APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pembalasan Elegan Sang Mantan Istri

Pembalasan Elegan Sang Mantan Istri

Pernikahan Linar hancur setelah Dean berselingkuh hingga selingkuhannya hamil. Ironisnya, Dean malah menuduh Linar yang tidak setia. Konflik memanas ini juga menyeret Ndaru, hingga akhirnya Linar mantap bercerai demi kewarasan jiwanya. Namun, situasi menjadi rumit saat Linar menyadari dirinya sedang hamil anak yang selama ini mereka nantikan. Kini, keputusan sepenuhnya ada di tangan Linar untuk menentukan arah masa depan mereka.
Bab
Bagikan

Bab 1

Linar mematutkan dirinya di depan cermin. Ia tersenyum puas melihat dirinya yang berhasil menurunkan dua kilogram berat badan dalam seminggu ini. Ia merasa tampak pas mengenakan lingerie hitam yang dibelinya dua minggu yang lalu.

Dean benar, mereka punya banyak waktu untuk mengupayakan punya anak, dan kali ini Linar lah yang akan memulainya. Ia menyemprotkan kembali wewangian yang disukai Dean, suaminya. Linar memakai jubah panjang untuk menutupi lingerie hitamnya, lalu keluar dari kamar mandi.

Linar melihat tubuh tinggi Dean di balkon kamar tidur mereka, tampak Dean tengah mengangguk dan berbicara di saluran telepon, ia memutuskan menyusul ke balkon. 

Linar tersenyum pada Dean yang langsung menutup teleponnya karena kedatangan Linar. Namun, ada raut wajah kaget berlebihan yang segera disembunyikan oleh Dean.

Linar mengerutkan dahinya penasaran, "Dari siapa, Mas?" 

Dean balas tersenyum, ia menarik pelan dan merengkuh Linar erat. Dean mencium kening dan menumpu dagunya pada kepala Linar. 

"Dari Roland, dia meminta bertemu di kafe untuk bertemu rekan kerja kami yang baru. Kamu tahu 'kan kami sedang membangun koneksi dan relasi," papar Dean, ia merangkum wajah Linar mendongak untuk bertemu bola matanya.

Dean sempat meragu, ia menatap dalam bola mata Linar yang jernih "Maafin aku, ya. Aku harus pergi sekarang,"

"Tapi ini udah malam, Mas?!"

"Aku tahu, tapi ini sekedar pertemuan kasual,  sambil nongkrong sambil kenalan relasi baru dan sedikit  membicarakan pekerjaan,"

Linar mengerutkan dahi "Nggak perlu minta maaf, tapi bisa 'kan kamu pulang cepat? Aku akan menunggumu," pinta Linar mengalungkan kedua tangannya pada leher Dean.

"Oh, ya Mas. Dari kemarin malam, ponsel kamu berdering terus, aku lihat pemanggilnya Dera. Nama perempuan 'kan? Dia siapa, Mas?" 

Linar melihat pupil Dean sempat membesar barang beberapa detik sebelum mengedipkan mata cepat, "Dera? Ah, iya dia teman lama aku, temannya Roland juga. Mungkin dia mau ngajak reuni atau semacamnya, aku belum sempat mengangkat teleponnya,"

"Reuni? Oh ya, cuma kalian bertiga?"

"Aku... Aku nggak tahu, Lin! Tapi aku dengar dari Roland dia bertemu sama Dera beberapa waktu lalu, itu aja aku ngga tanya lebih jauh,"

"Roland pasti udah di perjalanan, dan aku nggak mau terlambat datang dan melewatkan banyak hal, jadi aku pergi, ya!"

Linar mengerutkan dahi "Nggak perlu minta maaf, tapi bisa, 'kan? Kamu pulang nggak terlalu larut? Aku akan menunggumu." pinta Linar mengalungkan kedua tangannya pada leher Dean.

Dean tersenyum tipis dan mengangkat bokong Linar demi bisa mencumbu dalam kelopak bibir merah muda Linar.

Linar mendorong dada Dean pelan dan menghirup oksigen, degup jantungnya berdetak cepat entah karena gairah atau kurangnya oksigen.

"Hati-hati di jalan, aku akan menunggu kamu di sini." lepas Linar.

           ***

Linar membuka aplikasi pesan pada gawainya, dan merengut saat membaca pesan yang tertulis permintaan maaf suaminya karena menginap di rumah Roland tadi malam. 

