APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pelukan Cinta yang Membara dan Sabar

Pelukan Cinta yang Membara dan Sabar

Tiga tahun lamanya aku bertahan dengan sikap dingin Marco, sang Alpha yang selalu beralasan ingin melindungiku yang lemah. Namun, di hari jadi kami, ia justru meninggalkanku sendirian di tengah jalanan gelap berbadai demi mengejar Sarah, serigala betina yang disebutnya sebagai cinta sejati. Di saat aku hancur dan terpuruk, hadirlah sesosok Alpha misterius yang sangat kuat. Melalui tatapan mata peraknya yang tajam, ia langsung mengklaim diriku sebagai miliknya dengan geraman penuh proteksi.
Bab
Bagikan

Bab 1

Di ulang tahun ikatan kami yang ketiga, aku menyiapkan pesta besar. Selama tiga tahun, suamiku sang Alpha, Marco, memperlakukanku seolah aku terbuat dari kaca. Dia selalu menggunakan konstitusiku yang "rapuh" sebagai alasan untuk sikapnya yang sedingin es. Tetap saja, aku berharap malam ini dia akhirnya akan melihatku.

Tapi dia pulang dengan aroma serigala betina lain. Dia hanya melirik sekilas makan malam ulang tahun yang kusiapkan dengan sepenuh hati, lalu berbohong tentang pertemuan pack yang mendesak, dan pergi begitu saja.

Beberapa hari kemudian, dia menuntutku untuk menghadiri Gala tahunan demi menunjukkan "citra pasangan yang harmonis". Di perjalanan, dia menerima telepon dari perempuan itu. Suaranya penuh dengan kelembutan yang tidak pernah dia berikan padaku.

"Jangan khawatir, Sarah, aku sedang dalam perjalanan," katanya. "Siklus ovulasimu adalah yang terpenting. Aku mencintaimu."

Tiga kata yang tidak pernah dia ucapkan padaku. Dia membanting rem, berubah menjadi wujud serigalanya yang besar, dan meninggalkanku sendirian di jalan yang gelap dan diguyur hujan untuk berlari menemuinya.

Aku terhuyung-huyung keluar di tengah badai, hatiku akhirnya hancur berkeping-keping. Aku bukan pasangannya. Aku hanyalah pengganti, sebuah properti yang dibuang begitu saja saat cinta sejatinya memanggil.

Tepat saat aku berharap hujan akan menghanyutkanku, sorot lampu mobil menembus kegelapan. Sebuah mobil berhenti mendadak, hanya beberapa senti dariku. Keluarlah seorang Alpha yang kekuatan liarnya membuat suamiku tampak seperti anak kecil. Mata peraknya yang tajam mengunci mataku, sementara geraman posesif bergemuruh dari dalam dadanya.

Dia menatapku seolah telah menemukan pusat dunianya dan mengucapkan satu kata yang mengubah hidupku.

"Milikku."

Bab 1

Aroma rosemary dan bawang putih memenuhi rumah kami yang steril dan sunyi. Aku menghabiskan sepanjang sore dengan susah payah menyiapkan kambing guling, makanan favorit Marco. Aku menata kentang panggang dan asparagus di atas piring porselen terbaik kami, seperti seorang prajurit yang bersiap untuk pertempuran terakhir yang sia-sia. Tiga tahun. Ini adalah ulang tahun ikatan kami yang ketiga, dan gumpalan harapan yang menyedihkan dan keras kepala tersangkut di tenggorokanku, menolak untuk ditelan. Mungkin malam ini. Mungkin malam ini dia akhirnya akan menatapku, benar-benar *melihatku*.

Tanganku, yang selalu terasa terlalu kecil dan rapuh, sedikit gemetar saat aku merapikan taplak meja linen untuk kesepuluh kalinya. Kain itu terasa dingin dan kaku di bawah ujung jariku, kontras dengan rasa cemas yang membara di perutku. Di luar, senja di Jakarta mewarnai langit dengan nuansa ungu lebam dan abu-abu lembut, lampu-lampu kota mulai berkelip seperti bintang jatuh. Tapi di dalam, satu-satunya cahaya berasal dari dua lilin putih bersih yang kuletakkan di tengah meja. Apinya berkelip-kelip gugup, mencerminkan detak jantungku yang menggila.

