APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pelit Bin Medit

Pelit Bin Medit

Hesti menjalani kehidupan pernikahan yang menyesakkan bersama Pramono, sosok suami yang sangat kikir. Kebebasan finansialnya dirampas total, bahkan seluruh gaji Hesti dikuasai sepihak oleh suaminya. Tanpa uang pegangan maupun biaya perawatan diri, Hesti juga harus menghadapi kenyataan bahwa urusan dapur pun diatur sepenuhnya oleh Pramono. Di bawah tekanan nafkah yang tidak layak ini, sanggupkah Hesti bertahan menghadapi sikap suaminya? Ikuti pergulatan batinnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Nah ... bagus kan, Dek?" ucap suamiku usai memasang gelang di tanganku.

"Bagus banget ini, Mas beli di mana?" tanyaku, seraya memutar tangan memperhatikan gelang cantik yang melingkari tangan kurusku.

"Di toko Bulan Purnama Dek, kamu suka kan?" tanya Mas Pramono, matanya nampak berbinar menatapku

Mas Pramono tersenyum sambil menyerahkan suratnya padaku. "Ini suratnya Dek, kamu simpan ya?"

Aku menerima kertas dalam bungkusan plastik transparan itu. Dua puluh lima gram, dengan harga hampir dua puluh juta, begitu yang tertera dalam surat itu.

Begitulah Mas Pram, setiap habis panen selalu membelikan aku emas meskipun hanya cincin lima gram, apalagi kalau hasil panen melimpah aku bisa dibelikan satu set perhiasan emas.

Suratnya diberikan kepadaku tapi aku tidak berani menjualnya, takut ketahuan, dia pasti marah besar. Dan uang gajiku yang dibawa Mas Pram, seratus persen didepositokan atas namaku, tapi buku dan kartu ATMnya disimpan Mas Pram. Katanya biar aku tidak bisa mengambilnya, toh semua kebutuhanku sudah dia cukupi. Begitu dia bilang.

Untuk urusan makan dan pakaian Mas Pram memang pelit, katanya untuk apa makan enak? Ujung-ujungnya jadi t*i. Pakaian bagus paling akhirnya jadi lap juga. Tapi untuk beli emas, dia tak pernah pernah perhitungan.

Jangan tanya berapa jumlah emas simpanannya, banyak! Dari batangan sampai yang berbentuk perhiasan, semua dia punya. Entah lah, untuk apa semua itu dia kumpulkan? Kalau dari masih merasa sayang untuk menikmati.

"Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam hidup kita nanti Dek, jadi kita harus hati-hati dalam mengelola keuangan, jangan menghamburkan untuk hal yang sia-sia, lebih baik investasi untuk masa depan.

Jangan tanya berapa jumlah emas simpanannya, banyak! Dari batangan sampai yang berbentuk perhiasan, semua dia punya. Entah lah, untuk apa semua itu dia kumpulkan? Kalau dari masih merasa sayang untuk menikmati.

"Sebentar lagi kita punya anak, dia juga butuh biaya sekolah, setelah dewasa juga butuh modal untuk usaha, jadi sebagai orang tua kita harus punya persiapan Dek, kamu tahu nggak? Mas punya usaha juga dulu dimodali Bapak." lanjutnya kemudian.

"Iya, tapi aku ingin seperti wanita pada umumnya Mas. Punya baju bagus tas branded, pakai skin care, kadang aku malu Mas, dikatain orang-orang 'wong sugeh kok eman dipangan' (orang kaya kok pelit buat makan)," ucapku mengeluhkan sindiran tetangga dan teman.

"Halah! kamu tidak usah mendengarkan omongan orang, memangnya kalau kita kelaparan mereka memberi kita makan? Mereka hanya iri, kita punya segalanya sedangkan mereka punya apa?" Begitu kata Mas Pram saat aku membahas keinginanku untuk hidup wajar.

Rumahku mewah dengan perabotan wah, mobil innov* terparkir manis di garasiku, tapi kemana-mana kami cukup naik motor saja. Kata Mas Parm boros bensin, jadilah mobil kami terpakai saat mendesak saja.

Menurutku aneh dan tidak masuk akal saja, prinsip Mas Pram ini. Dia ingin dianggap kaya, dihormati dan disegani karena hartanya. Tapi menggunakan untuk dirinya sendiri pun, pelitnya minta ampun.