Sudah tengah malam Dean membalas pesannya, Linar kecewa, perasaannya hari ini kian buruk.

Linar mengerutkan dahinya karena tak jua mendapat balasan tambahan, kenapa Dean semakin irit membalas pesan? Seperti bukan dia, tapi rasanya tak mungkin ada yang berani mengotak-atik gawai Dean walau tak di kunci.

Linar menggelengkan kepalanya pelan, membuang pikiran negatif yang mulai menghantuinya belakangan ini.

"Sudah sampai. Bu," interupsi supir taxi dan benar saja ia sudah tiba di depan lobi kantor Dean. 

Setelah menyelesaikan transaksi, Linar keluar taxi menegakkan tubuhnya. Karena ia tahu ia setidaknya akan ada beberapa orang yang memperhatikan dirinya. Linar berjalan dengan wibawa yang ia rakit sendiri menenteng dua kantung dengan percaya diri.

Linar melambatkan langkah kakinya dan, "Linar?" panggil Roland menyapa.

"Hai Mas Land, apa kabar?" balas Linar.

"Aku baik, kamu ... terlihat lebih cantik."

Linar terkekeh. "Ya, aku memang lebih kurusan karena diet karbohidrat" ucapnya tersenyum maklum.

"Oh ya Mas, gimana semalam lancar hasilnya?" 

"Semalam?" tanya Roland menggantung.

"Iya, semalam selesai ketemuannya sampai jam berapa, sih?" tanya Linar ingin tahu.

Roland menyatukan alisnya dekat, keheranan "Jam sebelas malam," 

"Oh ya? terus kenapa Mas Dean harus sampai menginap, biasanya jam segitu dia masih memilih pulang ke rumah?" 

"Dean?" gumam Roland bertanya.

"Iya, kenapa? Kalian ketemuan di cafe atau di club' tadi malam 'kan?" tanya Linar curiga.

"Kalian? Semalam aku nggak bersama Dean, tapi sama teman perempuanku dan bukannya Dean semalam ada di rumah kakeknya, bersama kamu, 'kan?"

Tahu ada yang salah dengan berubahnya raut wajah Linar, Roland segera menambahkan. 

"Mungkin kamu salah tangkap omongannya dia, bukan aku teman Dean yang bersama dia semalam, mungkin Dipta yang dimaksud." tebak Roland menenangkan.

Deg.

Ia jelas mendengar jika nama yang di sebut suaminya adalah Roland bukan Dipta, tapi kenapa?' 

"Linar, maaf aku harus lanjut bekerja Sebentar lagi jam makan siang,aku duluan ya."

Linar mengangguk kecil seketika ada beban yang menggelayuti dada dan pikirannya. Linar menggeleng pelan dan menatap depan, terkesiap menyadari ia berdiri sendiri di tempat yang salah. 

Untung saja liftnya terbuka dan ia segera masuk menyelamatkan dirinya dari tatapan bertanya atau kesal karena berdiri di tengah jalan.

****

Linar mengangguk saat dirinya dipersilahkan masuk oleh Nuga asisten kerja Dean.

"Terima kasih Nuga."

Linar menatap dalam Dean yang menyambutnya di depan pintu. "Linar, kamu disini, tumben biasanya kamu nge WA aku kalau mau datang? Ah, soal semalam, aku minta maaf karena semalam aku nggak pulang dan terlambat membalas pesanmu." 

Dean yang tak kunjung dapat jawaban bertanya kembali "Apa yang kamu bawa?"

Deg... deg.. deg.

Linar mendongak menatap kedalaman bola mata Dean, menatap dalam dengan perasaan yang tak menentu.

"Lin?"

Linar menunduk dan menggeleng pelan. 

"Kenapa kamu masih bertanya, bukannya aku sudah memberitahu kamu, Mas?" ucapnya pelan.

Dean melipat bibirnya tahu ada yang salah.

"Dan Mas, kelihatan terkejut melihatku mengunjungi kamu pagi ini  setelah meninggalkanku di rumah kakekmu, kamu tahu? Semalam aku kedinginan menunggu kamu dan paginya aku kebingungan menjawab pertanyaan saudaramu tentang keberadaan kamu yang aku sendiri nggak tahu, dimana Mas semalam?" cecar Linar.

Dean mendatarkan wajahnya tak suka akan situasi yang diciptakan Linar. 