*Dia akan pulang. Dia akan melihat usahaku. Dia akan ingat.* Mantra itu sudah sangat kukenal, doa usang yang kuulangi pada hari ulang tahun, hari libur, dan malam-malam sepi yang tak terhitung jumlahnya.

Suara kunci di pintu depan terdengar tajam, metalik, dan itu membuatku terlonjak. Aku segera menyalakan lilin, jantungku berdebar kencang di dada. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan kegugupan yang panik. *Tersenyumlah, Clara. Terlihatlah bahagia. Jangan terlihat putus asa.*

Marco melangkah masuk ke foyer, bahunya yang lebar memenuhi ambang pintu. Dia adalah gambaran Alpha kuat seperti reputasinya: tinggi, berpakaian rapi dalam setelan jas gelap yang mungkin lebih mahal dari mobilku, dengan aura perintah yang bisa membuat pria lain gemetar. Tapi hal pertama yang menghantamku bukanlah kekuatannya. Itu adalah aromanya.

Di bawah aroma pinus dan tanah basah yang khas miliknya, ada aroma lain. Parfum bunga yang tajam, bercampur dengan aroma khas serigala betina lain. Itu adalah aroma yang mulai kutakuti, aroma yang menandakan pertemuan yang berlangsung hingga larut malam dan kemitraan yang murni profesional, begitulah klaimnya.

Senyum yang kubangun dengan susah payah goyah. Suara batinku, yang susah payah kubungkam, menjerit padaku. *Dia bersama perempuan itu. Lagi. Di hari jadi kami.*

Matanya, yang berwarna abu-abu sedingin batu, menyapu ruang makan. Dia melihat lilin, meja yang tertata sempurna, aroma makanan yang kusiapkan dengan sepenuh hati. Tidak ada binar kehangatan, tidak ada tanda-tanda kesenangan. Hanya rahangnya yang sedikit mengeras, nyaris tak terlihat.

"Clara," katanya, suaranya bariton rendah tanpa kasih sayang. Dia melonggarkan dasinya, kain sutra itu berdesir di ruangan yang sunyi. "Ada apa ini semua?"

"Selamat hari jadi, Marco," aku berhasil berkata, suaraku terdengar tipis dan lemah di telingaku sendiri. Aku menunjuk ke arah meja, sebuah isyarat penuh harap yang bodoh. "Aku membuat makanan favoritmu."

Dia tidak mendekat. Dia berdiri di dekat pintu, penghalang yang tangguh antara harapanku yang menyedihkan dan kenyataan dinginnya. "Sudah kubilang jangan terlalu memaksakan diri. Konstitusimu... rapuh."

Kata-kata itu seperti pukulan fisik, alasan yang sama yang dia gunakan selama bertahun-tahun. *Rapuh.* Itu adalah sangkarnya, dan dia telah mengurungku di dalamnya sejak hari ikatan kami. Dia menggunakannya untuk membenarkan jaraknya, penolakannya untuk menyelesaikan ikatan kami, pengabaian emosionalnya yang terus-menerus. Dia telah meyakinkan semua orang, termasuk diriku sendiri untuk sementara waktu, bahwa aku adalah makhluk rapuh yang harus dilindungi, yang dalam bahasanya berarti untuk diabaikan.

Harapanku, hal yang keras kepala dan bodoh itu, akhirnya mati. Harapan itu layu di bawah tatapan dinginnya, berubah menjadi abu di dadaku. "Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang baik," bisikku, kata-kata itu terasa seperti kekalahan.

"Aku ada pertemuan pack yang mendesak," katanya, sudah berbalik, mengabaikanku dan usahaku seolah-olah itu hanyalah gangguan kecil. "Adhitama Group sedang bergerak di wilayah selatan. Aku harus menanganinya." Dia melirik ke belakang, matanya tak terbaca. "Jangan menungguku."

Dan kemudian dia pergi. Pintu depan tertutup dengan bunyi klik yang bergema di keheningan rumah yang luas. Aku ditinggalkan sendirian dengan dua lilin yang berkelip-kelip, makanan yang dimasak sempurna menjadi dingin, dan hantu parfum wanita lain.

