku berteriak seperti orang gila. Iya, jika dilihat aku sekarang seperti orang gila. Make-up yang sudah hancur serta pakaian yang tak lagi seperti layak pakai.

Tadinya aku akan menjadi ratu sehari, tetapi itu cuma mimpi.

"Zafi.. Zafi.. Buka pintunya, Nak!" Terdengar gedoran pintu dari arah luar. Sebelum membuka pintu, aku melihat ke cermin. Ah, cermin kenapa engkau tak bisa sedikit berbohong. Aku benar-benar seperti orang gila sekarang.

"Zafi. ibumu nak!"

Mendengar kata Ibu aku langsung membukakan pintu kamar.

"Astagfirullah. Apa yang terjadi, Nak?" Bi Asih histeris melihat bentuk kamar ku yang sudah seperti kapal pecah.

"Ibu kenapa, Bi?" Aku mengalihkan perhatian Bi Asih.

"Itu, Ibumu pingsan Nak." mendengar penuturan Bi Asih aku langsung berlari menuju kamar Ibu, tidak ku pedulikan beberapa tamu yang hadir untuk acara tahlilan.

Disamping Ibu terlihat Paman dan Irene serta beberapa tetangga yang langsung memberi ku jalan.

"Bu, bangun Bu." Aku menggoyang tubuh Ibu. Ibu yang hanya diam tak bersuara dan tiba-tiba kejang.

"Paman, segera bawa Ibu ke rumah sakit Paman!" titahku.

Tanpa ba bi bu. Paman menggendong Ibu kedalam mobilku.

"Irene ikut Kakak ya, biar Umi yang handle semua tamu di rumah." pinta Irene padaku, aku hanya mengangguk.

Paman meletakkan Ibu di kursi penumpang dengan aku menjadi penyangga kepala Ibu. Paman yang mengambil alih kemudi sedang Irene duduk si sebelahnya.

Perjalanan 30 menit kerumah sakit terasa sangat lama. Berkali-kali aku minta Paman untuk lebih ngebut membawa mobil, dan entah berapa kali Paman melanggar lalu lintas. Sampai akhirnya pelataran parkir rumah sakit terlihat juga.

"Tolong, ada pasien yang butuh pertolongan teriak paman di pintu unit gawat darurat. Beberapa perawat segera membawa Brankar. Paman menggendong Ibu keluar dari mobil dan meletakan Ibu di atas Brankar. Segera kami berlari memasuki ruang UGD, Dokter yang berjaga malam langsung menghampiri. Serangkaian pemeriksan dilakukan, sampai alat pengejut jantung ditempelkan ke dada ibu. Aku yang melihat semua itu tidak bisa lagi berkata apa. Air mataku luruh, sekelebat pikiran buruk lalu lalang di pikiranku.

"Tidak-tidak!" aku berbicara sendiri.

"Bapak dengan keluarga pasien?" seorang perawat menghampiri Pamanku.

"Iya ,dok!"

"Maaf pak, kami tidak bisa menolong Ibu. Perkiraan Dokter, Ibu sudah meninggal beberapa menit yang lalu!"

Mendengar penjelasan Suster, aku langsung menghambur memeluk Ibu. Ku goyang-goyang tubuh Ibu dan terus berteriak.

"Ibu... Bangun, Bu! Kenapa Ibu tinggalkan Zafi sendirian menghadapi semua ini, Bu?" isakku. Irene mencoba memelukku tetapi aku terus meronta.

"Istighfar, Kak!" Irene juga ikut menangis melihat kondisiku. Aku yang sudah tidak bisa menopang bobot tubuhku, kemudian ambruk. Entah berapa kali aku pingsan. Terakhir kali aku sadar, aku sedang di ruangan serba putih dengan jarum infus di tanganku. Bau obat-obatan menyeruak di hidungku.

"Kak!" terdengar pelan suara Irene saat mataku sudah terbuka. Aku melihat ke arahnya, wajah putih itu sudah memerah karena tak bisa menahan tangis. Bahkan mata bulat ini kini tengah sembab.

"Berapa lama Kakak tidak sadarkan diri, Ren?"

"Sudah hampir seharian, Kak!" jawab Irene sambil mengelus tanganku.

"Bagaimana dengan Ibu, Ren?" aku bertanya dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti.

"Semuanya sudah di urus sama Papa, Kak. Dua jam lagi Bibi akan di kebumikan." jelas Irene dengan air mata.