"Aku sudah bilang sama kamu, semalam aku harus menemui relasi kerja yang akan di kenalkan sama Roland. Dan kami lupa waktu, aku terlalu lelah mengemudi, jadi aku putuskan menginap di kontrakan Roland." ucap Dean sembari berbalik menuju set sofa kecil yang ada di tengah ruangan.

Tangan Linar saling bertaut mencari kekuatan, dadanya kian sakit seolah dipukul oleh tangan tak kasat mata. Siapa yang sedang berbohong? Tapi respon Roland terlalu natural tadi.

Linar menarik napas dan menghembuskan pelan, "Ada apa lagi, Linar?" 

Linar mendongak "Aneh," gumam Linar sengaja. 

"Aneh aja, tadi pagi aku mengirimi pesan menanyakan keberadaan kamu dan Mas yang balas sendiri isi pesannya ada di rumah Roland."

"Tapi aku juga menawarkan mengantar baju ganti untuk bekerja dan makan siang ke kantormu dan Mas membalasnya 'iya datang aja' terkesan dingin." ucap Linar parau sembari mengamati respon Dean.

"Ah, iya kamu benar aku yang lupa, maaf ... udahan ya, marahnya," seru Dean tulus.

Linar benci jadi terlalu peka, karena kepekaannya membuat ia berpikir banyak hal dengan menyakitkan. Maka Linar hanya bisa tersenyum masam, 

"Aku masih ngerasa aneh, kamu yakin yang balas pesan tadi pagi itu kamu, Mas?" tanya Linar sangsi.

"Aku cuma lupa Linar, hari ini aku terlambat ke kantor karena telat bangun dan langsung di hadapan banyak pekerjaan, maaf ok!" pinta Dean merengkuh tubuh Linar tak perduli telah berjalan mundur, dipeluknya erat di cium puncak kepala merambah ke kening dan turun ke bibir Linar yang tak membalas.

Bibir Linar tersungging masam mendengar degup jantung Dean berdetak keras, seperti ... Perasaan nggak nyaman? 

Linar membalas pelukan, menyandarkan kepalanya di dada Dean menghirup aroma yang menguar dari tubuh Dean yang selalu ia sukai. Tapi aromanya terlalu kuat tanda Dean menyemprotkan wewangian terlalu banyak. 

Dasar! 

Linar meregangkan pelukannya lebih dulu dan mendongak, ia tersenyum lalu bertanya.

"Jadi gimana pertemuan kamu sama relasi yang dikenalin Mas Roland kemarin, sini ceritain deh, sama aku?" pancing Linar tersenyum tipis.

Dean menatapnya dalam seolah tengah memilah sesuatu, "Lancar, dia seorang kontraktor yang memiliki banyak pengalaman. kami berbicara banyak sampai lupa waktu dan karena terlalu lelah mengemudi jadi Roland mengajak aku menginap di tempatnya jadi, ya aku setuju." 

Linar mengangguk dua kali mendudukkan dirinya tepat di samping Dean tak lama Dean bangkit dan berjalan ke mejanya, Dean menyambungkan telepon di meja kerjanya memesan segelas ice matcha latte secepatnya pada Nuga asisten kerjanya untuk istrinya.

"Nggak apa-apa Mas, aku bisa menunggu. Kamu nggak perlu mendesak Nuga yang juga sedang sibuk." 

Dean menoleh setengah hati lalu menuntaskan panggilannya dengan Nuga.

"Kamu sini dong, Mas!" ajak Linar 

Linar menoleh mengamati wajah asli Dean. Pasalnya sedari tadi Dean bergerak kikuk, bahkan lebih banyak membelakanginya seperti tak nyaman atau ada yang ia tutupi, salahkan saja hatinya yang terlalu peka. 

"Terus sama siapa lagi kalian mengobrol?" 

Dean mengerjap matanya dua kali

"Cuma kami bertiga, memang kemarin itu sekedar pertemuan kasual antar lelaki sambil ngobrolin prospek kerja, proposal client yang sekiranya bisa kerja sama nantinya," papar Dean mengangkat bahunya dan menyugarkan rambutnya yang sudah rapih ke belakang.

Linar menatap dalam pada bola mata Dean, terasa begitu kecewa namun ia lebih memilih diam.

Linar yakin Dean menangkap perubahan dirinya yang tak ditutupi. Linar membiarkan Dean yang sudah duduk di sampingnya mencoba meraih tangannya, namun disaat yang sama Linar sengaja menepis tangannya.