Keheningan menekanku, tebal dan menyesakkan. Aku merosot ke salah satu kursi makan, kayu yang dipoles terasa dingin di kakiku. Pandanganku melayang ke sekeliling ruangan, pada kehidupan yang seharusnya kumiliki. Rumah besar yang kosong di bagian paling eksklusif di Jakarta, perabotan desainer, kehidupan sebagai pasangan Alpha yang dihormati. Semuanya palsu. Kebohongan yang indah dan hampa.

Pikiranku, seorang penyiksa yang kejam, memutar ulang kenangan upacara ikatan kami. Aku masih bisa merasakan beratnya jubah upacara, mencium bau dupa di udara. Aku ingat harapan yang membuncah di dadaku ketika dia berdiri di hadapanku, begitu tampan dan kuat, dan berjanji untuk menghargai dan melindungiku selamanya. Dia tidak pernah menyelesaikan langkah terakhir dari ikatan itu, yang akan benar-benar menghubungkan jiwa kami. Dia mengklaim itu demi kebaikanku sendiri, bahwa intensitas ikatan Alpha penuh mungkin terlalu berat untuk sifatku yang 'rapuh'. Aku telah memercayainya. Untuk sementara waktu.

Sekarang, aku tahu yang sebenarnya. Ini bukan tentang kerapuhanku. Ini tentang ketidakmampuanku.

Jemariku meraba-raba mencari tabletku di bufet. Aku butuh pengalih perhatian, apa pun untuk menarikku dari spiral pikiranku yang menurun. Aku menyalakannya, layarnya bersinar hidup. Dan di sanalah itu. Berita utama dari Warta Pack Jakarta.

Sebuah foto mendominasi layar. Itu Marco, tersenyum. Bukan senyum kaku dan terkendali yang dia berikan padaku, tapi senyum tulus dan lepas penuh kebanggaan dan kasih sayang. Berdiri di sampingnya, tangannya bertumpu posesif di lengannya, adalah Sarah Wijaya, Alpha betina yang kuat dari pack tetangga. Judulnya berbunyi: 'Aliansi Baru Terjalin: Alpha Marco dan Wijaya Mengamankan Kesepakatan Penting dengan Adhitama Group.'

Artikel itu memuji kemitraan mereka, sinergi mereka, kekuatan gabungan mereka. Itu adalah perayaan publik dari hal yang dia sangkal dariku secara pribadi. Dia tidak sedang dalam pertemuan pack. Dia bersama perempuan itu. Kebohongan itu begitu terang-terangan, begitu kejam, hingga mencuri udara dari paru-paruku.

Gelombang mual dan patah hati menyapuku. Aku terhuyung-huyung menjauh dari meja, menjauh dari bukti kegagalanku. Aku harus pergi, bersembunyi. Aku menemukan diriku di lorong, membuka pintu lemari penyimpanan berdebu di bawah tangga, sebuah ruang yang belum pernah kumasuki selama bertahun-tahun.

Udaranya pengap, penuh dengan bau kamper dan barang-barang yang terlupakan. Aku terbatuk, mataku menyesuaikan diri dengan cahaya redup. Terselip di belakang, di balik tumpukan selimut tua, ada sebuah kotak kayu kecil. Itu milik nenekku. Orang tuaku memberikannya padaku ketika aku pindah ke sini, dan dalam kesengsaraan hidup baruku, aku benar-benar melupakannya.

Jemariku, yang dilapisi lapisan debu halus, menelusuri tutupnya yang berukir. Dengan derit samar, aku membukanya. Di dalam, bersarang di atas hamparan beludru pudar, ada sebuah liontin halus. Sebuah batu bulan tunggal yang bercahaya, berbentuk seperti tetesan air mata, tergantung pada rantai perak. Batu itu seolah berdenyut dengan cahaya lembut dari dalam.

Di bawahnya ada selembar kertas perkamen yang terlipat, tintanya pudar tetapi masih bisa dibaca. Tulisan tangan nenekku yang elegan mengalir di halaman itu.

*'Saat rembulan ditolak, bintang sejati akan terbit. Darahmu bukanlah kelemahan, melainkan kunci.'*

Napas ku tercekat. Apa maksudnya? Aku mengangkat liontin itu dari kotaknya. Batu itu awalnya terasa dingin, tetapi saat kulitku menyentuhnya, kehangatan samar yang menenangkan menyebar melalui jari-jariku, naik ke lenganku, dan menetap di dadaku. Itu adalah kehangatan lembut yang menenangkan yang mendorong kembali keputusasaan sedingin es yang telah berakar di sana.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, benih keraguan ditanamkan. Bukan tentang Marco, atau perasaannya padaku—itu sudah sangat jelas. Ini adalah keraguan tentang diriku sendiri. Tentang identitas yang telah dia paksakan padaku.