Orang lain justru tidak respect padanya, mana ada orang kaya dengan penampilan gembel kayak dia. Jangankan nraktir orang, untuk dirinya sendiri aja nunggu gratisan, apa nggak ngenes tuh?

Menu makan kami setiap hari, tak jauh dari tahu, tempe, ikan asin, kadang ayam itu pun ayam sayur. Makan ikan segar hanya saat harga ikan sedang murah atau saat diberi oleh tetangga yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan.

Gaya hidup Mas Pram benar-benar mencerminkan kehidupan keluarga pra sejahtera. Hidup seadanya, makan seadanya, tak usah lah memikirkan kebutuhan nutrisi tubuh, yang penting perut kenyang.

Ternyata sifat irit, pelit bin medit ini sudah turun menurun dari keluarga ayah Mas Pram. Ibu mertuaku juga bernasib sama sepertiku, dijatah uang belanja suami setiap jam sepuluh siang, jumlahnya tak seberapa tapi harus pakai nota.

Bahkan sifat pelit ini menghinggapi  keluarga besar ayah Mas Pram, gaya hidupnya tak jauh beda denganku, kaya tapi sengsara, di kampung ini sudah terkenal Bani Salam meditnya nuzubillah.

Awalnya aku tidak tahu, karena aku menikah dengan Mas Pram tepat seminggu sebelum aku dipindah tugaskan di kabupaten Blora, di sebuah desa pinggir hutan yang letaknya lumayan terpencil. kami LDR-an selama setahun lebih, selama itu Mas Pram rajin mengunjungiku diakhir pekan.

Waktu itu gajiku masih kupegang sendiri, meskipun Mas Pram memberiku nafkah yang tak seberapa, bagiku tak apa. Aku menyadari belum bisa menjalani peranku sebagai istri sepenuhnya, dan aku sudah punya penghasilan sendiri.

Tapi begitu pindah kesini, aku benar-benar dibuat kaget dengan tabiat suamiku. Apalagi ketika pertama kali dia, memintaku memberikan gajiku padanya. Dengan dalih tabungaku dihari tua.

"Aku tahu ini uangmu, hakmu, aku hanya ingin menyelamatkannya, kamu itu boros jangan sampai  kamu kerja tapi tidak punya apa-apa, nanti kalau kamu sudah tua bagaimana?" ucapnya menceramahiku.

Mas Pram kalau ngomong kayak yang paling bener aja. Harusnya omongannya dibalik, buat apa kerja capek-capek, numpuk duit banyak? Paling kalau mati juga nggak dibawa, mending sekarang dinikmati, mumpung masih hidup, masih bernafas. Tapi mana berani aku berkata seperti itu, aku membantah dengan kalimat santun aja, dia jawabnya ngegas.

.

"Kamu tidak perlu menghawatirkan hari tuaku Mas, aku ini PNS  punya uang pensiun," bantahku kala itu.

"Begitu tuh, perempuan kalau sudah merasa mandiri, merasa lebih pintar, bisa cari uang sendiri. Kalau dinasehati suami membantah. Yakin hidupmu akan baik-baik saja? Yakin tidak ada kebutuhan yang tiba-tiba mendesak, dan butuh uang besar?

Itu lho Mas Rafi dan istrinya, dua-duanya PNS kan. Tapi mana hasilnya? Rumah gitu-gitu aja, duitnya habis buat bayar cicilan hutang. Bayar kuliah anak-anaknya ngos-ngosan, gara-gara memenuhi gaya hidup."

Tuh kan, bener kataku. Mas Pram mana mau dibantah? Yang ada dia malah ceramah panjang lebar. Pakai nyamain sama kehidupan sepupunya. Jelas mereka ngos-ngosan membayar kuliah anaknya. Wong dua-duanya kuliah di Fakultas Kedokteran. Semua orang juga tahu, mahalnya biaya kuliah calon dokter.

Menurutku hidup mereka nggak gaya-gaya amat, hanya berusaha hidup layak, menghargai diri. Nggak salah juga menikmati hasil jerih payah sendiri kan?

"Sudahlah, kamu manut saja. Ini semua demi kebaikan kamu. Kalau nurutin apa kata orang, nggak akan ada habisnya. Kita bener diomongin, apalagi salah? Makin semangat mereka mengghibah.