"Kenapa, Lin?!" tanya Dean yang ditepis kasar oleh Linar. Mereka sama-sama terkejut akan reaksi masing-masing.

"Maaf, refleks tadi," cicit Linar tersenyum palsu.

"Aku pulang aja, Mas," ucap Linar bangkit dan berbalik cepat, tapi belum sampai ke depan pintu lengannya ditahan oleh Dean.

"Kamu itu kenapa, sih?!" sentak Dean frustrasi.

"Nggak apa-apa, aku nggak mau mengganggu kamu lebih lama Mas, maksudku. Mas harus lanjut bekerja lagi 'kan?" balas Linar menepiskan tangan Dean pelan namun tegas.

"Dan pastikan nanti malam, Mas pulang ke rumah kita! Bukannya keluyuran, ok!" pungkas Linar keluar, mengabaikan panggilan Dean.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dipaksa Menikah
9.6
Demian Dewantara merasa sangat tidak beruntung karena dipaksa menikahi Hana Anindya Prayoga. Ia menuduh Hana menerima perjodohan ini demi ketampanannya, padahal Hana pun membenci situasi tersebut. Hana merasa terperangkap dalam pernikahan tanpa rasa cinta akibat manipulasi ayahnya, Guntoro Prayoga. Meski awalnya saling muak dalam ikatan demi bisnis ini, sebuah kejadian tak disangka perlahan meluluhkan kebencian mereka dan mengubahnya menjadi cinta.
Sampul Novel Harakat Cinta
8.9
Pertemuan tak sengaja di jalan raya menjadi awal takdir antara Jingga dan Langit. Jingga, seorang gadis tulus yang sering menjadi sasaran kemarahan sang ibu, akhirnya dipersunting oleh Langit, pemuda berhati mulia dari keluarga konglomerat. Namun, pernikahan mereka tidak berjalan mulus. Pasangan ini harus melewati berbagai rintangan hidup yang rumit dan penuh emosi demi mempertahankan ikatan cinta kuat yang telah mereka jalin bersama.
Sampul Novel Pawang Hati
9.6
Dalam sebuah kisah cinta berlatar fantasi, seorang pangeran dengan kepribadian sedingin es menyembunyikan sebuah rahasia tak terduga. Di balik sikapnya yang kaku dan sulit didekati, ia perlahan-lahan mulai memperlihatkan sisi hangat yang mampu meluluhkan hati siapa saja di sekitarnya. Kehadiran sosok misterius ini membawa keajaiban tersendiri, mengubah suasana yang semula dingin menjadi penuh kehangatan saat ia diam-diam menaklukkan jiwa.
Sampul Novel Petulangan Nikmat Kontraktor
9.1
Secara tiba-tiba, Neneng duduk di sofa lalu menyingkap roknya hingga pakaian dalam putihnya terlihat jelas oleh Suradi. Ia sengaja menggoda Suradi agar mendekat untuk menyaksikan kemolekannya. Begitu Suradi mengaku gemas dan ingin berbuat lebih, Neneng menolak halus lalu mengajaknya pindah ke kamar. Sambil terkikik manja, Neneng bergegas ke ranjang, menanggalkan seluruh pakaian bawahnya, dan berbaring dalam posisi terbuka menanti Suradi yang menyusul di belakangnya.
Sampul Novel Suatu malam Gairah
8.7
Malam perayaan kelulusan mengubah hidup Gabriella yang polos setelah ia tidak sengaja menyerahkan kesuciannya pada pria asing di hotel. Pria itu pergi begitu saja, meninggalkan Gabriella yang kemudian hamil. Setelah berjuang kuliah sambil membesarkan putranya sendirian, ia syok melihat Javier Hills, miliarder terkenal yang telah bertunangan, di televisi. Rahasia ini terancam terbongkar saat nenek Javier menyadari kemiripan anak Gabriella dengan cucunya.
Sampul Novel TAKDIR
9.6
Trauma masa lalu membuat Amel tumbuh menjadi gadis introvert. Harapan cinta yang sempat dihadirkan oleh Alex saat dia berusia 17 tahun sirna begitu saja ketika pemuda itu mendadak pergi tanpa penjelasan. Luka itu membekas hingga Amel enggan membuka hati lagi. Setelah bertahun-tahun mencari, Amel kembali bertemu dengan sosok Alex yang kini sangat berbeda. Di tengah rencana pernikahannya dengan pria asing, kebenaran pahit di balik perpisahan mereka pun terungkap. Mampukah Amel bertahan?