Rapuh. Lemah.

Saat aku menggenggam batu bulan itu, kehangatannya menjadi janji bisu di telapak tanganku, aku bertanya-tanya apakah dia, dan aku, telah salah selama ini.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel TABIB CANTIK DARI MASA DEPAN KESAYANGAN PANGERAN DARI MASA LALU
8.4
Ahli bedah plastik masa depan, Virgolin Asteria, diculik ke dimensi lain oleh sosok misterius. Di bawah ancaman maut, ia dipaksa menggunakan keahlian medisnya demi menyelamatkan sang Ratu. Namun, saat gerbang untuk pulang akhirnya terbuka, Virgolin justru dihadapkan pada dilema batin yang berat. Benih cinta telah tumbuh di hatinya untuk sang penculik, Pangeran Pisceso Helios. Kini, ia harus memilih antara kembali ke keluarganya atau menetap di dunia asing itu demi sang pujaan hati.
Sampul Novel Chasing Vampire
9.1
Julian Donyoung, vampir berumur dua ratus tahun, berkelana demi menuntut balas atas kematian ibunya sejak perang klan 1822. Sangat antipati pada manusia, takdir malah membuatnya terpikat oleh Elena Karenina yang ceroboh. Konflik membara ketika terungkap bahwa Elena adalah keturunan klan Oyster, musuh bebuyutan Julian. Akankah cinta mereka bertahan, ataukah dendam lama ini kembali memicu pertumpahan darah baru di antara kedua kekasih tersebut?
Sampul Novel Cinta Disisa Serpihan Hati
8.4
Niat baik Dania menyelamatkan Ilham dari kejaran orang asing berujung salah paham warga yang memaksa mereka menikah siri. Di tengah perjalanan menjelajahi berbagai daerah, benih cinta perlahan tumbuh di antara keduanya. Namun, nyawa Ilham terancam oleh konspirasi jahat ibu dan saudara tirinya yang mengincar warisan bisnis hotel sang ayah. Kini, Dania harus terus mendampingi sang pewaris dalam pelarian penuh bahaya untuk melindungi nyawa dan cinta mereka.
Sampul Novel ISTRI BERCADARKU MANTAN MAFIA
9.4
Demi kakeknya, Sayudha Wistara terpaksa menikahi Diandra Safaluna, perempuan bercadar yang misterius. Meski awalnya berniat bercerai setelah dua tahun tanpa sentuhan, Yudha justru terpikat oleh keahlian tak biasa sang istri. Di balik kelembutannya, rahasia besar Diandra masih tersembunyi rapat. Mampukah Yudha mengungkap bahwa istri yang dicintainya adalah pemimpin dunia mafia yang mengendalikan kakeknya sendiri?
Sampul Novel Istri Tetanggaku Kuntilanak
8.1
Alif kembali ke Kampung Menyan dan terjebak di antara Lisa dan Ning. Di saat bersamaan, desa itu diteror oleh hilangnya bayi dan janin secara misterius. Namun, fokus Alif teralihkan kepada Kumara, istri tetangganya yang menawan. Kumara dituduh sebagai kuntilanak karena perilakunya yang aneh, dan ia mengaku punya masa lalu dengan Alif yang telah terlupakan. Alif kini harus mengungkap kebenaran tentang sosok Kumara sekaligus memecahkan anomali di desanya.
Sampul Novel Pindahnya Jiwa Permaisuri Ke Tubuh Siluman Rubah
9.3
Dalam kondisi kritis, jiwa Permaisuri Chou Zui Ran berpindah secara misterius ke raga seekor siluman rubah di masa depan. Di era baru ini, ia berjumpa dengan Kim Daehyung, pemuda yang berwajah sangat mirip dengan suaminya dahulu. Berharap merasakan kasih sayang yang selama ini tak pernah didapatkannya, Zui Ran pun merajut hubungan indah bersamanya. Namun, takdir mendadak menarik jiwanya kembali ke raga aslinya. Akankah cinta mereka tetap bertahan walau terhalang dimensi dan waktu?