Lagi, aku tersedu. Kenapa semua ini harus menimpaku? Di hari yang seharusnya aku bahagia, malah berganti dengan derai air mata. Gara-gara laki-laki yang bernama Dion, aku harus kehilangan kedua orang tua.

Dion, kamu harus merasakan bagaimana pedihnya kehilangan seperti apa yang tengah ku rasakan kini. Cepat atau lambat, aku akan mendatangimu kembali. Pada saat itu, kamu akan bersujud di kakiku. Tanganku mengepal erat, sakit kehilangan yang kurasa kini, menumbuhkan rasa dendam yang telah terpatri di hati.

"Antar aku kepemakaman Ibu, Ren!" perintahku pada Irene. Aku mencabut paksa infus yang ada di tangan hingga darah berceceran.

"Tapi, Kak..!" aku menatap nyalang Irene hingga dia tak bisa menolak perintahku.

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Beauty and The Mafia
8.4
Rosetta Alighieri diculik oleh Marco Botticelli, seorang mafia kejam, setelah difitnah oleh kembarannya sendiri, Caritta, mencuri kalung pusaka pria itu. Di tengah sekapan bahaya, perasaan cinta yang tak terduga justru bersemi di antara korban dan sang penculik. Saat Marco menawarkan hubungan serius, Rosetta pun didera dilema besar. Haruskah ia menerima cinta sang kriminal dan terjun ke dunia gelap penuh risiko demi perasaan yang kian tumbuh?
Sampul Novel Cinta di Ranjang Jenderal
8.7
Demi kesembuhan sang ayah, Navila rela mengorbankan kesuciannya kepada seorang prajurit Erdan. Transaksi satu malam itu rupanya berbuntut panjang saat sang Jenderal justru terpikat dan menginginkannya lebih jauh. Sayang, romansa mereka terbentur konflik berdarah antara dua kerajaan yang berseteru. Di tengah sempitnya waktu dan kecamuk perang besar yang melanda kedua kubu, mampukah ketulusan cinta mereka bertahan dan tersampaikan?
Sampul Novel Kekayaanku, Keluarga Benalunya
9.0
Sebagai dokter bedah saraf kaya, aku membiayai suami kaptenku dan keluarganya yang parasit, bahkan melunasi utang 75 miliar mereka. Namun saat liburan mewah ke Monako, suamiku malah memberikan kursi jet pribadiku pada mantan kekasihnya, Dahlia, dan membuangku ke penerbangan berbahaya. Setelah menyaksikan pengkhianatan mereka di ranjangku sendiri di tengah persekongkolan jahat itu, kini saatnya aku membalas dendam dan menghancurkan segalanya.
Sampul Novel Murka Istri, Dinasti Luluh Lantak
8.5
Di hari peringatan kematian putra kami, aku memergoki suamiku bersama selingkuhannya yang hamil di vila kami. Dia mengirim rekaman suara yang menghina trauma masa laluku beserta undangan pernikahan mereka. Ternyata, dia sengaja membuatku mandul demi mencari pewaris lain untuk dinasti megah yang ia impikan. Namun, aku akan hadir di pesta pernikahan itu bukan untuk merestui, melainkan menghancurkan seluruh mimpinya hingga menjadi abu.
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati Seri 3
9.5
Setelah bertemu orang tuanya, Permana Brata fokus menyembuhkan Ki Sasmaya. Pemegang Pedang Kebenaran Sejati ini ingin membalas kebaikan gurunya. Namun, ia harus menghadapi kelompok Musto Ireng yang meneror lewat perampokan dan penculikan. Demi menyelamatkan dunia persilatan dari kehancuran akibat ulah para pemberontak kejam tersebut, Permana segera bertindak untuk menghentikan kekacauan yang terjadi.
Sampul Novel Pembuktian Cinta
7.9
Bram bertekad membuktikan rasa cintanya pada teman masa kecil yang menyelamatkannya saat tragedi pembantaian keluarganya terjadi. Bertahun-tahun terpisah demi bertahan hidup, takdir mempertemukan mereka kembali. Demi melindungi sang kekasih dari tuduhan keji, Bram bahkan rela dipenjara. Sayang, pengorbanan itu berbalas kepedihan karena sang wanita tak pernah datang menjenguknya. Usai bebas, akankah Bram menemukan kebahagiaan atau justru melihatnya bersama pria lain?