Kamu nggak usah khawatir, nggak serupiah-pun uangmu aku pakai. Aku hanya ingin kamu terbiasa hidup sederhana saja." sambungnya lagi.

"Hhh!" Aku hanya bisa mendengkus kesal. Dibantah juga percuma, dia itu penganut paham patrilineal. Baginya laki-laki adalah pemimpin yang wajib ditaati, tanpa boleh dibantah. Titik!

Kadang-kadang aku berharap dalam hati, semoga ada pelakor yang menggoda Mas Pram. Biar dia meninggalkanku, dan aku bebas hidup sendiri.

Gimana nggak pengen hidup sendiri? Lah punya suami pelit bin medit!

Bersambung ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belenggu Ceo Bastard
7.9
Nica harus menjalani kenyataan pahit saat terjebak dalam cengkeraman Dave, seorang miliarder kejam yang tidak mengenal belas kasihan. Setiap tangisan dan rasa sakit yang dialami Nica justru menjadi kepuasan tersendiri bagi Dave, yang terus memperlakukannya dengan semena-mena. Di bawah dominasi kekuasaan sang miliarder, Nica tidak berdaya dan hanya dianggap sebagai pemuas nafsu. Hubungan penuh paksaan ini pun meninggalkan trauma mendalam yang merenggut kebebasannya.
Sampul Novel Cinta Palsu, Fakta Tersembunyi
8.4
Setelah Charles membatalkan pernikahan mereka demi Chelsea di pemakaman ibunya, sang protagonis menerima lamaran tulus dari teman masa kecilnya, Sugi. Tiga tahun membina rumah tangga tanpa anak, Sugi selalu bersikap manis dan menerima keadaan. Namun, kebahagiaan itu hancur saat ia tidak sengaja mendengar percakapan Sugi dengan dokter tentang pil KB yang diam-diam diberikan kepadanya. Sugi rupanya hanya memanfaatkannya, sementara hatinya tetap milik Chelsea. Menolak menjadi korban penipuan, ia pun bertekad untuk pergi.
Sampul Novel Di Ujung Lelah
9.3
Pernikahan selama lima tahun ternyata menjadi mimpi buruk bagi Mirna. Alih-alih bahagia, ia justru harus menghadapi tekanan mental dari suaminya, Farid, yang tak pernah berubah. Setiap hari diwarnai pertengkaran hebat yang menguras emosi, memicu ketakutan, serta kesedihan mendalam. Berada di titik nadir dan merasa tidak sanggup lagi bertahan, Mirna akhirnya membulatkan tekad. Ia memilih menyudahi hubungan beracun ini demi membebaskan diri dari penderitaan panjang.
Sampul Novel Hasrat Istriku
8.4
Naya menghadapi pilihan sulit antara mengejar mimpi dalam karier atau menjaga keutuhan rumah tangganya. Demi mempertahankan posisi di tempat kerja, ia terpaksa menyembunyikan status pernikahannya dari semua rekan kerja. Walau sangat menyayangi Ghiyas, ambisi besar Naya terus menguji kesetiaan cintanya. Di awal pernikahan mereka yang masih seumur jagung, ia kini dituntut untuk mengambil keputusan besar. Apakah ia akan memilih pekerjaannya atau mempertahankan suaminya?
Sampul Novel Lovers
8.9
Pertemuan tak sengaja di kelab malam saat malam tahun baru memicu ketertarikan Ryan Bagaskara pada Kanaya Putri Soemardi, meski pakaiannya sempat terkotori oleh gadis itu. Namun, jalan cinta mereka sangat terjal. Ayah Kanaya telah merencanakan perjodohan putrinya dengan Gilang Witjaksono, seorang putra pejabat yang ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan Ryan. Kini, Ryan harus menghadapi dilema rumit dan berjuang keras demi mendapatkan restu serta memenangkan hati Kanaya.
Sampul Novel Pernikahan Berliku & Perceraian
9.8
Sienna terbangun di dunia novel sebagai karakter antagonis. Demi menghindari akhir yang tragis dan tetap hidup mewah, ia memutuskan untuk menikahi Darren, pria kaya yang kerap cemburu karena sikap genitnya. Meski pernikahan mereka terpaksa terjadi karena kehamilan, Sienna yakin Darren akan menceraikannya demi sang pahlawan wanita. Namun, saat waktu berlalu, Darren justru menolak melepas Sienna dan selalu marah setiap kali ia meminta cerai.